Pengalaman Dari Komune Paris Sampai Revolusi Rusia (bagian II)

images
Sumber : suaraorangmiskin.blogspot.com

 

Revolusi Rusia 1917 : Kemenangan yang Menginspirasi

Revolusi Rusia 1917 merupakan kemenangan yang menginspirasi dan paling mendalam yang pernah diraih oleh klas buruh sepanjang sejarah. Partai Bolshevik memperlihatkan peran yang signifikan bahwa hanya dengan partai revolusioner yang mengakar dari klas buruhlah revolusi sosialis dapat tercapai. Pengalaman tersebut masih sangat relevan untuk digunakan bagi gerakan rakyat yang berkembang saat ini. Setidaknya ada dua tahapan revolusi Rusia dalam tahun tersebut, yakni Revolusi Februari yang berhasil menggulingkan Tsar dan menghapus monarki dan Revolusi Oktober yang berhasil menggulingkan rezim Pemerintahan Sementara Rusia dan memberikan kekuasaan pada Dewan-Dewan Pekerja(Soviet).

Tahun 1907-1911 merupakan periode reaksi dari semangat revolusioner perlawanan buruh dari tahun 1905. Saat itu merupakan masa-masa kelam bagi gerakan kaum revolusioner, klas penguasa Rusia mencurahkan waktunya untuk menggilas sisa-sisa semangat dari klas buruh. Keadaan itu memaksa mayoritas Kaum Bolshevik termasuk Lenin untuk bergerak dibawah tanah. Medan politik mulai berubah setelah tahun 1912, aktivitas kaum buruh mulai bangkit dengan rangkaian pemogokan ditambang-tambang emas Lena untuk menuntut delapan jam kerja sehari. Di saat yang bersamaan, perang yang menjadi wajah dalam alam kepitalisme kembali mengemuka. Kekuatan-kekuatan imperialis Eropa seperti Inggris, Prancis, Jerman, dan Rusia tengah berlomba-lomba merebut kekuasaan, sehingga bentrokan kembali terjadi dan meletuslah Perang Dunia I pada tahun 1914. Meskipun perlawanan buruh di Rusia mulai bangkit pada tahun 1912, perang imperialis pada tahun 1914 kembali menjadi masa kelam bagi gerakan revolusioner.

Menanggapi persoalan perang, perpecahan muncul antara kaum sosialis moderat dengan segelintir minoritas kaum revolusioner. Awalnya perang menyebabkan dukungan nasionalistis meluas, Kaum sosialis moderat dengan dalih patriotisme berkapitulasi dengan kelas penguasa Eropa mendukung perang pembantaian bahkan membunuh kaum buruh dinegara lain (padahal notabane mereka sama-sama ditindas). Sedangkan disisi lain minoritas kecil kaum revolusioner seperti Kaum Bolshevik disekitar Lenin dan Trotsky menentang perang tersebut, bahkan mereka mengangkat slogan “Ubah perang imperialis menjadi perang sipil”. Sehingga bukannya membunuh kaum buruh negara lain, Kaum Bolshevik justru berpropaganda untuk melawan kelas penguasa atau kaum majikan Eropa, kaum yang menyebabkan penderitaan hebat kepada klas buruh dan rakyat jelata lainnya sepanjang sejarah.

Perang menyebabkan negara melakukan pengetatan anggaran dan pengarahan ulang terhadap ekonomi-ekonomi Eropa, akibatnya upah buruh menurun dan melambungnya berbagai harga kebutuhan pangan. Perempuan mendapat beban yang sangat berat akibat kondisi perang tersebut. Kaum buruh perempuan Rusia, selain dituntut untuk mengelola rumah tangga disaat bersamaan mereka juga mendapat upah yang sangat rendah. Akibatnya pada 23 Februari 1917 saat peringatan hari Buruh Perempuan Internasional, kaum buruh yang didominasi oleh perempuan melakukan aksi besar dan meneriakkan tuntutan untuk penurunan harga, atasi kelaparan, dan roti untuk buruh. Perempuan di lapisan kelas buruh yang pengorganisasiannya paling buruk justru menjadi katalis bagi seluruh revolusi. Buruh-buruh perempuan mendatangi dan menyerukan kepada para buruh yang paling militan dan terorganisir untuk keluar dan bersolidaritas dengan mereka. Seperti buruh-buruh pabrik amunisi di distrik Vyborg di Petrograd yang notabene adalah buruh laki-laki dan cenderung paling radikal karena banyak beranggotakan Kaum Bolshevik. Meskipun awalnya para pimpinan komite pabrik di distrik Vyborg sebelumnya tidak setuju mogok kerja karena melihat aksi tersebut terlalu prematur, namun karena kaum buruh perempuan memimpin aksi maka berkat tradisi kuat solidaritas mereka maka buruh-buruh lainnya langsung mogok seketika. Hal ini memicu gelombang pemogokan secara massif. Dalam beberapa hari berikutnya terdapat 200.000 buruh melancarkan aksi mogok.

Menyikapi aksi kaum buruh yang semakin meluas, Tsar kemudian memerintahkan militer untuk menggulung demonstrasi-demonstrasi dan pemogokan-pemogokan. Revolusi tidak terelakkan lagi. Berbeda dengan tahun 1905 dimana tentara sebagian besar sangat setia terhadap Tsar, pada tahun 1917 terdapat keresahan meluas diantara para prajurit. Mereka menderita selama tiga tahun belakangan karena peperangan mengerikan yang dilancarkan demi kepentingan penguasa. Hal ini membuat simpati dan dukungan para prajurit terhadap Tsar semakin anjlok.

27 Februari menandai titik balik. Hari itu merupakan hari dimana seluru resimen garnisun Petrograd membelot ke kubu kaum buruh yang mogok kerja. Hai itu juga merupakan hari dimana para pemimpin Duma (parlemen) menolak perintah Tsar dan menyatakan diri sebagai Pemerintahan Transisi. Empat hari kemudian pada 3 Maret, Tsar Nicholas II turun tahta. Tsarisme berhasil dikalahkan dalam kurun waktu tidak lebih dari 12 hari. Pemogokan-pemogokan telah melahirkan komite-komite tempat kerja dan dari komite-komite ini mendirikan komite koordinasi pusat yang disebut Soviet.

Penggulingan Tsar berarti banyak manajer pabrik yang diusir atau bahkan melarikan diri saat revolusi pecah. Maret 1917, suatu proses demokratisasi terjadi di pabrik-pabrik. Buruh-buruh memenangkan capaian-capaian yang sangat berlimpah seperti delapan jam kerja sehari, kenaikan upah sebesar 30-50 persen dalam hitungan minggu. Meskipun capaian-capaian yang dimenangkan para buruh pasca Februari mencerminkan kekuatan dan kepercayaan diri mereka, namun kelas buruh masih belum sadar bahwa mereka bisa merebut kekuasaan untuk diri mereka sendiri. Buruh sebagian besar berperan dalam pengambilan keputusan-keputusan terkait bagaimana seharusnya pabrik-pabrik beroperasi namun upaya-upaya mereka ditujukan semata-mata hanya untuk mempertahankan Rusia yang demokratis yang memberi mereka hak yang tidak mereka dapatkan di bawah rezim Tsar.

Kaum Bolshevik pun terperangah oleh berbagai peristiwa Februari. Perlawanan spontan identik dengan Revolusi Februari karena tidak mempunyai kepemimpinan yang jelas. Pada April 1917 Kaum Bolshevik sudah memiliki perwakilan-perwakilan dalam ukuran minoritas penting dalam soviet. Sebelum Juli 1917 soviet-soviet didominasi oleh Kaum Revolusioner Sosialis (partai kaum tani) dan kaum Menshevik (kaum moderat) yang memenangkan argumen untuk memberikan dukungan bersyarat bagi Pemerintahan Sementara yang didominasi oleh kepentingan-kepentingan kapitalis. Dukungan mereka terhadap Pemerintahan Sementara berdasarkan gagasan bahwa sebelum Rusia menjadi sosialis maka harus ada revolusi demokratis borjuis yang mengantarkan Rusia pada demokrasi parlementer. Bagaimanapun juga. Dari awal di antara buruh terdapat sentimen ketidakpercayaan yang mendalam terhadap Pemerintahan Sementara. Sentimen ini makin kentara di bulan April, saat makin jelas bahwa Pemerintahan Sementara ingin melanjutkan perang. Padahal peristiwa-peristiwa Februari pecah karena dipicu oleh angkara dan nestapa akibat perang sehingga tentu saja hal ini makin membuat mayoritas buruh murka.

Dengan semakin menguatnya aksi perlawanan buruh, soviet-soviet di Rusia juga semakin berkembang. Kaum buruh secara alamiah mengorganisir dirinya dan mengangap soviet sebagai pemerintahan mereka sendiri. Hal ini berujung pada situasi yang disebut Trotsky sebagai “Kekuasaan Ganda”. Kekuasaan Ganda muncul saat klas buruh dan kapitalis yang semakin berkontradiksi bergantung kepada organisasi kekuasaan masing-masing yang sama-sama dalam kondisi lemah, pemerintahan sementara yang sudah sekarat karena semakin tidak mendapat kepercayaan dari klas buruh sedang disisi lain Soviet-soviet yang sedang dalam proses pembentukan. Keduanya saling menjatuhkan satu sama lain.

Pada bulan April Lenin kembali ke Rusia setelah menjalani masa yang panjang di pembuangan, kehadirannya memiliki arti penting bagi Partai dan revolusi. Thesis April Lenin yang terkenal terkait Revolusi Borjuis ke Revolusi Sosialis. Dia mempersenjatai Partai Bolshevik dengan gagasan bahwa Rusia mampu memicu rangkaian revolusi sosialis di seluruh eropa, sehingga tidak perlu melewati tahapan revolusi borjuis. Hal ini telah disampaikan Lenin dalam pamfletnya berjudul ”Dua Taktik Kaum Sosial Demokrasi dalam Revolusi Demokratik” bahwa setelah penggulingan kekuasaan Tsar, klas buruh harus terus maju untuk memperjuangkan Revolusi Sosialis. Bolshevik memulainya dengan mengekspos Pemerintahan Sementara yang merupakan refresentasi dari pemerintahan kapitalis, Lenin menyerukan slogan “Tak ada dukungan bagi Pemerintahan Sementara”. Mereka juga menuntut agar perang segera diakhiri dengan slogan “Tanah, Roti, dan Perdamaian”. Setelah bulan April, dukungan terhadap kaum Bolshevik meningkat. Salah satunya disebabkan akibat kemerosotan kondisi ekonomi yang diakibatkan oleh perang. Pabrik-pabik mulai tutup dan banyak buruh yang menderita pengangguran dan kelaparan. Seiring dengan gagalnya kapitalisme di Rusia, slogan-slogan kaum Bolshevik yang anti-kapitalis mulai bergema. Kaum buruh menganggap bahwa gagasan Bolshevik merupakan refresentasi dari kepentingan mereka, sehingga militansi kaum buruh semakin meningkat.

Pemerintahan Sementara melihat slogan Kaum Bolshevik yang semakin menarik perhatian massa karena mencerminkan kebutuhan mendesak mereka untuk mengakhiri perang dan mewujudkan perubahan sosial. Pada posisi ini mereka justru semakin menunjukkan bahwa mereka merupakan refresentasi klas kapitalis serta rela melakukan apapun untuk menggilas gerakan buruh. Pemerintahan Sementara berkhianat dan memandang gerakan buruh sebagai musuh utamanya, bukannya kaum majikan dan tuan tanah. Mereka justru memfitnah demonstrasi ribuan buruh petrograd sebagai insureksi buatan kaum Bolshevik bahkan memfitnah mereka sebagai mata-mata Jerman. Pemerintahan Sementara juga memberangus koran Bolshevik, menangkapi para pimpinan inti dan melancarkan suatu gelombang represi. Sehingga sebagaimana yang terjadi pada masa represi pemerintahan Tsar, Lenin dan Kaum Bolshevik terpaksa kembali bergerak di bawah tanah.

Dalam waktu yang singkat, gerakan buruh terdemoralisasi dan terpukul mundur. Kaum majikan melancarkan serangan-serangannya, mencoba menghancurkan kontrol buruh yang telah dimenangkan kelas buruh. Namun kaum buruh masih memiliki organisasi-organisasi mereka yaitu soviet-soviet sehingga taktik-taktik lock-out para majikan berhasil digagalkan. Sementara itu, kaum tani yang muak menunggu tindakan Pemerintahan Sementara, akhirnya merebut tanah di seluruh negeri. Perang ofensif yang dilancarkan Pemerintahan Sementara akhinya gagal dan tentara semakin mengalami perpecahan karena banyak prajurit yang membangkang secara massal.

Banyak buruh menarik kesimpulan dari peristiwa-peristiwa Juli bahwasanya soviet-soviet perlu merebut kekuasaan. Karena para pimpinan soviet yang moderat masih ingin mendukung Pemerintahan Sementara maka buruh-buruh yang merupakan anggota biasa yakin bahwa para pimpinan ini harus diganti dengan orang-orang yang tidak mau berkompromi yaitu kaum Bolshevik. Soviet-soviet berkembang menjadi embrio tatanan masyarakat baru, tatanan masyarakat dimana buruh mengontrol apa yang harus diproduksi dengan dasar apa yang diperlukan.

Periode Februari hingga juli merupakan masa-masa teradikalisasinya gerakan buruh, mereka semakin diyakinkan oleh Kaum Bolshevik bahwa buruh dapat merebut kekuasaan dan menghabisi klas penguasa Rusia. Penting halnya memahami bagaimana Kaum Bolshevik mampu memimpin revolusi, inilah yang menjadi fokus menyusul Revolusi di bulan Oktober. Kaum Bolshevik dapat membangun suatu organisasi yang cukup fleksibel, mampu bertahan dalam kondisi apapun untuk merespon letupan-letupan perjuangan gerakan buruh di bulan Februari. Mereka dapat meyakinkan klas buruh bahwa mereka mampu dan perlu untuk merebut kekuasaan.
***

Dengan semakin teradikalisasinya gerakan buruh dan semangat yang berkobar di antara massa membuat klas penguasa mulai merencanakan kudeta militer melawan pemerintahan yang baru. Salah satunya adalah Kornilov seorang Jendral Reaksioner. Tentu saja targetnya bukan hanya pemerintahan baru yang dipimpin Karensky, namun Soviet-soviet dan revolusi itu sendiri. Berangkat dari situasi tersebut Kaum Bolshevik bersama dengan Pemerintahan Sementara membentuk suatu front persatuan. Front persatuan dibentuk untuk mengerahkan sumber daya militer dan industri melawan Kornilov. Tetapi Kaum Bolshevik juga mengobarkan perjuangan politiknya melawan Pemerintahan Sementara Karensky. Mereka menuntut agar buruh dipersenjatai untuk melawan kaum kontra-revolusioner. Selain itu mereka juga menuntut kontrol buruh dan tanah untuk kaum tani. Dengan demikian antusiasme masa dapat digembleng untuk melawan kaum reaksioner. Hanya dalam hitungan hari dan kudeta Kornilov hancur berantakan. Hal yang tidak kalah penting dalam peristiwa tersebut adalah Kaum Bolshevik berhasil meraih kemenangan politik yang krusial terhadap Pemerintahan Sementara yang pro-kapitalis dan elemen-elemen moderat di gerakan buruh dan gerakan sosialis. Dengan disiplin organisasi yang tinggi, mereka berhasil mengekspos kelemahan dan kebimbangan rival-rival politik mereka.

Berbagai peristiwa yang terjadi telah membawa transformasi kepemimpinan di dalam soviet-soviet Rusia, karena delegasi yang ada dalam soviet-soviet bisa dipilih dan ditarik(recall) setiap saat menjadi berubah secara drastis. Mereka me-recall perwakilan yang dirasa tidak kompeten dan mengkhianati kepentingan buruh. Semua itu diputuskan secara demokratis pada kepentingan mayoritas klas buruh. Ini mencerminkan demokrasi sejati dari pada demokrasi liberal atau borjuis dimana rakyat hanya bisa memilih wakilnya sekali dalam empat atau lima tahun namun ternyata tidak bisa mengganti wakilnya bila ternyata wakilnya berkhianat dan lebih berpihak pada kelas penguasa.

Akhir Agustus kaum Bolshevik menguasai mayoritas delegasi di Soviet Petrograd dan Trotsky sekali lagi terpilih sebagai presidennya. Setelah itu kaum Bolshevik juga memenangkan mayoritas Soviet Moskow. Mereka kini menjadi organisasi pemimpin kelas buruh dengan keanggotaan mendekati seperempat juta (meningkat drastis dari sekedar beberapa ribu keanggotaan di bulan Maret) serta memiliki dukungan signifikan diantara para prajurit, pelaut, dan lapisan-lapisan kaum tani. Hal ini mencerminkan suatu perubahan kualitatif dalam situasi politik dan menempatkan revolusi buruh dalam agenda.

Bulan Oktober, pemogokan-pemogokan yang dilakukan oleh seksi-seksi buruh yang paling militan dan paling maju secara politik, seperti buruh-buruh metal, telah menurun. Sementara buruh-buruh yang lebih baru dan kurang terampil, baru sekarang melakukan aksi mogok. Seksi pemimpin dan paling militan dari kelas buruh telah sampai pada kesimpulan bahwa pemogokan itu sendiri sudah tidak cukup lagi. Tuntutan-tuntutan tersebut harus dimajukan untuk merebut kekuasaan.

Setelah upaya kudeta Kornilov, Lenin menyatakan bahwa sekarang makin mendesak untuk maju dan mengambil kesempatan. Dia tahu bahwa dalam situasi yang makin tidak stabil, kelas buruh hanya punya dua pilihan. Maju dan merebut kekuasaan atau digilas kaum kapitalis yang merebut kembali kendali mereka. Pembantaian yang menyusul kekalahan Komune Paris 1871 dan represi hebat pasca revolusi 1905 merupakan suatu peringatan keras. Dalam situasi dimana krisis politik dan ekonomi terdalam sudah berlaku, suatu transisi damai menuju demokrasi borjuis yang stabil sama sekali bukanlah pilihan. Sebagaimana yang dinyatakan Trotsky kemudian, bilamana kelas buruh Rusia tidak merebut kekuasaan, maka kata “fasisme” akan muncul dari bahasa Rusia dan bukannya bahasa Italia.

Melalui pamflet yang disebarluaskan berjudul Marxisme dan Insureksi, Lenin menyebutkan prasyarat-prasyarat suatu insureksi. Salah satunya adalah “simpati mayoritas rakyat, yang sudah dibuktikan oleh fakta-fakta obyektif” seperti memenangkan soviet-soviet, popularitas luas program Bolshevik, dukungan di kalangan tentara dan kaum tani, pendiskreditan pemerintahan saat ini, dan kemampuannya untuk mengakhiri perang dan meningkatkan ekonomi yang bobrok. Semua kondisi ini telah terpenuhi. Lalu bagaimana suatu insureksi dijalankan?

Soviet-soviet telah mendirikan suatu Komite Revolusioner Militer (KRM) untuk mempertahankan revolusi dari pihak-pihak seperti Kornilov. Trotsky menyatakan bahwa Komite ini bukan organisasi partai manapun, ini merupakan kendaraan untuk mengobarkan insureksi. Lenin dan Trotsky masih dihadapkan dengan penentangan dari dalam partai Bolshevik. Mereka punya dukungan solid dari anggota biasa, banyak diantaranya merupakan buruh yang teradikalisasi. Namun beberapa “Bolshevik tua” yang gelagapan dan tertinggal dari cepatnya berbagai perkembangan yang terjadi sejak Februari dan merasa terintimidasi oleh represi di hari-hari Juli, merasa khawatir dan takut mengambil langkah pamungkas. Bahkan di saat Lenin dan Trotsky merencanakan detil-detil insureksi, dua pimpinan Bolshevik, Zinoviev dan Kamenev, malah melakukan pengorganisiran menentang Lenin dan Trotsky. Parahnya lagi beberapa hari menjelang insureksi, mereka membocorkan rencana-rencana insureksi tersebut berikut sikap tentangan mereka di koran lain. Bisa dimaklumi kalau tindakan ini membuat Lenin murka dan menuntut agar Zinoviev dan Kamenev dipecat, namun Lenin kalah suara. Kejadian ini jelas membuktikan bahwa partai Bolshevik bukanlah partai diktator.

Soviet Petrograd di bawah kepemimpinan Trotsky mengobarkan tantangan terhadap Pemerintahan Sementara. Mereka mengumumkan bahwa perintah-perintah militer dari komandan-komandan yang ditunjuk Pemerintahan Sementara tidak akan dipatuhi kecuali ditandatangani oleh KRM. Seperti yang diprediksikan, Pemerintahan Sementara merespon dengan lebih banyak represi. Mereka kembali memberangus koran Bolshevik, memerintahkan penangkapan Trotsky dan para anggota KRM, serta membuat rencana untuk menahan seluruh pimpinan soviet.

Malam 24 Oktober, kelompok-kelompok buruh bertindak dengan diam-diam menduduki stasiun-stasiun kereta, pembangkit-pembangkit listrik, kantor-kantor pos, pusat-pusat pengoperasian telepon, gudang-gudang amunisi, bank-bank, dan percetakan-percetakan besar di Petrograd. Kaum buruh hampir tidak menjumpai perlawanan sama sekali dan pada pukul 10.00 pagi berikutnya mereka mengumumkan penggulingan Pemerintahan Sementara, yang mendekam di Istana Musim Dingin, dan dijaga oleh segelintir unit yang tidak berpengalaman. Hanya sedikit tindakan yang diperlukan untuk menghadapi perlawanan mereka. Begitu busuk dan terdiskreditkannya pemerintahan bahkan pasukan lain pun tidak ada yang mau repot-repot membelanya. Kerensky dan kabinetnya melarikan diri. Sehingga insureksi Petrograd sebenarnya berjalan damai dan nyaris tidak berdarah karena klas buruh sebelumnya telah berhasil menduduki dan mengambil alih objek-objek vital. Sedangkan di Moskow terdapat lebih banyak pertempuran dan berlangsung sedikit lebih lama, namun dalam waktu yang relatif singkat, revolusi menang di seluruh negeri.

Tanggal 26 Oktober, kongres soviet-soviet menderikat suatu pemerintahan buruh yang baru yang didominasi oleh kaum Bolshevik namun dengan minoritas SR yang substansial serta beberapa Menshevik. Kongres tersebut mengeluarkan perintah untuk segera mengambil alih tanah dan membagi-bagikannya kepada kaum tani (hal ini melegitimasi proses yang sudah terjadi di lapangan) serta menyerukan pengakhiran perang secepatnya tanpa pencaplokan wilayah negara lain dan tanpa ganti rugi.

Revolusi oktober menggambarkan bahwa revolusi yang terjadi sangat demokratis karena didukung oleh rakyat banyak. Revolusi mengusung suatu pemerintahan baru yang sepenuhnya merepresentasikan kaum buruh. Bahkan lawan-lawan politik Bolshevik juga banyak yang mengakuinya. Martov, salah seorang pemimpin Manshevik menyatakan “Tolong pahami bahwa dihadapan kita semua adalah suatu kemenangan perlawanan kaum buruh, hampir semua kaum buruh mendukung Lenin dan menuntut pembebesan sosial dari perlawanan tersebut”. Hal yang sama juga disampaikan oleh John Reed seorang jurnalis dari Amerika Serikat, Dalam tulisannya ia mengisahkan kesaksiannya dalam perjalanan menuju Petrograd setelah insureksi. “Seorang buruh tua memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya terayun merengkuh pemandangan ibukota yang terbentang di hadapannya seraya berseru penuh kemenangan: ‘Milikku!’ teriaknya sambil berlinang air mata. “Sekarang semuanya milikku! Petrogradku!”

Dari Februari hingga Oktober, kaum Bolshevik mampu mengolah harapan dan hasrat massa rakyat ke dalam suatu program politik. Mereka telah membuktikan kemampuannya untuk mengorganisir dan memimpin baik dalam situasi defensif maupun ofensif. Mereka juga berada di semua garis depan perjuangan dan mengusung argumen-argumen ke massa rakyat melalui agitasi dan propaganda mereka. Mereka adalah partai massa sejati, partai demokratis yang memenangkan dukungan mayoritas masyarakat termasuk kaum tani, militer, dan cendekiawan. Tahun-tahun aktivitas politik dan pengorganisiran dikombinasikan dengan kepercayaan tak tergoyahkan bahwa buruh dapat dan perlu menguasai tatanan masyarakat, membuat kaum Bolshevik mampu memimpin satu-satunya revolusi buruh berhasil yang pernah disaksikan umat manusia.
Berbeda dengan revolusi dan Pemerintahan Buruh Komune Paris yang hanya bertahan selama dua bulan, Negara Buruh di Rusia dan daerah-daerah sekitarnya berhasil memenangkan perang melawan kontra revolusi. Perang yang tidak hanya melawan rezim lama yang hendak berkuasa kembali melainkan juga melawan 21 negara imperialis, termasuk negara-negara sekutu di dalamnya. Keberhasilan tersebut merupakan titik pijakan pendirian Republik Sosialis Dewan Pekerja yang secara awam dikenal sebagai Uni Soviet. Berbeda dengan anggapan awam, Uni Soviet bukanlah suatu negara tersendiri, sebaliknya, ia merupakan federasi dari negara-negara buruh. (Federasi ini bahkan tidak memiliki nama wilayah tersendiri). Perlu dipahami bahwa ketika Revolusi Sosial klas buruh meletus, bukan hanya Kelas Buruh di Rusia yang bangkit dan merebut kekuasaan. Kelas Buruh di daerah-daerah lain, yang merupakan bekas wilayah jajahan Kekaisaran Tsar, juga bangkit berjuang merebut kekuasaan. Setidaknya klas buruh di daerah seperti Transkaukasia, Ukrainia, Belarusia, berhasil memenangkan perjuangan dan mendirikan Republik Sosialis Dewan Pekerja.

Kemenangan Kelas Buruh di Rusia juga mendorong pada pembentukan Internasionale Ketiga atau Komunis Internasional (Komintern) untuk membantu perjuangan klas buruh di seluruh dunia. Pembentukan ini sekaligus menegaskan watak internasionalis dan kepastian bahwa sosialisme tidak mungkin dibangun hanya dalam satu negara. Melalui Komintern, klas buruh bisa menimba pelajaran dari pengalaman Revolusi Oktober dan kemenangan rakyat Rusia.

Demikian besar pengaruh terbentuknya dan bertahannya negara-negara buruh yang tergabung dalam Federasi Republik Sosialis Dewan Pekerja sehingga menginspirasi dan mendorong perjuangan klas buruh di berbagai negara lainnya. Partai-partai Komunis bermunculan di seluruh penjuru benua, diikuti dengan meletusnya revolusi di berbagai negara. Tak terkecuali di Indonesia, tak dapat dipungkiri gerakan rakyat di Indonesia mulai menguat pasca Revolusi Oktober di Rusia. Solidaritas Internasionalpun juga menguat seperti pemogokan yang dilakukan oleh buruh-buruh pelabuhan Australia terhadap kapal muatan Belanda ke Indonesia masa revolusi.

Sayangnya sebagian besar revolusi tersebut menderita kekalahan, kaum sosialis ditangkap, dipenjarakan, atau dieksekusi, gerakan buruh mengalami kemunduran, dan represi aparat penguasa semakin menghebat. Kesemuanya ini berkontribusi terhadap makin terisolasinya negara-negara buruh yang ada sehingga memunculkan tendensi birokratisme. Tendensi ini muncul akibat banyak bergugurannya aktivis buruh revolusioner di medan perang untuk mempertahankan negara buruh dan di sisi lain membanjirnya kaum oportunis baik ke dalam birokrasi Dewan Pekerja maupun birokrasi partai. Melalui berbagai proses gradual yang diwarnai dengan berbagai konfrontasi pula tendensi birokratisme ini berhasil menguasai partai, dewan pekerja, militer, kepolisian, dan membentuk lembaga-lembaga tersebut sesuai keinginan mereka dan agar melayani kepentingan mereka.

Di Rusia, revolusi buruh digulingkan dengan tragis oleh kontra revolusi brutal yang diorganisir dan dipimpin oleh Stalin, salah satu pimpinan Bolshevik. Berlawanan dengan pandangan kebanyakan sejarawan hal ini bukan akibat logis buruh merebut kekuasaan dan bukan akibat pembangunan organisasi revolusioner seperti Bolshevik. Lenin dan Trotsky selalu menegaskan bahwa nasib revolusi terletak pada prospek revolusi tersebut menyebar ke seluruh penjuru Eropa. Tidak mungkin membangun sosialisme di satu negeri sebagaimana yang kemudian diklaim Stalin sebagai tujuannya. Bila kekuatan pasar kapitalis tidak dikalahkan di berbagai negeri, maka suatu negara yang terisolasi akan terpaksa berkompetisi dengan negara-negara lain demi bertahan hidup. Tak ada negara yang bisa hidup sendiri, dan hal inilah permasalahan berat yang menimpa Rusia 1918 yang terbelakang. Kekalahannya memastikan kaum buruh Rusia dan memberi jalan bagi berdirinya kembali masyarakat kelas. Inilah bagaimana Stalin membangun kediktatoran dengan berkedok komunisme padahal tidak lain dan tidak bukan merupakan suatu bentuk kapitalisme negara. Mempelajari Revolusi Oktober dengan demikian tidak bisa dipisahkan dari mempelajari bahaya birokratisme dan bahaya Stalinisme.

Pengalaman dari Komune Paris hingga Revolusi Rusia tentu dapat memberikan kita pelajaran yang berharga. Bagaimana kegagalan, keberhasilan, sampai kemunduran gerakan buruh dalam mewujudkan kesejahteraannya. Tidak mustahil bagi klas buruh untuk menumbangkan klas kapitalis, merebut kekuasaan, dan mendirikan negara buruh. Dengan garis bawah bahwa watak perjuangan klas buruh adalah watak internasionalis dan tidak mungkin membangun sosialisme hanya dalam satu negara. Sedangkan melalui pemahaman terhadap apa itu bahaya birokratisme dan apa itu stalinisme, klas buruh bisa mengambil pelajaran agar kelak kita bisa menghadapi dan mencegah pengkhianatan yang tidak hanya akan memberangus demokrasi pekerja melainkan juga menghancurkan negara buruh. Marx suatu ketika pernah menyatakan bahwa demokrasi adalah jalan menuju sosialisme. Akhirnya sejarah dan kualitas gerakan rakyat didalamnya akan menjadi penentu bagi gerak maju sejarah.

 

Rangkuman Diskusi “Lingkar Study Kerakyatan”
Dinarasikan Oleh Angga Kusuma Wijaya
Referensi :
1. Dipo Negoro : Revolusi Kaum Buruh Abad Kedua Puluh

2. Situs Indo-Marxist (http://come.to/indomarxist) : Kilasan Sejarah Perang Sipil di Prancis

3. Zagranichnaya Gazeta, No. 2,23 Maret 1908 : Pelajaran dari Komune Paris

4. V.I Lenin (1910) : Pelajaran dari Revolusi

5. Diambil dari History of The CPSU (B). Moscow : Foreign Language Publ., 1951. Bab VII, Bagian 1-4, halaman 280-308.

6. Situs Bumi Rakyat : Revolusi Oktober, Kemenangan Revolusi, dan Berdirinya Republik Sosialis Dewan Pekerja untuk Pertama Kalinya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s