Pembrangusan Demokrasi dan Masa Depan Gerakan Rakyat

FB_IMG_1464789370537

krisis yang di alami oleh sistem tkapitalisme semakin lama semakin mendekati kehancurannya. Semakin kelas pemodal berupaya untuk menghindarkan sistem kapitalisme pada krisis yang di alaminya justru semakin dekatlah sistem yang tidak masuk akal tersebut dengan kehancurannya. Over produksi yang menjadi sifat utama dari sistem yang anarkis dalam produksinya (produksi sesuai keinginan demi peningkatan keuntungan individu pemilik modal-tidak sesuai dengan kebutuhan) tidak akan dapat di selesaikan oleh pakar ekonomi terhebat di seluruh dunia sekalipun. Dalam kondisi dimana krisis kapitalisme semakin dalam, Kelas borjuis, akan terus menerus berupaya untuk merebut kembali kemenangan yang di raih oleh kelas buruh dan rakyat tertindas lainnya.

Perjuangan yang di lakukan oleh kelas buruh beserta kelas tertindas lainnya dalam membuka keran demokrasi dan menjengkangkan orde baru bagaimanapun juga mampu memberikan kesempatan lebih luas dalam perlawanan kaum yang dihisap dan ditindas. Perjuangan demokrasi dengan penggulingan Soeharto telah membuka ruang bagi klas buruh dan rakyat untuk megorganisir dirinya dan melancarkan perjuangan baik ideologi, politik dan ekonomi, di dalam demokrasi borjuis. Namun karena negara merupakan alat bagi kelas penindas (kelas borjuis/pemilik modal/ kapitalis) untuk menghisap kelas tertindas (dalam hal ini kaum buruh, petani, mahasiswa dan rakyat tertindas lainnya) dimana aparatur keamanannya (TNI,Polri dan orang orang bersenjata lainnya) akan di gunakan untuk menjaga agar akumulasi modal dapat terus berjalan.
Krisis ekonomi yang terjadi di tahun 1997 membuat suharto yang sebelumnya di puja sebagai bapak pembangunan dalam sekejap berubah menjadi simbol yang di benci oleh rakyat. Gedung-gedung pencakar langit dan apartimen yang di bangun tanpa ada pembeli mengakibatkan over produksi semakin tak terelakkan. Namun, Kaum reformis telah memainkan dengan baik peran historisnya : menyelamatkan kapitalisme dari situasi krisisnya. Percaya bahwa kelas borjuis nasional proggresif akan mempertahankan demokrasi adalah kesahan fatal. Ketika semua kaum borjuis reformis mengkhianati gerakan, ini menyebabkan kebingungan ideologis yang lalu membawa demoralisasi di dalam gerakan. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa, posisi yang dipertahankan kaum borjuis sebagai sebuah klas membawa pada inkonsistensinya dalam sebuah revolusi demokratik. 1 di satu sisi kelas borjuis juga tau benar bahwa kemajuan demokratik akan mengancam kekuasaanya dan memperhebat kekuatan kelas buruh dan rakyat tertindas lainnnya.

Dapatkah kelas buruh dan rakyat tertindas lainnya merebut kekuasaan dan menumbangkan sistem kapitalisme?

Kenyataannya, sejak tumbangnya rezim diktator, demokrasi rakyat masihlah terbatas secara politik. Demokrasi rakyat rupanya masihlah di selubungi oleh para pembajak demokrasi. Selain itu, kelas pemodal tidak berhenti untuk merebut kemenangan kemenangan yang telah di dapatkan oleh kelas tertindas. Kelas borjuis, tidak akan sudi untuk mendorong maju demokrasi bagi rakyat, justru sebaliknya akan semakin mempersempit, mengkerdilkan dan menjaukannya. Untuk memastikan pertumbuhan ekonomi ala pemodal dapat berjalan, negara tentu merupakan alat yang cukupp efektif untuk meligitimasi pemberangusan demokrasi demi mempermudah investasi.

Dengan menggunakan aparatus keamanannya, beserta struktur hegemoni ideologi melalui lembaga pendidikan, agama dan budaya, rakyat akan dengan mudah di perlakukan sebagai budak bagi si pemodal.

Kapitalisme dapat hidup dan berkembang subur dengan berbagai topeng negara, ia dapat tumbuh dengan subur dengan pemerintah yang otoriter sekalipun, lihat saja orde baru dibawah dominasi Soeharto beserta kroninya, Kapitalisme yang tumbuh subur berkat penggulingan Soekarno di tahun 1966..2 Dengan dibukanya keran investasi Asing yang dimulai sejak 1966 hingga sekarang. ototriter sangat dibutuhkan dalam menjaga perkembangan kapitalisme. Apa lagi rezim orde baru, giat memelihara kapital kroni yang kemajuannya dikarenakan perlindungan dan permanjaan dari sang diktator. Selama Orde Baru, golongan kapitalis kroni ini menjadi basisnya rezim, dibeking oleh kapital besar Amerika, Jepang dan Eropa Barat, dengan tentara sebagai alat represifnya yang utama (3)

Lebih lanjut upaya dari kelas pemodal untuk semakin mempersempit, dan menjauhkan kelas buruh beserta rakyat tertindas lainnya dari ruang demokrasi, ideologi reaksioner juga digunakan oleh kelas borjuis untuk mempertahankan kapitalisme. Tidak heran belakangan ini kita menyaksikan ideologi ultra kanan seperti rasisme, fasisme, cauvinisme hingga homofobia semakin digunakan oleh kelas borjuis. Mereka mencoba mengaburkan fakta bahwa kelas buruh apapun rasnya, suku, jenis kelaminnya, kebangsaannya, orientasi seksual, agamanya, dsb tetap memiliki musuh yang sama: kapitalisme. Upaya kelas borjuis tersebut dijalankan juga dengan mobilisasi kelompok-kelompok reaksioner yang menyerang tiap-tiap ruang demokrasi. disahkannya UU Ormas, UU ITE dan peraturan lainnya (yang mempersempit ruang demokrasi bagi rakyat) merupakan bagian dari agenda pemberangusan dan penngkerdilan demokrasi seperti kebebasan dalam berpendapat, berpengetahuan (yang ilmiah), berorganisasi, dan kebebasan berekspresi lainnya. Sementara UU kebebasan berserikat, sejak berlaku sampai hari ini terus menerus mendapat hambatannya. Rakyat bagi mereka (rezim yang berkuasa) adalah mahluk bodoh yang tidak siap berdemokrasi, dan demokrasi bagi mereka harus lah demokrasi yang dikontrol dari atas/elit; demokrasi seadanya. Dalam realita demokrasi yang demikian, partisipasi rakyat tidak boleh lebih dari sekedar ‘pemanis’ dan pelengkap legitimasi. (4)

Saat ini setidaknya terdapat, sastrawan Saut Situmorang yang dikriminalisasi dengan menggunakan UU ITE.  Dua puluh tiga buruh, 2 pengacara LBH Jakarta serta 1 mahasiswa yang dikriminalisasi karena melakukan aksi penolakan PP Pengupahan di Istana Negara. Dua orang buruh, Saiful Anam dan Eko yang dikriminalisasi menggunakan UU ITE karena mengungkap praktek sistem kerja kontrak di perusahaannya. Di Jawa Timur, dua orang buruh Abdul Hakam dan Agus Budiono di vonis 3 bulan penjara dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan karena memperjuangkan ribuan buruh outsourcing di PT Petro Kimia Gresik agar menjadi pekerja tetap. Di Papua kondisi lebih buruk, menurut data dari LBH Jakarta sejak pemerintahan Jokowi-JK sekitar seribu orang, khususnya aktivis pro kemerdekaan ditangkap (Arah Juang.com Lawan Kriminalisasi! Rebut Demokrasi!! – terbit 29/04/2014).

Penyempitan ruang demokrasi ini, lagi lagi memunculkan kebangkitan militerisme yang seolah olah menjadi pemilik demokrasi. Mengkaburkan kebobrokan sistem kapitalisme yang menjadi akibat kemiskinan dan penghisapan terhadap rakyat dengan menghidupkan kembali musuh-musuh palsu seperti Komunis gaya baru, GAFATAR, dan LGBT. Laporan yang di rilis oleh SAFENet voice Indonesia menyebutkan, setidaknya sejak 1 Juli 2015 hingga 20 Mei 2016 telah terjadi 47 pelanggaran atas kebebasan berekspresi di Indonesi. Penangkapan Adlun Fikri dan Supriyadi, pembunuhan Salim Kancil, kriminalisasi 28 Aktivitis buruh, 2 Pengacara Lembaga Bantuan Hukum, lebih dari 2300 rakyat Papua dan masih banyak lainya.(5)

Di Kaltim, di periode setahun terakhir, kita menghadapi situasi maraknya kriminalisasi terhadap petani dan masyarakat adat yang mempertahankan lahanya, pengerahan preman bayaran untuk merepresi dosen Universitas Mulawarman yang melakukan pemogokan di kampus, intimidasi oleh sejumlah preman bayaran terhadap Jatam Kaltim dalam kasus pelanggaran pertambangan batu bara dan berbagai kejadian skorsing terhadap lembaga kemahasiswaan.

Namun, respon terhadap berbagai serangan dari kelompok anti demokrasi selalu berkutat pada mengandalkan jalur-jalur legal. Ketika terjadi serangan maka respon yang standart dilakukan adalah: konferensi pers, melaporkan ke polisi, konseling, advokasi dan pengawalan proses hukum. Sering kali bahkan di balik selogan damai gerakan yang di bangun oleh kelas buruh dan rakyat tertindas lainnya di samakan dengan kaum fundamentalis. Menyamakan perlawanan balik yang di bangun oleh rakyat dengan cara yang di lakukan oleh kelompok intoleran dalam membubarkan agenda diskusi dan aksi kaum buruh, mahasiswa dan rakyat tertindas lainnya. Sama sama menggunakan otot, menciptakan konflik horizontal dan sebaginya. Ini jelas pandangan yang amat keliru, sebab persoalan demokrasi, menjaga ruang demokrasi hanya bisa dilakukan oleh kekuatan rakyat itu sendiri. Kita telah belajar dengan baik bahwa berharap negara untuk melindungi demokrasi, terbukti gagal dan menghasilkan demoralisasi. Terkurung pada harapan agar negara atau kepolisian bisa menegakan hukum dan menjaga demokrasi kita berarti mengabaikan perspektif mendasar bahwa pertama negara bukanlah institusi netral dan kedua, tidak pernah ada sejarah elit-elit politik konsisten memperjuangkan demokrasi.

Pada akhirnya kita perlu menyadari bahwa masyarakat bukanlah entitas yang tunggal. masyarakat telah terbelah dalam dua kelas yang saling bertentangan. Kelas pemodal bersama dengan geng penghisapnya seperti elit politik dan jendral jendaral kontra revolusi, yang berhadapan langsung dengan kelas buruh dan rakyat tertindas lainnya. Geng penghisap tersebut mencoba memecah belah kelas buruh dan rakyat berdasarkan ras, suku, agama, bahkan jenis kelamin. Demikianlah tugas kelompok fundamentalis dan milisi sipil reaksioner. Kita juga telah belajar dengan baik bagaimana kemarahan rakyat di tahun 1998 di alihkan dengan isu rasialisme. Kemarahan terhadap soeharto di alihkan dengan isu tionghoa. Dengan demikian kita perlu menyudahi semua harapan terhadap negara untuk memperjuangkan demokrasi. Oleh karena itu ruang demokrasi harus terus dipertahankan dan diperjuangkan oleh klas buruh dan rakyat sendiri. Karena dengan ruang demokrasi tersebut maka akan lebih mudah bagi klas buruh dan rakyat untuk menghimpun kekuatan untuk menghancurkan kapitalisme.

Untuk mempertahankan ruang-ruang demokrasi yang ada maka unit-unit pertahanan diri harus dibangun. Demikian kepeloporan, keteguhan dan ketepatan perspektif dalam perjuangan mempertahankan demokrasi sangat dibutuhkan bagi keberhasilannya.(6)
Perlawanan demikian telah terbukti berhasil mengusir kelompok intoleran dari upaya pembubaran agenda perjuangan kelas buruh dan rakyat tertindas lainnya. Egenda pemutaran senyap di UIN yang berhasil di laksanakan dalam situasi represi. Dengan perspektif yang teguh dan tepat dalam perjuangan mempertahkan demokrasi berhasil menghentikan upaya pembubaran yang di rencanakan oleh kelompok intoleran bersama pihak kepolisian. LPM Daunjati ISBI, yang berhasil memukul mundur ormas FPI (bagian dari kelompok intoleran) yang berupaya membubarkan agenda sekolah marx. Perjuangan untuk merebut demokrasi seluas luasnya bagi kelas buruh dan elemen rakyat tertindas adalah keharusan sejarah bagi kita hari ini. Kebebasan berekspresi, berserikat, serta kebebasan berpendapat di muka umum yang hari ini masih kita rasakan, tidak di dapatkan dari kebaikan kelas penindas yang berkuasa. Melainkan buah darah, keringat, dan air mata perjuangan rakyat pekerja. Terbukanya keran demokrasi 1998, demokrasi dapat berdiri di prancis dengan menghapuskan monarki, revolusi agustus di indonesia, kebebasan kaum perempuan dalam ruang publik, adalah hasil dari partisipasi mereka dengan gigih dalam perjuangan kelas.

PENUTUP

Krisis kapitalisme bukan hanya akan membangkitkan gerakan rakyat yang spontan. Berbagai reforma, jika tidak di penuhi sekecil apapun akan memancing radikalisasi gerakan rakyat. Kelas buruh akan menunjukan bahwa dalam perjuangannya lah dimungkinkan seluruh rakyat tertindas akan terbebas dari belenggu kapitalisme. Perjuangan klas Buruh melawan klas kapitalis merupakan perjuangan melawan semua bentuk penghisapan. Ini hanya dapat diakhiri dalam perjalanan kekuasaan politik di tangan klas pekerja, pengalihan semua tanah,instrumen,pabrik-pabrik,mesin-mesin dan tambang-tambang kepada seluruh rakyat bagi pengorganisasian produksi sosialis di bawah kondisi yang mana semua diproduksi oleh para pekerja dan semua peningkatan dalam produksi harus menguntungkan bagi rakyat pekerja itu sendiri”.(7) Krisis tersebut jika tidak di persiapkan dengan baik atau di pimpin untuk berlatih mempertahankan demokrasi maka akan memberi peluang bagi kaum ultra kanan yang memiliki relasi baik dengan militer untuk memanfaatkannya. Untuk melawan (dan akhirnya memimpin perjuangan menumbangkan) kapitalisme kita harus membangun partai buruh revolusioner, untuk melawan kriminalisasi kita harus membangun solidaritas rakyat pekerja (yang dijiwai internasionalisme revolusioner), dan untuk melawan pemberangusan demokrasi (dan serangan dari milisi sipil reaksioner) kita harus membangun unit pertahanan buruh, dengan kata lain: laskar buruh atau laskar rakyat.(8)

Hanya dengan demikianlah kelas buruh dan rakyat tertindas lainnya akan mengambil alih kekuasaan serta membangun masyarakat tanpa kelas yang setara dan merdeka.

Catatan :

(1) Dari mana asalnya kaum proletariat di ancam dengan bahaya dari keberadaannya dengan keadaannya dengan tangannya yang terikat dalam perjuangan melawan kaum borjuis yang tidak konsisten? : (Diambil dari Lenin, “Dua taktik Sosial Demokrat dalam Revolusi Demokratik”)

(2) Memperhebat Perjuangan Demokrasi Rakyat yang Sejati : Nalendro priambodo KPO-PRP SMD [di sarikan dari perdebatan dalam Geram SMD 2014]

(3) Ke Arah Politik Kelas : “Memproyeksi Periode Pasca Pasca-Orde-Baru”(Max Lane)

(4) UU Pilkada, Demokrasi Elit Dan Demokrasi Rakyat. Di terbitkan di Koran Arah Juang Edisi III November 2014

(5)Daftar Pelanggaran atas kebebasan Berekspresi, Safenetvoice.org. http://id.safenetvoice.org/pelanggaranekspresi/ di akses 26 Mei 2016

(6) Web arahjuang.com Berharap Negara Hadir Menonton Senyap (Perdebatan Dibelakang Pemutaran Senyap)

(7) Paul Le Blanc : Lenin Dan partai Revolusioner.

(8) Arahjuang.com : Lawan Lriminalisasi , Rebut Demokrasi http://www.arahjuang.com/2016/04/29/lawan-kriminalisasi-rebut-demokrasi/

Di tuliskan oleh bung jamal (Anggota Lingkar Studi Kerakyatan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s