Diskusi Polemik Pendidikan dan Liberalisai Pendidikan 

Senin (19/09/2016) Lingkar Studi Kerakyatan (LSK) kembali mengadakan sebuah diskusi lintas Kampus dengan tema “Polemik Pendidikan dan Liberalisai Pendidkan”. Diskusi yang dilaksanakan di Halaman Auditorium UNMUL ini dihadiri oleh puluhan Mahasiwa dan beberapa perwakilan organisasi, mulai dari Koma Progresif, BEM KM UNMUL, HIMIP FISIP UNMUL, dan beberapa Mahasiwa dari STIPER dan STIAI Kutai Timur. Diskusi yang dilasanakan di Halaman Auditorium UNMUL. Dimulai dengan pandangan dari Korpus Kristi Yohanes Darmo sebagai pemantik diskusi dengan memberikan gambaran tentang pernyataan-pernyataan tentang pendidikan dan problem pendidikan yang ada ,

“Pendidikan itu adalah kebutuhan bagi manusia. melalui pendidikan mahluk hidup yang namanya manusia dapat selalu berinovasi dan bereksprimen, melalui pendidikan kita percaya bahwa rantai kemiskinan dan kesadaran manusia dapat di bangun. Pendidikan perlu menjadi kebutuhan Primer bagi manusia, karena secara jelas hidup manusia dari bayi sampai dewasa adalah hidup yang berangkat dari pengetahuan, oleh karena itu manusia tak dapat di pisahkan dari pengetahuan dalam kehidupanya.

Dewasa ini kebijakan pemerintah menyangkut pengelolaan Pendidikan Tinggi (PT) mengalami sebuah liberalisasi dalam sistem pendidikan yang ada. Pendidikan di upayakan menjadi lahan provit bagi kaum-kaum pemilik modal, dengan menciptakan jutaan lulusan dengan kompetensi yang sangat minim sehingga menciptakan tenaga kerja murah yang sangat banyak, belum lagi logika pendidikan kita dengan konsep entrepreneurship di semua bidang pendidikan, dari dokter, politik, pemerintahan, hukum, budaya dan lain-lain. Persoalan UKT, Fasilitas kampus, Tenaga Pengajar, dan kondisi mahasiswa yang apatis dan hedonis sebuah polemik dalam dunia pendidikan, belum lagi persoalan tentang Lapangan pekerjaan yang tak dapat terserap dalam lapangan pekerjaan. Ungkap Pria yang biasa disapa Darmo ini.

Selanjutnya mahasiswa FISIP UNMUL tersebut mengungkapkan berdasarkan data dari BPS Pada Agustus 2015, tingkat pengangguran terbuka menurut pendidikan didominasi oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 12,65 persen, disusul Sekolah Menengah Atas sebesar 10,32 persen, Diploma 7,54 persen, Sarjana 6,40 persen, Sekolah Menengah Pertama 6,22 persen, dan Sekolah Dasar ke bawah 2,74 persen. Penyerapan tenaga kerja hingga Agustus 2015 masih didominasi oleh penduduk bekerja berpendidikan rendah, yaitu SD ke bawah 50,8 juta orang (44,27 persen) dan SMP 20,7 juta (18,03 persen). Penduduk bekerja berpendidikan tinggi hanya sebanyak 12,6 juta orang, mencakup 3,1 juta diploma dan 9,5 juta sarjana. Tentu ini menjadi sebuah permasalahan besar dalam dunia pendidikan karena teryata pendidikan saat ini hanya menjadi sebuah pendidikan yang mengakomodir kepentingan modal asing.

Erwin salah satu Peserta yang berasal dari STIAI Kutai Timur dalam pandangan menyatakan “Pendidikan adalah proses kesadaran manusia.  Kita tidak dapat pungkiri dunia pendidikan di gunakan untuk kebutuhan pasar. Contohnya saja pengangguran sengaja di buat untuk menjadi cadangan pekerja untuk kaum kapitalis. Di kutim sendiri terlihat sekali kontradiksi ada tiga 3 universitas dan hanya 2 yang di biayai oleh pemerintah. Aku pikir ini di lakukan untuk membatasi pola dan gerak mahasiswa di kutim.  Pendidikan kritis hari ini sudah tidak ada dan karna kondisi dikotomis ilmu pengetahuan yang di lakukan kaum kapitalis memberikan kenyamanan mahasiswa agar bungkam.  Menarik menurut Erwin jika konteks pendidikan di kembalikan untuk menjadi proses penyadaran manusia dan memerdekakan manusia.

Angga Kusuma salah satu anggota LSK ikut memberikan padangannya tentang pendidikan dimana Bicara mengenai pendidikan menurut Angga. “Pendidikan hari ini seperti yang dikatakan Paulo Freire adalah pendidikan “gaya bank”, dimana pada saat mahasiswa ke kampus ilmu yang didapat adalah tabungan dari para dosen alias mahasiswa hanya dapat menerima saja ilmu yang didapat tanpa mampu memberikan kritik. Pendidikan juga seharusnya sesuai dengan minat bakat manusia, namun dengan sistem persaingan seperti sekarang banyak sekali mahasiswa yang salah jurusan sehingga tidak maksimal dalam proses belajarnya. Belum lagi lulusan saat ini di siapkan untuk menjadi pengangguran. Angka kriminalitas yang akhir-akhir ini meningkat di Samarinda bisa jadi disebabkan oleh banyaknya pengangguran akibat banyak perusahaan yang tutup beberapa tahun terakhir” Ungkap Angga.

Lebih lanjut Angga juga memaparkan sejarah  liberalisasi pendidikan di Indonesia “Awal mula pendidikan di Indonesia di bentuk oleh kolonialisme Belanda dampak dari revolusi Industri yang menuntut terciptanya tenaga-tenaga intelektual untuk menjalankan alat produksi. Kita mungkin mengenal tokoh Ki Hajar Dewantara yang dikenal sebagai bapak pendidikan nasional yang menciptakan coenter hegemoni bagi pendidikan kolonial dengan konsep “pendidikan yang memerdekakan”. Pada masa orde lama banyak universitas baru didirikan serta berbagai aktifitas ilmiah dalam dunia pendidikan banyak bermunculan untuk merevolusi sistem pendidikan kolonial, pendidikan kritispun mulai gencar digalakkan. Namun dengan naiknya orde baru esensi pendidikan di jungkir balikkan, bahkan inverstasi asing di buka besar besaran di Indonesia dengan masuknya berbagai perusahan multi nasional seperti Freepot, Blok Mahakam, dan lain-lain. Komersialisasi di dunia pendidikan juga di berlakukan dengan masuknya Indonesia dalam WTO pada tahun 1990-an. Mulai lah investasi masuk ke Indonesia secara bebas. Masuk pada saat pemerintahan BJ Habibi ada kebijakan tentang otonomi kampus dibeberapa universitas besar, maka pemerintah lepas tangan atas pendidikan di Indonesia. Undang-undang tentang pendidikan sampai saat ini pun menunjukkan bahwa pemerintah sudah semakin lepas tangan terhadap dunia pendidikan, yang terakhir misalnya penerapan Uang Kuliah Tunggal (UKT), dimana sesama rakyat saling mensubsidi padahal sejatinya pendidikan adalah tanggung jawab negara kepada seluruh lapisan masyarakat. Menurut Angga  harus ada counter hegemoni terhadap carut marutnya dunia pendidikan saat ini, misalnya diskusi yang kita lakukan hari ini adalah langkah majunya.

Diki Perwakilan dari BEM KM UNMUL turut memberikan pandanganya, menurut diki, “Pada subtansinya permasalahan pendidikan di tahun ini cukup kompleks. Mulai dari Kuota mahasiswa yg di kurangin, biaya untuk kuliah di pangkas. Selain itu juga persoalan beasiswa yang tidak ada, Dampaknya kita lihat naiknya UKT. Terkait persoalan pengaguran dapat saya nyatakan bawan Ketika pengangguran banyak maka dapat disimpulkan bahwa pemerintah tidak mampu untuk membuka lapangan pekerjaan. Namun disis lain pada saat pengusaha ada yang membuka lapangan pekerjaan namun upahnya sangat rendah. Selain itu mahasiswa hari ini lebih nyaman di kelas untuk mendapatkan IPK tinggi tanpa melihat keterhubungannya dengan realitas yang ada, maka system hari ini menyebabkan pendidikan menjadi ambruk adul pungkasnya.

Senada dengan Diki, Herianto Mahasiwa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNMUL mengungkapkan bahwa, semenjak orde baru polemik dunia pendidikan belum terpecahkan. Hari ini kita bisa temui pendidikan di Indonesia pertama, masih berkutat hanya pada biaya pedidikan, kedua ketidakjelasan arah pendidikan kita. Saat ini pendidikan di arahkan untuk menciptakan produk produk yang sudah jadi. Sekarang pendidikan di arahkan untuk seluruhnya menjadi seorang pekerja. Dunia pendidikan juga di arahkan untuk memperlancar akumulasi modal. UKT ini juga adalah produk negara untuk melepaskan tangan dalam dunia pendidikan. 

Dipta Abimana Perwakilan dari KPO-PRP turut memberikan pandangannya. Menurut Dipta soal pendidikan memiliki hubungan yang takterpisahkan dengan ekonomi politik. Dimana untuk situasi saat ini menurut Dipta,  kita berada pada situasi industry modern, maka di butuhkan tenaga tenaga yang terdidik untuk dapat menggunakan alat-alat produksi yang di kleim oleh pemilik modal, ini berkonsekuensi dengan maraknya unversitas di indonesia”

Dalam konteks Indonesia lebih lanjut Dipta mengungkapkan, “terdapat Lebih dari sekitar 5000 sekolah tinggi baik PTN, PTS, Sekolah Tinggi dan lembaga pendidikan setingkat universitas lainnya. Dari universitas yang ada tentu akan ada pembeludakan peserta didik dan lulusan yang menggagur. Belum lagi jika kita hubungkan dengan ketersedian tenaga pengajar (Dosen) yang minim untuk mendidik beribu ribu mahasiswa. Universitas hanya mendidik mahasiswa untuk melemparnya ke pasar dengan upah yang rendah/murah. Sekarang fungsi pendidikan bukan untuk memajukan pemikiran, tapi hanya untuk membedakan kelas sosial dan mencetak tenaga terlatih agar dapat menggunakan alat produksi yang dimiliki oleh kapitalis.

Lebih lanjut menurut Dipta ini juga berhubungan dengan menurunnya gerakan mahasiswa. Ada masalah yang perlu di perhatikan dalam gerakan mahasiswa hari ini, seperti yang di ungkapkan lenin yaitu ekonomisme dan sebuah gerakan yang bersandar akan spontanitas massa. Gerakan mahasiswa dari tahun 1990 seperti di Korea, Chili, Cina bahkan di Indonesia tidak dapat menumbangkan system kapitalisme. Seperti yang kita ketahui, masyarakat adil dan makmur paling memungkinkan di capai melalui revolusi sosialis. Kita bisa melihat pertarungan organisasi mahasiswa tidak mendorong ilmu pengetahuan yang lebih maju. Seperti seminar-seminar, event-event. Tidak mendorong untuk mengkaji hal yang kritis. Disisi lain mahasiwa terjebak pada kasus-kasus dalam kampus seperti UKT, Fasilitas, dll. Padahal bukan hanya itu satu satunya masalah. Ini yang membuat gerakan mahasiswa jatuh pada aktifisme.

Sebelum diskusi tersebut di tutup, Darmo kembali memberikan beberapa ulasan tentang bagaiman seharunya bagunan pendidikan yang ada, menurut darmo persoalan metode pendidikan dapat mengkaji pandangan Socrates ilmuan yang hidup pada tahun 470 SM yang menyatakan bahwa pendidikan harus dimulai dengan proses dialog bukan monolog, darmo juga berpandangan mengutip Paoul Freire, tujuan utama dari pendidikan adalah membuka mata peserta didik guna menyadari realitas ketertindasannya untuk kemudian bertindak melakukan transformasi sosial. Kegiatan untuk menyadarkan peserta didik tentang realita ketertindasannya ini ia sebut sebagai konsientasi. Konsientasi adalah pemahaman mengenai keadaan nyata yang sedang dialami peserta didik. 

Lebih lanjut menurut Darmo isian dari pendidikan harus memiliki nilai-nilai kemanusian didalamnya, karena menurutnya persoalan pendidikan saat ini dalam kurikulumnya tidak berangkat dari kemanusian sehingga masih ada pendidikan yang menindas dan lain-lain dan yang terpenting menurt darmo pendidikan harus mampu menjawab permasalah sosial dalam masyarakat secara utuh.

Angga lebih lanjut memberikan pandangan tentang beberapa hal yang perlu dilakuakan gerakan mahasiswa, belajar dari Chili yang berhasil mengratiskan biaya kuliah sampai perguruan tinggi dimana gerakan mahasiswa harus bersifat komune, gerakan mahasiswa dilakukan jangan hanya ditataran elit (perwakilan) melainkan membuka seluas-luasnya partisipasi massa. Di awali dengan diskusi yang bersifat ilmiah. Perlu adanya kesatuang gerak dengan sektor-sektor lainya dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Persoalan yang juga tak kalah penting dimana menurut Angga mahasiswa tidak dapat dikatakan agen perubahan karna mahasiswa termasuk kaum minoritas maka harus bergabung dengan gerakan sektor lainnya untuk menumbangkan sistem yang rapuh ini.

Senada dengan Angga, Dipta kembali memberikan pandangan  mengenai Tugas tugas gerakan mahasiswa yang perlu dibangun kedepannya. Pertama, Meyebarkan kesadaran yang kritis ke massa dengan metode metode yang ilmiah. Kedua, Tidak terjebak pada spontanitas massa, tapi memanfaatkan seluruh ruang ruang propaganda, memimpin perspektif dengan menguraikan kesaling hubungan dari masalah yang di sebabkan oleh sistem kapitalisme. Ketiga, Tidak mensterilkan diri dari sektor sektor gerakan lainnya dan Membangun homogenitas dalam gerakan lintas sektor. Keempat, harus ada organisasi yang tidak terbatas oleh sektor sektor dengan prinsip dan tujuan yang jelas, dalam hal ini organisasi yang bercita-citakan sosialisme ilmiah. 

Diksusi ditutup dengan salam.

Hidup Rakyat!!!

Di Narasikan oleh (Korpus Kristi Yohanes Darmo) Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s