Kebutuhan Pembangunan Organisasi Muda Sosialis

Mahasiswa dan Kesenjangan Sosial


Mahasiswa, kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa
kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kejam ini?

(Victor Serge, Bolshevik)

11151Kalimat diatas sangat relevan untuk menggambarkan mental belajar mahasiswa hari ini. Ingin cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan menjadikan kita lupa bahwa esensi pendidikan adalah untuk kemajuan umat manusia. Hal tersebut secara tidak langsung bukan bermaksud untuk menyudutkan mahasiswa sebagai subjeknya karena kondisilah yang berbuat demikian. Artinya memahami masalah dalam masyarakat jangan sepotong-sepotong, namun harus memahaminya secara keseluruhan hingga akar persoalannya.

Baru masuk kuliah saja calon mahasiswa sudah dihadapkan oleh ratusan pesaing untuk masuk di universitas sesuai dengan jurusan yang diinginkannya, tidak sedikit mahasiswa yang salah jurusan karena sistem persaingan seperti ini, ditambah lagi dengan mahalnya biaya kuliah. Setelah masuk perkuliahan mahasiswa dicekoki oleh doktrin untung ruginya para dosen dan menekan mahasiswanya untuk lulus dengan cepat agar mendapatkan pekerjaan, serta berlomba-lomba mendapatkan IPK tertinggi. Alhasil setelah lulus IPK yang tinggi tadi tidak berguna dalam menghadapi realitas keseharian dan masalah yang ada dalam masyarakat, namun kembali berlomba-lomba dengan jutaan sarjana lainnya untuk menggantungkan nasibnya pada institusi-institus kapitalis besar termasuk negara yang notabane hanya untuk menambah provit kaum kapitalis.

Model pendidikan diatas inilah yang disebut Paulo Freire seorang pendidik dari Brazilia sebagai pendidikan “gaya bank”, disebut pendidikan gaya bank sebab dalam proses belajar mengajar dosen tidak memberikan pengertian sejati terhadap ilmu pengetahuan, tetapi memindahkan sejumlah dalil atau rumusan kepada para mahasiswa untuk disimpan diotaknya yang kemudian akan dikeluarkan kembali dalam bentuk yang sama oleh mahasiswa. Dosen bertindak sebagai penabung yang menabung informasi sementara mahasiswa dijejali informasi untuk disimpan. Mahasiswa tak lebih hanya sebuah objek dan bukan subjek, menjadikannya miskin daya cipta. Model pendidikan seperti ini justru memperpanjang relasi penindasan. Sebab setelah lulus, mahasiswa akan memiliki mental untuk menjadi penindas baru dan kembali melegitimasi kesenjangan.

Proses kapitalisasi seperti mahalnya biaya kuliah, miskinnya ilmu pengetahuan, serta fasilitas kampus yang tidak mendukung untuk menciptakan manusia yang merdeka bukan hanya terjadi di sektor pendidikan, melainkan juga terjadi pada sektor rakyat lainnya. Pada sektor pertanian, sebagian besar petani kita tidak mempunyai tanah dan sebagian besar tanah dikuasai oleh korporasi swasta dan asing, Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) mencatat kurang lebih 56 persen asset berupa properti, tanah, dan perkebunan, dikuasai hanya oleh 0,2 persen penduduk Indonesia. Pada sektor perburuhan, mayoritas kaum buruh kita masih didominasi buruh pada sektor informal yakni hingga 60 persen (Data BPS : 2014). Kebijakan upah minimum (yang murah) tentu hanya menyentuh kaum buruh formal. Kaum buruh informal umumnya tidak dapat mengakses upah minimum karena dianggap bukan kaum buruh, bekerja dibawah tekanan karena bisa dipecat kapan saja oleh majikan, serta dengan pendidikan/keterampilan yang rendah.

Situasi tersebut diatas tentu semakin meningkatkan angka kesenjangan sosial. Di Indonesia, kekayaan 40 orang terkaya sebesar 680 triliun rupiah setara dengan 10,4 persen PDB Indonesia. Kekayaan 40 orang tersebut setara dengan 60 juta rakyat yang paling miskin. Tidak heran jika Koefisien Gini (sebagai alat untuk mengukur kesenjangan sosial) di Indonesia berada pada angka 0,41—yang berarti berada dalam kondisi yang sangat senjang. Dalam skala dunia, saat ini 1 persen orang didunia memiliki kekayaan yang sebanding dengan 99 persen penduduk dunia. Tercatat pula bahwa kekayaan 62 orang terkaya didunia setara dengan kekayaan 3,5 milyar penduduk paling miskin (Riset Oxfam University). Data yang sungguh ironis ditengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun disatu sisi tidak mampu menjawab kebutuhan umat manusia.

Berbagai gejolak perlawanan rakyat muncul ke permukaan untuk memperbaiki taraf hidupnya karena resah dengan keadaan saat ini. Gerakan mahasiswa mulai meluas untuk menolak biaya kuliah yang terlampau mahal, petani mulai memberontak untuk merebut tanah yang dirampas oleh korporasi, buruh membangun berbagai serikat disetiap pabrik sebagai alat perjuangan untuk meningkatkan upahnya, dan begitu pula dengan lapisan rakyat tertindas lainnya diberbagai belahan dunia mulai membentuk alat untuk perjuangan di sektor mereka masing-masing. Namun bentuk perjuangan yang terpisah-pisah seperti ini justru tetap akan mengukuhkan status quo dan melegitimasi kesenjangan yang terjadi. Artinya, kekeliruan dalam melihat akar persoalan yang dialami saat ini akan membuat kesalahan fatal dalam aksi pencarian solusinya. Sebab, sistem kapitalisme sebagai kontradiksi pokok dalam situasi hari inilah yang seharusnya menjadi agenda mendesak untuk ditumbangkan.

Kapitalisme dan Sosialisme

Kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang berdasarkan atas kepemilikan pribadi, yaitu penguasaan alat-alat produksi seperti industri dan sumber daya alam atau modal yang kemudian  akan melibatkan kelas tak bermilik untuk dijadikan pekerja/buruh agar senantiasa mengembangkan keuntungan pemilik modal (kapitalis). Karena kapitalisme adalah akar persoalan maka isu-isu lokal saja tidak cukup untuk menumbangkan sistem kapitalisme, melainkan perlunya antitesa secara revolusioner. Hanya dengan sosialisme sebagai alternatif dari kapitalisme hal tersebut dapat tercapai.

Dalam ekonomi kapitalisme yang terjadi sampai hari ini, produksi barang semata-mata untuk uang atau profit saja, bukan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sehingga kapitalisme memiliki tendensi untuk terus memperluas produksi tanpa batas, meluaskan ekspansinya ke seluruh dunia, menempatkan seluruh manusia sebagai buruh dalam proses produksi sekaligus konsumen dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sosialisme merupakan satu-satunya alternatif dari kapitalisme yang dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara ilmiah. Sebab perluasan modal dalam kapitalisme telah melahirkan basis serta syarat-syarat objektif bagi terciptanya sosialisme ilmiah, yakni klas buruh. Buruh diberbagai belahan dunia akan semakin besar dan terkonsentrasi diberbagai pabrik. Oleh karena itu, buruh sebagai elemen revolusioner (perubahan) memegang peran penting dalam perkembangan sejarah manusia. Dalam sosialisme, alat-alat produksi akan dikelola secara bersama oleh klas buruh dan rakyat tertindas lainnya untuk kesejahteraan umat manusia.

Kapitalis sebagai klas yang berkuasa pada situasi saat ini tentu melakukan berbagai cara untuk mempertahankan status quo melalui berbagai lembaga-lembaga kekuasaanya salah satunya adalah pendidikan. Dunia pendidikan sebagai corong ilmu pengetahuan saat ini masih dibawah bayang-bayang kapitalisme. Hal ini akan berkonsekuensi pada kurangnya perspektif revolusioner dikalangan gerakan mahasiswa/pemuda dan gerakan rakyat lainnya. Padahal, sosialisme sebagai ilmu dituntut untuk dipelajari, maka tenaga-tenaga intelektual organik sangat dibutuhkan dalam mewujudkan sosialisme. Oleh karena itu, pembangunan organisasi pemuda sosialis adalah suatu kebutuhan mendesak.

Tentang Lingkar Studi Kerakyatan

Lingkar Studi Kerakyatan (LSK) hadir sebagai embrio pembangunan organisasi pemuda sosialis yang bercita-cita mewujudkan sosialisme. Hal yang membedakan kita sebagai kaum sosialis dengan gerakan rakyat lainnya adalah kita percaya bahwa situasi kesenjangan sosial yang terjadi hari ini dapat dirubah dan keadilan sosial dapat terwujud secara ilmiah. Seperti kata Marx bahwa “kapitalisme akan menggali liang kuburnya sendiri” ini dapat kita lihat seperti fenomena krisis yang sering terjadi yang berdampak kepada mahalnya biaya pendidikan, PHK ribuan buruh, mahalnya harga kebutuhan pokok, dan lain-lain. Kapitalisme juga akan memunculkan suatu keniscayaan melahirkan elemen revolusioner, yakni klas buruh. Maka faktor subjektif atau organisasi perlawanan rakyat yang kuat bersama klas buruh sangat dibutuhkan untuk memasukkan kapitalisme dalam liang kuburnya. Sejarah perkembangan masyarakat dan pengalaman gerakan rakyat diberbagai belahan dunia telah membuktikan bahwa hal tersebut dapat terwujud secara ilmiah.

LSK juga hadir bukan hanya sebagai kelompok belajar, namun juga sebagai tempat berpraktek atas ilmu pengetahuan yang kita pelajari. LSK juga berkepentingan untuk turut serta memberikan perspektif terhadap situasi gerakan rakyat yang terus berkembang seperti pada gerakan buruh, agraria, hak menentukan nasib sendiri, perusakan alam, rasisme, dan lain-lain, serta berprinsip internasionalis sebab kontradiksi yang diakibatkan oleh kapitalisme hari ini telah mendunia maka sosialisme tidak bisa dibangun disatu negara saja tapi harus mendunia. Inilah pentingnya ilmu pengetahuan menurut Marx  bahwa “ilmu pengetahuan sosialisme ada bukan untuk menggambarkan keadaan, tapi yang lebih penting adalah mengubahnya”.

Kenapa lagi-lagi mengutip Marxisme? Karena hanya Marxismelah satu-satunya ilmu pengetahuan yang lengkap dan menyeluruh untuk membedah sistem kapitalisme serta antitesanya yakni sosialisme.

Kami mengajak setiap elemen mahasiswa untuk bergabung bersama kami. Sebab setelah lulus nanti mayoritas mahasiswa tentu akan menjadi buruh juga (elemen tertindas), slogan universitas untuk mencetak mahasiswa Entrepreneurship (pengusaha) adalah utopis atau mimpi disiang bolong. Ernest Mandel dalam pidatonya pada “Majelis Internasional Gerakan Mahasiswa Revolusioner tahun 1968” memberikan pelajaran berharga bagi kita untuk menjadi seorang revolusioner seumur hidup dan juga pentingnya membangun organisasi revolusioner yang bersifat permanen.

Apa yang mereka khawatirkan pada mahasiswa yang akan menjadi kapitalis baru mungkin saja  menjadi kenyataan  jika  jumlah  lulusan itu hanya 10.000,  15.000  atau 20.000 orang dalam satu tahun. Tapi sekarang ada satu juta, empat juta,  lima  juta mahasiswa, dan tidak  mungkin kebanyakan  dari mereka  akan  menjadi kapitalis atau  manejer  perusahaan karena tidak ada lowongan sebanyak itu untuk mereka.

Apa yang dikatakan Mandel saat itu tentu lebih terbukti pada abad 21 saat ini, dimana jumlah lulusan universitas semakin banyak sebagai calon pekerja/buruh yang baru dan pabrik-pabrik kapitalis besar lebih banyak terbuka. Potensi mahasiswa untuk menjadi revolusioner tentu sangat besar.

Lebih lanjut Mandel juga menerangkan bahwa pentingnya membangun organisasi revolusioner yang bersifat permanen.

“Saya  secara  pribadi yakin bahwa  tanpa organisasi yang revolusioner, bukan  suatu  formasi yang  longgar  tapi sebuah organisasi yang  serius  dan permanen sifatnya,  maka kesatuan teori dan praktek akan bertahan lama”.

LSK sebagai embrio pembangunan organisasi pemuda sosialis juga berkepentingan untuk mewujudkan organisasi revolusioner yang bersifat permanen. Dalam hal ini adalah partai revolusioner yang di sebut Lenin sebagai “ingatan” perjuangan klas buruh. Bagaimana bentuk partai tersebut akan kita perdebatkan pada kesempatan selanjutnya. Tentu saja ini semua akan memakan banyak waktu dan tenaga yang sangat lama dan melelahkan. Namun hal ini sesuai dengan hasil dan tujuan yang sangat mulia yakni mewujudkan masyarakat sosialis, dimana tidak ada lagi penindasan manusia atas manusia maupun bangsa atas bangsa.

Mari Bergabung !!!

Di Narasikan Oleh : Tirta Adi Wijaya, Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s