Tentang Kebangkitan Spontanitas Massa

lenin_2_vector_clipart
Gambar : Ilustrasi

Kapitalisme merupakan sistem dimana sumber penghidupan (alat produksi) yang seharusnya dapat dimiliki secara bersama hanya dimilki oleh segelintir orang yang memiliki modal saja. Kondisi demikian mengakibatkan kemerdekaan manusia baik politik maupun ekonomi dirampas hak-haknya. Kesewenang-wenangan dan kemiskinan terjadi akibat sistem yang menindas ini.

Kapitalisme dalam perjalanannya seperti menggali lubang kuburnya sendiri. Konsekuensi akibat modal yang terus meluas, maka akan melahirkan kekuatan yang akan menumbangkannya dalam hal ini adalah kelas buruh. Dalam perkembangannya pula, kapitalisme akan membuat berbagai sektor masyarakat seperti mahasiswa, petani, nelayan, dan lainnya  akan semakin sadar terhadap permasalahan yang terjadi dalam kesehariannya. Berbagai perlawanan mulai bermunculan terhadap persoalan yang terjadi.

Terdapat berbagai jenis perlawanan rakyat dalam kapitalisme. Perlawanan tersebut seperti dikatakan Lenin ada berbagai jenis seperti terorisme, ekonomisme, dan sebagainya. Namun perlawanan yang ada kebanyakan  tidak sampai kepada akar permasalahan yakni kapitalisme. Oleh karena itu, perlu ada pelajaran lebih lanjut mengenai gerakan rakyat hingga revolusi yang terjadi disepanjang sejarah perkembangan dan situasi masyarakat.

Dalam tulisan ini penulis akan membuat uraian dari tulisan Lenin “Apa Yang Harus Di Kerjakan” mengenai Spontanitas Masa dan Kesadaran Kaum Sosial Demokrat (Bab II) khusunya pada poin “Permulaan Kebangkitan yang Spontan”. Semoga dapat menjadi pelajaran bagi gerakan rakyat yang berkembang saat ini.

Awal Kebangkitan Spontanitas

Lenin pada awal tulisannya menyebutkan bahwa banyak kegairahan yang menimpa pemuda dan kaum terpelajar pada teori marxisme sekitar pertengahan tahun 1890-an. Pada masa ini pula banyak pemogokan-pemogokan yang dilakukan kaum buruh dipabrik-pabrik mulai meluas dan merata namun masih bersifat “spontanitas”. Kondisi ini sebenarnya sudah mulai terjadi pada tahun-tahun sebelumnya pada 1860-an dan 1870-an bahkan diawal abad ke 19 yang dibarengi dengan penghancuran mesin-mesin pabrik secara spontan, dan sebagainya. Kondisi yang terjadi hingga tahun 1890-an ini tidak menunjukkan perubahan yang berarti bagi kaum buruh dan rakyat. Hal ini menunjukkan bahwa “unsur spontan” dalam gerakan merupakan embrio perjuangan kelas, namun masih kesadaran dalam bentuk embrio. Seperti dikatakan dalam tulisannya :

Dibandingkan dengan “kerusuhan-kerusuhan” ini maka pemogokan-pemogokan pada tahun-tahun 90-an bahkan boleh disebut “sadar’, sedemikian besar langkah maju yang telah dibuat oleh gerakan buruh pada waktu itu. Ini menunjukan kepada kita bahwa “unsur spontan” pada hakekatnya tidak kurang dan tidak lebih merupakan kesadaran dalam bentuk embrio.

Kesadaran dalam bentuk “embrio” ini dimaksudkan Lenin sebagai kesadaran awal yang belum matang, karena kesadaran termaju adalah kesadaran sosial-demokrat (revolusioner) yang dapat menghubungkan berbagai persoalan terhadap kontradiksi pokoknya yakni kapitalisme.

Unsur spontanitas ini wajar saja dapat terjadi sebagai konsekuensi dari kapitalisme yang dalam perkembangannya semakin mengakibatkan ketertindasan bagi mayoritas rakyat. Upah yang murah, biaya pendidikan yang mahal, refresifitas aparatur negara, dan lain sebagainya pun terjadi. Hal tersebut membuat rakyat yang tertimpa langsung dampak kapitalisme melakukan perlawanan untuk memperbaiki kondisi hidupnya. Namun perlawanan yang terjadi tidak dapat menyelesaikan akar permasalahan sehingga akan terus terjadi di kemudian hari.

Perlawanan yang terjadi misalnya antara kaum buruh dan majikan. Langkah maju dalam perlawanan ini seperti buruh dengan serikat-serikatnya melakukan kerusuhan serta pemogokan-pemogokan agar tuntutan keseharian mereka dapat diterima. Namun perlawanan ini hanya dilakukan oleh kaum buruh saja. Meskipun sudah muncul antagonisme antara buruh dan kaum majikan, tetapi tetap dikatakan sebagai gerakan spontan karna tidak menariknya sampai akar persaoalan. Kesadaran dalam perlawanan ini disebut Lenin sebagai kesadaran trade-unionis, dikatakan sebagai berikut :

Sejarah semua negeri menunjukkan bahwa klas buruh, dengan usahanya sendiri semata-mata, hanya dapat mengembangkan kesadaran trade-unionis saja, yaitu keyakinan akan perlunya menggabungkan diri dalam perserikatan-perserikatan, melancarkan perjuangan melawan kaum majikan, dan berusaha keras memaksa pemerintah mengeluarkan undang-undang yang diperlukan kaum buruh, dan sebagainya.  

Perlawanan rakyat dengan “unsur spontanitas” ini hanya bersifat sementara saja karena tidak dilandasi dengan teori dan praktek yang tepat serta menghubungkannya dengan akar permasalahan.

Dampak Spontanitas terhadap Gerakan Rakyat

Telah dipaparkan sebelumnya bahwa dalam kapitalisme berbagai dampak buruk ditimbulkannya. Ini menimbulkan banyak perlawanan berbagai sektor rakyat seperti kerusuhan, pemogokan, dan lain sebagainya. Berbagai perlawanan yang terjadi sebenarnya dapat menjadi ukuran kesadaran rakyat dalam batas tertentu karena hanya bersifat spontanitas belaka. Ini mengakibatkan permasalahan yang terjadi dapat terjadi terus dikemudian hari.

Berbagai perlawanan kerusuhan serta pemogokan yang terjadi secara terus-menerus yang bersifat spontanitas ini akhirnya menimbulkan ketidakpercayaan kepada kaum buruh dan rakyat karena perlawanan yang sudah lama sekali dilakukan tidak dapat merubah keadaan serta meruntuhkan sistem yang menindas mereka. Dikatakan sebagai berikut :

Kerusuhan-kerusuhan yang primitifpun sudah mengungkapkan kebangkitan kesadaran sampai batas tertentu: kaum buruh kehilangan kepercayaan mereka yang sudah lama sekali pada kelanggengan sistem yang menindas mereka, mereka mulai….saya tak akan mengatakan mengerti, tetapi mulai merasakan perlunya perlawanan kolektif dan tegasnya mencampakkan kepatuhan budak kepada sep-sep mereka. Tetapi ini bagaimanapun juga lebih banyak merupakan manifestasi rasa putus asa dan balas dendam daripada perjuangan.  

Hal ini dapat terjadi juga dikarenakan kaum buruh dan rakyat tidak mampu menghubungkan permasalahan yang terjadi sehari-hari dengan akar permasalahan. Sehingga gerakan perlawanan terus dilakukan secara berulang-ulang dan tiada hentinya. Untuk itu perlu adanya teori dan praktek revolusiener terhadap gerakan perlawanan kaum buruh dan rakyat tertindas lainnya.

Gerakan Revolusioner dan Penumbangan Kapitalisme

Perjuangan yang dilakukan secara berulang-ulang dan tiada hentinya oleh gerakan rakyat terhadap ketertindasannya mengakibatkan ketidakpercayaan dan rasa putus asa bagi gerakan kaum buruh dan rakyat tertindas lainnya. Oleh karena itu, perjuangan seperti apa yang dibutuhkan rakyat untuk mewujudkan kesejahteraannya serta menumbangkan sistem yang menindas mereka? Perjuangan yang dimaksud bukanlah perjuangan yang hanya sampai kesadaran trade-unionis saja,  melainkan perjuangan dengan kesadaran revolusioner sosial-demokratis yakni perjuangan yang memahami pertentangan-pertentangan yang tak terdamaikan antara rakyat dan penguasa akibat dari sistem kapitalisme. Untuk itu kesadaran sosial-demokratis sangat diperlukan bagi setiap perjuangan rakyat.

Kesadaran sosial-demokratis (revolusioner) ini tidak timbul dengan sendirinya diantara masyarakat tertindas. Perjuangan yang hanya dilakukan oleh masyarakat tertindas terhadap penguasa hanya sampai pada kesadaran trade-unionis saja. Diperlukan adanya intervensi sadar dari intelegensia seperti dikatakan Lenin sebagai berikut :

Ajaran sosialisme lahir dari teori-teori filsafat, sejarah dan ekonomi yang diciptakan oleh wakil-wakil terpelajar klas-klas bermilik, kaum intelektual. Menurut kedudukan sosial mereka, pendiri-pendiri sosialisme ilmiah modern, Marx dan Engels sendiri termasuk intelejensia borjuis.

Hal ini menunjukkan bahwa peran kaum revolusioner sangat penting dalam setiap gerakan rakyat. Sosialisme dalam kemunculannya merupakan suatu ilmu, artinya sebagai ilmu dia dituntut untuk dipelajari. Maka yang lebih banyak mempunyai kesempatan untuk mempelajari sosialisme adalah diluar dari masyarakat tertindas, dalam hal ini adalah intelegensia-intelegensia revolusioner. Peran kaum revolusioner sangat penting bagi setiap gerakan rakyat untuk memajukan kesadaran mereka sampai ke akar persoalan, agar perjuangan yang dilakukan tidak berulang-ulang malainkan terus meningkat kuantitas serta kualitas gerakannya.

Dalam awal perjuangannya mayoritas kaum revolusioner pasti menemukan banyak kegagalan-kegagalan yang mengakibatkan tidak sedikit dari mereka yang terdemorilisasi (kemunduran). Hal ini wajar saja dapat terjadi akibat dominasi dari sistem yang berkuasa. Untuk itu pelatihan-pelatihan kaum revolusioner sangat diperlukan untuk menghadapi berbagai situasi apapun. Dengan upaya tersebut perjuangan yang dilakukan oleh masyarakat tertindas tidak berulang-ulang, karena ada peran kaum revolusioner yang terus mengkualitaskannya. Sehingga syarat demi syarat yang dibutuhkan untuk penumbangan kapitalisme, serta kemudian mewujudkan sosialisme dapat tercapai.

*Seri Hasil Diskusi (V.I Lenin “Apa yang Harus Di Kerjakan” BAB 2, Poin A) yang di laksanakan oleh KPO-PRP Samarinda

Di Narasikan Oleh Angga Kusuma (Anggota Lingkar Studi Kerakyatan)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s