Hari Pangan Sedunia dan Peran Kaum Muda

hari-pangan-sedunia-2

Pangan, Hubungan Kerja Dan Kesenjangan Sosial

Untuk bertahan hidup manusia membutuhkan makanan, sebagai sumber energy yang menentukan kerja otak, kualitas darah, kesehatan tubuh, dan sebagainya. Nutrisi yang ditemukan dalam makanan adalah karbohidrat, lemak, protein, mineral dan air. Kebutuhan yang mendasar dan pokok untuk memenuhi ketercukupan nutrisi tersebut terdapat pada tanaman pangan. Kebutuhan bisa terpenuhi hanya bila manusia melakukan kerja produksi. Kerja ialah mengubah objek, alam atau sosial menjadi lain dan berguna. Menurut marx terdapat tiga elemen yang harus terpenuhi untuk bekerja. Pertama, bahan mentah yang secara langsung atau tidak langsung dihasilkan oleh alam. kedua, alat produksi yang diciptakan manusia sesuai dengan tingkat perkembangan masyarakatnya. Ketiga adalah manusia itu sendiri. Ketiga elemen tersebutlah yang kemudian di sebut sebagai, hubungan produksi sosial (hubungan manusia dengan manusia lainnya).

Mengubah alam dari tanah kosong menjadi sawah-ladang menjadi bendungan-waduk menghasilkan padi menjadi beras dan nasi, merupakan kerja yang disebut kerja produksi. Untuk bisa kerja  produksi, manusia perlu alat kerja disamping tenaga kerjanya sendiri. Alat kerja ialah alat untuk bekerja seperti mesin, palu, arit cangkul, garu, luku, gergaji, dan sebagainya. Sedang sasaran kerja ialah sesuatu yang dikerjakan, digarap atau diolah seperti tanah atau bahan mentah. Alat kerja dan sasaran kerja merupakan alat produksi. Selanjutnya alat produksi dan tenaga kerja manusia merupakan tenaga produktif. Dengan tenaga produktif, manusia siap untuk berproduksi atau memproduksi sesuatu. Dalam proses kerja produksi, manusia memerlukan dan mengadakan hubungan antara yang satu dengan yang lain (kemudian disebut hubungan produksi), yaitu hubungan antara manusia untuk memproduksi sesuatu.

Maka produksi selalu bersifat sosial, karena suatu produksi selalu sebagai hasil kerja sama atau hasil hubungan bersama antar manusia. karena itu pula produksi juga berwatak dan bersifat sebagai milik bersama untuk kepentingan bersama. Hubungan produksi terdapat dua macam bentuk dan sifat, yaitu hubungan produksi kerja sama dan hubungan produksi kerja menindas. Hubungan produksi kerja sama terbentuk secara sukarela untuk kepentingan bersama. Bentuk dan sifat hubungan produksi ditentukan oleh bentuk dan sifat pemilikan atas-alat produksi dalam hubungan produksinya, dan bukan oleh tenaga produktifnya. Sehingga sebuah produk (dalam hal ini makanan) adalah hasil dari kerja sosial. Manusia sebagai tenaga kerja tidak dapat dihindari masuk kedalam hubungan produksi sosial.

Akan tetapi ketika manusia sebagai tenaga produksi tepisah dengan alat produksi, disinilah pangan sebagai produksi sosial (manusia dengan manusia lainnya) di klaim sebagai milik pribadi (yang memiliki alat produksi). Inilah yang menyebabkan penindasan manusia atas manusia dan kesenjangan sosial terjadi.

Krisis Pangan dan Krisis Ekonomi Global

Kepemilikan atas alat-alat produksi dan hubungan kerja yang menindas, berkonsekuensi pada watak produksi yang berdasarkan pada penumpukan keuntungan. Watak produksi yang demikian, bukan hanya menghisap tenaga kerja, namun juga merusak lingkungan. Eksploitasi terhadap sumber daya alam tidaklah berdasarkan pada kebutuhan, melainkan keinginan untuk menambah pundi-pundi kekayaan si pemilik modal. Sehingga tidaklah mengejutkan jika kerusakan lingkungan, bencana alam, dan timbulnya berbagai penyakit, semakin tak dapat di bendung. Ini semua terjadi karena sistem produksi yang rakus dan tidak manusiawi tersebut.

Sebagai konsekuensi logis dari sistem ekonomi yang motif produksinya tidak sesuai dengan kebutuhan. Maka, pasti akan mengalami over produksi (produksi berlebih). Inilah yang menyebabkan krisis ekonomi menjadi tak terhindarkan. Kita telah menyaksikan bagaimana sistem kapitalisme dalam perkembangannya terus menerus mengalami krisis. Setiap upaya yang di lakukan untuk menghindar dari krisis, justru akan menyediakan dirinya bagi krisis-krisis selanjutnya.

Saat ini, hampir seluruh Negara masuk ke dalam pasar kapitalis dunia. Dibawah kepemilikan pribadi kaum kapitalis yang menguasai alat-alat produksi dan distribusi serta mempekerjakan buruh upahan. USSR (United of Soviet Socialist Republics), Cina dan sekutu mereka serta bekas klien di Eropa Timur, Asia dan Afrika telah dirubah menjadi subjek bagi pasar kapitalis. Hasilnya, seluruh ekonomi dunia saat ini untuk pertama kalinya menjadi subjek bagi akibat krisis dunia. Integrasi antara ekonomi kapitalis “nasional” jauh lebih dalam dan tersebar ketimbang sebelumnya, meningkatkan kecepatan dimana resesi disatu negara utama ditularkan ke negara yang lainnya.

Laporan Oxfam, menunjukkan bahwa kekayaan dunia yang dikuasai 1% orang terkaya di dunia meningkat dari 44% ditahun 2009 menjadi 48% ditahun 2014. Sementara 80% populasi dunia merupakan kaum miskin dan hanya memiliki 5,5%. Akhir tahun 2015 kaum 1% terkaya sudah menguasai lebih banyak kekayaan (50,4) daripada seluruh 99% populasi di dunia.[1]

Kesenjangan sosial tersebut juga terjadi di Indonesia. Menurut BPS, hingga September 2015 lalu terdapat 28,52 juta orang atau 11,13% dari total penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ini meningkat 780 jiwa dibandingkan angka di tahun 2014 yang saat itu sebesar 27,73 jiwa atau 10,96% dari populasi. Sedangkan bila berdasarkan Indeks Kemiskinan Multidimensi (IKM), menurut Lembaga Kajian Perkumpulan Prakarsa yang turut memperhitungkan kondisi rumah tinggal sebagai bagian dari indikator miskin (termasuk: gizi, akses pendidikan, kondisi tempat tinggal, lama sekolah, sanitasi, air bersih, dan sumber penerangan), justru angka kemiskinan di Indonesia pada tahun 2014 sebesar 30% dari total penduduk Indonesia (tiga kali lebih besar dari persentase kemiskinan versi BPS). Laporan Bank Dunia di tahun 2014 bahkan menunjukkan 10% penduduk terkaya menguasai 77% kekayaan ekonomi Indonesia.  Kondisi tersebut secara langsung mempengaruhi kebutuhan pokok masyarakat dunia yakni sektor pangan.[2]

 Krisis pangan dunia dimulai sejak tahun 2005 ketika Negara-negara di dunia mengkhawatirkan kelangkaan bahan pangan dan kemudian menimbulkan kenaikan harga pangan. Saat beberapa Negara produksi pangan yang berbasis biji-bijian seperti AS, China, Brazil, Astralia dan Negara lainnya mengubah struktur konsumen komoditas pangan secara besar-besaran. Pada tahun 2008, terjadi kenaikan harga pangan mencapai 20%, Sehingga berdampak pada kesulitan mendapatkan pangan. Sebagaimana dilaporkan FAO (Food Agriculture Organization), telah terjadi krisis pangan di 36 negara dan 21 negara diantaranya merupakan Negara di benua Afrika, sekitar 1,02 milyar yang merasakan dampak paling serius bahkan menyebabkan terjadinya kelaparan dan kematian. Krisis politik 2011 yang belakangan terjadi di Arab juga disebabkan oleh krisis pangan di beberapa Negara. Pengaruh krisis global bukan hanya pada kebutuhan pangan, melainkan kemiskinan, PHK massal, dan sebagainya. Jumlah ini tidak berkurang bahkan meningkat dari tahun ke tahun.

Di Asia, seperti Malaysia yang memiliki komoditi pangan utama berupa beras, jagung, kelapa dan tebu memiliki produksi pertumbuhan 4,3% pertahun. Sementara komoditi pangan berupa jagung dan beras oleh Vietnam dan Indonesia, produksinya mencapai 2,2% pertahunnya. Sedangkan jumlah pertumbuhan populasi penduduknya pertahun, Malaysia 2,5%, Vietnam 2,2%, dan Indonesia 1,9%. Dari hasil yang ada, dengan produksi pangan yang tergolong kecil dianggap mencukupi kebutuhan pangan Negara-negara tersebut jika dibandingkan dengan populasi penduduk yang bertambah. Masalahnya kemudian adalah kecukupan pangan tersebut tidak menjamin ketersediaan pangan oleh tiap-tiap Negara yang ada di dunia. Ketika penduduk semakin bertambah maka konsumsi di dunia semakin tinggi setiap tahunnya.

Sementara itu, lahan untuk kebutuhan pangan yang ada semakin sempit (pengalihan fungsi lahan). Badan Pertanahan Nasional (BPN) mengungkap bahwa 56% asset berupa property, tanah, dan perkebunan dimonopoli oleh 0,2% penduduk di Indonesia. Penguasaan segelintir orang terhadap kepemilikan tersebut berbanding terbalik dengan banyaknya kaum tani yang memiliki lahan sempit. 26,14 juta rumah tangga kaum tani hanya memiliki lahan rata-rata 9,89 hektar per keluarga. Sedangkan kira-kira 14,25 juta rumah tangga kaum tani lainnya memiliki lahan di bawah 0,5 hektar per keluarga.[3] Ini juga diperkuat dengan data KPA yang menyatakan bahwa biang tertinggi konflik agrarian adalah sektor  pembangunan infrastuktur di tahun 2014 dan sektor perkebunan di tahun 2015 di samping biang lainnya seperti sektor pertambangan, kehutanan, dan lainnya. [4]

Demikianlah krisis ekonomi dan krisis pangan di dunia terjadi. Di Indonesia kebanyakan para pakar ekonomi dan profesor pertanian sibuk mempersoalkan ketahanan, kedaulatan, kemandirian pangan. Pada umumnya analisis yang berkembang dari para akademisi borjuis , untuk menjawab krisis pangan maka Negara harus mendorong ketahanan, kedaulatan, dan keamandirian pangan. Namun, wacana demikian tak lebih sebagai kebohongan yang di ulang-ulang dan tidak dapat di wujudkan. Bagaimana mungkin, bicara ketahanan, kedaulatan, dan kemandirian pangan, hanya berputar pada persoalan ekspor dan impor. Padahal soal mendasarnya adalah hubungan produksi yang tidak setara. Masalahnya adalah, manusia sebagai tenaga produksi tepisah dengan alat produksi, disinilah pangan sebagai produksi sosial (manusia dengan manusia lainnya) di klaim sebagai milik pribadi (yang memiliki alat produksi). Inilah yang menyebabkan penindasan manusia atas manusia dan kesenjangan sosial terjadi. Ini pulalah akar masalah dari krisis ekonomi dan krisis pangan di dunia.  Di tambah lagi, para akademisi borjuis, seringkali melupakan bahwa Negara beserta aparatusnya adalah alat bagi kelas borjuis untuk menindas rakyat. Sehingga berharap agar presiden yang merepresentasikan diri sebagai Negara untuk mendorong ketahanan, kedaulatan dan kemandirian pangan adalah lagi lagi mustahil. pada akhirnya, mereka (intelektual borjuis) akan menemukan kebuntuannya, saat sistem kapitalisme yang mereka agung-agungkan itu mengalami over produksi.

Dimanakah Peran Kaum Muda?

Hari pangan sedunia, seringkali di rangkai oleh kelas borjuis sebagai momentum untuk mempropagandakan kebohongannya di hadapan publik. Persoalan pangan malah di kaitkan dengan petani yang sudah lanjut usia. Slogan-slogan seperti “negeri kita negri subur, tongkat kayu dan batu jadi tanaman” lama kelamaan lenyap oleh kerakusan kelas borjuis dalam mengeksploitasi sumber daya alam untuk memperkaya diri. Dengan bantuan media (milik borjuis) kebohongan tersebut di sulap menjadi kebenaran.  Peringatan hari pangan harus menjadi momentum bagi kaum yang menyadari kebobrokan dari sistem kapitalisme untuk menunjukkan kerakusannya dan menghancurkan dongeng-dongeng ilusioner para pemilik modal.

Sistem kapitalisme sejak kemunculannya telah menjadikan manusia terasing dari kesehariannya. Pemilik modal, menyita waktu dan tenaga kaum buruh untuk menambah pundi-pundi kekayaannya. Hampir tidak ada waktu bagi mereka untuk memanfaatkan intelektualitasnya. Begitupun dengan para petani, kaum miskin kota dan perempuan.

Di satu sisi, kapitalisme tidak akan pernah memenuhi kebutuhan para petani, kaum miskin kota,dan perempuan. padahal merekalah yang telah mengumpulkan 99% kebutuhan Negara. Dengan demikian mereka juga lah yang berhak menentukan atau mengatur perekonomian dan produksi atas kebutuhan pangan. Namun, hal tersebut tidak akan terjadi dalam Negara borjuis yang membenarkan atau mendukung kepentingan kelas borjuis. Oleh karena itu, perjuangan reformasi sebagai perjuangan akhir tidak akan cukup. Itulah kenapa kaum sosialis harus membangun revolusi.

Selanjutnya, bagaimanakah revolusi dapat terjadi? Tentu saja revolusi yang memungkinkan untuk mencapai masyarakat adil makmur adalah revolusi sosialis. Sistem kapitalisme tidak akan pernah terhindar dari krisis ekonominya. Akibat dari over produksi, akan melemahkan kemampuan pemilik modal untuk berkuasa, dan akan terus membangun kepercayaan diri rakyat tertindas. Pada titik tertentu, krisis dapat menciptakan kehilangan legitimasi bagi tatanan yang ada. Krisis semacam itu, akan membuat munculnya individu-individu yang terbuka pemahamannya dan mencari alternative, karena penindasan kapitalisme tidak otomatis menciptakan kesadaran sosialis. Disinilah peran kaum muda begitu di butuhkan.

Kaum muda sebagai kelompok sosial yang punya banyak waktu untuk memanfaatkan intelektualitasnya. Selain itu, kaum muda juga sangat mudah menerima ide-ide yang berkembang, termasuk ide sosialisme. Sehingga Kaum muda harus mengambil peran sebagai pelopor dalam mendorong kesadaran kelas pekerja dan kelas tertindas lainnya dalam membangun tatanan kehidupan masyarakat tanpa penindasan manusia atas manusia. Selanjutnya Lenin seorang revolusioner dari Rusia menegaskan bahwa tugas utama dari kaum muda adalah BELAJAR. Dimana belajar tadi difungsikan untuk mengetahui keadaan dan selanjutnya dapat mengubah keadaan tersebut. Pemuda dalam hal ini adalah pemuda sosialis yang dalam proses belajarnya berangkat dari kondisi material yang dihasilkan oleh masyarakat lama (masyarakat kapitalis), sehingga hal itu akan menuntun para pemuda untuk terus mengkritisi kelas borjuis, dan memperkuat kesadaran kelas (buruh maupun tani) serta mempersatukan kekuatan-kekuatan kelas tertindas lainnya untuk menumbangkan sistem kapitalisme lewat revolusi sosialis.

Meskipun dalam sistem kapitalisme ide yang berkembang adalah ide dari penguasa (dalam hal ini kelas borjuis) maka jumlah individu tersebut relative sedikit. Namun, seiring dengan perkembangan gerakan rakyat diiringi dengan perkembangan kapitalisme yang akan menuai krisis, maka jumlah rakyat yang sadar dengan ketertindasannya akan bertambah secara signifikan untuk membangun tatanan masyarakat baru yaitu Sosialisme. Gagasan sosialisme dan strategi untuk membangun revolusi sosialis, memiliki sejarah yang panjang dengan banyak pengalaman dan pelajaran. Tidak ada satu orang pun yang dapat mewujudkan pengalaman ini, dan bahkan menggunakannya. Oleh karena itu, para pemuda juga sangat berkepentingan untuk mewujudkan organisasi muda yang memiliki perspektif sosialisme untuk melakukan counter hegemoni dari sistem kapitalisme. Organisasi muda yang dibangun secara sadar tanpa membeda-bedakan suku, ras, daerah maupun agamanya. Selanjutnya agar ide-ide sosialisme dapat bertahan lama, maka para pemuda juga berkepentingan untuk membangun organisasi revolusioner yang bersifat permanen dalam bentuk partai revolusioner. Partai revolusioner ini dapat mengambil pelajaran-pelajaran dari setiap gerakan kelas tertindas sepanjang sejarah dan dapat menjadi integrasi timbal balik antara kaum muda dan kelas tertindas (buruh, tani, nelayan, dll) secara konsisten dan terus-menerus. Inilah kaum muda yang sangat kita butuhkan.

Selamat Hari Pangan Sedunia

Hidup Rakyat!!!

Jayalah Sosialisme!!!

Catatan :

[1] In defence of Marxism, 26 maret 2016 “Crisis And Class Struggle : Word Propectives 2016- Part One”

[2] Wirawan, Jaromi, 11 februari 2016 “mengukur kemiskinan di Indonesia dari kualitas hidup” BBC Indonesia Online (www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160210_indonesia-kemiskinan)”

[3] Las dan bay. Kamis 28 januari 2016, 15.00 WIB. Pemodal Kuasai Lahan Desa.  Djumena, Erlangga (Ed). Kompas.com.online.(,di akses pada 16 oktober 2016)

[4] Susanto, Ichwan, 5 januari 2016, 17:06 WIB. Belum Ada Hasil Terkait Penyelesaian Konflik Agraria. Kompas.Online (,di akses 16 oktober 2016)

Oleh : Hema Malini (Anggota Lingkar Studi Kerakyatan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s