Perspektif Terhadap Peran Mahasiswa dalam Memperingati Hari Buruh Sedunia

aksi di ugm
foto pentas rakyat di UGM : Lingkar Study Sosialis

Tepat pada 1 mei 2016 kita akan memperingati hari bersejarah bagi kaum buruh. Hari dimana kaum buruh memperlihatkan kekuatan serta perlawanan yang luar biasa terhadap penindasan. Namun tidak sedikit dari kita yang tidak tau serta tidak peduli (apatis) terhadap hari bersejarah ini. May day, merupakan hari dimana kaum buruh akan turun kejalan memperlihatkan kekuatannya di hadapan penguasa dan pengusaha. Mengingat, bahwa buruh adalah kaum yang merasakan langsung penghisapan dan penindasan oleh kaum majikan (pemodal / borjuis / pengusaha). Selain itu, kaum buruh jugalah yang paling merasakan efek dari kebijakan penguasa. Inilah mengapa hanya ditangan kaum buruhbersama rakyat tertindas lainnya-lah penggulingan kapitalisme sebagai sebuah sistem yang tidak masuk akal dan menindas rakyat dapat di laksanakan. Sebagai satu satunya kelas yang pantas memimpin perjuangan mencapai masyarakat tanpa kelas, dimana tidak ada lagi penindasan manusia atas manusia dan penindasan antara satu bangsa dengan bangsa lainnya.

Lalu di manakah peran kaum muda dalam hal ini mahasiswa? Apa yang harus di lakukan oleh mahasiswa dalam penggulingan kapitalisme? Dan kenapa kaum muda khususnya mahasiswa perlu turut serta merespon hari buruh desuinia? Kaum muda terutama mahasiswa mempunyai tanggung jawan penting dalam hal ini. Sebab dalam keseharianya mahasiswa memiliki banyak waktu untuk belajar dan melihat situasi perkembangan masyarakat. Di lainhal, kaum buruh atau sektor rakyat lainnya (petani, nelayan, dll), tidak memiliki banyak waktu untuk belajar dan memanfaatkan intelektualitasnya, sebab kesehariannya disibukkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga. Namun, sebagian mahasiswajustru melakukan hal yang kontra produktif (bermain dan tidur).

Sejarah Hari Buruh

Pada tahun 1886 merupakan masa-masa yang kelam bagi kaum buruh. Hampir semua buruh diseluruh dunia bekerja selama 12 hingga 16 jam sehari.Dapat kita bayangkan bagaimana buruh diperas oleh kaum pemilik modal yang dengan santai dapat menghitung laba yang didapatkan, sedangkan buruh harus bekerja keras selama 16 jam perhari. Coba hitung berapa jam waktu yang mereka miliki untuk beristirahat dan untuk dirinya sendiri. Bagi kaum buruh hidup seakan-akan untuk bekerja, bukan lagi bekerja untuk hidup. Buruh dianggap sebagai “mesin” produksi yang tidak perlu diperhatikan kesejahteraannya. Implikasinya adalah buruh tidak dianggap memiliki relasi sosial selayaknya masyarakat yang lain dan hanya dianggap sebagai objek produksi.

Situasi penindasan yang telah berlangsung sekian lama membuat buruh semakin sadar untuk melakukan perlawanan. Kaum buruh kemudian bersatu menuntut keadilan. Ratusan ribu buruh bersatu dalam berbagai serikat buruh. Salah satunya adalah Knights of Labordi Amerika Serikat. Mereka mengorganisir diri mereka untuk melakukan aksi demonstrasi. Tuntutan yang diajukan adalah pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari. Sehingga dalam sehari ada 8 jam kerja, 8 jam istirahat, dan 8 jam untuk tidur.Aksi yang berlangsung sejak April 1886 ini, awalnya didukung sekitar 250 buruh. Dalam dua minggu jumlah pendukung bertambah menjadi 350 buruh. Di jantung pergerakan, Chicago, aksi ini diikuti 90 ribu buruh. Sementara New York mengikuti dengan 10 ribu buruh. Disusul dengan Detroit yang mendukung dengan 11 ribu buruh. Aksi ini menular dengan cepat ke negara bagian lain. Di Louisville dan Baltimore aksi ini bahkan menyatukan buruh kulit putih dan kulit hitam. Aksi terus menjalar dari Maine ke Texas dan dari New Jersey ke Alabama. Hingga 1 Mei 1886, aksi ini telah menarik lebih dari setengah juta buruh di Amerika. Aksi tersebut dilakukan dengan melakukan pemogokan di banyak tempat. Buruh baik yang tua dan muda, pria dan perempuan, kulit putih maupun berwarna semua tumpah ruah dengan gegap gempita turun ke jalan meneriakkan perlawanan “jam kerja 8 jam sehari”. Satu orang buruh hanyalah semut lemah yang tak berdaya, namun saat mereka bersatu buruh merupakan satu kepalan tangan besar yang kokoh dan menakutkan sehingga takutlah para penguasa dan pemilik modal.

Banyak korban berjatuhan pada aksi buruh diatas.Bagi aktivis pergerakan kaum buruh, tragedi itu lebih dari drama ‘Tuntutan Delapan jam sehari.’ Melainkan merupakan babak perjuangan menuju dunia yang lebih baik. Dunia dimana tidak ada eksploitasi dan penindasan. Karenanya Kongres Sosialis Dunia di Paris 1889, menetapkan 1 Mei sebagai hari buruh. Hari untuk menghormati para martir yang mati karena memperjuangkan kaum buruh. Dan sejak itu warna merah dipakai dan dikibarkan untuk menghormati tumpah darah buruh. Untuk menghormati perjuangan menghapuskan penindasan. Berkat dari berbagai perjuangan buruh tersebut, hingga saat ini kita merasakan dampaknya misalnya dengan kebijakan 8 jam kerja sehari sebagai standar perburuhan internasional oleh International Labor Organization (ILO). Meski hanya beberapa negara yang menerapkan hal tersebut sampai hari ini.

Indonesia sendiri dalam sejarahnya pertama-kalimemperingati hari buruh pada 1 mei 1918 di Surabaya yang disebut-sebut sebagai peringatan hari buruh pertama di Asia.Pada tahun-tahun setelahnya dari tahun 1918 hingga 1926, gerakan buruh di Indonesia mulai secara rutin memperingati hari buruh biasanya dibarengi dengan pemogokan umum besar-besaran sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme belanda meskipun dari tahun-tahun setelahnya hingga kemerdekaan peringatan hari buruh dilarang oleh pemerintahan kolonial karena mengancam rezim pada saat itu. Pasca kemerdekaan peringatan Hari Buruh Internasional kembali secara rutin berjalan dan resmi diakui oleh negara dengan dikeluarkan UU Kerja No.12 tahun 1948 yang mengesahkan 1 Mei sebagai tanggal resmi hari Buruh. Dalam pasal 15 ayat 2 UU No. 12 tahun 1948 dikatakan: “Pada hari 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja”. Berangkat dari hal diatas dapat dikatakan bahwa lebih dari 90 tahun yang lalu 1 mei telah diakui sebagai harinya kaum buruh di Indonesia.

Sampai hari kita ketahui banyak pihak baik baik birokrat, politisi, pengamat ekonomi, maupun media massa yang menyebunyikan fakta sejarah dan muasal bahwa hari buruh merupakan hari perlawanan kaum buruh. Di Amerika serikat misalnya, 1 Mei diganti dengan hari Hukum dan memindahkan hari Buruh ke Minggu pertama September. Begitu pula di Indonesia, sejak masa Orde Baru perayaan hari Buruh tidak lagi diperingati karena masuk kategori kegiatan subversif. Pada masa reformasi, perayaan hari buruh telah mulai ramai diperingati bahkan dijadikan sebagai hari libur nasional. Hari libur ini tidak berkaitan dengan hari besar keagamaan dan sejarah kenegaraan. Ini menunjukkan bahwa buruh memiliki posisi tawar yang cukup membuat para penguasa memperhitungkanya. Buruh berpotensi memberikan perlawanan dan menggulingkan sistem yang menindas rakyat. Kondisi tersebut dapat dicapai apabila buruh solid dan sadar akan kekuatannya serta bersatu dengan elemen rakyat tertindas lainnya.

Indonesia, kapitalisme dan Kemiskinan Kaum Buruh

Indonesia merupakan negara yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM). Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar ke empat didunia yakni sekitar 255 Juta jiwa atau 3,5 % dari keseluruhan penduduk dunia. Sedangkan dari sektor SDA data dari Ekonom dunia (sindonews.com) mengatakan bahwa dari 200 negara yang ada Indonesia berada diperingkat kelima sebagai negara terkaya dari sektor SDA. Dari potensi tersebut sudah seharusnya Indonesia dapat mensejahterakan rakyatnya apalagi bila pengelolaan SDA dilakukan dengan SDM yang berkualitas dibawah kontrol rakyat.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2015 mencapai 4,67 % (Data BPS), angka tersebut cukup besar dibandingkan dengan Negara berkembang lainnya. Namun pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak sejalan dengan kesejahteraan rakyat, ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut disebabkan oleh mayoritas kaum pemodal di Indonesia. Walaupun terkena krisis, pada tahun 2010 kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia sebesar 680 triliun rupiah atau setara dengan 10,4 persen PDB Indonesia. Kekayaan 40 orang tersebut setara dengan 60 juta rakyat yang paling miskin. Kekayaan orang terkaya tersebut dalam 5 tahun terakhir sejak tahun 2010 naik rata-rata 80 % setiap tahunnya. Di Indonesia 0,2 % penduduk saja telah menguasai 56% luas daratan di Indonesia—baik dalam bentuk permukiman, perkebunan, pertambangan, pertanian sampai pengelolaan hutan. Tidak heranjika Koefisien Gini (sebagai salah satu alat untuk mengukur kesenjangan sosial) di Indonesia berada pada angka 0,41—yang berarti berada dalam kondisi yang sangat senjang.

Di Indonesia dengan rendahnya teknologi yang dimiliki, 1 jam kerja buruh Indonesia kalah produktif dengan 1 jam kerja buruh di negeri-negeri industri maju. Karakter monopoli kapitalis internasional terutama dalam hal modal dan teknologi menyebabkan kelimpahan industrialisasi nasional yang dikontrol rakyat terutama kaum buruh hampir-hampir tidak mungkin bila tidak ada perubahan kebijakan yang mendasar untuk menghadapi serangan kapitalis-monopoli internasional serta upaya untuk membangun industrialisasi nasional. Oleh karena itu saat ini persaingan dalam dunia usaha di Indonesia sebagian besar modal dan teknologinya masih dalam cengkraman kapitalis-monopoli Internasional.

Kaum buruh di Indonesia akibat sistem kerja kontrak dan outsourcing, perlindungan dan kepastian kerja, serta pengembangan tenaga kerja semakin tidak dipedulikan. Mayoritas kaum buruh masih didominasi oleh buruh yang bekerja dalam sektor informal, kaum buruh formal jumlahnya tidak lebih dari 50 % dari keseluruhan tenaga kerja. Kaum buruh informal umumnya tidak mengakses upah minimum karena diangap bukan sebagai kaum buruh atau bekerja di bawah tekanan atas banyaknya pengangguran dan keterampilan yang rendah sehingga bisa dipecat kapan saja. Buruh informal ini tersebar massif diseluruh Indonesia.Kaum buruh formal saat ini juga masih mendapatkan upah yang murah, karena kondisi demikian kaum buruh mau tidak mau mengorbankan waktu istirahat dan kehidupan sosialnya untuk bekerja lembur (di atas 8 jam) demi penghasilan tambahan yang menentukan. Kondisi ini mengakibatkan sulitnya memenuhi kebutuhan sendiri apalagi ditambah memenuhi kebutuhan keluarganya. Di banyak tempat, tidak sedikit anak-anak (dibawah usia kerja) menjadi dibebankan keharusan bekerja untuk memenuhi biaya pendidikan sendiri atau tambahan penghasilan bagi keluarga.

Akibatnya jika tingkat kemiskinan yang masih diukur dengan pendapatan 2$/hari saja sudah menunjukkan jumlah rakyat miskin yang lebih dari 50% jumlah penduduk. Bagaimana lagi jika ukuran kesejahteraan (berdasar pendapatan) dinaikkan diatas upah minimum? Pasti jumlahnya lebih dahsyat dari angka-angka pemerintah. Kemiskinan tersebut tentu bukan disebabkan oleh malasnya kaum buruh maupun rakyat Indonesia seperti yang sering dikatakan pemerintah maupun pemodal, namun karena tidak adanya kebijakan negara yang mendasar untuk menuntaskan kemiskinan tersebut.

Kondisi tersebut di atas dengan jelas memperlihatkan bahwa kemiskinan yang terjadi di Indonesia tak dapat di lepaskan dari kondisi kaum buruh. Buruh tetap dieksploitasi dan jauh dari kata sejahtera. Ini akibat dari penguasaan alat produksi oleh segelintir orang yangmemiliki modal.Kondisi ini merupakan konsekuensi dari corak produksi kapitalisme. Sistem kapitalisme mengakibatkan negara beserta aparaturnya berpihak kepada pemilik modal dan digunakan untuk mengamankan kekuasaan negara.

Di Indonesia dapat dilihat kebijakan yang di buat oleh negara juga semakin pro terhadap pasar. Misalnya kebijakan perburuhan sistem tenaga kerja kontrak dan outsourcing yakni sistem tenaga kerja flexsible dimana buruh dapat dipecat kapan saja. Selain itu belum ada kebijakan yang melindungi tenaga kerja sektor informal, sehingga tenaga kerja informal sering mengalami tindak kekerasan. Kebijakan pro pemodal yang baru yakni PP No.78 Tahun 2015 tentang pengupahan, dengan kebijakan ini upah buruh mayoritas didominasi dan ditentukan oleh pemilik modal. Dalam konteks perburuhan juga banyak aktivis buruh yang memperjuangkan kehidupan yang layak bagi rakyat justru direpresi dan dikriminalisasi oleh aparat contohnya yang terbaru dalam aksi mogok nasional buruh yang menolak PP No.78 Tahun 2015 tahun lalu, setidaknya ada 26 aktivis buruh yang dikriminalisasi pada aksi tersebut. Perlindungan terhadap hak untuk memperjuangkan demokrasi juga masih sangat lemah di Indonesia.

Peran Penting Gerakan Mahasiswa dalam Perjuangan Kaum Buruh

Jika kita melihat dari angka statistik jumlah kelulusan semua universitas yang ada di Indonesia, kita akan menyaksikan dengan jelas betapa universitas atau sekolah tinggi, tak lebih hanya menjadi mesin pencetak tenaga kerja. Di satu sisi jumlah mahasiswa yang lulus dari universitas, tidak sebanding dengan kebutuhan tenaga kerja. Ini akan mengakibatkan semakin banyaknya pengangguran. Secara otomatis kriminalisasi-pun meningkat. Puluhan ribu mahasiswa yang telah menyelesaikan masa studinya tersebut, akan bersaing di pasar tenaga kerja untuk mendapatkan pekerjaan. Kemudian pengusaha akan semakin angkuh kepada kaum buruh. Dengan gampang buruh yang berlawan dan tidak tunduk terhadap pemodal, akan di pecat dari tempat kerjanya. Sebab, masih banyak para penganggur yang membutuhkan pekerjaan. Dalam corak produksi kapitalisme pengangguran sengaja di ciptakan untuk melemahkan gerakan buruh. Buruh akan semakin takut dalam memperjuangkan hak-haknya karena takut kehilangan pekerjaan. Universitas adalah mesin yang menyediakan tenaga kerja murah bagi pengusaha.

Lebih lanjut, kebijakan yang kapitalistik masuk kesegala aspek. Bukan hanya pada kaum buruh melainkan juga pada mahasiswa serta sistem pendidikan pada umumnya. Dapat kita lihat kebijakan disektor pendidikan pada hari ini biaya kuliah yang mahal, penerapan Uang Kuliah Tunggal (UKT), fasilitas yang tidak memadai, kebijakan yang mendesak mahasiswa untuk lulus dengan cepat tetapi tidak diiringi dengan kualitas, dan lain sebagainya. Kondisi demikian menyebabkan mahasiswa menjadi teralienasi dari masyarakat.

Mahasiswa menjadi sibuk dengan dunianya. Orientasi mahasiswa adalah berlomba-lomba untuk lulus dengan cepat serta mendapatkan nilai yang bagus, alhasil nilai tadi tidak berguna dilingkungan kesehariannya pada masyarakat sekitar. Padahal dengan sistem pendidikan hari ini, mahasiswa akan bernasip sama dengan kaum buruh. Mahasiswa akan menjadi sebuah komoditas bagi pasar tenaga kerja murah kedepan.

Ernest Mandel dalam pidatonya pada “Majelis Internasional Gerakan Mahasiswa Revolusioner” memberikan pelajaran bagi kita akan pentingnya gerakan mahasiswa untuk tidak memisahkan diri terhadap perjuangan rakyat lainnya. Ia berbicara mengenai konsepsi Marxis tentang integrasi yang tidak terpisahkan antara teori dan praktek. ”Makin terasingnya tenaga kerja intelektual ini sedikit banyak menggerakkan perlawanan mahasiswa yang, walaupun tidak menduduki posisi sebagai pelopor kelas buruh, dapat menjadi picu peledak di dalam masyarakat luas”. Menurutnya, mahasiswa memiliki kewajiban menterjemahkan pengetahuan teoretis, yang mereka peroleh di universitas, ke dalam kritik-kritik yang radikal terhadap keadaan masyarakat sekarang dan tentunya relevan dengan mayoritas penduduk. Mahasiswa harus berjuang di dalam universitas dan lebih luas untuk masyarakat. Gerakan mahasiswa harus menghapuskan skat-skat sempit ruang kelas yang selama ini mengurung pengetahuannya terhadap situasi perkembangan masyarakat tertindas.

Bung Karno lebih lanjut mempertegas kewajiban mahasiswa untuk berjuang bersama rakyat lainnya, pada pidatonya yang berjudul “Hilangkan Steriliteit Dalam Gerakan Mahasiswa”. Pidato tersebut memberikan pelajaran mendalam bagi gerakan mahasiswa agar tidak mensterilkan diri dari gerakan rakyat lainnya. “Camkan benar-benar: setiap kaum Marhaenis berjuang untuk kepentingan kaum Marhaen dan bersama-sama kaum Marhaen (rakyat tertindas)” (pidato tersebut di sampaikan dalam kongres Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia). Kalimat tersebut berati bahwa kaum marhaenis (mahasiswa, dan elemen rakyat lainnya yang berkesadaran revolusioner) harus berjuang bersama, terlibat dalam setiap gerakan rakyat. Itulah alasan mengapa mahasiswa harus ikut serta dalam setiap perjuangan rakyat di luar mereka.

Mahasiswa semestinya menunjukkan keberpihakannya terhadap kelas tertindas. mahasiswa merupakan ntelektual yang tidak netral dan bebas nilai tetapi berpihak kepada masyarakat lemah dan tertindas serta mengerti akar permasalahan yang dihadapi bersama yakni sistem Kapitalisme. Mahasiswa juga berkewajiban mengorganisir dirinya berjuang bersama rakyat dan membantu mereka membentuk organisasi perjuangan serta terlibat dalam masalah keseharian masyarakat tertindas.

Selamat Memperingati Hari Buruh Internasional untuk Kaum Buruh Di Seluruh Dunia

Selamat Memperingati Hari Kekuatan dan Perlawanan Kaum Buruh

Angga Kusuma Wijaya (Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unmul / Kontributor  Kabar Rakyat)

Refrensi :

Webs Bumi Rakyat : Asal Usul Mayday
Web Bedikari Online : Sekilas Sejarah Hari Buruh Sedunia Di Indonesia
Web Arah Juang : Mayday 2016, Demokrasi Seluas-luasnya Demi Pembagian Kekayaan Nasional Untuk Kaum Buruh Dan Rakyat!
Dipo Negoro : Apa yang Diperjuangkan Sosialisme
WordPress Lingkar Study Sosialis : Kaum Muda, Pekerja dan Rakyat Tertindas Bersatulah & Melawan
Web Arah Juang : Perspektif Terhadap Peran Mahasiswa dalam Mogok Nasional
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s