Pelajaran dari Kebangkitan Nasional, Reformasi Dan Tugas Kaum Muda

14-thn-lalu
di salin dari : Laniratulanginewblog.wordpress.com

Sejarah bangkitnya kesadaran bangsa

          Kebangkitan nasional merupakan bingkai sejarah yang semestinya ditegakluruskan, karena di zaman anomali sejarah saat ini sangat berbahaya. Bagi generasi bangsa terutama pemuda yang sudah mulai lelah mempelajari sejarah bangsanya, padahal kata seorang orator bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Dan sudah tentu hal itu merupakan bagian dari proses terjadinya sejarah. Dari masa kerajaan hingga kepresidenan tak ada buku yang memuat riwayat otentik/asli dari bangsanya, melainkan hanya mengikuti alur kekuasaan yang sedang terjadi yang dilukis-indahkan oleh para-para ahli riwayat (sejarah yang hanya menguntungkan penguasa saja). Kebenaran riwayat diatur oleh kekuasaan dan kekuasaan teratur oleh riwayat yang mendominasi.

          Seperti yang dikatakan oleh Tan Malaka Riwayat Indonesia tak mudah dibaca, apalagi dituliskan. “Riwayat negeri kita penuh dengan kesaktian, dongeng-dongengan, karangan-karangan dan pertentangan. Tak ada jua seorang ahli riwayat dari kerajaan Majapahit atau Mataram yang mempunyai persamaan dengan ahli bangsa Roma kira-kira 1400 tahun yang silam, seperti Tacitus dan Caesar. Kita terpaksa mengakui bahwa kita tak pernah mengenal ahli riwayat yang jujur. Paling banter kita Cuma mempunyai tukang dongeng, penjilat-penjilat raja yang menceritakan berbagai macam keindahan dan kegemilangan supaya tertarik hati si pendengar”( Aksi Massa ). Kalau mau diperhatikan bagaimana tumbuhnya kesadaran bagi suatu bangsa, sebenarnya tak terlepas dari keadaan yang menimpa kehidupannya,entah lahiriah maupun batiniah. Persis seperti yang diungkapkan oleh sokoguru, yakni Karl Marx menyebutkan bahwa bukan kesadaran sosial yang menentukan kewujudan sosial,tetapi kewujudan sosial yang menentukan kesadaran sosial. Artinya lahirnya kemauan dan kehendak rakyat untuk berjuang karena keadaan sosial yang menimpa diri dan kemanusiannya.

          Sejarah kebangkitan nasional perlu di luruskan. Agar kita dpat mengambil banyak pelajaran penting bagi kebangkitan semangat kabangkitan nasional.  Ada banyak versi yang mengungkapkan pristiwa kebangkitan bangsa, ada yang mengatakan bahwa permulaannya berawal dari berdirinya Budi Otomo 20 Mei 1908, yang dikukuhkan menjadi hari kebangkitan nasional. Namun tak bisa dipungkiri bahwa gerakan Budi Otomo begitu sempit yang terarah pada ranah lokal saja belum lagi yang mengisi kepemimpinan meliputi para bangsawan, tentu saja ini tidak dapat mempercepat laju kemerdekaan pada bangsa karena terhambat oleh pemimpin yang kolot akan kemajuan, terbukti banyaknya anggota Budi Otomo yang keluar karena tak sesuai dengan semangat persatuan dan kemerdekaan. Pada lain hal, ternyata semangat kebangkitan nasional  mula mula di sulut oleh Serikat Dagang Islam yang lahir pada 16 Oktober 1905.

          Yang memberikan tekanan  pada  penjajah hindia-belanda. dalam artikel Bumi Rakyat mengulas Asal-usul SDI yang tak bisa dilepaskan dari kondisi sosial ekonomi masyarakat pribumi saat itu. Dalam The Kapitan Cina of Batavia 1837-1942, A History of Chinese Establishment in Colonial Society, tercantum mengenai peran istimewa orang-orang Cina. Hal ini ditegaskan Jan Pieterszoon Coon, “daer is geen volck die ons beter dan Chineesen diennen,” (Dimana tak ada rakyat yang melayani kita ketimbang orang-orang Cina) (Sabili, Juli 2004, Edisi Khusus Islam Kawan atau Lawan). Untuk menyikapinya, kaum pedagang dan kaum muslim pribumi bersatu dalam SDI pada 16 Oktober 1905 (Endang Saifudin Ansharai, 1981, hal. 4; dan Mimbar Ulama, No. 112, hal 10, Abdul Qadir Djaelani, 1996, Perjuangan Politik Umat Islam hal. 35). Dibawah pemrakarsanya, H. Samanhudi, SDI secara tidak langsung juga melawan dominasi belanda di ranah ekonomi Hindia Belanda.

          Seperti yang sudah di jelaskan sebelumnya bahwa, timbulnya kemauan dari pedagang dan kaum muslim pribumi untuk melawan dan berjuang karena adanya ketidakselarasan yang menimpanya sehingga timbullah tekad untuk melawan dominasi penjajah yang telah lama menindas dan memaksa kehidupannya. Pada Ensiklopedia Nasional Indonesia mencatat bahwa anggaran dasar SDI memiliki tiga tujuan. Meningkatkan persaudaraan diantara anggota, tolong-menolong di kalangan muslimin, dan berusaha meningkatkan derajat kemakmuran dan kebebasan negeri. (Sabili, Juli 2004, Islam Kawan atau Lawan). Poin ketiga—berusaha meningkatkan derajat kemakmuran dan kebebasan negeri—ini lah yang patut kita perhatikan. Sedari awal, SDI bertujuan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Hindia. Seluruh rakyat Hindia tanpa terkecuali, tanpa memandang ras dan status ekonomi. Dari segi ini secara implisit, SDI sudah menginginkan kemerdekaan dan kesejahteraan bagi rakyat Hindia. Karenanya SDI mampu menarik simpati masyarakat kebanyakan. Sehingga disisi lain, otomatis mengundang ketakutan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

          Berbedahal dengan gerakan Budi Otomo yang hanya berkutat pada ranah lokal dan kemerdekaan daerah masing-masing. Hal inipun diperkuat dengan pernyataan tokoh-tokohnya. Abdul Qadir Djaelani mengutip pernyataan Soewardi Soerjaningrat (tokoh Budi Utomo). Pernyataan berjudul “Het Javaanche Nationalisme in Indische Beweging” dari buku “Gedenkboek Boedi Oetomo 1908-1918, berbunyi: “…Kekuasaan dan pengaruh raja-raja Jawa itu makin lama makin ditindas Belanda. Tetapi justru karena itu orang-orang di keraton Jawa itu lebih tahu apa yang disebut ‘cinta tanah air’, yaitu cinta pada tanah Jawa, hanya pada tanah Jawa, hanya pada tanah tumpah darah ini. Hindia dikenal hanya sebagai sebagai daerah di luar tanah air, sebagai negara ciptaan Belanda, dan tanah air Jawa dengan paksa dimasukkan menjadi bagian negara itu. Memang benar, dahulu memang ada kaitan antara Jawa dan daerah-daerah seberang. Tetapi bukan Jawa yang menjadi daerah bagian suatu kerajaanbesar, tetapi sebaliknya Jawalah kerajaan itu, sedangkan seluruh tanah seberang merupakan daerah kerajaan Jawa. Jadi nasionalisme Jawa yaitu pulihnya kembali Jawa merdeka berarti dihancurkannya pemerintahan asing… “ (W. Poesporodjo, p. Cit., hal. 27 – 32) Inilah yang menjadi dasar, mengapa Budi Otomo tidak dapat di sematkan sebagai pelopor kebangkitan bangsa, yang menjadi hari bagi kebangkitan bangsa. Padahal jelas sudah kepeloporan awal dalam melawan penjajah ,membela dan ingin memerdekakan keseluruhan bumi putera- Hindia-, yakni Serekat Dagang Islam.

          Bertolak dari peristiwa itu, SDI yang telah berkembang pesat, merubah konsep organisasinya. Pada 10 September 1912, SDI berubah menjadi Sarekat Islam (SI) dan mengumumkan HOS Tjokroaminoto sebagai seorang komisionaris. Sejak saat itu berbagai perkembangan menyusul dengan cepat. Cabang-cabang SI berdiri di berbagai tempat, baik di Jawa maupun luar Jawa. Berbagai advokasi pun dijalankan oleh tiap cabang SI. Umumnya berupa perlawanan terhadap praktek penindasan oleh penguasa terhadap kaum pribumi. Bersatunya bangsa Hindia Belanda dalam berbagai aksi yang dinaungi SI, menimbulkan ketakutan khusus pada penguasa. Ketakutan akan potensi revolusioner SI, pemerintah menolak memberikan pengakuan terhadap SI pusat. Pengakuan hanya diberikan kepada SI-SI lokal untuk menghambat pergerakan SI. Kongres pertama SI di Bandung pada 17-24 Juni 1913, membuat pemerintah kolonial Belanda gempar. 16.000 orang dari utusan cabang-cabang SI di Jawa, Sumatera, Bali, dan Sulawesi, hadir mewakili 800.000 orang anggotanya. Terlebih di konggres itu Tjokroaminoto menggunakan bahasa melayu (indonesia). Kemampuan SI mengumpulkan rakyat Hindia dari segala penjuru menjadi fenomena tersendiri. Konggres SI kedua di Oktober 1917, menghasilkan program kerja yang lebih luas. Tidak hanya bidang ekonomi, pendidikan, dan agama. Kongres turut melahirkan tuntutan-tuntutan di bidang politik, hukum, pertanian, industri, keuangan dan perpajakan, moral, serta ketenagakerjaan. Pokok tuntutan itu bisa disimpulkan menjadi perlawanan terhadap kapitalisme dan perjuangan untuk pemerintahan sendiri.

          Pada akhirnya kita pun perlu untuk menyerap inti sari dari perdebatan tentang simpang siur sejarah kebangkitan nasional. Tentu saja kita menolak untuk terjebak pada perdebatan identitas yang senti mentil. Perjuangan SI atau Budi Otomo dalam semangat awal kebangkitan nasional harus diletakan pada perjuangan yang kokoh dan mengakar. Bukan lagi perjuangan identitas yang berakhir pada chauvinis. Yang malah dapat mengaburkan arah perjuangan sebenarnya. Apa yang dapat kita pelajari adalah, bahwa semangat kebangkitan nasional tidak dapat di pisahkan dari perjuangan melawan  kolonialisme pada saat itu. Perjuangan tersebut tentu saja tidak dapat di capai dengan organisasi atau perkumpulan yang terbatas pada daerah tertentu, suku tertentu dan agama tertentu. Namun organisasi yang demokratis dan tidak terbatas pada skat agama, suku, ras dan daerah tertentu. Perjuangan melawan kolonialisme adalah perjuangan kelas tertindas dan kelas yang menindas. Tentu saja perjuangan seperti itu, membutuhkan organisasi dan aliansi yang tidak kompromis. Seperti halnya budi utomo yang masih terbatas pada domain jawa saja.

          Perjuangan melawan kolonialisme adalah perjuangan kelas yang tidak terbatas skat-skat daerah atau kebangsaan. Persoalan dunia saat ini telah terbagi pada dua kelas – penindas dan yang tertindas, yang memiliki alat produksi dengan yang mengabdi pada pemilik alat produksi. Ini mengakibatkan antagonisme yang tak terelakan. Karena kepentingan keduannya sangat berbeda, penindas menginginkan keuntungan sedangkan tertindas membutuhkan kesetaraan dan keadilan. Semangat kebangkitan nasional seharusnya dapat terus menabur semangat genderang perang melawan ketidakadilan oleh sistem kapitalisme yang rakus dan tidak masuk akal.

Reformasi, Warisan Orba dan Propaganda Naif Tentang Komunisme

          Reformasi bukanlah satu keadaan yang terjadi secara spontan. ini merupakan sebuah rangkaian panjang dari rencana yang telah diperjuangkan mati-matian tahun-tahun sebelumnya. Langkah reformasi merupakan perjuangan demokratik, yang mengharuskan negara untuk dapat memberi ruang seluruh rakyatnya. Runtuhnya kekuasan orde baru, telah membuka keran demokrasi yang cukup berarti. Kebebasan  berpendapat, berserikat, pencabutan dwi fungsi abri dan lainnya telah memberi manfaat yang begitu besar bagi gerakan rakyat tertindas.

          Namun, reformasi yang semestinya menjadi ruang yang Merdeka untuk dapat berekspresi dan berkreasi, terbungkam akibat trauma vulgar tanpa nalar. Mundurnya Presiden Suharto pada Mei 1998 di bawah tekanan gerakan pro-demokrasi mengakhiri 33 tahun kediktatoran militeristik. Suharto mundur dari kedudukan sebagai Presiden karena terpaksa oleh tekanan dahsyat sebuah gerakan politik. Suharto sendiri tidak sempat mengatur proses kemunduran dan suksesinya. Ketika dia menyelenggarakan sebuah kabinet pada awal 1998, dia masih berpikir akan tetap berkuasa terus. Tetapi dia salah hitung. Yang dia hadapi saat itu adalah munculnya sebuah gerakan politik pro-demokrasi yang menuntut berbagai perubahan secara besar-besaran. Pada bulan April dan Mei 1998, Suharto dikhianati dan ditinggalkan teman-teman kekuasaannya, mulai dari menteri-menteri sampai pimpinan militer. Mereka semua takut bahwa tuntutan perubahan dari gerakan politik itu akan semakin meluas dan mengalami radikalisasi kalau situasi tidak segera dibikin tenang. Suharto dikorbankan, dan dia sendiri akhirnya mau mengakhiri kekuasaannya. Tapi ini dilakukan demi menyelamatkan kedudukan seluruh kelas-penguasa Indonesia sebagai suatu kelas yang berkuasa.

          Memang, reformasi tak akan menampung seluruh masalah penghisapan rakyat sebelumnya. Itulah mengapa kita perlu menciptakan perubahan secara revolusioner. Perubahan yang revolusioner tidak terbatas pada perubahan format struktur kenegaraan, yang masih memberi celah bagi kelas borjuis nasional dan antek antek orde baru untuk berregenerasi. Orde Baru mewariskan situasi di mana tingkat kehidupan berorganisasi politik masyarakat, dari semua kelas, sangat rendah sekali, bahkan hampir tidak ada. Bukan hanya organisasi dan lembaganya tidak jalan, tetapi tradisipun sudah tiada. Tiada lagi ada ingatan atau memori sejarah hebat mengenai gerakan politik Indonesia mulai dari Sarekat Dagang Islam, Partai Komunis Indonesia, Partai Nasional Indonesia, Masjumi, maupun mengenai zaman pertarungan masa depan negeri, 1945-1965. Kadang-kadang baik aktivis maupun pengamat suka menyebut adanya “fragmentasi” dalam perpolitikan Indonesia dan kemudian mencari penyebabnya dalam kehidupan politik dan ekonomi pasca Orde Baru (Edward Apinall 2013). Ini keliru total. “Fragmentasi”– perpolitikkan Indonesia adalah produk langsung 30 tahun lebih kelas-kelas sosial Indonesia tidak menjalankan atau memiliki kehidupan politik ataupun ideologi. Bahkan memori tentang kehidupan politik dan ideologi masa 1900-1965 sudah tidak ada lagi penghayatannya.

          Isu yang beredar dalam beberapa pekan lalu sampai hari ini, sungguh tanpa kajian secara holistik. PKI dan Komunisme menjadi kambing hitam oleh elit-elit politik yang gemetar sebenarnya karena sejarah lalu yang tak dipertanggung jawabkan dan krisis akibat sistem kapitalisme yang rakus untuk membungkam dan meredam radikalisasi gerakan rayat.. Sebagaimana dikatakan oleh D.N Aidit,

“Ada orang yang setuju kepada Marxisme, tetapi tidak mengetahui apa Marxisme itu sebenarnya, sehingga ada kalanya terjadi, bahwa yang mereka kira Marxisme itu justru adalah lawan daripada Marxisme. Dan banyak orang yang menentang mati-matian Marxisme, tetapi tidak mengetahui  dan malahan sama sekali tidak pernah mempelajari Marxisme, atau jika mempelajari tidak dari buku-buku Marxisme tapi dari buku-buku musuh Marxisme atau renegad-renegad Marxisme. Sering terjadi, bahwa musuh-musuh Marxisme menyerang apa yang dikira Marxisme, tetapi sebenarnya mereka telah menyerang apa juga yang diserang oleh kaum Marxisme. Misalnya, jika mereka menyerang materialisme, biasanya yang mereka serang ialah materialisme Feuerbach atau materialisme vulgar, tetapi mereka mengira bahwa yang diserangnya adalah materialisme Marx. Sungguh sangat memalukan, bahwa masih ada saja orang-orang yang suka berbicara panjang lebar dan menulis buku-buku tebal tentang sesuatu yang tidak diketahuinya.”

          Artinya bahwa Aidit sudah memprediksi bahwa ada seorang atau kelompok orang yang mati-matian menjatuhkan ilmu pengetahuan Marxisme tetapi sebenarnya dia tak pernah mepelajari apa itu Marxisme dan bahkan mempelajari ilmu dari musuh Marxisme, dan jatuh kepada dogma-dogma yang bebahaya. Bahaya karena orang orang yang seperti itu, akan menjauhkan dirinya dari ilmu pengetahuan. Dan orang yang menjauhi ilmu pengetahuan sangat dekat dengan kematian. Sebab hanya orang matilah yang tidak berpengetahuan dan berpikir. Apa yang terjadi dewasa ini di Indonesia, sepertinya rakyat dipaksa oleh para lawan politik Marxis untuk mempercayai secara dogmatis bahwa Marxisme adalah dogma pemberontak. Padahal jelas Ilmu Pengetahuan Marxisme bisa diuji kebenarannya dalam hal perkembangan Ekonomi-Politik masyarakat dunia. Selain itu, marxisme adalah jantungnya ilmu pengetahuan. Persoalan inipun di munculkan kembali, dengan pola lama yang dibuat oleh rezim- atau sudah direncanakan- untuk membungkam massa rakyat. Rakyat di rasuki pikirannya, sedang rakyat tak pernah tau benar sejarah yang sebenarnya terjadi. Maka dari itupula, hal yang awal yang perlu kita lakukan adalah meluruskan saf untuk berdiri kokoh membuka kebenaran sejarah yang telah lama di singkirkan.

                      Salah satu ciri khas sistem politik Orde Baru ialah ditiadakannya kehidupan politik untuk kelas-kelas sosial Indonesia, baik untuk kelas kapitalis maupun kelas proletar, juga kelas petani. Sebelum 1965 semua kelas sosial Indonesia mengalami peningkatan kemampuan berorganisasi, termasuk berorganisasi secara politik. Penguatan kapasitas berorganisasi itu dilakukan melalui partai politik dan organisasi massa yang berafiliasi atau bekerja-sama dengan partai-partai. Ada kelas-kelas sosial proletar dan petani yang sudah bergerak di bawah “bendera” masing-masing; dan ini berarti mencerminkan munculnya kesadaran kelas yang meluas, baik yang revolusioner maupun yang belum. Bendera mereka juga relatif bervariasi, seperti sosialisme, komunisme, atau marhaenisme. Ada juga yang menjalankan kehidupan politik yang aktif tetapi bergerak di bawah bendera non-kelas, seperti berbasis agama ataupun nasionalisme (entitas-entitas yang tidak mengakui pertentangan kelas). Kecenderungan yang sama juga terjadi pada kelas-kelas kapitalis, yang pada waktu itu masih sangat kecil dan masih dalam proses pembentukan. Ada yang sarat kesadaran kelas, seperti di kalangan beberapa faksi borjuasi dengan semboyan “revolusi sudah selesai,” atau yang lain dalam jargon “jangan berpolitik” seperti ideologinya Manikebu (Manifesto Kebudayaan), ada juga yang menggunakan ideologi agama. Itulah suasana pada masa pra Orde Baru. Semua kekuatan sangat aktif secara politik. Kehidupan politik negeri sangat menggairahkan, melibatkan jutaan orang yang berdiri di atas keaktifan partai dan organisasi massa, termasuk dengan semua kontradiksinya, kelemahannya, dan keterbatasannya.

Tugas Kaum Muda, Tak Percaya Pada Massa Rakyat Luputlah Cita-cita Perjuangan

Lalu apakah tugas kaum muda hari ini?

          Sebelum menjawabnya, perlu ditegaskan kembali mengapa memilih kaum muda yang harus turut serta dalam perjuangan berkelanjutan. Namun bukan kaum muda yang loyo, tetapi dia yang teguh dan yakin benar kenapa harus melanjutkan perjuangan bangsanya kembali.

          Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu mengemukakan pandangan yang diungkap oleh kamerad V.I Lenin dalam tulisan Tugas-Tugas Liga Pemuda, “Saya harus mengatakan  bahwa tugas-tugas dari pemuda secara umum, Liga Pemuda Komunis dan khususnya semua organisasi lain, bisa diringkas dalam satu kata tunggal, yaitu: belajar“.pada pandangan ini, lenin juga menegaskan bawha persoalnnya adalah apa yang di pelajari? Bagaimana mempelajarinya? Tentu saja dengan mentransformasikan pengalaman dan semangat perjuangan sebelumnya terhadap situasi saat ini, dan meletakkannya setepat tepatnya. Selain itu, kaum muda perlu untuk membangun organisasi yang mampu menampung semua pengalaman dari perjuangan sebelumnya. Tentu saja organisasi yang akan melanjutkan perjuangan kelas tertindas mencapai cita citanya. Artinya organisasi  tersebut  haruslah memiliki keberpihakan yang tegas terhadap kelas tertindas. Tidak kompromis dan reformis. Lebih lanjut perjuangan kaum muda yang bertujuan melanjutkan cita cita kaum tertindas haruslah meleburkan dirinya bersama kelas buruh dan kaum tertindas lainnya. Perjuangan kaum muda yang di susun secara radikal dan atas dasar totalitas pengetahuan serta organisasi yang mencurahkan seluruh semangat dan ketulusannya dalam berjuang terhadap kelas tertindaslah yang akan memastikan bahwa usaha kaum muda akan berarti bagi perjuangan mencapai masyarakat berkeadilan dan sejahtera.

Lebih lanjut Lenin mengatakan :

“Kita  tidak  membutuhkan penjejalan, tapi  kita membutuhkan pengembangan dan penyempurnaan pikiran  dari setiap  siswa dengan sebuah  pengetahuan yang berasal dari fakta-fakta yang mendasar. Komunisme  akan menjadi sebuah kata kosong, sekedar papan nama,dan seorang komunis adalah sekedar pembual, apabila semua pengetahuan  yang diperolehnya  tidak dicernakan  dalam pikirannya. Kalian seharusnya tidak sekedar mengasimilasi pengetahuan  ini, namun mengasimilasinya  secara kritis, sebagaimana  juga tidak menjejalkan pikiran  kalian  dengan kayu yang lapuk, namun memperkayanya  dengan semua fakta yang tak terhindarkan bagi mereka yang terdidik pada saat ini. Jika seorang komunis memasukkan  hal itu  ke  dalam kepalanya, untuk membual tentang komunisme oleh karena kesimpulan-kesimpulan yang didapatkannya siap pakai, tanpa menempatkannya dalam satu keseriusan dan kerja keras yang giat, dan  tanpa memahami fakta-fakta yang harus dipelajarinya  secara kritis, maka dia akan menjadi seorang komunis yang amat tercela.  Kedangkalan serupa itu jelas akan menjadi fatal. Jika saya mengetahui,  bahwa saya kurang mengetahui maka  saya akan berusaha belajar  sebanyak  mungkin; namun  apabila seseorang mengatakan bahwa  dia seorang komunis dan bahwa dia tidak membutuhkan untuk mengetahui  tentang segala sesuatu secara menyeluruh,  dia  tidak akan menjadi apapun seperti seorang komunis. “

          Jelas sudah apa yang di tekankan oleh kamerad Lenin, tugas kaum muda adalah  belajar secara kritis dan radikal terhadap persoalan material yang terjadi sebelumnya dan saat ini. Untuk dapat mengetahui secara keseluruhan dari apa yang terjadi pada kondisi persoalan Negara dan Dunia. Proses belajar yang ditekankan oleh Lenin adalah belajar yang tak berada diruang hampa, dia harus di uji lewat aktivitas.  Oleh karena itu para pejuang haruslah menggunakan pisau bedah yang tak tumpul akan jalur kompromi. Sebagaimana di ungkap Soekarno aku kenal amanat penderitaan rakyat, karena aku kenal situasi, dan aku kenal ilmu yang kompeten yaitu Maxisme. Dalam ini lanjut dia mengunakan Marxisme sebagai  metode analisa dan pisau bedah terhadap persoalan yang menyertai.

          Maka kami dari Lingkar Studi Kerakyatan menyerukan : pertama, pembangunan aliansi demokratik seluas luasnya bagi organisasi dan individu. Serta menuntut demokrasi seluas-luasnya, karena hanya dalam demokrasi yang semurni murninyalah kebebasan berpendapat, berorganisasi, belajar, berpendidikan gratis, upah layak dan sebagainya dapat kita capai. Kedua, aliansi ini menjadi seruan bersama dalam rangka perjuangan demokratik-sosialisme. Seperti kata Leon Trotsky bahwa “perjuang revolusi bukan dua tahap yakni demokratik lalu sosialisme, tetapi dia melekat satu dengan lainnya menjadi perjuangan demokratik-sosialisme”.Dan perjuangan yang digaung-gaungkan pun harus pada sasaran yang tepat, karena jika tidak mustahil terjadi, bahkan dapat memperkuat posisi penguasa.

*Di Tulis Oleh Bung Rahman / Kontibutor Kabar Rayat

Referensi  

Aksi Massa ( 1926 ) – Tan Malaka

Filasat Pancasila – Soekarno

Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai ( 1988 ) – Soegiarso Soerojo

Tentang Marxisme ( 1962 ) – D.N Aidit

Tugas-Tugas Liga Pemuda ( 1920 ) – V.I Lenin

Ke Arah Politik Kelas “Memproyeksi Periode Pasca Pasca-Orde-Baru”- MAX LANE

 

Internet

https://bumirakyat.wordpress.com/2013/05/20/kebangkitan-nasional-dipelopori-sarekat-islam-bukan-budi-utomo/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s