Arti Penting Materialisme Historis

IMG_20160710_163154

Materialisme Historis dan kenapa perlu mempelajarinya

Konsepsi sejarah yang diajukan Marx dan Engels guna menjelaskan sebab-sebab mendasar evolusi sosial hingga bentuk produksi manusia, sudah sangat dikenali. Apa yang belum dikenal adalah bahwa konsepsi sejarah materialisme dialektis bukanlah sekedar teori tapi teori evolusi sosial, yang bisa menjelaskan bagaimana sejarah perkembangan manusia dan ilmu pengetahuan yang menghantarkan kita pada situasi ekonomi politik serta hukum sosial hari ini.

Manusia sebagai spesies memulai sejarahnya dengan kerja atau modus produksinya. Oleh karenanya, sejarah manusia ditentukan oleh kerja, memenuhi kebutuhannya menggunakan alat kerja/produksi, tenaga kerja dan sasaran kerja, oleh modus produksi manusia itu sendiri. Inilah konsepsi utama dari materliasme historis.

Engels dalam antiduhring mengatakan bahwa:”konsepsi materialis tentang sejarah dimulai dari proposisi bahwa produksi kebutuhan-kebutuhan untuk mendukung kehidupan manusia dan, di samping produksi, pertukaran barang-barang yang di produksi, merupakan dasar dari semua struktur masyarakat; dalam setiap masyarakat yang telah muncul dalam sejarah , cara kekayaan didistribusi dan cara masyarakat dibagi ke dalam kelas-kelas atau tatanan-tatanan, tergantung pada apa yang diproduksi, bagaimana itu diproduksi, dan bagaimana produk-produk itu dipertukarkan. Dari sudut pandang ini, sebab-sebab akhir dari semua perubahan sosial dan revolusi-revolusi politis mesti dicari, tidak dalam benak-benak manusia, tidak dalam wawasan manusia yang lebih baik akan kebenaran dan keadilan abadi, tetapi di dalam perubahan-perubahan dalam cara-cara produksi dan pertukaran”.

Mempelajari sejarah manusia berarti juga mempelajari sejarah masyarakat. Menurut Marx dan Engels, keberadaan manusia “dibedakan dengan binatang karena kesadarannya, karena agamanya atau karena hal-hal lainnya. Mereka mulai membedakan dirinya dengan binatang begitu mereka mulai bisa memproduksi bahan-bahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya”. Manusia memenuhi kebutuhan hidupnya secara sadar memproduksi bahan dan menggunakan alat produksi yang tersedia di alam. Adapun keharusan manusia untuk saling bekerjasama adalah keharusan untuk memenuhi kebutuhannya. Ini merupakan landasan berdirinya masyarakat. 

Hubungan dari sejarah manusia dengan sejarah alam
Beratus-ribu tahun yang lalu, suatu zaman yang belum dapat secara pasti ditentukan. Darwin telah memberikan suatu gambaran perkiraan mengenai leluhur kita. Mereka sepenuhnya berbulu, mereka berjenggot dan bertelinga runcing, dan mereka hidup dalam gerombolan-gerombolan di pepohonan, yakni kera. Sebagai akibat langsung cara hidup mereka, yang dalam memanjat (pohon) memberikan fungsi-fungsi berbeda pada tangan dan pada kaki, kera-kera ini ketika bergerak di atas tanah rata mulai melepaskan kebiasaan penggunaan tangan-tangan mereka dan mengambil suatu sikap yang semakin lama semakin tegak. Inilah langkah menentukan di dalam peralihan dari kera pada manusia.

Sikap tegak di kalangan leluhur kita yang berbulu itu lebih dulu menjadi kebiasaan dan dengan berlalunya waktu, menjadi suatu keharusan mengisyaratkan bahwa sementara itu kian banyak kegiatan bergantung pada tangan (kedua tangan). Terutama digunakan untuk mengumpulkan dan memegang makanan.

Berangsur-angsur semakin sempurnanya tangan manusia dan bersamaan dengan perkembangan adaptasi kaki. Seperti yang kita ketahui kera itu suka berkumpul-kumpul, singkatnya, sampai pada titik dimana ada yang mereka sampaikan satu sama lain. Kebutuhan ini menghasilkan penciptaan organnya; dengan modulasi larinks (pangkal tenggorokan) kera yang belum berkembang itu perlahan-lahan tetapi pasti berubah untuk modulasi yang semakin lebih berkembang lagi, dan organ-organ mulut berangsur-angsur belajar mengucapkan sebuah huruf artikulat menyusul huruf artikulat lainnya. Asal-usul bahasa ini dari kerja dan bersama dengan kerja adalah satu-satunya penjelasan yang benar.

Ucapan artikulat inilah dua rangsangan (stimuli) paling mendasar yang mempengaruhi otak kera secara berangsur-angsur berubah menjadi otak manusia. Reaksi atas kerja dan berucap dari perkembangan otak dan indera-indera pengiringnya, dari semakin jelasnya kesadaran, daya abstraksi dan penilaian, memberikan dorongan/impuls yang selalu-diperbarui pada perkembangan lebih lanjut bagi kerja maupun berucap. Perkembangan lebih lanjut ini tidak mencapai kesudahannya sampai pada manusia akhirnya menjadi berbeda dari kera.

Dengan demikian sangatlah tepat apa yang di katakana marx ratusan tahun lalu, bahwa “sejarah manusia merupakan bagian dari sejarah alam”. Maksudnya, bahwa makhluk manusia adalah bagian dari alam seperti makhluk hidup lainnya, agar bisa hidup, ia harus berinteraksi dengan alam untuk mempertahankan dirinya. Manusia menggunakan tenaga kerjanya, yakni ketika bekerja bersama memproduksi bahan-bahan kebutuhan hidupnya. sandang, pangan, papan dan lain sebagainya yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup, disediakan oleh alam. Dalam interelasi produktif (yang aktual dan praktis) antara manusia dengan alam, tak bisa disangkal lagi merupakan proses-hidup kemanusiaan, baik secara individual maupun secara kolektif, yang melibatkan interaksi konstan antara manusia dengan alam guna memproduksi bahan-bahan kebutuhan hidupnya. seperti yang sudah di sampaikan sebelumnya bahawa hubungan manusia dan alam merupakan proses hidup kemanusiaan, artinya manusia perlu menggunakan alam sesuai kebutuhan. Meskipun alam menyediakan kebutuhan bagi manusia untuk dapat tetap hidup, ini tidak berarti manusi dapat mengekspoitasi alam sesuai keinginannya. Inilah yang di lakukan oleh kelas borjuis hari ini. Dalam masyarakat kapitalis, alam di eksploitasi secara anarkis.

Penggunaan terhadap alam tidak sesuai dengan kebutuhan. Ini karena dalam masyarakat kapitalis, alam di gunakan bukan hanya untuk di konsumsi sendiri, melainkan di sulap menjadi barang yang bernilai lebih. Hubungan alam dan manusia tidak lagi berdasarkan pada kebutuhan, melainkan pada akumulasi. sebagai sarana penciptaan keuntungan demi kepuasan pribadi. ini karena manusia dalam hubungan produksinya saling menindas. sehingga manusia tidak lagi menggunakan alam untuk memenuhi kebutuhan secara kolektif. Hubungan alam dan manusia tidak lagi sebagai proses hidup kemanusiaan.

Asal-usul kelas menentukan cara pandang manusia

Menurut Lenin, kelas adalah kelompok-kelompok masyarakat yang terutama dibedakan oleh posisi mereka (secara historis) di tengah sistem produksi. Artinya, keberadaan tiap kelas harus dikaitkan dengan corak produksi yang melahirkannya, karena tiap-tiap corak produksi yang antagonistik akan melahirkan masyarakat dengan garis pembagian kelasnya. Misalnya, pembagian kelas yang muncul adalah: antara bangsawan pemilik tanah dan petani pembayar upeti; pemilik budak dan budak; tuan feodal dan kaum hamba; kapitalis dan proletar.

Masyarakat yang pertama lahir di dunia dalam perkembangan sejarah masyarakat adalah masyarakat komunal primitif, disebut demikian karena sistem ekonominya bersifat komunal dan alat produksinya masih primitif. Dalam masyarakat komunal manusia hidup secara nomaden, yaitu bergerombol dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka mencari tempat dimana terdapat makanan (buah-buahan dan binatang buruan), setelah makanan di suatu tempat telah habis, mereka akan pindah ketempat lainnya . Dalam hidup bergerombol, mereka hidup bersama mencari makan bersama, berburu bersama. Mengumpulkan buah-buahan bersama, hasilnya sebagai milik bersama, dan dibagi bersama sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Semakin lama gerombolan jumlahnya bertambah besar. Mengembara menjadi tidak praktis dan timbul keinginan untuk hidup menetap. Gerombolan yang mengembara menjadi gens dan hidup menetap. Di dalam gens mulai berlangsung pembagian kerja untuk keperluan hidup dan kebutuhan bersama. Wanita bekerja bercocok tanam mempunyai hasil-hasil secara tetap dan bisa mencukupi kebutuahan komune, sedang laki-laki berburu, hasilnya tidak menentu. Dengan begitu, wanita mempunyai peranan yang penting dan pengaruh yang besar dalam kehidupan ekonomi komune dan dalam kehidupan gen. 

Adanya usaha pertanian membutuhkan tenaga kerja yang jumlahnya banyak dalam melakukan pembukaan lahan secara besar-besaran (ekstensifikasi) karena dapat memakan waktu selama bertahun-tahun dengan alat kerja yang masih primitif, peran biologis perempuan adalah penghasil tenaga kerja tersebut dan menggesernya pada peran domestik. Laki-laki disamping berburu, juga membantu ikut bercocok tanam, juga memelihara sementara binatang hasil buruan sebagai usaha beternak. Peranan dan hasil produksi pangan tampak mengimbangi . sejalan dengan itu peranan kekuasaan beralih ke tangan laki-laki dan menimbulkan pula perubahan dalam hubungan sistem keluarga. Dengan perubahan itu, peranan dalam ekonomi beserta perubahannya membawa dan menentukan peranan dalam hubungan sosial atau sistem sosial.

Gen berkembang begitu pula dengan kebutuhannya. Untuk mencukupi kebutuhan dilakukan kerja intensif dan alat kerja yang produktif. Karena itu lalu timbul kelompok-kelompok kerja khusus dalam gen, pertanian, kerajinan tangan dan sebagainya. Kelompok-kelompok kerja khusus itu terus berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakatnya dan kebutuhannya yang dalam proses selanjutnya membuat kelompok-kelompok. kerja khusus dalam gen itu menjadi berkembang sebagai gen tersendiri. Kelompok kerja khusus berternak menjadi gen perternakan, kelompok kerja khusus bercocok tanam menjadi gen pertanian, kelompok kerja khusus kerajinan tangan menjadi gen kerajinan tangan.

Timbulnya gen-gen yang berbeda-beda pekerjaan khususnya itu menimbulkan pula penghasilan yang berbeda-beda. Gen peternakan mempunyai penghasilan ternak yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya tetapi hasil pangan dan alat kerja kurang dan tidak mencukupi kebutuhannya. Sebaliknya gen pertanian mempunyai penghasilan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi hasil ternak dan alat kerja kurang dan tidak mencukupi kebutuhannya. Begitu pula, gen kerajinan tangan bisa membuat alat kerja yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi hasil ternak dan pangan kurang dan tidak mencukupi kebutuhannya. Keadaan demikian mendorong gen-gen itu untuk mengadakan saling tukar penghasilannya.

Disamping itu juga mendorong mereka untuk memperbaiki alat kerjanya supaya hasilnya lebih produktif. Dari perbaikan-perbaikan alat kerja lalu menimbulkan perubahan maju alat kerja. Alat kerja batu tumpul menjadi alat kerja batu runcing dan tajam. Dengan begitu periode palaelithicum yaitu periode alat kerja batu tumpul, memasuki periode neolithicum yaitu periode alat kerja batu runcing dan tajam. Kemudian periode neolithicum itu memasuki periode logam yaitu periode alat kerja terbuat dari logam.

Sesudah ditemukannya bahan logam, daya guna dan hasilnya lebih produktif. Dengan alat kerja demikian, orang bisa bekerja menghasilkan lebih dari kebutuhannya sendiri. Timbulnya hasil lebih itu memberikan kesempatan dan menimbulkan pikiran orang menyimpan hasil lebih tersebut sebagai persediaan untuk memenuhi kebutuhannya pada waktu-waktu yang akan datang. Ini merupakan gejala pertama dalam proses perkembangan orang menimbun kekayaan dari hasil lebih. Diawali dari menyimpan hasil lebih untuk persediaan, lalu berkembang menimbun hasil lebih untuk kekayaan. Adanya hasil lebih tidak hanya memungkinkan orang : menimbun kekayaan, tetapi juga memungkinkan orang lain mengambil atau merampas hasil lebih dari itu. Kemungkinan ini mudah mendorong orang yang kuat timbul pikiran dan tindakan untuk melakukan perampasan lebih.
Dari itu, timbul benih-benih watak dan sifat pada tenaga kerja yang merasa bisa hidup sendiri, yang dalam perkembangannya membentuk watak dan sifat individu pada tenaga kerja itu. Proses selanjutnya, terjadi dan berlangsung kegiatan-kegiatan individual ekonomi dan sosial, antara lain berbentuk penyimpanan hasil lebih untuk persediaan, penimbunan hasil lebih untuk dan sebagai kekayaan, penimbunan kekayaan dari hasil memungut atau mengambil hasil lebih orang lain yang lemah. Penyalahgunaan fungsi dan tugas ketua gen untuk kepentingan pribadinya, pengerjaan tenaga orang lain sebagai pembantu atau pengerjaan tenaga orang-orang taklukan oleh ketua gen dan lain-lain. Kerjasama mengendor dan mencair menjadi kerja sendiri sendiri dan sebagainya. Perkembangan dan kegiatan-kegiatan seperti itu bersifat kontradiksi dengan hubungan produksi kerjasama. Itu berarti bahwa hubungan produksi komunal primitif sudah tidak sesuai dengan perkembangan tenaga produktif. Ketika hubungan produksi komunal primitif mengalami keruntuhannya inilah menjadi awal pengelompokan kelas-kelas.

Di dalam sebuah sistem produksi, kelas-kelas menempati posisi yang berbeda dan saling bertentangan satu sama lain. Posisi ini ditentukan oleh relasi mereka terhadap alat-alat produksi. Relasi produksi dalam masyarakat kelas adalah relasi penghisapan, relasi dominasi penguasaan dan relasi penundukkan. Relasi-relasi ini dibagi menjadi relasi-relasi yang bersifat material dan ideologis. Relasi yang muncul diantara kelas-kelas adalah: bersifat kedua-duanya. Keberadaan kelas-kelas dikaitkan dengan relasi-relasi ekonomi tertentu yang memungkinkan kelas-kelas peghisap merampas hasil kerja kelas yang terhisap.

Pada akhirnya relasi-relasi antar kelas, dalam bentuk perjuangan kelas, dipaparkan secara gamblang dalam level ideologi, dalam kehidupan intelektual masyarakat. Persis sebagaimana dikatakan oleh para peletak dasar Marxisme bahwa pertentangan antara proletariat dengan borjuasi, yang berurat-berakar pada relasi-relasi produksi kapitalisme, kemudian mempengaruhi seluruh kehidupan sosial, kondisi-kondisi yang melingkupi keberadaan kelas-kelas, relasi-relasi antar kalangan mereka sendiri, dan dengan itu juga menyebabkan para buruh memilik gagasan-gagasan, ide-ide, prinsip-prinsip moralitas dalam menjalankan kebijakan-kebijakan yang berbeda dengan borjuasi. Perbedaan-perbedaan itu lah yang menggambarkan posisi anggota-anggota kelas dalam kehidupan sehari-hari, dalam pendidikan dan kulturnya, gagasan-gagasannya, keyakinan-keyakinannya, psikologi sosial mereka dan sebagainya.

Pembedaan-pembedaan sosial juga tampak dengan adanya pengelompokan-pengelompokan kecil yang ada didalam satu kelas yang sama. Sebagai contoh, kelas borjuasi sendiri terbagi antara kapitalis kecil, menengah dan kapitalis besar, yang semuanya ditentukan oleh jumlah (banyaknya) kapital yang mereka miliki. Selain itu juga, ada kelompok-kelompok sosial yang tidak terkait dengan kelas tertentu, seperti para mahasiswa yang hidup dari (dibiayai oleh) negara, atau para perwira polisi yang mendapat gaji namun peranannya dalam sistem produksi kapitalis adalah untuk melindungi milik pribadi kaum kapitalis agar terus berjalan. Kita juga melihat keberadaan orang-orang yang tak termasuk dalam salah satu kelas, yaitu orang-orang yang telah kehilangan koneksi dengan kelas mereka sendiri, sebagi contoh adalah kaum lumpen proletariat di bawah sistem kapitalisme, yang terdiri dari orang-orang yang tak punya pekerjaan yang jelas, tak punya keinginan untuk memperoleh pekerjaan, dan yang hidup dengan memangsa/menggerogoti kelas borjuis dan borjuis kecil. Yang masuk dalam golongan ini adalah para pengemis, maling-maling dan semacamnya.

Analisa pendekatan Marxis terhadap kelas-kelas ini dipakai untuk membongkar relasi-relasi antar kelas yang berwatak menghisap dan menindas, yang kemudian memunculkan perjuangan kelas antar mereka, yang pada akhirnya mendorong maju perkembangan sejarah. Bertentangan dengan analisis Marxis, sosiolog borjuis justru melihat keberadaan kelas, yang saling terpisah satu dengan yang lainnya, berdasarkan besar (ukuran) pendapatan atau jenis kelamin. Sehingga, hal itu mengaburkan relasi-relasi antar kelas yang berwatak menghisap dan menindas dalam masyarakat kapitalis, dan itu artinya mengaburkan basis material perjuangan kelas antar mereka.
Asal-usul kelas seseorang juga akan ikut menentukan pandangan kelasnya. Oleh karena itu, walaupun seseorang mempunyai pandangan filsafat yang benar, tapi bila hasilnya bertentangan dengan kepentingan kelasnya, maka akan dihadapkan pada pilihan; menghianati kelasnya atau melepaskan pandangan filsafatnya yang benar.

Jadi, untuk dapat memiliki suatu sistem filsafat yang tepat, tidak hanya titik tolak dan metode dengan pendekatan kritis secara historis, tetapi juga mempunya pendirian kelas yang tetap, artinya keberpihakan terhadap kelas yang paling tertindas yaitu kelas buruh. Selanjutnya, tugas yang lebih penting; ikut ambil bagian, aktif dalam kerja untuk kelas yang paling tertindas secara aktual. Hanya dengan ikut serta langsung dalam proses perjuangan kelas, kita dapat memahami, menguasai, serta mempertahankan secara konsisten pandangan yang tepat ini.

Perbedaan materialism historis dengan pendekatan ilmu pengetahuan borjuis dalam memperlakukan sejarah

Dalam konsepsi marxis, hukum-hukum pokok kehidupan sosial adalah identik dengan hukum-hukum pokok yang mengatur sejarah manusia. Pendekatan tersebut bertentangan secara tajam dengan pendekatan dominan “ilmu pengetahuan” sosial borjuis, sebagaiman yang dipelajari dan diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan borjuis. Materialisme historis menghubungkan keberadaan kelas-kelas tersebut dengan fase/tahap-tahap historis perkembangan produksi sosial, namun para ilmuwan sosial borjuis selalu mengabaikan hal tersebut. Anggapan mereka, kelas merupakan fenomena/gejala ahistoris/tidak menyejarah yang sudah ada sejak awalnya hingga sekarang (selalu ada yang kaya dan yang miskin di tengah-tengah masyarakat). Hal tersebut menyebabkan “ilmu-pengetahuan” sosial borjuis memilah-milah ilmu sosial menjadi berbagai disiplin ilmu yang terpisah, taka da kaitannya, misalnya dipilah-pilah menjadi arkeologi, antropologi sosial, ekonomi, ilmu politik, sejarah dan sosiologi.

Lebih lanjut, jika kita ingin mengetahui hukum-hukum perkembangan masyarakat manusia, tidak cukup hanya memahami prinsip-prinsip umum filsafat materialisme dan hukum-hukum dialektika; namun kita juga harus mempelajari bentuk-bentuk khusus aktivitasnya dalam sustu bentuk khusus pengorganisiran materi. Artinya, sebagai tambahan bagi kategori-kategori filsafat, kita harus memiliki kategori-kategori sosial semurni-murninya kategori sosial, misalnya formasi sosio-ekonomi, tenaga produktif dan hubungan-hubungan produksi, corak atau cara produksi, basis dan suprastruktur, kelas-kelas sosial, dan sebagainya. Kategori-kategori tersebut memberiikan landasan untuk menyimpulkan hukun-hukum pokok keberadaan sosial dan pengetahuan sosio-historis, hukum-hukum perkembangan masyarakat.

Segala hal yang membedakan manusia apakah sebagai pembuat perkakas kerja, atau dari bicara dan pemikirannya, hingga kemenangannya yang paling akhir, yakni kesenian, memiliki ilmu-pengetahuan dan teknologi, merupakan produk aktivitas kolektif manusia sepanjang jutaan tahun yang lalu. Manusia itu adalah produk sejarahnya, yakni apa yang sudah dibuat manusia dan bagaimana membuatnya. Itu lah yang dimaksud marx ketika ia menulis bahwa “esensi manusia bukanlah abstraksi inheren yang ada di diri individu oran seorang”, yakni totalitas praktek sosial.

Tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah, keberadaan manusia begitu saling bergantung pada yang lainnya. Pada aktivitas tenaga kerja kolektif. Kapitalisme telah mensosialisasikan proses tenaga kerja dan menyatukan seluruh dunia ke dalam suatu sistem produksi yang saling tergantung. Itu lah sisi progresif kapitalisme. Kapitalisme telah meletakkan fondasi-fondasi material dalam kehidupan sosial untuk menyatukan manusia dengan bebas. Namun, pada saat yang sama, menghasilkan persaingan-persaingan ”anjing-makan-anjing”, setiap orang saling bertentangan, dengan merubah setiap kebutuhan manusia menjadi komoditi di pasar dunia yang didominasi oleh rangsangan memperkaya diri dari segelintir minoritas keluarga-keluarga super-kaya.

Lingkungan sosial merupakan produk dari tindakan kolektif manusia. Karenanya dapat dirubah oleh tindakan kolektif kelas pekerja dalam rangka membangun lingkungan yang sesuai dengan hakekat fundamental kehidupan sosial manusia-saling bekerja sama-yakni lingkungan sosial yang tidak menghambat pemenuhan (sepenuh-penuhnya) kebutuhan materi dan tidak menghambat upaya penggalian kemampuan fisik dan mental setiap orang. Tapi untuk memenuhinya kelas pekerja membutuhkan pemahaman ilmiah mengenai hukum-hukum yang mengatur dan membentuk kehidupan sosial-yang hanya bisa dijelaskan oleh materialisme historis.

Di narasikan oleh : HEMA MALINI SITUMORANG (Anggota Lingkar Studi Kerakyatan)
Referensi :
1. Doug Lorimer : Pengantar Pokok-pokok Materialisme Historis

2. Doug Lorimer : Materialisme Historis Sebagai Ilmu

3. Frederick Engels : Anti-Duhring

4. Doug Lorimer : Kelas-Kelas Sosial Dan Perjuangan Kelas

5. Frederick Engels : Peranan Kerja dalam Peralihan/Perubahan dari Manusia-Kera menjadi Manusia

6. Doug Lorimer : Produksi Material: Basis bagi Kehidupan Sosial

7. Frederick Engels : Pengantar untuk Dialektika Alam
ekopol marxis

8. Notulensi Diskusi : Lingkar Studi Kerakyatan (Tentang Materialism Historis)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s