KRITIK OTO KRITIK TERHADAP PRAKSIS PERJUANGAN Gerakan Mahasiswa Nasional Indoenesia (GmnI)

header

Organisasi, semestinya menjadi wadah sekaligus kendaraan bagi setiap anggota di dalamnya untuk mengenali dirinya sebagai manusia. Organisasi revolusioner, semesitinya menjadi sekolah serta kerja bagi kaum revolusioner. Keberadaan GmnI sebagai bagian dari organisasi yang terlibat dalam garis perjuangan marhaenis, menuntut radikalisasi secara programatik yang di ejawantahkan dalam aktifitasnya.

GmnI dalam perjalanannya ibarat daun yang mengalir di antara bebatuan. Benturan demi benturan, baik secara ekternal maupun dalam internalnya memberikan konsekuensi logis dari narasi dasar setiap kontradiksi yang terjadi. Upaya deidologisasi dan depolitisasi selama 32 tahun dalam masa rezim orba, sedikit banyak menyumbangkan perubahan di dalam GmnI, baik secara teoritik maupun praktik. Proggram yang menjadi hal utama dalam organisasi secara sengaja di abaikan. Aktifitas anggota tak lebih hanyalah doktrin-doktrin tentang romantisme perjuangan GmnI sebelumnya. Ini menjadikan GmnI secara terang-terangan mempertegas diri sebagai organisasi yang revormis dan oprtunis. Itulah mengapa kita tidak boleh meletakkan kecintaan terhadap organisasi, di bawah cita-cita perjuangan.

GmnI tak lebih hanyalah menuntun kader dan anggotanya menjadi aktifisme. Kita harus dengan jujur mengakui bahwa upaya dalam mengajak anggota baru untuk terlibat di dalam GmnI, dengan kondisi organisasi yang di biarkan begitu saja terombang ambing dalam aktifitasnya, seperti menjerumuskan anggota baru kedalam jurang yang pernah di masuki. Meskipun evaluasi demi evaluasi dalam internal organisasi terus menerus kita lakukan, namun kita-pun tidak mampu membuktikan secara praktikal setiap program yang kita susun secara bersama. ini bukan hanya soal semangat yang berbeda, juga bukan hanya soal kesadaran terhadap program. Tapi juga ketidak mampuan kita dalam berupaya untuk memberi “perspektif” terhadap program, serta membiarkan kemalasan, begitu saja mendominasi setiap aktifitas kita. Terakhir, lemahnya kesadaran dan pemahaman ideologis berikut problem ketidak merataannya-pun menjadi masalah paling utama dalam praksis perjuangan GmnI.

ASAS PERJUANGAN YANG DI ABAIKAN

Perubahan yang sejati hanya dapat dilakukan melalui cara-cara perjuangan yang revolusioner. Perjuangan ini akan berlangsung dengan gejolak-gejolak yang penuh pengorbanan. Dengan demikian perlu penyusunan usaha-usaha perjuangan ini dengan sistematis. Harus ada program-program revolusioner yang berpijak pada basis material yang terjadi, serta kondisi kelas-kelas yang sedang berjuang. Jalanan ini masih panjang dan penuh dengan kesulitan serta kontradiksi. Pada rangkaian setiap proses revolusioner yang diarahkan secara tulus dan bila para pejuangnya sendiri tidak menghambatnya, maka setiap proses akan membentuk keteguhan dan kepercayaan rakyat pada kekuatannya sendiri.

Marhaenisme (1) sebagai asas perjuangan, perlu di lakoni secara konsisten dalam program dan aktifitas organisasi. Lebih lanjut penting bagi kita yang menghendaki perubahaan sosial agar mengetahuai bagaimana materi sejarah bangsa kita melangkah maju. Karena demikianlah semestinya kita, melengkapi diri dengan segenap perkakas yang dibutuhkan untuk memproduksi perubahahan sosial sesuai cita-cita kemanusiaan kita.

Selanjutnya, marhaenisme yang lahir atas dasar relitas sejarah, bahwa rakyat Indonesia mengalami penderitaan yang sangat mendalam akibat sistem kapitalisme/imperialisme (kolonialisme) bangsa asing, feodalisme dan kapitalisme bangsa sendiri. Kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan adalah bentuk penderitaan yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme/imperialisme/kolonialisme yang bersifat menindas rakyat Indonesia. Tanpa melakukan perlawanan terhadap sistem tersebut maka tidak mungkin manusia terbebaskan dari kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa. Sebuah kebangkitan massa secara radikal revolusioner yang disebabkan oleh tenaga-tenaga masyarakat sendiri yang sadar (bewust) akan perjuangannya lah yang dapat membebaskan kaum marhaen dari penindasan sistemik (pauverising). GmnI dalam hal ini berkewajiban untuk mengorganisir sebanyak banyaknya kaum marhaen. Sebaran massa tertindas (buruh, tani, nelayan, kaum miskin kota dsb) perlu untuk di satukan dan mendorong penguatan kesadaran akan kondisi sosial, ekonomi-politik, sebab-sebabnya serta membangun alternatif terhadap apa tindakan yang harus dilakukan.

Namun hal ini lagi lagi tak lebih hanyalah slogan. Ini diperkuat dengan kongres 19 GmnI di sikka nusa tenggara timur. Praktek politik praktis dan oportunik, di lakukan dan di benarkann oleh hampir keseluruhan peserta kongres. Kongres tidak menjadi ruang evaluasi aktifitas, dan menyusun platfrom perjuangan organisasi bagi kepentingan rakyat, melainkan menjadi ajang pertarungan perebutan struktur nasional (baca : Sikap GmnI samarinda terhadap kongres 19 GmnI).

APA YANG SALAH DARI KEANGGOTAAN KITA SELAMA INI ?

Keanggotaan adalah hal yang tidak bisa dilepaskan dari tubuh organisasi karena hal ini adalah sebagian syarat jalanya organisasi, organisasi tanpa anggota didalamnya bukan lah dapat disebut sebagai organisasi, karena upaya pemenuhan syarat dalam pembentukan organisasi adalah terdapatnya dua/lebih anggota didalamnya untuk dapat menjalankan roda organisasi. kenyataan yang sedang belangsung, keanggotaan di tubuh GmnI tidak mencerminkan dari kriteria yang sebenarnya. peran keanggotaan semestinya secara penuh turut serta dalam aktifitas kesehariannya. Namun kondisinya justru sebaliknya, anggota hanya menjadi pelengkap dari tubuh organisasi. Pembangunan demi pembangunan terus dilakukan. Rekrutmen dilakukan setiap tahunnya namun hasilnya jauh dari yang telah diinginkan oleh cita-cita dari organisasi, malahan mencoreng citra dari organisasi. Hal ini bukan tanpa alasan, karena dalam upaya perekrutan para calon anggota hanya disuntikan dengan cairan emosional yang sangat mudah pudar untuk terus berjuang menuju cita-cita perjuangan. banyak hal lagi yang terjadi dari tubuh organisasi GmnI mulai dari keanggotaan yang sangat jauh dari rasa yakin dan teguh dalam beraktifitas bersama untuk terus memunculkan syarat-syarat cita-cita perjuangan, aktifitas revolusioner terus digerus oleh kontra-revolusioner (Reaksioner)(2) mengakibatkan mandeknya roda organisasi. Belum lagi kader yang bingung dalam menghadapi persoalan yang berakibat pada demoralisasi (kejenuhan) untuk turut serta dalam beraktifitas bersama, persoalan sebenarnya adalah apakah kader yakin atau tidak dengan cita-cita perjuangan ? sebab tanpa keyakinan yang teguh hanyalah utopia/angan-angan belaka dapat melakukannya.

Pelaksanaan terhadap prekrutan anggota di GmnI tidak memberikan dampak yang begitu masif terhadap kesadaran ideologis para anggota. Karena hal-hal yang tampak subjektif mulai dari prekrutan anggota yang kecendrungannya hanya pada jalur-jalur emosional akhirnya bergerak pada daya juang yang bimbang. Ada pula calon anggota yang iseng-iseng datang tanpa pengarahan yang masif sebagai calon anggota terhadap tugas yang diemban kedepannya, dan prekrutan dijadikan jalan untuk mencari karir belaka.

Dalam organisasi revolusioner keanggotaan dalam perekrutan haruslah melalui tahap yang begitu penuh dengan keseriusan. Anggota adalah dia yang aktif dan selalu turut serta dalam setiap aktifitas yang sudah terprogramkan oleh organisasi, hal ini menuntut daya juang dan tenaga yang tinggi ditengah derasnya arus sistem kapitalisme yang terus menghisap semangat juang kaum revolusioner. Upaya yang dilakukan organisasi revolusioner dalam prekrutan calon anggota adalah mencoba menerangkan apa saja yang harus dilakukan oleh seorang angota. Mulai dari bersumpah untuk berserius dalam mewujudkan cita-cita perjuangan, ikut serta dalam setiap aktifitas yang di agendakan oleh organisasi, membayar uang pangkal/iuran untuk berlangsungnya organisasi, dan dapat memimpin wacana dalam setiap forum-forum yang ada. Apabila melanggar program dan aturan organisasi, dapat dikenakan sanksi yang berupa penurunan bahkan pemberhentian sebagai anggota organisasi. tentunya hal ini menuntut akan keyakinan yang besar pada setiap anggota yang berserius dalam menjalankan roda organisasi.

SENTRALISME DEMOKRASI DI DALAM GMNI = BIROKRATISME DAN DEMOKRASI LIBERAL.

Dalam tubuh organisasi GmnI sejatinya menggunakan Azas Terpimpin secara nasional yang bukan diartikan secara formal, yang maknanya jika sentralisasi dianggap sebagai pemegang sentral tampuk kekuasaan dan demokratis yang liberal bahkan berujung pada birokratisme ( penghambat ), tetapi yang dimaksudkan sentralisme adalah program sentral yang ditunjukan dari atas hingga bawah, dari presidium (3) sampai komisariat yang dijalankan secara demokratis/berkewajaran secara bersama-sama sesuai dengan kebutuhan organisasi.

GmnI setelah tergerus oleh kerasnya arus politik orde baru pada tahun 65-sekarang ini ada kecendrungan perubahan haluan yang cukup masiff. Berakhir pada gerakan yang dangkal/reformisme bahkan GmnI hanya digunakan untuk keikutsertaan dalam proses pengkariran anggota yang sangat jauh dari cita-cita perjuangan. Untuk terus memajukan gagasan-gagasan demi kemajuan tubuh organisasi dan mempercepat terjadi pengkualitasan kader maupun anggota, dewasa ini GmnI secara Nasional masih terlampau jauh dalam menjalankan azas terpimpin ini. Terbukti dari sikap presidium yang tak begitu tanggap dalam membenahi organisasi untuk dapat menyatukan seluruh Cabang yang ada diseluruh indonesia yang berakhir pada Gerakan Lokal yang diinisiasi oleh setiap cabang yang ada ( desentralisasi ), padahal hal ini sangatlah jauh dari prospek organisasi yang menginginkan adanya kesatuan tindakan di seluruh penjuru Indonesia. tetapi nyatanya GmnI secara organisasional sudah lapuk dalam memajukan organisasi yang berisi para agen oportunis (4), yang haus akan jalan-jalan kekuasaan. padahal jelas tugas dari GmnI adalah pengorganisiran kaum Marhaen (5) ( yang tertindas oleh sistem ) untuk dapat meningkatkan penyadaran terhadap keadaan yang sedang dikepung oleh ideologi kaum borjuasi/penguasa yang secara masif terus merusak akal dan budinurani manusia. Marhaenisme sebagai azas perjuangan sudahlah jauh dari harapan dan cita-citanya karena terlalu gampang mengartikan secara serampangan terlebih bangunan aktifitas yang mandek disimpang jalan.

Untuk itu dalam organisasi revolusioner perubahan pola ini haruslah serius menjadi persoalan. karena hal ini sudah akut untuk dapat perbaikan. GmnI sudah di dominasi oleh para agen-agen yang menyimpang dari cita-cita perjuangan yaitu sosialisme ilmiah. Perubahan-perubahan yang mula-mula dilakukan adalah dengan coba untuk dapat menjalankan azas Sendem yang sebenarnya disusun secara seksama dalam satu arah tujuan yang sama agar dapat menjalankan dengan pola kesatuan tindakan dalam pengorganisiran lintas sektor, nasional, hingga internasional . Hal ini butuh kerja-kerja yang keras dan lugas serta dituntut untuk kreatifitas akal pikiran yang material dalam melihat keberadaan, kehendak yang kuat harus tetap dipupuk bersama.

Pola sentralisme demokratis dalam mekanisme pengambilan keputusan haruslah berangkat dari keputusan secara bersama. Awalnya dikaji lewat bebagai dokumen dan laporan-laporan yang sudah dikerjakan beberapa waktu sebelumnya. hal ini haruslah dikaji dengan serius, karena ini akan menuntun bagaimana kerja organisasi revolusioner kedepannya. Mekanisme ini harus dijalankan secara sistematis dan berkesinambungan untuk dapat terus memajukan konsepsi-konsepsi yang lebih baik lagi kedepannya. Dalam hal porsi kerja azas sentralisme demokratis, para kader-anggota harus punya ukuran untuk dapat menetapkan dimana dia berada dalam organisasi. terlebih untuk kerja-kerja dalam organisasi karena setiap kader dan anggota punya bakat dan kreatifitas yang berbeda tanpa harus melepas pengetahuan dan kesadaran politiknya. Misalnya saja kader yang cukup mumpuni dalam hal teknologi ini dituntut kerja-kerja yang revolusioner seperti pembuatan media untuk dapat menampung berbagai prespektif di dalamnya yang nanti diarahkan sebagai konsep agitasi/propaganda melalui teknologi yang bebasis media masa.

KEUANGAN MANDIRI ORGANISASI HANYALAH SELOGAN BOMBASTIS

Dalam tubuh organisasi GmnI dalam Adrt Pasal 27 atau 34 ayat 1 menyatakan bahwa setiap anggota berkewajiban untuk membayar uang pangkal/iuran dan sumbangan lainnya sesuai kebutuhan, untuk dapat menjalankan roda organisasi seperti pembiayaan korespondensi, selebaran, booklet dan hal lainnya untuk dapat mewujudkan peningkatan kesadaran dan pengkualitasan basis massa ‘idealnya’. Namun, GmnI secara nasional tidak banyak memberikan sebuah prespektif politik terhadap pentingnya keuangan dalam organisasi yang dikeluarkan oleh kantong-kantong para kader dan anggota, dan malahan kita dibuat bermanja-manja/berminta-minta dalam hal keuangan, ini padahal prilaku yang syarat akan kemalasan/kebobrokan yang tidak sesuai dengan organisasi revolusioner. Jika kita melihat contoh yang di kembangkan oleh partai bolshevik yang mempunyai minat dan tekat yang mandiri dalam pengelolaan keuangan mandiri yang dikumpulkan oleh pundi-pundi rakyat pekerja yang berhasil untuk dapat menuntun perjuang revolusioner. Hal ini haruslah menjadi cambuk kasar bagi organisasi GmnI untuk dapat membenahi secara serius bagaimana pengelolaan keuangan yang mandiri tanpa mengharapkan para alumni atau donatur lainnya. Sebab didalamnya terdapat politik oportunis yang sarat akan pembelokan dari cita-cita pejuangan.

Semaoen, dalam bukunya Penuntun Kaum Buruh yang ditulisnya lebih dari 90 tahun lalu (1920), sadar bahwa modal pergerakan untuk memajukan organisasinya tidak datang dari langit, tapi dari kantong anggota-anggotanya. Keperluan untuk memperluas pengaruh organisasi dan mencapai gol-gol perjuangan pertama-tama datang dari kesadaran anggota untuk membayar iuran. Untuk itulah, bendahara organisasi tidak sekedar bertugas mengumpulkan iuran, namun juga memberikan perspektif politik tentang pentingnya iuran anggota dan upaya yang tengah dilakukan untuk membangun fondasi dan tradisi revolusioner tersebut. Walaupun Semaoen menulis mengenai tradisi finans serikat buruh, tetapi hal yang sama juga benar – bahkan seribu kali lebih benar – untuk organisasi revolusioner.

Keuangan dalam organisasi revolusioner akan menjadi teradisi yang terus menerus dipupuk agar tak lapuk digerus oleh para kaum oportunis yang menghambat laju kesadaran massa. memanjakan dengan modal dalam hal apapun. memang perjuangan ini butuh keyakinan yang besar dan teguh ditengah arus kemandekan kesadaran massa yang terus diupayakan oleh para penguasa dengan bertumpu pada modal-modalnya, massa revolusioner haruslah memberangus pemanjaan ini, dan membangun kehendak untuk dapat berdiri sendiri tanpa penopang yang bermasalah dan menghambat.

Selanjutnya non-koperasi yang tidak berkompromi terhadap segala tindakan yang menyengsarakan kaum marhaen, patut di pertanyakan praksisnya di dalam GmnI. Mengingat bahwa non-koperasi tidak akan menghasilkan massa aksi dan machtvorming jika GmnI masih mengabaikan kemandirian ekonomi. Di dalam gerakan revolusioner atau-pun organisasi revolusioner masalah keuangan adalah masalah perspektif politik, karna tugas dari organisasi itu lahir dari perspektif politik. Sehingga rencana keuangan lahir dari tugas tugas organisasi yang harus di emban. Di dalam posisi ini, GmnI harus memiliki sikap yang serius dan tegas terhadap masalah keuangan organisasi. bukankah tidak ada kedaulatan politik tanpa kemandirian ekonomi. Sampai saat ini masih banyak di kalangan GmnI, menggunakan dana bansos yang di berikan oleh pemerintahan borjuis. Sementara pengalaman telah banyak memberikan pelajaran bagi kita, bahwa politik semacam itu, hanya akan menghilangkan kedaulatan politik organisai kita. Pengalaman paling dekat adalah yang terjadi pada negara Indonesia. Kegagalannya membangun kemandirian di bidang ekonomi, mengakibatkan proggram-proggram neoliberalisme dengan mudah masuk dan menggerogoti kebijakan ekonomi,politik, hukum, pendidikan, prilaku sosial dan budaya rakyat indonesia.

PROGRAM TANPA PERSPEKTIF = SEMANGAT TEORITIKAL TANPA PRAKTEK

Dalam tubuh organisasi GmnI, Program haruslah berangkat dari ideologi yaitu marhaenisme dan asaz perjuangan yang terdapat di dalamnya. Program sudah seharusnya menjadi panglima dari gerakan dan kemunculan program revolusioner haruslah berangkat pada keadaan dan situasi pada masanya, dalam historis dialektika perkembangan peradaban semakin bertambah kompleks dan rumit ini membutuhkan tugas dan gagasan terhadap pemilihan program yang tepat sesuai dengan perkembangannya yang dilakukan oleh massa terorganisir yang sadar akan keterasingannya. organisasi revolusioner mengartikan pemimpin adalah program yang telah disepakati bersama dan dijalankan secara bersama. Letak dari kepemimpinan revolusioner hanyalah sebagai seorang yang memastikan kepada seluruh kader maupun anggota untuk terlihat aktif dalam menjalankan program yang telah disepakati. Terlebih peran kepemimpinan revolusioner bukan diletakan pada subjek yang memegang kendali organisasi, tetapi kepemimpinan revolusioner dialah para kader dan anggota yang mempunyai kemandirian dalam berfikir jiwa kreatifitas dituntut untuk dapat mengembangkan pola pengorganisiran.

Bahkan menyusun program revolusiner yang luar biasa dan disepakati tetapi tidak dijalankan, artinya program hanya diletakan pada semangat teoritikal tanpa praktek yang masif dalam perwujudannya. padahal tugas dari organisasi revolusioner adalah menyatukannya antara teori dan praktik. Artinya pemahaman akan program memang benar valid karena pengujian pada program revolusioner adalah aktifitas yang telah dilaksanakan, dan jika terjadi ketiadaan aktifitas, artinya pemahaman akan program yang diemban oleh para kader-anggota hanya tersampaikan lewat benak belaka tanpa kehendak perbuatan (voluntarism). Dan ini terjadi pada organisasi GmnI dari setiap perumusan program. Program hanya menjadi wacana belaka karena ketiadaan perspektif dalam memahami pentingnya program untuk dilaksanakan oleh para kader-anggota. Program yang ada justru sangat jauh untuk menyiapkan syarat demi syarat demi terwujudnya sosialisme Indonesia.

Organisasi revolusioner memandang program itu berangkat dari sejarah dan perkembangannya sesuai dengan keberadaan yang terjadi pada masanya, program bagaikan sebuah perangkat yang harus terdapat dalam tubuh organisasi karena cita-cita organisasi teraplikasikan lewat program yang telah dirumuskan.

Keberhasilan atau kegagalan program dalam mencapai kemenangan tergantung kepada organisasi dan kesadaran massa yang sedang berjuang yaitu pada kepemimpinan yang revolusioner. Organisasi revolusioner merupakan senjata yang mutlak diperlukan bagi kemenangan kelas tertindas.

KEBUTUHAN TERHADAP ORGANISASI REVOLUSIONER

Ernest mandels dalam pidatonya pada pertemuan Majelis Internasional Gerakan Mahasiswa Revolusioner di New  York University 1968, telah mengingatkan pada kita akan pentingnya membangun sebuah organisasi revolusioner yang permanen (tidak terbatas oleh sektor dan massa study). “tanpa organisasi yang revolusioner, bukan  suatu  formasi yang longgar  tapi sebuah organisasi yang  serius  dan permanen sifatnya,  maka kesatuan teori dan praktek tidak  akan bertahan lama”. Hal tersebut berhubungan dengan  asas  dari mahasiswa  sendiri.  Status kemahasiswaan, hanya berlaku  untuk jangka  waktu yang singkat, tidak seperti buruh. Ia bisa menetap di universitas selama empat, lima, enam tahun, dan tidak ada yang dapat  memperkirakan apa yang terjadi  setelah ia  meninggalkan universitas.

Kegunaan organisasi revolusioner yang permanen adalah untuk menyediakan integrasi timbal balik antara mahasiswa dan perjuangan kelas tertindas oleh para pelopornya secara terus menerus. Ini bukan sekadar kesinambungan yang sederhana dalam batas waktu tertentu, tapi sebuah kelanjutan ruang antara kelompok-kelompok sosial yang berbeda dan memiliki tujuan sosialis revolusioner yang sama.

GmnI sebagai organisasi yang juga mencita-citakan sosialisme, tentu tidak bisa hanya menyandarkan perjuangnnya pada masa study saja. Selain itu, perjuangan yang berlandaskan marhaenisme dan cita-cita sosialisme haruslah meletakkan kepemimpinannya kepada kaum marhaen. Lebih lanjut kaum buruh adalah kelas yang berada di garda terdepan dalam perjuagan sosialis. Ini semakin meperjelas kebutuhan terhadap organisasi revolusioner yang permanen, tidak terbatas pada masa study. selanjutnya, GmnI berkewajiban untuk terlibat dalam perjuangan kelas tertindas. bersolidaritas terhadap gerakan buruh, tani, LGBTQ, dan Kaum Miskin Kota lainnya. menghilangkan sepenuhnya STERILITEIT (sikap mensterilkan diri dari realitas masyarakat yang terus bergerak) di dalam GmnI. Hanya dengan itulah kita mampu membangun gerakan yang marhenistis, melanjutkan revolusi yang belum selesai, dan mencapai masyarakat sosialis.

*tulisan ini merupakan rangkuman dari diskusi yang di laksanakan oleh aliansi lintas komisariat dalam Konfercab DPC GmnI Samarinda 11 Maret 2016. Selanjutnya Struktur DPC GmnI Samarinda, justru secara sepihak membatalkan Konfercab tanpa ada klarifikasi.  Berikut juga kami sertakan peserta dalam diskusi tersebut. mengingat peserta dalam diskusi tersebut di angap melakukan pelanggaran organisasi oleh DPC GmnI Samarinda.komisariat yang datang dalam diskusi tersebut, khususnya orang orang yang terlibat di dalamnya tidak di ijinkan terlibat dalam Konfercab yang di laksanakan oleh DPC GmnI Samarinda pada tanggal 23 maret 2016.

di hadiri oleh :

  1. Bung Angga (ketua Komisariat Fisipol)
  2. Bung Aswin (komite Politik komisariat Fisipol)
  3. Bung Haidir (komite Organisasi Komisariat Fisipol)
  4. Bung Rahman (Kader Komisariat Fisipol)
  5. Bung Darmo (Kader Komisariat Fisipol)
  6. Bung jamal (Ketua Komisariat Ekonomi)
  7. Sarinah Rike (Komite Politik Komisariat Ekonomi)
  8. Bung Heri (Kader Komisariat Ekonomi)
  9. Bung Eron (Ketua Komisariat Pertanian)
  10. Sarinah Hema (Komite Kesarinahan Komisariat Pertanian)
  11. Bung Yudha (Kader Komisariat Hukum)

Catatan dan Refrensi :

(1) Marhaenisme adalah ajaran bagi kaum marhaen untuk memperjuangkan nasib buruknya yang ditentukan oleh sistem.
(2) Presidium adalah pemimpin sentral organisasi secara Nasional yang bertugas mengkoordinasi tugas-tugas organisasi secara Nasional.
(3) Oportunis adalah paham seseorang/sekelompok orang yang semata-mata hendak mengambil keuntungan diri sendiri dari kesempatan yang ada tanpa berpegang pada prinsip tertentu [KBBI]
(4)Kontra-Revolusioner ( Reaksioner ) adalah upaya yang dilakukan oleh orang/sekelompok orang, hal reaksi/tindakan yang tidak menginginkan adanya perubahan bagi masyarakat dalam ketertindasannya.
(5)Marhaen, adalah para kaum yang sedang tertindas oleh sistem ( pauvrising : penindasan yang sistemik), yang terdiri atas ( buruh, tani, nelayan, dan lain-lainnya ).
Struktur Organisasi Partai Revolusioner, Metode dan Cara Kerjanya : Dokumen Kongres III International Ketiga di Moscow, Juli-Agustus 1921
Semaoen, ( Penuntun Kaum Buruh )
Che Guevara – Kader : Tulang Punggung Revolusi (September 1962)
Ernest Mandel – Gerakan Mahasiswa Revolusioner: Teori dan Praktek

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s