Pengalaman Dari Komune Paris Sampai Revolusi Rusia (bagian I)

images
Sumber : suaraorangtertindas.blogspot.com

 

Dalam perkembangan sejarah manusia, ilmu pengetahuan borjuis saat ini selalu mengembangkan pengetahuan bahwa sejarah digerakkan oleh segelintir orang saja seperti pemimpin-pemimpin besar, para pemikir brilian, orator kharismatik, dan sebagainya sebagai subjek utama. Sebut saja revolusi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 terjadi karena ada sosok Soekarno yang membacakan teks proklamasi. Perang dunia II terjadi karena sosok Hitler dengan pemikiran-pemikiran fasisnya. Napoleon Bonaparte menjadi kaisar Prancis yang menguasai hampir seluruh Eropa karena kejeniusan perangnya. Di dalam perkembangan sejarah tersebut, rakyat jelata tidak memainkan peran yang signifikan. Mereka hanyalah domba-domba yang mengikuti pemimpin mereka, kalaupun ada mereka hanya dikatakan sebagai orang liar yang melakukan kerusuhan. Ilmu pengetahuan seperti ini sangat lazim sekali berkembang dalam sistem kapitalisme.

 

Perkembangan ilmu pengetahuan seperti itu pada akhirnya hanya mereduksi sejarah. Perspektif Historis Materialisme sebagai pendekatan yang melihat secara utuh sejarah perkembangan masyarakat membuktikkan bahwa rakyat jelatalah aktor utama dalam setiap gerak sejarah. Bahwa dalam perkembangan sejarah manusia ada dua kelas yang saling berkontradiksi dan tak terdamaikan yakni antara kelas penindas dan kelas tertindas, yang di dalam alam kapitalisme saat ini kita kenal sebagai klas kapitalis (pemilik modal) dan klas proletar (kaum buruh). Figur pemimpin-pemimpin besar dalam hal ini adalah pengejawantahan dari kelas-kelas yang ada di dalam masyarakat tersebut.

Dalam sistem kapitalisme, klas buruh lah paling merasakan langsung dampak dari penindasan sistem tersebut. Sifat ekspansi dari sistem ini yang akan terus memperbanyak keuntungan para pemilik modal akan menimbulkan semakin banyak klas buruh dan bersamaan dengan eksploitasi terhadap manusia dan sumber daya alamnya yang terus meningkat. Oleh karena itu, kelas buruh jugalah yang memiliki tanggung jawab sebagai pelopor kelasnya dalam penumbangan sistem kapitalisme. Hal ini tidak bisa dilakukan dengan cara kompromi pada pemilik modal, karena kepentingan pemilik modal yang akan terus memperluas modalnya akan bertentangan dengan kaum buruh yang menginginkan kesejahteraan dalam hidupnya. Inilah alasan bahwa hanya dengan proses revolusi merebut kekuasaan dari tangan kapitalis, klas buruh dapat memimpin perjuangan menuju dunia baru yang lebih manusiawi. Sejarah telah membuktikan bahwa hal tersebut dapat terwujud serta dengan prinsip yang ilmiah pula.

Dalam sejarah revolusi kaum buruh diseluruh dunia, tidak terlepas dari situasi objektif maupun subjektif. Situasi objektif berkaitan dengan situasi ekonomi politik serta kontradiksi-kontradiksi yang terjadi dalam sistem kapitalisme. Namun situasi objektif seperti itu hanya mempengaruhi periode revolusi saja. Perjuangan merebut kekuasaan dari tangan kapitalis sangat ditentukan oleh situasi subjektif, dalam hal ini adalah posisi gerakan rakyat yang berkembang dalam menumbangkan sistem kapitalisme. Peran partai pelopor sangat dibutuhkan sebagai penuntun gerakan rakyat.

Komune Paris sampai Revolusi Rusia dapat memberikan kita pengalaman berharga bagi setiap gerakan rakyat yang berkembang saat ini. Bagaimana gerakan rakyat khususnya klas buruh dalam melakukan pertahanan dari serangan kapitalis hingga akhirnya mampu merebut kekuasaan dan mendirikan negara buruh pertama didunia yang mampu menginspirasi gerakan rakyat yang berkembang setelahnya. Meskipun pada akhirnya muncul birokratisme, namun ini bisa menjadi pelajaran penting bagi gerakan rakyat yang berkembang saat ini dalam proses menumbangkan sistem kapitalisme.

Komune Paris : Pemerintahan Buruh Pertama

Komune Paris adalah sebutan untuk pemerintahan Paris selama Revolusi Perancis. Istilah ini merujuk pada pemerintahan sosialis yang secara singkat memerintah kota Paris sejak tanggal 18 Maret sampai tanggal 28 Mei 1871. Komune Paris merupakan pemerintahan pertama didunia yang dikuasai oleh klas buruh. Selama 72 hari, klas buruh menguasai dan menjalankan kota. Meskupin sangat singkat, komune tersebut membuktikan bahwa kelas pekerja mampu mengambil alih kekuasaan dan menjalankan secara demokratis dan kolektif demi kepentingan mayoritas, yaitu klas buruh serta rakyat tertindas lainnya. Hal ini menujukkan bahwa rakyat jelata atau kelas tertindas merupakan aktor dari gerak sejarah untuk pembebasan masyarakat. Dimana kelas pekerja mampu memimpin nasib mereka sendiri, menunjukkan keberanian, kreativitas, serta kepeloporannya.

Komune Paris di latar belakangi oleh perang yang terjadi antara Perancis dan Prussia. Klas buruh bersama borjuis di Prancis berjuang demi kemerdekaan nasional di bawah pemerintahan borjuis. Klas buruh dalam hal ini dibutakan oleh ilusi-ilusi patriotik yang dibangun oleh borjuasi. Marx dalam Manifesto Internasional pada september 1870 memperingatkan kepada klas buruh Perancis untuk waspada terhadap ide nasional yang menyesatkan, patriotisme dan sosialisme merupakan kesalahan fatal dari sosialis Prancis. Antagonisme kelas yang terjadi semakin meruncing, borjuasi memikul tanggung jawab untuk membela negara, sedangkan tugas kelas pekerja adalah berjuang demi emansipasi kerja sosialisme dibawah penindasan para borjuasi.

Tentu sifat patriotisme borjuis dengan kepentingannya bersama kelas pekerja tidak bertahan lama. Setelah mengadakan perdamaian yang memalukan karena kekalahan dengan Prussia, pemerintah borjuis memulai tugasnya yang mendesak untuk merebut senjata-senjata dari tangan pihak klas buruh Paris. Para buruh menanggapi serangan itu dengan memproklamasikan berdirinya Commune dan diadakannya perang sipil. Meskipun klas buruh paris terbagi menjadi banyak sekte, Komune menjadi contoh nyata adanya persatuan diantara para pekerja yang memungkinkan mereka dapat mengerjakan tugas-tugas demokratis.

Komune paris membuktikan bahwa klas buruh mampu mengambil alih kekuasaan. Komune membawa demokratisasi sistem sosial, menghapus birokratisme, dan mengadakan pemilihan untuk semua pos kepegawaian. Dalam waktu singkat menghapuskan wajib militer dan darurat militer, membatalkan biaya sewa rumah tinggal, merombak sistem pengupahan, mentransformasikan seluruh hak milik gereja menjadi hak milik nasional agar tidak terjadi kesewenang-wenangan, dan sebagainya. Semua itu dilakukan secara demokratis diatas kepentingan mayoritas klas buruh untuk kesejahteraan rakyat. Hal ini tentu berbeda diatas kepemimpinan borjuis dimana mereka merupakan suatu minoritas yang memaksakan kehendaknya pada mayoritas.
Namun berbagai kesalahan dalam Komune menghancurkan buah-buah kemenangan yang telah dicapai, klas buruh akhirnya berhenti ditengah perjalanan. Pertama, bukannya “merampas para perampas”, klas buruh membiarkan diri disesatkan dengan tugas-tugas nasional yang umum (patriotisme) alias mengalami keragu-raguan. Beberapa lembaga vital seperti bank sebagai contoh tidak diambil alih oleh kaum buruh, kalangan sosialis justru mengambil jalan damai. Kedua, kegiatan yang berlebihan pada sebagian besar klas buruh bukannya menghancurkan musuh-musuhnya, mereka justru memberikan pengarahan moral kepada para borjuasi. Hal ini meremehkan pentingnya operasi militer langsung dalam perang sipil untuk melumpuhkan musuh-musuhnya. Klas buruh malahan memberikan waktu bagi pemerintahan borjuis untuk membentuk kekuatan kontra-revolusi. Akhirnya revolusi gagal menyebar dan terisolasi di Paris sehingga kaum borjuasi mampu menghimpun kembali pasukannya dan mempersiapkan minggu banjir darah di bulan Mei. Meskipun muncul perlawanan gagah berani dari Kaum Komunard (para pembela Komune), pemerintahan borjuis menang dan melancarkan balas dendam brutalnya dengan menenggelamkan revolusi dalam lautan darah. Lebih dari 30.000 orang dibantai dan 15.000 ditahan serta banyak lainnya yang dibuang ke pengasingan. Keganasan pembalasan dendam demikian menunjukkan betapa brutalnya teror klas kapitalis dalam bereaksi terhadap unjuk kekuasaan buruh.

Disamping berbagai kesalahan dan kegagalan yang ada, Komune Paris tetap merupakan suatu contoh mengagumkan tentang adanya gerakan besar klas buruh di abad 19. Jika klas buruh tidak melakukan perlawanan dan membiarkan dirinya dilucuti oleh klas kapitalis, maka akan menimbulkan efek buruk dan berbahaya bagi gerakan rakyat yang berkembang setelahnya. Komune paris merupakan inspirasi bagi gerakan rakyat khususnya klas buruh dalam melawan serangan dan penindasan klas kapitalis.

Komune paris mampu mengobarkan gerakan sosialis ke seluruh eropa. Momentum ini memperlihatkan kekuatan dari pada perang sipil, merontokkan ilusi-ilusi patriotik, dan menghancurkan keyakinan naif dalam tiap usaha borjuasi untuk tujuan-tujuan umum nasional. Pelajaran berharga yang didapat dari Komune tersebut diantaranya adalah penggunaan metode perjuangan dengan jalan damai, dalam beberapa kondisi tertentu perjuangan kelas mengharuskan adanya konflik bersenjata dan perang sipil. Ada saat-saat dimana kepentingan klas buruh menuntut diadakannya serangan balik atau pembasmian pihak musuh dalam suatu konflik bersenjata secara terbuka. Hal ini diperlihatkan pertama kali dalam komune paris dilihat dari serangan balik dan pembantaian besar yang terjadi. Selain itu peran partai revolusioner sangat dibutuhkan untuk menjadi pembimbing perjuangan bagi klas buruh, hal ini juga yang tidak terlihat secara konkret dalam Komune Paris. Berbagai keberhasilan dan kegagalan dalam Komune Paris dapat menjadi pelajaran dan secara brilliant mampu diterapkan oleh klas buruh di Rusia serta dengan dibimbing oleh partai revolusioner yang mengakar dan menjadi ingatan perjuangan klas buruh.

Revolusi Rusia 1905 : Permulaan bagi Perjuangan Klas Buruh Rusia

Rusia awal abad 20 merupakan negara otokrasi tanpa adanya institusi demokratis sama sekali dibawah rezim pemerintahan Tsar Nicholas II (1894–1917). Situasi penduduk Rusia masih semi feodal dan mayoritas masyarakat memenuhi kebutuhan hidup dengan pertanian. Namun kapitalisme sudah berdiri tegak di Rusia, industri berat seperti perkapalan, pertambangan, besi, amunisi, dan sebagainya telah berkembang untuk memenuhi kebutuhan perang negara Rusia. Industri tekstil juga sudah meluas dimana mayoritas buruhnya merupakan buruh perempuan.

Rusia juga telah memiliki industri paling modern dan berskala luas didunia. Meskipun jumlah buruh di Rusia relatif sedikit, namun klas buruh Rusia secara ekstrim terkonsentrasikan dipabrik-pabrik raksasa. Klas buruh Rusia yang masih muda tersebut rupanya telah menyadari kekuatannya, ini dilihat dari pemogokan massal yang pertama kali terjadi tahun 1896 oleh buruh tekstil di St. Petersburg yang jumlahnya terus meluas. Hal ini kemudian di respon oleh Negara dengan melakukan represi hebat terhadap klas buruh pada masa kemerosotan ekonomi sehingga beberapa tahun mematikan perjuangan klas buruh.

Dalam perjuangan menumbangkan otokrasi dan mendirikan Negara(kekuasaan) buruh diperlukan sebuah alat yakni partai revolusioner yang mengakar dari klas buruh. Di Rusia telah terdapat sekelompok kecil kaum sosialis revolusioner khususnya Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD) yang memiliki dua faksi utama yakni Kaum Bolshevik dari sekitar Lenin dan Kaum Manshevik dipimpin oleh Plekhanov dan kemudian digantikan oleh Karensky. Terdapat perbedaan mendasar diantara keduanya yakni antara partai yang bersifat radikal dikubu Bolshevik dan partai yang bersifat moderat dikubu Manshevik. Perjalanan perjuangan klas buruh di Rusia akan membuktikan metode mana yang paling tepat digunakan dalam membimbing perjuangan klas buruh dalam menumbangkan otokrasi dan mendirikan Negara buruh dari kedua faksi tersebut. Terdapat juga kaum liberal yang ingin menumbangkan rezim pemerintahan Tsar, namun aliran ini hanya menghendaki Rusia menjadi kerajaan yang berundang-undang dasar (Monarki Konstitusional). Aliran ini di isi oleh kaum borjuis(pemilik modal) Rusia, karena pemilik modal dimasa kerajaan seperti Rusia tidak leluasa dalam mengekspansi modalnya. Mereka berkepentingan untuk menghapus sisa-sisa feodalisme, untuk itu penumbangan otokrasi juga menjadi kebutuhan para borjuasi.

Seperti halnya Komune Paris, perang merupakan suatu kebutuhan di alam kapitalisme karena sifat ekspansinya. Tahun 1904 Rusia berperang melawan jepang dan mengalami kekalahan yang menyakitkan. Bayangan revolusi terus menghampiri Rusia pasca perang imperialis tersebut. Awalnya perang berdampak pada meningkatnya rasa patriotisme rakyat khususnya klas buruh, yang menyebabkan pemogokan-pemogokan menurun dalam sepuluh tahun terakhir. Namun sebagaimana diketahui perang merupakan kepentingan rezim yang berkuasa, klas buruh tidak berkepentingan dan hanya menjadi korban. Upah anjlok 25 % karena biaya yang ada digunakan untuk memenuhi kebutuhan perang. Klas buruh yang tertindas mencari kepemimpinan, seperti kaum buruh St. Petersburg akhirnya berpaling pada seorang pendeta , Bapa Gapon dan Majelis Buruh Pabrik St. Petersburg suatu serikat “legal” karena dibekingi polisi.

Pemogokan-pemogokan pada Desember 1904 berujung pada jatuhnya korban empat orang militan, yang akhirnya memicu pemogokan skala kota. Gapon menyarankan suatu petisi untuk diserahkan kepada Tsar, yang dianggap sebagai “bapak” rakyat Rusia dan berdiri di atas kepentingan buruh dan kapitalis yang saling bertentangan. Tuan-tuan polisi Gapon senang dengan gagasan itu, mereka pikir beberapa patah kata bijak dari Tsar dan sedikit konsesi ekonomi akan cukup untuk memotong gerakan tersebut. Kaum buruh kemudian mengumpulkan petisi yang berkat intervensi luas dari kaum sosialis berisi tuntutan-tuntutan politik juga, seperti kebebasan berpendapat, kebebasan berserikat, dan kebebasan pers, tanah untuk kaum tani, dan akhiri perang, bentuk parlemen dan pisahkan Gereja dengan negara. Hal ini jauh melebihi apa yang diperkirakan Gapon sebelumnya.

Januari 1905, ribuan buruh yang banyak diantaranya menyanyikan himne dan mengusung potret-potret Tsar, dengan penuh kepercayaan bergerak ke Istana Musim Dingin untuk menyerahkan petisi mereka. Bukan saja Tsar menolak menemui mereka, pasukan tentaranya malah diperintahkan untuk menembaki buruh. Lebih dari ribuan orang tewas terbunuh dan lebih dari dua ribu menderita luka-luka. Hari ini kemudian dikenal sebagai Minggu Berdarah dan merupakan suatu titik balik bagi gerakan buruh.

Suatu pemogokan umum pecah di St Petersburg dan dengan cepat menjalar ke kota-kota lainnya. Aspek penting gelombang pemogokan ini adalah bagaimana tuntutan-tuntutan ekonomi dan politik saling mempengaruhi satu sama lain dan makin memperkuat perjuangan. Banyak pengusaha terpaksa memberikan konsesi, dan di beberapa daerah buruh berhasil mendirikan kebebasan politik secara de facto. Partai-partai sayap kiri bisa beroperasi secara terbuka.

Bulan Agustus, Tsar setuju untuk membentuk semacam parlemen, yaitu Duma (Daerah Perwakilan Rakyat Rusia). Namun keberadaannya hanya sandiwara belaka, Duma ini merupakan badan yang hanya bersifat konsultatif tanpa kekuatan legislatif. Selain itu tidak ada perwakilan bagi buruh disana. Dalam kota St. Petersburg, yang berpopulasi sebanyak 1.400.000 ternyata hanya 13.000 orang yang diperbolehkan memberikan hak suaranya. “Konsesi” menyedihkan ini membuat murka kaum buruh, dan pada bulan Oktober gelombang pemogokan lainnya dimulai. Rel, perkeretaapian, dan pos berhenti beroperasi. Sekolah-sekolah tutup. Suplai gas dan air berhenti. Komunikasi lumpuh. Perjuangan buruh menginspirasi lapisan-lapisan rakyat tertindas lainnya; kaum tani mulai membakari rumah-rumah tuan tanah serta merebut tanah dan stok pangan. Kaum pelaut dan prajurit memberontak. Buruh-buruh perempuan juga terlibat, terkadang bahkan memimpin pemogokan-pemogokan ekonomi akhirnya meraih kepercayaan diri untuk menuntut mengakhiri pelecehan seksual serta waktu rehat untuk merawat anak-anak.

Pada bulan November, kaum kapitalis semakin khawatir dengan tuntutan serta berbagai aksi kaum buruh yang semakin maju. Mereka membalasnya dengan tindakan lock-out yang mematahkan perjuangan menuntut delapan jam kerja sehari. Sementara itu negara juga tidak tinggal diam, para pejabat dan polisi lokal membentuk organisasi anti-Semit bernama Black Hundreds yang tugas utamanya adalah melancarkan kekerasan berdasarkan agama terhadap umat Yahudi sekaligus terhadap gerakan buruh. Dewan buruh (Soviet) St. Petersburg ditindas pada 3 Desember dan pemberontakan yang dipimpin soviet di Moskow akhirnya dipatahkan setelah enam hari perlawanan yang gagah berani. Saat dua pusat perjuangan buruh telah berhasil dikalahkan, maka sekitar empat puluhan soviet di kota-kota lain juga digilas oleh militer. Namun butuh dua tahun penindasan yang kejam untuk menghancurkan gerakan buruh yang telah membesar sebelumnya.

Hal yang terpenting dalam aksi perlawanan di tahun 1905 tersebut adalah kaum buruh berhasil mengembangkan suatu alat untuk mengorganisir kekuatan untuk menghadapi tantangan-tantangan ekonomi dan politis dalam melawan rezim, yakni adanya dewan-dewan buruh yang dalam bahasa Rusia disebut sebagai Soviet. Soviet-soviet sangat demokratis dan merepresentasikan perjuangan buruh. Soviet tersebut menyerupai Komune Paris, dimana delegasi-delegasi buruh dapat dipilih dan ditarik (recall) kapanpun dan digaji hampir sama dari upah rata-rata buruh. Namun perbedaan signifikan dengan Komune Paris adalah soviet-soviet Rusia berbasis ditempat kerja bukan berbasis di lingkungan perumahan, hal ini yang membuat soviet-soviet di Rusia semakin kuat. Kekuatan soviet-soviet tersebut berkembang diseluruh negeri dan dalam sekejap menjadi tantangan bagi klas kapitalis. Soviet-soviet dibentuk untuk melayani kebutuhan mendesak perjuangan kaum buruh, pemogokan, demonstrasi, serta aktivitas kecil lainnya seperti kesehatan, pelayanan makanan, perawatan medis, dan lain-lain semuanya dilakukan secara kolektif. Soviet-soviet tersebut memang merupakan embrio pemerintahan buruh untuk menggantikan kekuasaan kaum kapitalis.

Selama perlawanan 1905 kaum buruh lebih sering tampil didepan dibandingkan kaum sosialis yang terorganisir. Buruh-buruh menciptakannya secara relatif spontan dan kaum sosialis tidak menyambutnya dengan teori dan praktek yang tepat untuk melihat potensi soviet menjadi suatu pemerintahan buruh. Kaum Bolshevik sendiri bersikap tidak ramah terhadap soviet-soviet dan bertingkah sektarian , bahkan menganggap bahwa ini merupakan plot dari kaum Manshevik yang lebih cepat merespon dengan melibatkan diri dalam soviet-soviet. Kaum buruh seperti dikatakan Lenin bahwa buruh dengan perjuangannya sendiri hanya sampai pada kesadaran ekonomisme. Kaum bolshevik melalui pamflet yang dikembangkan Lenin tahun 1902 berjudul Apa yang Harus Dikerjakan? Di bawah kondisi ini pada perjuangan kelas yang rendah, partai beroperasi dibawah tanah dan membatasi keanggotaan partai harus pada “para revolusioner profesional” yang berdedikasi tinggi serta dapat mengintervensi politik sosialis dari luar. Selama perlawanan 1905, banyak kaum bolshevik yang berkecenderungan mengecilkan perjuangan ekonomi serta dinamika perjuangan massa yang telah menyebar luas. Berangkat dari pengalaman tersebut, Lenin dengan perdebatan sengit bersama kamerad-kameradnya menyerukan partai untuk “membuka gerbang” dan menerima ribuan buruh muda yang teradikalisasi dan melibatkan dirinya dalam soviet-soviet buruh.

Banyak pengalaman dan pelajaran yang didapat dari revolusi buruh 1905. Dalam pamflet yang dikembangkan Lenin pada tahun 1910 berjudul Pelajaran Dari Revolusi. Pertama, ialah bahwa hanya dengan perjuangan yang revolusioner dari massa dapat dicapai perbaikan yang fundamentil dalam kehidupan kaum buruh, hanya lewat perjuangan kaum buruh itu sendiri maka perubahan yang mendasar dapat diraih. Kedua, tidaklah cukup hanya perjuangan yang bersifat konsesi-konsesi dan membatasi kekuasaan Tsar, namun kekuasaan itu harus dihancurkan dan mendirikan kekuasaan buruh (ini dilihat dari Soviet-soviet yang berkembang). Ketiga, yang paling utama dari revolusi yakni perjuangan yang dilakukan tidak dapat bersifat kompromis dan membiarkan klas kapitalis memimpin perjuangan buruh, melainkan kaum buruh harus memimpin tiap perjuangan yang ada bahkan untuk reforma-reforma demokratis klas kapitalis. Klas kapitalis berkepentingan untuk menghapus sisa-sisa feodalisme dan menuntaskan revolusi borjuis demokratis, mereka lebih takut kepada kekuatan buruh yang meluas dari pada rezim Tsar. Klas kapitalis rela mengorbankan tujuan revolusinya dari pada memobilisasi buruh yang kekuasaannya akan mengancam kepentingan klasnya. Kaum buruh harus melampaui batasan-batasan tuntutan revolusi borjuis demokratis dan memperjuangkan kepentingan kelasnya menuju sosialisme. Seperti teori revolusi permanen yang dikembangkan oleh Trotsky, karena kapitalisme mendominasi ekonomi dunia maka sosialisme merupakan agenda mendesak. Selain itu karena klas buruh mampu menjalankan aksi yang independen bahkan di negara yang relatif terbelakang seperti Rusia, sehingga tidak perlu menungu kapitalisme berkembang sepenuhnya.

Revolusi 1905 diikuti oleh periode reaksi dari unjuk kekuasaan buruh dari rezim Tsar serta kemerosotan lainnya. Kaum Bolshevik berhasil menjaga gagasan dan semangat revolusi 1905 agar tetap hidup. Dengan mempertahankan suatu organisasi yang menghimpun buruh-buruh yang paling militan dan berkesadaran kelas. Inilah yang dapat menjadi pendorong sehingga buruh mampu merebut kekuasaan pada tahun 1917 yang akan menjadi bahasan selanjutnya. Seperti dijelaskan Lenin bahwa partai revolusioner dibutuhkan untuk menjadi “memori klas buruh”. Tugas kunci partai revolusioner adalah menarik, menggeneralisir, dan menularkan pelajaran-pelajaran penting dari tiap periode perjuangan.

Bersambung…..

 

Rangkuman Diskusi “Lingkar Study Kerakyatan”

Dinarasikan Oleh Angga Kusuma Wijaya

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s