Lingkar Studi Kerakyatan dan KOMA PROGRESIF-SGMK Samarinda Gelar Diskusi Intelektual Dan Dunia Ke 3

Samarinda, Rabu 14 September 2016, Lingkar Studi Kerakyatan (LSK) dan bekerja sama dengan Konsentrasi Mahasiswa Progresif (KOMA PROGRESIF). Melaksanakan agenda diskusi mengenai Intelektual dan Negara Dunia Ketiga karya Ernest Mandel. 
Ernest Mandel, adalah ekonom Belgia yang disegani, adalah penulis artikel yang menarik ini mengenai tanggung jawab sejarah para intelegensia. Diambil sebagai dasar kondisi yang berkaitan dengan masing-masing intelektual – apakah dia berasal dari negara yang sudah sangat maju atau negara dunia ketiga (negara berkembang. Mendel adalah kepala editor di majalah/media mingguan La Gauche, dan sekretaris politik Konfederasi Buruh Belgia. Buku-bukunya antara lain Pemikiran Formasi Ekonomi Karl Marx dan Study Ekonomi Marxist.

Dalam diskusi yang bertempat di pelataran gedung auditorium Universitas Mulawarman. Dalam diskusi ini dihadiri oleh beberapa mahasiswa dari berbagai fakultas dan jurusan di Universitas Mulawarman dan juga dihadiri oleh Kongres Politik Organisasi-Perjuangan Rakyat Pekerja (KPO-PRP).

Diskusi dimulai oleh pemantik dengan pertanyaan awal tentang apa itu intelektual. Fernando, salah satu peserta diskusi menjawab bahwa intelektual adalah orang-orang yang berpendidikan. Kemudian disambung oleh Felix yang juga peserta diskusi bahwa intelektual adalah seseorang yang berpikir menurut kerangka berfikirnya. Menanggapai itu pemantik diskusi mulai menjelaskan bahwa apa yang sudah dikatakan oleh kawan Fernando dan Felix adalah pengertian intelektual secara umum atau arti intelektual menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun makna intelektual yang menarik adalah apa yang di definisikan oleh Antonio Gramsci dalam bukunya Prison Notebooks. 

“Kaum intelektual sebagai sebuah klas independen yang terpisah dari kategori sosial adalah sebuah mitos. Semua manusia berpotensi untuk menjadi intelektual, sesuai dengan kecerdasan yang dimiliki, dan dalam cara menggunakanya. Tapi tidak semua orang intelektual dalam makna fungsi sosial. Dimana dalam makna fungsionalnya kaum intelektual terbagi dalam dua kelompok. Pada kelompok pertama terdapat kaum intelektual profesional “tradisional”, kaum pujangga, ilmuan dan sebagainya yang memiliki posisi dalam celah masyarakat yang mempunyai aura antraklas tertentu, tetapi berasal dari hubungan klas masa silam dan sekarang melingkupi pembentukan klas historis. Yang kedua, terdapat kaum intelektual “organik”, unsur pemikir dan pengorganisasian dari sebuah klas sosial fundamental tertentu. Kaum intelektual organik ini dapat dengan mudah di bedakan melalui profesi mereka, yang mungkin dapat terjadi karakteristik pekerjaan klas mereka, bukan melalui fungsi mereka dalam mengarahkan gagasan aspirasi klas organik mereka. (Gramsci,2013:3).

Dalam tulisan karya Ernest Mandel ini ia menjelaskan bagaimana perbedaan-perbedaan intelektual di negara dunia pertama (imperialis) dengan intelektual di negara dunia ketiga. Menurut Mandel intelektual di negeri-negeri imperialis memiliki kemampuan untuk membaca dan mengetahui penindasan yang dilakukan oleh negara-negara imperialis terhadap negara dunia ketiga, namun intelektual di negara imperialis lebih memilih untuk diam saja dengan apa yang terjadi mengingat bahwa ide-ide liberal lebih dominan di kalangan intelektual di negara dunia pertama dan ketiga. Karena intelektual di negara dunia pertama dan ketiga sebagian besar adalah borjuis kecil dan klas menegah “baru” (yang mana; secara umum tidak memiliki alat produksinya sendiri) yang sifatnya yang reformis, elitis dan ambigu dalam posisi politiknya ditambah bahwa intelektual ini menerima fasilitas yang diberikan oleh bos-bos kapitalis dari hasil eksploitasinya di negara dunia ketiga. Dalam tahap ekstrim kebutaan intelektual negara dunia pertama akan penindasan yang terjadi di negara dunia ketiga mereka menganggap bahwa ekspansi yang dilakukan di negara dunia ketiga sangat dibutuhkan untuk kemajuan ekonomi dunia.

Terkait  dengan sifat intelektual yang reformis digambarkan dengan kegemaran para intelektual untuk melakukan sejumlah reforma seperti reforma agraria yang diharapkan tidak akan bertentangan dengan kepentingan dari imperialis dan borjuis perkotaan. Contoh lain dari sifat reformis intelektual adalah memisahkan perjuangan “pembebasan nasional” dengan perjuangan “revolusi sosial”, pemisahan ini dimaksudkan agar para intelektual setelah “pembebasan nasional” tuntas akan menjadi penguasa baru dari pemerintahan, alat produksi dan sumber daya alam. Dalam perkembangannya sifat elitis para intelektual mulai disamarkan dengan model-model pencitraan dalam masa-masa tertentu seperti turun ke basis, blusukan, dan berbagai bentuk interaksi dengan rakyat yang sebenarnya adalah palsu. Ambiguitas posisi politik intelektual adalah yang paling sering terlihat, di satu sisi mereka mendukung perjuangan di sisi lain mereka hanya menjadi penonton dari perjuangan rakyat dan di sisi lain mereka adalah bagian dari kelompok-kelompok kontra revolusioner yang bekerja sama dengan para bos-bos kapitalis.

Berbeda dengan intelektual borjuis, para intelektual Marxist yang ada di negara dunia pertama dan ketiga ini memiliki sifat yang revolusioner, membumi dan tegas dalam posisi politiknya. Mereka menganggap proses pembebasan nasional tidak bisa dipisahkan dari proses revolusi sosialis atau perjuangan revolusi sosialis di satu negeri tidak bisa dipisahkan dari revolusi sosialis di negeri lain. tujuan intelektual Marxist bersama massa adalah untuk menyuntikan kesadaran sosialis kepada massa buruh, tani dan kaum yang tertindas oleh sistem kapitalisme dan sifatnya bukan momentuman melainkan kewajiban. Hal ini juga bertujuan agar para intelektual tidak terpisah dari massa dan menjadi intelektual yang elitis. Dalam posisi politiknya intelektual Marxist akan menolak kompromi-kompromi dan kerjasama dengan kelompok-kelompok reaksioner dan kontra revolusi, karena hal ini malah akan mengurangi kualitas kesadaran massa dan menghambat jalan perjuangan revolusi. Ernest Mandel mengatakan bahwa perjuangan kemerdekaan di negara dunia ketiga akan menjadi api pembakar semangat perjuangan penghancuran kapitalisme di negara-negara imperialis dan seluruh dunia.

Di sesi diskusi berikutnya moderator memulai dengan sebuah pertanyaan kenapa dalam beberapa kasus intelektual di negeri-negeri imperialis mendukung dan membantu kemajuan negara dunia ketiga. Ary menanggapi itu dengan contoh kasus Indonesia pada masa kolonialisasi oleh Belanda di mana pemerintahan kolonial belanda menjalankan politik etis (dengan alasan moralitas namun sebenarnya bukan masalah moralitas) yang kemudian memberikan kesempatan bagi rakyat khususnya kaum priayi untuk mengenyam pendidikan tinggi agar setelahnya orang-orang yang disekolahkan mampu menjadi tenaga administrasi dan pengatur proses kolonialisasi Indonesia (kepanjangan tangan pemerintahan kolonial) dan juga untuk memangkas biaya yang harus dikeluarkan pemerintahan kolonial jika harus mendatangkan tenaga-tenaga intelektual dari belanda. Dari politi etis tersebut para intelektual yang kemudian mengetahui bahwa kolonialisasi bukanlah takdir melainkan sebuah kejahatan terstruktur dari sistem ekonomi liberal. Dampaknya adalah mulai munculnya intelektual-intelektual yang pada masa itu kemudian memberikan pendidikan kepada rakyat. Singkatnya mulailah dikenal ide-ide sosialisme yang kemudian melahirkan intelektual-intelektual seperti Sukarno, Semaun, Musso, Aidit, dll.

Menambahkan jawaban tersebut Kuggy  Kayla salah satu kader KPO-PRP mengatakan dalam kondisi kekinian permasalahan moral hanyalah sebagian kecil dari alasan intelektual liberal membantu negara dunia ketiga. Masalahnya saat ini adalah bahwa negara-negara imperialis kekurangan tenaga intelektual yang mampu mengatur proses penghisapan dan bacaan situasi akan dampak dari penghisapan tersebut di negara dunia ketiga sehingga mereka mengirim intelektual-intelektual muda ke daerah-daerah eksploitasi tersebut dan hal ini juga dibantu oleh NGO yang menerima bantuan dana dari mereka. Dalam sektor mahasiswa program beasiswa dalam dan luar negeri sebagai contoh, mahasiswa Kalimantan Timur yang mendapatkan beasiswa ke Rusia untuk belajar teknik kereta api yang kemudian akan diarahkan untuk pembangunan rel kereta api di Kalimantan Timur dalam skema MP3EI hal in juga dimaksudkan untuk mengurangi konflik sosio ekonomi di mana masyarakat Indonesia dan Kalimantan timur khususnya memiliki semangat anti terhadap pembangunan yang dilaksanakan orang asing namun semangat ini lahir dari kerangka nasionalisme sempit. Serta masalah bagi intelektual Marxist di negara dunia ketiga untuk menghubungkan dirinya dengan intelektual Marxist dunia pertama adalah masalah perbedaan bahasa yang kemudian sedikit menghambat proses menjalin hubungan kerjaasama.

Selanjutnya, peserta diskusi juga memberikan pendapatnya. Aji misalnya, dalam sistem negara baik negara dunia pertama maupun negara dunia ketiga memiliki intelektualnya masing-masing untuk meruntuhkan kolonialisme maupun kolonialisme, namun seiring berjalannya waktu mereka seakan-akan menghilang. Menurutnya penyebabnya adalah tidak adanya keyakinan ideologi dan apa yang diperjuangkannya, dan jelas mereka masih memilih posisi di tengah-tengah, di mana mereka bisa menjadi lawan atau kawan rakyat.

Setelahnya Darmo juga menyampaikan pandangannya, bahwa Kesadaran intelektual di pengaruhi oleh negara dunia pertama (imperialism), baginya negara dunia ketiga akan seperti itu atau negara tidak akan mungkin berdiri sendiri dalam teori otonomian, karna pertama ketimpangan antar setiap negara itu menyebabkan tiap negara tadi tidak bisa memiliki kemandirian dalam berfikir, karena berfikirnya hanya berdasarkan pengalaman hidup saja. Kita harus sadari kemajuan Eropa dan Amerika dengan negara negara Asia dan Afrika itu sangat timpang, itu juga yang menimbulkan kolonialisme yang di awali dengan perdagangan. Ketika di negara Asia dan Afrika masih dalam kondisi kebodohan maka dapat lebih mudah negara imperialis untuk mengakumulasikan modalnya di negara dunia ketiga. Contohnya dengan menyekolahkan tenaga tenaga yang ada, namun dalam proses tersebut, dia juga mendorong satu kesadaran yang lebih maju. Misalnya di awal Indonesia tahun 1901 – 1928, sebelum maraknya organisasi, pram itu pernah menulis dalam buku bumi manusia di jelaskan bahwa kaum priyayi yang notabene dianggap menjadi kaum terpelajar pada saat itu kita akan meniru pola belanda misalnya berpakaian dan berbahasa. Proses ini memang di tanamkan pada saat kolonialisme itu terjadi. Namun secara terus menerus ada yang menuntun kesadaran manusia. Kemudian dia bertanya, bagaimanakah perkembangan intelektual itu dalam rentan 1970 sejak artikel ini ditulis oleh Ernest Mandel sampai sekarang.

Selanjutnya Hema salah satu anggota LSK juga mengungkapkan pandangannya. Bahwa yang ia pahami dari tulisan Ernest Mandel ini bahwa Mandel sudah membagi kesadaran intelektual di negara dunia pertama dan ketiga baik itu intelektual Marxist ataupun Non-Marxist, apa yang membedakannya, baik dari kondidi ekonomi politik, historis geografis, dll. yang kedua dia menyampaikan bahwa permasalahan bahasa yang sebelumnya sudah disinggung oleh Desi. Bahwa jika berbicara masalah bahasa, bahasa internasional adalah bahasa inggris. Lalu apakah pada pada periode-periode pra sosialis atau dalam masyarakat sosialis nanti yang digunakan adalah bahasa inggris tahu bagaimana.

Tidak ketinggalan, Dipta Abimana salah satu kader KPO-PRP juga menyampaikan pandangannya bahwa pembagian negara dalam negara kaya dan miskin atau maju dan berkembang merujuk pada sifat sifat kapitalisme yaitu eksploitasi, akumulasi, ekspansi. Di Indonesia masyarakatnya di manjakan oleh sumber daya alamnya yang banyak bahkan mereka dapat hidup dalam satu tahun dengan memanen padi sekali. Dalam kondisi seperti inilah proses perkembangan ilmu pengetahuan juga mempengaruhi dalam percepatan perkembangan tehknologi.  Di jelaskan bahwa intelektual di negara pertama sesekali mereka menolak perang, solusi atas kesenjangan sosial akibat sistem kapitalisme bagi mereka adalah dengan menawarkan solusi untuk memberikan donor kepada negara negara berkembang (negara dunia ketiga), inilah karakteristik intelektual yang non Marxist yg memang reformis dan itu juga terjadi di negara dunia ketiga. Namun di tahun tahun pra kemerdekaan, dimana intelektualnya memang di hadapkan dengan situasi kemerdekaan intelektualnya kebanyakan borjuis kecil. Dalam posisi hari ini dimana kondisi industry yang modern kaum intelektualnya adalah kaum buruh, Berbeda dengan dahulu kondisi buruh dengan taraf industrinya masih terbelakang makanya intelektualnya adalah kelompok kelompok borjuis kecil karna ini berhubungan dengan perkembangan teknologi, perkembangan ilmu pengetahuan dan perkembangan ekonomi politik.  

Ada titik penting yang perlu kita pahami bahwa kaum intelektual tidak di batasi oleh kaum yang terdidik saja atau hanya pada stratifikasi pendidikannya saja. Tapi intelektual ini adalah bagaimana seseorang menggunakan seberapa besar intelektualitasnya. Pada kondisi hari ini kita tidak bisa bilang bahwa mahasiswa adalah satu satunya kaum intelektual, sementara mahasiswa itu sendiri bahkan sangat sedikit menggunakan intelektualitasnya untuk bicara soal perburuhan, tani, lingkungan, dsb. 

Intelektual Marxist dalam melihat persoalan itu tidak secara sepotong sepotong (dikotomis), mereka melihat permasalah yang terjadi ada kesalinghubungannya dan memiliki akar masalah yaitu Kapitalisme. 

Menambahkan apa yang dikatakan Dipta dan menjawabi pertanyaan Darmo Ary mengatakan, pasca perang dunia II dan pasca kolonialisasi terjadi banyak perubahan peran dari universitas-universitas borjuis yang ada di dunia. Perubahan peran yang dimaksud adalah yang pada awalnya universitas borjuis dimaksudkan untuk mendidik kalangan borjuis agar regenerasi pengetahuan kelasnya terus berlanjut dalam perkembangannya universitas itu mulai dibuka untuk umum (klas pekerja) dan di privatisasi. Karena kapitalisme membutuhkan lebih banyak kualitas dan juga kuantitas intelektual intelektual tradisional sehingga intelektual tadi menjadi teknokrat teknokrat yang melepaskan dirinya dari massa atau elitis. Makanya itu juga yang menyebabkan sangat sedikit intelektual Marxist yang organic terdapat di negara dunia ketiga karna perubahan peran dari universitas borjuis tadi dan juga ideology yang dominan adalah ideology liberal.
Selanjutnya moderator mengarahkan diskusi untuk membicarakan bagaimana tugas-tugas intelektual khususnya intelektual Marxist di Indonesia dalam konteks kekinian. Setelahnya Desi merespon hal ini dengan mengatakan. Tugas tugas mendesak dari kaum intelektual, pertama dalam tulisan lenin (tugas-tugas kaum muda) menekankan untuk BELAJAR. Karna kalau pemuda sosialis tidak belajar maka tidak akan bisa memahami kapitalisme itu secara utuh dan bagaimana melawannya, akhirnya jatuh ke dalam ruang-ruang oportunisme, liberalism, dsb. Yang kedua, adalah mengorganisir kesadaran bukan mengorganisir keresahan karna akan jatuh kedalam gerakan moral. Dan jangan sampai kita terjebak dalam gerakan satu sector saja. Contohnya hanya dalam gerakan mahasiswa saja.

Sepakat dengan Desi, Ary pun menyampaikan pandangannya memang tugas utama kita adalah belajar, karna selama kita di gerakan mahasiswa adalah mencari kesalinghubungan antara gerakan mahasiswa dengan gerakan gerakan lainnya (buruh, tani, dsb) dan juga menghubungkan gerakan di suatu negri dengan negeri negeri lainnya itu dalam rangka membangun solidaritas. Namun menurutku dalam gerakan mahasiswa focus utama yaitu melakukan revolusi pendidikan. Sehingga ide ide borjuis atau liberalnya mulai di potong dan digantikan dengan ide-ide alternatif.

Menganggapi hal itu Dipta menegaskan pertama tugas kaum muda tidak hanya belajar. Lebih lanjut, agar kaum muda dapat melibatkan dirinya pada revolusi sosialis, kaum muda mesti meleburkan dirinya dalam perjuangan kelas tertindas. Ikut dan aktif terlibat dalam mempropagandakan ide ide sosialisme. Mendorong radikalisasi kesadran rakyat tertindas. Tidak jatuh pada ekonomisme. Ini hanya di mungkinkan jika kaum muda secara serius mendorong sebuah pembangunan organisasi muda yang sosialis. mengingat gerakan kaum muda dalam beberapa tahun terakhir mengalami banyak kemunduran. Hanya sedikit organisasi kaum muda yang berserius mendorong radikalisasi kesadaran kelas tertindas. Perlu ada penyatuan tradisi dan kepemimpinan ide. Salah satu langkah awalnya adalah mendrong koran bersama. 

Tanpa tanggapan lebih lanjut, diskusi di akhiri dengan menggemakan salam, Hidup rakyat !!! Jayalah Sosialisme !!!

Di Narasiskan Oleh (Wira Darma) Anggota KOMA PROGRESIF-SGMK Samarinda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s