Lingkar Belajar GELAS Menggelar Diskusi Bertajuk “Mahasiswa dan Kesenjangan Sosial”

14463221_1387995701228939_5434768680559880694_n
Foto : Saat diskusi GELAS sedang berlangsung

Minggu, 25 september 2016 di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam (STAI) Sangatta Kutai Timur. Lingkar belajar yang bernamakan “GELAS” menyelenggarakan diskusi yang bertajuk “Mahasiswa dan Kesenjangan Sosial” . Diskusi ini di hadiri sekitar kurang lebih 20 orang mahasiswa dari berbagai kampus di Kutai Timur. Januar anggota lingkar belajar GELAS, sebagai moderator membuka diskusi dengan beberapa kata pengantar “Saya hanya bisa membukanya dengan  membaca beberapa kutipan dari selebaran yang telah ada di tangan kawan-kawan. Seperti yang ku bacakan tadi, sudah seharusnya kita sadar bahwa peran mahasiswa atau dalam hal ini adalah manusia terdidik, mengetahui beberapa persoalan sosial yang terjadi di tengah-tengah kita, dengan kondisi kampus kita saat ini dan kondisi mahasiswa kita yang cenderung apatis. Sebagai mahasiswa kita hanya di paksakan menyelesaikan kuliah tanpa menyadari bahwa proses kuliah atau pendidikan dalam hal ini adalah proses kemanusiaan”

               Bung Erwin Febrian Syuhada sebagai pemantik dalam diskusi tersebut, yang juga tergabung dalam lingkar belajar GELAS menyampaikan beberapa pandangan pembuka “Sengaja aku mengambil tema diskusi kali ini seperti yang kawan-kawan pegang dan baca dalam selebaran yang telah kita bagikan, sumber pada pembahasan kita kali ini adalah salah satu media alternative propaganda dalam menyuarakan beberepa perspektif kritis untuk menanggapi berbagai persoalan sosial, terutama persoalan-persoalan yang sumber utamanya adalah sistem Kapitalisme, Media ini adalah “Kabar Rakyat”.

              Lebih lanjut dalam pendiskusian tersebut pemantik menyampaikan beberapa prespektifnya “Mahasiswa dan Kesenjangan Sosial ini sengaja kita angkat sebagai materi pendiskusian pertama mengingat status kampus kita yang sering kali di sebut sebagai kampus pekerja (sebagaian mahasiswanya adalah pekerja), kampus yang di dalamnya sama sekali tidak ada aktivitas pergerakan mahasiswa, selain aktivitas normatifnya. Dalam pendiskusian ini kita sebagai mahasiswa seharusnya mampu bangkit dari sekat-sekat kelas dan melakukan aktivitas kampus yang seharusnya, objektif dan ilmiah. Materi ini juga menyadarkan kita akan satu hal bahwa berbicara tentang kesenjangan sosial atau berbicara tentang realitas dan fenomena sosial tidak boleh kita pisahkan dari kondisi pendidikan kita hari ini. Di karenakan pendidikan telah di turunkan kedalam bentuk sekolah dan pengajaran, sebenarnya ia telah meninggalkan komprehensivitasnya sebagai proses kemanusiaan. Ketika pendidikan telah di reduksi menjadi sekolah dan terinstitusionalisasi serta terspesifikasi dalam bidang-bidang dan jurusan-jurusan, maka hal ini menyulitkan para murid dan insan pendidikan agar dapat memahami masalah-masalah kemanusiaan secara holistis.

                Sejak pendidikan bukan proses yang di lakukan di waktu luang. Dalam sejarahnya, pendidikan juga telah menghilangkan aspek pengetahuan holistic (filsafat). Akhirnya ilmu pun di pecah-pecah, menjadi mata pelajaran, menjadi SKS, dan lain-lain. Hal ini menghasilkan efek yang memenangkan tuntutan kapitalisme bahwa ilmu harus di pecah-pecah seiring di butuhkannya tenaga kerja yang terdifrerensiasi agar baut-baut dan onderdil –onderdil mesin kapitalisme dapat berjalan. Inilah yang menyebabkan, semakin modern zaman, masalah-masalah kemanuasiaan dan masalah-masalah alam kian timpang. Munculnya berbagai masalah seperti rusaknya lingkunagan , diskriminasi perempuan, korupsi, terorisme, konflik sosial, dan kelompok, kekerasan di sekolah. Hal ini merupakan masalah-masalah yang harus di jawab oleh kita semua. Ini jugalah yang menyebabkan kesenjangan sosial sampai hari ini selalu menjadi masalah yang belum bisa kita jawabi. Lantas dimanakah posisi mahasiswa ?”.

                    Januar selaku moderator juga memberikan pandangannya “Menurut ku ada skema yang telah di atur oleh suatu system dimana sytem tersebut menghendaki para peserta didik di persiapkan sebagai pemenuh kebutuhan pasar, mungkin teman-teman disini masih ingat sejak pertama kali masuk di bangku Sekolah Dasar saat hari pertama perkenalan diri, kita selalu di tanya “apa cita-cita mu ?” dan jawaban para peserta didik tidak lain adalah beberapa jawaban yang seperti menggambarkan pengharapan pada kerja mewah dan mapan, bayangkan saja beberapa anak didik akan menjawab ingin menjadi dokter, polisi bahkan pilot, yang notabane untuk mendapatkan cita-cita itu harus menempuh pendidikan yang luar biasa sangat mahal. Belum lagi ternyata yang punya cita-cita seperti ini adalah anak miskin yang mengharapkan perubahan dalam hidupnya. System yang mengatur skema ini lah yang seharusnya kita kritisi Di perkuliahan pun kita juga menjumpai skema yang sama, beberapa di antara kita mencita-citakan menjadi seorang manajer di Bank, menjadi guru bahkan menjadi kepala sekolah yang harus di gaji tinggi. Ini lah juga yang membuat mahasiswa akan menempuh pendidikannya tanpa harus memperhatikan kondisi dan realitas sosial yang ada”.

                 Selanjutnya Syahrizal yang juga termasuk dalam GELAS memberikan pandangannya “Memang benar yang di katakan bung januar, mahasiswa sekarang ini memanglah sangat tertutup oleh tembok-tembok kampus, maksudnya adalah mahasiswa hari ini sama sekali tidak mengerti fungsi dan tugasnya menjadi seorang mahasiswa. Berangkat dari TRIDARMA perguruan tinggi yakni Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Sudah seharusnya mahasiswa melakukan aktifitas yang didalamnya tidak terpisah dari pendiskusian terhadap kondisi realitas sosial”.

                  Sebagai penutup Bung Erwin  menambahkan beberapa prespektifnya “Sebelum ini menjadi semakin membias ada beberapa hal yang seharusnya kita lakukan sebagai mahasiswa, yang pertama dalam membahas persoalan sosial atau dalam hal ini persoalan rakyat kita harus mencari bahkan memfokuskan pada satu akar permasalahannya, beberapa permasalahan sosial yang terjadi tidak lain adalah dari satu system yang menghendaki penghisapan atas manusia, yaitu sistem Kapitalisme. Ketimpangan dan kemiskinan adalah buah langsung kapitalisme yang di mulai ketika sebagian masyarakat memiliki alat produksi dan sebagianya lagi tidak. Dampak dari ketimpangan kepemilikan alat produksi ini menjadi lebih besar. Ketimpangan dan kemiskinan sosial setiap harinya menjadi semakin meluas dan semakin dalam. Para pemilik modal (kapitalis) sanggup mengembangkan hobi dan kesenangan baru mereka yang menghabiskan dana tak terbatas. Di sisi lain populasi terbesar manusia terus menerus kesulitan bertahan hidup. Itulah mengapa hari ini kita berkumpul karena bagiku kita adalah bagian dari populasi yang sekarang mengalami kesulitan untuk bertahan hidup. Ketika menempatkan Kapitalisme sebagai akar permasalahan dari pendiskusian kita ini , maka lebih lanjut kita juga harus mendiskusikan satu sistem yang mampu mengatasi permasalahan sosial, atau satu sistem yang kita anggap dapat menggantikan posisi kapitalisme hari ini. Aku sedikit mengenalakan tentang Sosialime sebagai anti tesa dari sistem Kapitalisme. Sosialisme adalah suatu sistem yang menghendaki tidak adanya pemisahan antara sebagian masyrakat yang memiliki alat produksi dan yang tidak memiliki alat produksi, secara sederhana sosialisme menghendaki suatu tatanan masyarakat yang hidup sejahtera tanpa ada penghisapan manusia atas manusia, sehingga tidak akan terjadi ketimpangan atau kenjangan sosial. Sebab perkembangan dalam kontradiksi kapitalisme hari ini telah menyiapkan basis bagi terciptanya sosialisme ilmiah yakni klas buruh, lebih lanjut hal ini akan kita diskusikan pada kesempatan selanjutnya. Terakhir izinkan aku mengenalkan di antara buku-buku yang aku bawa, ada salah satu media propaganda yang di dalamnya memuat berita-berita perlawan terhadap sytem kapitalisme yang sedang dari tadi kita bicarakan. Koran ini adalah Koran Arah Juang terbitan dari salah satu organisasi Revolusioner “Kongres Politik Organisasi – Perjuangan Rakyat Pekerja (KPO-PRP)”  yang sampai saat ini menegaskan dirinya sebagai salah satu organisasi yang secara konsisten berjuang melawan Kapitalisme” Tutup Bung Erwin. Akhirnya diskusipun selesai dan moderator menutup diskusi dengan mengucapkan salam.

(Baca Juga : https://lingkarstudikerakyatan.wordpress.com/2016/09/02/kebutuhan-pembangunan-organisasi-muda-sosialis/ )

Di Narasikan Oleh Erwin Febrian Syuhada (Anggota Lingkar Belajar GELAS)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s