Materialisme dialektika

tes.jpg

Bagi kebanyakan orang, membaca ataupun belajar soal filsafat sangatlah menjenuhkan, dan sulit di mengerti. filsafat dianggap tidak banyak berkaitan dengan problem praktis kehidupan, filsafat juga dianggap sebagai ilmu yang sangat tinggi. Pada akhirnya, belajar filsafat di anggap sebagai suatu hal yang kurang penting. Perlu di ketahui bahwa pendapat yang demikian tidaklah benar. Justru sebaliknya, dengan belajar filsafat kita akan semakin mudah memahami kontradiksi-kontradiksi yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Memang mempelajari filsafat akan terasa sulit, jika kita memisahkannya dengan aktifitas sehari hari. Karena filsafat erat kaitannya dengan aktifitas keseharian manusia. Lebih lanjut, filsafat juga sangat berhubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, situasi ekonomi, politik, hukum, sosial,budaya danseluruh aspek lainnya.

            Secara singkat, filsafat merupakan pandangan manusia terhadap dunia keseluruhan, baik alam maupun pikiran. Sederhananya filsafat merupakan cara pandang manusia memahami dunia dan menjelaskannya. Dengan kata lain, belajar filsafat berarti belajar tentang dasar atau pangkal pandangan kita terhadap gejala-gejala alam, perkembangan masyarakat dan pikiran. Jadi, jelas bahwa filsafat itu erat hubunganya dengan kehidupan kita. Soalnya ialah, bagaimana kita memahami dan memiliki filsafat yang benar.

            Perlu juga di ketahui bahwa filsafat menyediakan pedoman hidup bagi manusia. Ini karean pikiran-pikiran filsafat memberi petunjuk pada manusia untuk mengenali hal hal yang khusus dan konkrit daalam kehidupan sehari hari. Suatu sistim filsafat menyatakan keadaan dunia secara teori; dan dengan teori itu kita gunakan untuk memecahkan masalah-masalah konkrit dan khusus yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari termasuk juga yang dihadapi dalam perjuangan. Dalam dunia filsafat terdapat banyak macam aliran. Tetapi dalam perkembangannya, jawaban atas masalah pokok masyarakat (sejak munculnya kepemilikan pribadi yang menandai lahirnya masyarakat kelas yang memiliki alat produksi dan yang tidak memiliki alat produksi) terbagi dalam dua kubu sistem filsafat. Pertama filsafat idealisme, yang beraggapan bahwa keadaan atau materi adalah segala sesuatu yang objektif ada di luar dan tak tergantung pada kesadaran kita. Kedua adalah kubu materialisme, sebuah sistem filsafat yang berpendapat bahwa pandangan, pokok pikiran, cara menerangkan atau memahamkan bahwa segala sesuatu kejadian atau peristiwa itu bertolak dari keadaan kongkrit, dari materi.

Apa perbedaan mendasar antara materialisme dan idealisme?

            Idealisme dan materialisme merupakan konsekuensi dari perkembangan ilmu pengetahuan. Seorang yang idealis tidak memiliki otoritas, ia menganggap bahwa dirinya adalah objek dari kehidupan, yang berharap perubahan pada hal yang di luar dari kehidupannya. Apa yang di lakukannya semua karena ada hal goib yang membantu dan menggerakkannya. Sehingga seorang yang idealis akan menjadi pesimis dalam menjalani kehidupan sehari harinya. Sebaliknya seorang yang materialis percaya bahwa dirinya punya otoritas untuk menciptakan sesuatu. Ia percaya bahwa dirinya adalah subjek dari kehidupan. Sehingga seorang yang materialis adalah seorang yang optimis dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.

            Seperti yang sudah di sampaikan sebelumnya bahwa jawaban atas masalah pokok masyarakat (sejak munculnya kepemilikan pribadi selanjutnya menandai lahirnya masyarakat kelas yang memiliki alat produksi dan tidak memiliki alat produksi) terbagi dalam dua kubu sistem filsafat. Oleh karena filsafat tidak terpisah dari praktek kehidupan, maka dalam masyarakat berkelas kedua kubu filsafat memiliki keberpihakannya sendiri. Dalam hal ini, kedua kubu filsafat tersebut, masing masing menjadi senjata dari kedua kelas (kelas yang menginginkan kesejahteraan seluruh umat manusia dan kelas yang hanya memikirkan kepasan individu dengan mengasingkan manusia lainnya) yang saling berkontradiksi. Dalam masyarakat berkelas ada filsafat kelas penghisap dan filsafat yang dihisap. Dalam masyarakat kapitalis ada filsafat borjuis dan ada  filsafat proletar. Filsafat borjuis itu  mencerminkan kepentingan kelas  borjuis sehingga pandangan apapun yang diajukan, merupakan pandangan yang mempertahankan kepentingan kelasnya. Pandangan itu mau tidak mau membenarkan dan mempertahankan  penghisapan borjuasi atas kelas atau golongan-golongan lain dan untuk mencapai tujuannya mereka tidak segan-segan memutarbalikkan keadaan yang sebenarnya, melakukan pemalsuan sejarah dan sebagainya.

            Filsafat idealisme di gunakan oleh kelas borjuis sebagai senjata untuk menjadikan kelas buruh manusia yang penurut, pasrah dan menerima keadaan sebagai takdir. Sebaliknya  filsafat materialisme menjadi senjata kelas buruh untuk mengetahui tugas tugasnya. seperti yang kita lihat dalam beberapa  tahun terakhir, puluhan ribu buruh turun kejalan, mogok kerja untuk menuntut agar hak  mereka di penuhi. Ini semua karena buruh, secara tidak langsung telah menggunakan filsafat materialisme dan memahami penghisapan yang di alaminya. Menyadari bahwa jika hanya diam dan pasrah nasib mereka tidak akan berubah. Namun, tidak semua kaum buruh berkesadaran demikian. Karena dalam sistem kapitalisme kekuasan ada pada kelas borjuasi. Ini berkonsekuensi pada mayoritas kaum buruh lainya yang memilih belajar untuk nerimo dan juga bersyukur bahwa mereka setidaknya memiliki pekerjaan maka apa yang telah di dapatkannya akan terasa lebih dari cukup. Proses pengidealisiran kesadaran di praktekkan tidak hanya dalam ruang pekerjaan (dalam hal ini buruh dan pemodal) tapi seluruh aspek kehidupan melalui lembaga lembaga kapitalis lainnya. Seperti keluarga, sekolah, perkuliahan, agama, adat istiadat dan lain sebaginya.  contoh lain, dalam menjelaskan kejadian-kejadian di dalam alam atau masyarakat ini, seperti : banjir,  kemiskinan yang mencolok, tentara yang represif, sebagai sesuatu yang disebabkan oleh kekuatan gaib atau oleh takdir.

Selain itu, perbedaan cara pandang idealisme dan materialisme juga dapat kita jumpai dalam gerakan mahasiswa atau gerakan buruh-tani. Seringkali dalam gerakannya tidak bertolak dari kebutuhan perjuangan (materi) melainkan bertolak dari elit atau pimpinan organisasi atau serikatnya yang berasal dari keinginan dirinya sendiri, dari pendapat atau kesimpulanya sendiri (ide). Mereka ini (elit serikat buruh/tani atau organisasi mahasiswa yang oportunik) adalah antek antek borjuis yang menjelma sebagai pimpinan organisasi serikat buruh, mahasiswa, serikat tani dan sebagainya. Mereka bertujuan untuk membelokkan kesadaran kelas tertindas dari tugas tugasnya serta menjauhkannya untuk mengetahui akar masalah dari penghisapan dan penindasan yang terjadi. Mereka juga berpotensi untuk mendamaikan pertentangan yang terjadi antara kelas tertindas dan kelas penindas. Itulah mengapa asal-usul kelas seseorang ikut menentukan pandangan kelasnya. Oleh karenanya, walaupun seseorang mempunyai pandangan filsafat yang benar, tapi bila hasilnya itu ternyata bertentangan dengan kepentingan kelasnya, maka akan dihadapkan dalam pilihan: menghianati kelasnya atau melepaskan pandangan filsafatnya yang benar itu.

Cara pandang materialis tanpa metode berpikir yang mampu menampung kesaling hubungan dari situasi disatu daerah dengan situasi daerah lainnya, masa kini dan masa sebelumnya, serta yang tak terbatas oleh ruang dan waktu akan memandang dunia secara sepotong sepotong. Tentu saja cara metode berpikir yang sepotong sepotong tersebut tidak akan membawa kelas tertindas menemukan akar masalah dari penghisapan yang terjadi. Inilah mengapa, perlu metode berpikir yang tepat dan ilmiah dalam membedah situasi dan menemukan akar masalah. Tentua saja bukan metode berpikir yang subjektif. Metode berpikir yang hanya bertolak dari asumsi individu. Melainkan metode berpikir yang berdasarkan hasil-hasil studi dan penelitian ilmiah dari data dan fakta dunia objektip di sekeliling. Harus berdasarkan penyimpulan-penyimpulan ilmiah dari pengalaman praktis perjuangan rakyat dalam proses produksi dan revolusi. Metode yang demikian adalah metode berpikir dialektika

Bagaimanakah hukum hukum dialektika dalam keseharian kita?

            Seperti yang di ungkapkan oleh Yu Kharin bahwa “dunia ini bukan lah satu kumpulan yang acak dari hal-hal yang saling terisolasi, melainkan merupakan suatu totalitas integral dari gejala-gejala yang saling bertautan dan saling mempengaruhi. Hubungan antara objek dan sifat-sifat yang dikandungnya, yang terwujud dalam hubungan saling menentukan satu dengan yang lainnya, saling mengkondisikan dan saling bergantung, itu lah yang dinyatakan dalam konsepsi hubungan tersebut “ Begitulah materialisme dialektika. Di dalamnya terkandung prinsip-prinsip universal dan perkembangannya. Lebih lanjut, materialisme dialektika mengakui materi atau kenyataan objektip itu berada diluar kesadaran subjektif, artinya adanya suatu materi itu tidak ditentukan oleh kesadaran atau pengetahuan manusia.

            Metode dialektik berbeda dengan metode metafisik, karena metode ini berdasarkan hukum-hukum yang berlaku di dalam kenyataan objektif itu sendiri. Hukum-hukum objektif dialektik itu dapat dirumuskan dalam 4 pokok. Pertama,  Hukum Gerak. segala sesuatu itu berada dalam keadaan bergerak, dalam keadaan berkembang dan berubah. Pertanyaannya,  apakah yang menyebabkan segala sesuatu itu bergerak? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan di tentukan dari cara pandang yang kita gunakan. Jika cara pandang yang di gunakan idealisme maka kita akan menyatakan bahwa  jika sesuatu itu berubah maka ia diubah oleh kekuatan ide yang berada di luar materi yang bersangkutan atau di luar dunia materiil. Dalam hal ini, seorang yang idealis akan berpendapat bahwa seorang yang sebelumnya kaya raya dan dalam sekejab jatuh miskin itu karena takdir (biasa di katakan bukan rejekinya). Sebaliknya dialektika materialis yang berpendirian bahwa materi itu bergerak karena kekuatan yang terkandung di dalam materi itu sendiri. Misalnya, seorang materialis dialektik akan berpendapat bahwa revolusi Indonesia mencapai kemajuan- kemajuan karena kekuatan-kekuatan yang terkandung didalam masarakat Indonesia  itu sendiri, yaitu klas-klas yang ada didalamnya serta saling hubungan di antara klas-klas itu. Revolusi Indonesia mencapai kemajuan-kemajuan bukan karena takdir, bukan pula karena hasutan dan desakan luar negeri. Pengaruh faktor luar sudah tentu ada. Tapi faktor internalnyalah yang paling menentukan. Ini berhubungan dengan keberadaan dan kesanggupan. faktor luar itu memainkan peranan yang penting bagi gerak suatu materi, tetapi yang menentukan adalah faktor dalam. Faktor luar hanya bisa memberikan pengaruhnya lewat sebab dalam itu sendiri. Faktor luar itu disebut juga syarat luar dari gerak materi. Contohnya adalah bagaimana menguntungkannya situasi dunia Internasional sebagai faktor luar dalam membangun demokrasi sejati, tetapi jika kekuatan–kekuatan prodemokrasi di dalam negeri tidak  solid, tidak punya organisasi yang terpimpin, tidak punya strategi-taktik yang jitu dan tidak punya program yang tepat, maka gerakan prodemokrasi itu tidak akan bisa mencapai hasil yang maksimal.

            Kalau kita teliti segala sesuatu yang ada dalam sekitar kita apakah itu alam, fikiran atau masyarakat maka, akan terlihatlah bahwa ia mempunyai masa awalnya, masa perkembangan dan masa kehancuran atau pergantianya. Misalnya bibit tumbuh lalu berkembang menjadi pohon dan akhirnya melapuk dan mati : masyarakat pemilikan budak lahir, berkembang dan kemudian digantikan masyarakat feodal dstnya. Demikian juga halnya dengan fikiran kita. Mula-mula kaum buruh berfikiran bahwa sistem kapitalis itu baik karena mereka merasa tertolong dengan mendapat pekerjaan sebagai buruh pabrik; lama-kelamaan mulai terlintas dalam fikiran kaum buruh itu bahwa sistem kapitalisme ini membuat mereka menjadi miskin, terasing dan  tidak mampu memiliki alat-alat produksi karena nilai lebihnya dicuri oleh pemilik modal. Keadaan menguntungkan dan kemudian menjadi merugikan itu menyebabkan pikiran kaum buruh berubah mengalami pergerakan sebagai pencerminan yang menyeluruh terhadap keadaan sekelilingnya.

            Kedua, Hukum saling hubungan. menyatakan dan memang demikianlah kenyataanya bahwa, segala sesuatu itu tidak berdiri sendiri–sendiri, tetapi mempunyai saling hubungan. Ini berbeda dengan seorang metafisika yang beranggapan bahwa segala sesuatu berdidi sendiri-sendiri tidak memiliki kesaling hubungan. Dalam materialisme dialektika, saling hubung itu terdapat pada bagian-bagian di dalam sesuatu dan antara hal yang satu dengan hal yang lain saling hubungan itu terdapat pula antara masa lampau dan masa kini serta dengan masa depan.

            Misalnya ada saling hubungan  antara krisis ekonomi kapitalis dengan sistem ekonomi yang berdasarkan hak milik perorangan kapitalis atas alat-alat produksi. Represifitas terhadap gerakan rakyat, tentu memiliki kesaling hubungan dengan kepentingan investasi asing dan eksploitasi sumberdaya alam secara brutal. Atau kegagalan landreform di indonesia punya hubungan dengan pembantaian jutaan anggota Partai komunis Indonesia (PKI) 1965, yang di sebut dengan peristiwa G30S. Pertumbuhan padi misalnya hanya dapat dimengerti hanya bila kita mengetahui saling hubungannya dengan keadaan tanah, air, dan matahari dsb. yang ada disekitarnya; disamping keadaan saling hubungan antara bagian-bagian dari pohon padi tadi yaitu, akar, batang, daun, dsb. Saling hubungan antara gejala-gejala di sekitar kita itu banyak corak dan ragamnya, ada yang langsung dan ada yang tak langsung; ada saling hubungan yang penting dan yang tak penting; ada saling hubungan keharusan dan kebetulan dsb. Semua harus dipelajari dan dapat dibedakan. Berdasarkan asas saling hubungan ini maka, metode kita mendekati, memahami dan mengubah sesuatu haruslah dalam saling hubunganya yang ada secara objektif dengan hal-hal di sekelilingnya dengan masa lampau dan masa depan.

            Ketiga, Hukum perubahan kuantitatif ke perubahan kualitatif. Hukum dialektika ini menyatakan, bahwa proses perkembangan dunia material atau dunia kenyataan objektif terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah perubahan kuantitatif yang berlangsung secara perlahan, berangsur atau evolusioner. Kemudian pada satu titik perubahan kuantitatif tersebut meningkat ketahap kedua, yaitu perubahan kualitatif yang berlangsung dengan cepat, mendadak dalam bentuk lompatan dari satu keadaan ke keadaan lain, atau revolusioner.

            Misanya kaum buruh akan menyadari penghisapan yang di alaminya secara perlahan. Saat kebutuhan untuk hidup semakin meningkat dan upah yang mereka dapatkan jauh lebih rendah. Inilah perubahan kuantitatif /berangsur/ bertahap. Namun kesadaran kaum buruh mendapati perubahan secara kualitatif jika kaum revolusioner yang telah mempelajari dan mempraktekkan teori marxis menginterpensi kesadaran kaum buruh tersebut. Selain itu misalnya saja program cabut dwifungsi ABRI merupakan perubahan dalam hubungan sipil-militer (perubahan kuantitatif) yang menuju ke perubahan dari masa kediktatoran ke masa demokrasi sejati (perubahan kualitatif). Sebab, kita percaya bahwa selama dwifungsi ABRI masih bercokol selama itu pula, demokrasi senantiasa dalam ancaman bahaya. Dialektikanya, adanya perubahan kualitatif akan melahirkan perubahan kuantitatif yang baru. Misalnya, dalam masa demokrasi sejati, kesempatan untuk berbicara, berpendapat, dan berorganisasi, akan lebih mudah bagi setiap individu, kelompok maupun partai politik, ketimbang di era kediktatoran.

            Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perubahan itu berlangsung dari perubahan kuantitatif (evolusioner) ke perubahan kualitatif (revolusioner), dari yang kecil-kecil menunju ke yang besar, dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi.Perubahan kuantitatif dan perubahan kualitatif merupakan dua macam bentuk dasar dari segala perubahan. Segala perubahan yang terjadi dalam dunia kenyataan objektif itu kalau bukan dalam bentuk perubahan kuantitatif, maka dalam bentuk kualitatif.

            Ke empat, Hukum Kontradiks yang merupakan jiwanya dialektika. Tanpa adanya kontradiksi intern, berarti tidak ada gerak dan perkembangan. berarti tidak ada hal ikhwal itu sendiri. Menurut arti sebenarnya, ‘dialektika adalah studi tentang kontradiksi di dalam hakekat segala sesuatu itu sendiri. Dalam pengertian filsafat, sangatlah luas, tidak sebatas pada segi-segi yang saling berlawanan atau bertentangan, tapi segi yang berlainan dan berbeda sekalipun termasuk dalam kontradiksi. Artinya kontradiksi mengandung arti yang luas, yang tidak terbatas pada pertentangan saja tetapi mencakup juga perbedaan yang sekecil-kecilnya.

            Misalnya saja yang paling nyata kita lihat selama ini adalah bagaiman kepentingan antara kelas buruh dan pengusaha. Buruh menginginkan kesejahteraan, hidup yang layak dan upah yang layak. Tapi, pengusaha tidak akan membiarkan itu terjadi. Kesejahteraan bagi kaum buruh, berarti kerugian bagi si pengusaha. Kemudian Misalnya, kontradiksi antara rakyat Indonesia dengan Imperialisme sejak Indonesia dijajah, hingga Indonesia menjadi negeri yang merdeka.

            Kesalahan di dalam mengenali dan mengetahui mana kontradiksi pokok dan mana kontradiksi bukan pokok, disamping akan menghambat pemecahan kontradiksi, juga dapat menyebabkan pengalihan atau pemutarbalikkan kontradiksi pokok dan bukan pokok. Misalnya saja situasi masyarakat saat ini adalah kontradiksi antara kelas yang terasingkan dari ekspresinya dalam mendapatkan makanan akibat di pisahkan dengan alat produksinya, dengan kelas yang menumpuk kekayaannya dari keringat jutaan tenaga kerja karena memiliki alat produksi. Artinya seluruh gerakan revolusioner harus di arahkan pada perebutan kekuasaan atas alat alat produksi dan pembangunan tenaga produktif. Tapi kelopok revormis dan reaksioner jutru mengalihkan kontradiksi pokok ini hanya pada masalah hubungan buruh dengan pengusaha yang kurang baik. Atau di munculkannya isu komuni gaya baru yang anti pancasila, anti agama dan di anggap merusak moral bangsa.

Penutup

            Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa dialektika bukanlah hasil penemuan dari pemikiran manusia tapi muncul secara independen dari pemikiran alam dan masyarakat. Dialektika menemukan maksud dari fungsi dan perkembangan suatu materi, dan metode dialektis memberikan inti pengertian akan perkembangan alam, masyarakat dan pemikiran. Oleh karenanya, mereka adalah senjata yang sangat diperlukan oleh klas buruh dalam perjuangan revolusioner.  Kaum revolusioner harus dilatih dalam metode dialektis agar mengerti secara ilmiah hukum tentang perkembangan alam dan sosial dan mengaplikasikan pengetahuan hukum ini untuk berjuang menuju perubahan. Kita juga dapat melihat bahwa dialektika lebih dari sekedar metode untuk mengetahui dunia. Tapi adalah untuk mentransformasi­kan dunia. Metode dialektis menghubungkan “pengetahuan akan hukum perkembangan” dengan “aktivitas proletar secara praktis dan teoritis di dunia”. Jadi dapat diakui bahwa kapitalisme dilihat sebagai sistem yang saling terhubung dan satu-kesatuan yang memungkinkan kaum proletar mengambil gerakan suatu strategi revolusi yang bertujuan menantang sistem kapitalis secara keseluruhan.

*Rangkuman Hasil Diskusi Lingkar Study Kerakyatan 

Bangun Kesadaran Kelas Tertindas

Jayalah Sosialisme

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s