Diskusi “Gerakan Mahasiswa Revolusioner : Teori Dan Praktek” (Ernest Mandel)

Samarinda, 14 Oktober 2016, Lingkar Studi Kerakyatan (LSK) menggelar diskusi dengan tema “Gerakan Mahasiswa Revolusioner : Teori dan Praktek”. Diskusi ini bertujuan untuk mengkritik situasi gerakan maaa.jpgahasiswa hari ini yang cendrung spontan dan steril dalam gerakannya. Ini sesuai dengan apa yang dituliskan oleh Erenest Mandel (Mendel adalah seorang Marxis asal Belgia, dalam meniti karirnya, Ia adalah kepala editor di majalah/media mingguan La Gauche, dan
sekretaris politik Konfederasi Buruh Belgia. Buku-bukunya antara lain Pemikiran Formasi Ekonomi Karl Marx dan Study Ekonomi Marxis).
Lebih dari pada itu, untuk mengintervensi kesadaran dan mengorganisir kesadaran kaum muda dalam upaya mendorong pembangunan organisasi muda sosialis revolusioner sebagai antitesa dari organisasi muda saat ini.

Diskusi ini dilaksanakan di pelataran gedung auditorium Universitas Mulawarman (UNMUL) yang dihadiri oleh beberapa mahasiswa dari berbagai fakultas dan jurusan di Universitas Mulawarman. Diskusi yang dipandu oleh Lini Situmorang sebagai moderator bersama Eron kolin sebagai pemantik diskusi.

Diskusi ini terbagi dalam tiga sesi dikusi dengan tiga pertanyaan pemandu yang telah disiapkan oleh moderator agar dapat meminimalisir jalannya diskusi sesuai dengan capaian-capaian yang telah disepakati. Pada sesi pertama dimulai dengan pertanyaan pemandu pertama yang dilontarkan oleh moderator yakni, “Apa Perspektif Kita Terhadap Gerakakan Mahasiswa?” ini dimulai dengan mempersilahkan pemantik untuk menyampaikan isian dari tulisan pidato Mandels terlebih dahulu.

Hidup Rakyat!!!

Itulah kalimat awalan pemantik dalam menyampaikan isian materi diskusi. Dimana kalimat tersebut yang mempunyai arti keberpihakan terhadap masyarakat klas (Buruh Tani/Kaum Tertindas). Lebih lanjut Ia menjelaskan kutipan dari materi Ernest Mandel yang merupakan perspektif terhadap Gerakan Mahasiswa Revolusioner.

Pada tahun 1968, Ernest Mandel memberikan presentasi di 33 perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Kanada. Pada saat Mandel mengisi Materi Presentasi di New York University pada tanggal 21 September 1968 saat menghadiri acara “Majelis Internasional Gerakan Mahasiswa Revolusioner”. Dalam pidatoNya, Mandel menyapaikan berbagai polemik yang terjadi dikalangan Radikal dunia Barat. Diantaranya merupakan kecendrungan Aktivisme dan Spontanisme yang tidak menjadi reprentasi dasar dari kesatuan teori dan praktek. Hal yang perlu dipahami saat itu bahkan hingga saat ini dimana proses ekspansi kapitalisme khususnya pada sektor pendidikan yang terjadi begitu cepatnya. Mengakibatkan reduksionisme terhadap makna teori ilmu pengetahuan yang tidak memberikan relevansinya terhadap kondisi riil masyarakat yang berakibat pada keterasingan intelektual. Mandel juga menggambarkan kondisi gerakan yang dilakukan oleh seorang tokoh mahasiswa Berlin (Rudi Dutshcke) dan sejumlah tokoh mahasiswa Eropa lainnya yang patut menjadi contoh pada gerakan perlawanan mahasiswa terhadap sistem ekonomi politik kapitalisme yang terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat. Dimana, telah menjadikan kesatuan teori dan praktek (Kesatuan Teori dan Praktek yang Revolusioner tentunya) yang menjadi gagasan sentral dalam aktifitasnya. Penyatuan teori dan praktek ini menjadi rekaman sejarah yang menjadi pengelaman berharga yang mampuh menciptakan revolusi-revolusi yang telah berlalu di Eropa, Amerika dan bagian dunia lainnya. Upaya pembebasan manusia harus diarahkan pada usaha yang sadar untuk merombak tatanan masyarakat, mengatasi sebuah keadaan di mana manusia di dominasi oleh kekuatan ekonomi pasar yang buta dan mulai menggurat nasib dengan tangannya sendiri.

Aksi demikian tidak dapat dilakukan apabila kita tidak dapat mengetahui dasar kondisi sosial masyarakat dimana tempat kita berada. Artinya bahwa kita harus mengetahui apa yang menjadi kontradiksi pokok dalam kehidupan sosial masyarakat hari ini. Kesatuan teori dan praktek merupakan penuntun dasar dari segalah bentuk aktifitas untuk mencapai cita-cita perjuangan pembebasan manusia atas ketertindasannya. Marxisme mengajarkan bahwa revolusi, merupakan revolusi yang sadar dapat dicapai apa bila kita mengerti azas masyarakat tempatnya hidup dan mengerti kekuatan pendorong yang menggerakan perkembangan ekonomi sosial masyarakat.

Gerakan perlawanan mahasiswa mulai bermunculan dimana-mana. Di Amerika pun tidak jauh berbeda dengan gerakan perlawanan secara langsung didalam lingkup akademis mereka, di sekolah tinggi dan universitas. Kondisi mahasiswa dihadapkan pada metode pendidikan monolog (hanya mendengarkan apa yang disampaikan dosen tanpa sebuah dialog) dengan pengajaran ilmu pengetahuan secara dikotomi (terpisah) dari kondisi realitas masyarakat. Akibatnya, integrasi ilmu pengetahuan tidak menjadi analisis ilmiah yang obyektif terhadap kehidupan sosial masyarakat. Hal inilah yang menuai pelawanan mahasiswa terhadap sistem pendidikan di berbagai universitas dan sekolah tinggi. Upaya perlawanan akan terus dialakukan, sekalipun persoalan-persoalan diatas telah di benahi.

Universitas senantiasa melakukan reforma-nya, namun reforma yang dilakukan tidak berbasiskan persoalan yang terjadi. Reforma universitas berbasiskan pada kepentingan untuk memenuhi kebutuhan kapitalisme sehingga mengakibatkan semakin tersingnya tenaga intelektual. Artinya bahwa selama kapitalisme masih ada, maka terus akan ada kerja yang terasing, baik itu kerja manual maupun kerja intelektual. Dan karena itu tetap akan ada mahasiswa yang terasing, seperti apapun aksi-aksi kita menghantam kemapanan dalam lingkup universitas.

Diskusi dilanjutkan oleh moderator, dengan mempersilakan peserta diskusi untuk memberikan perspektifnya terhadap situasi gerakan mahasiswa, baik secara historis maupun sampai pada kondisi hari ini. Aji Ibrahim, sala satu peserta diskusi yang merupakan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UNMUL, langsung menanggapi dengan memberikan perspektifnya terhadap kondisi gerakan mahasiswa saat ini. Menurutnya, organisasi-oraganisasi mahasiswa saat ini tidak memiliki suatu capaian ideologi yang jelas sehingga kecendrungan aktifitas kader-kadernya pun tidak dapat mengintegrasikan ilmu pengetahuannya secara tepat. Ruang organisasi hanya dimanfaatkan sebagai batu loncatan karirnya. Kalau pun memiliki capain ideologi, namun tidak memiliki kemampuan perspektif yang jelas dan tegas terhadap idelogi tersebut. Akibatnya, kecendrungan aktivisme dan spontanitas terjadi dalam gerakannya. Lebi lanjut kelak pasca sarjananya akan terlibat dalam kelompok struktur kapitalis sebagai penindas baru.

Selanjutnya Dipta Abimana, merupakan anggota LSK yang turut hadir dalam diskusi, juga memberikan pandangannya. Seperti yang disampaikan Mandel dalam pidatonya saat itu. Ini juga merupakan salah satu faktor yang menimbulkan perlawanan mahasiswa terhadap sekolah tinggi dan universitas, seperti dalam penentuan kebijakan pendidikan, pemilihan Dekan Fakultas, penetapan biaya kuliah dan masih banyak hal lainnya. Dimana mahasiswa tidak dilibatkan didalamnya. Akibatnya, pendidikan yang seharusnya dari Rakyat untuk Rakyat, tidak menjadi hal yang substansial. Dipta kembali mempertegas dengan menyampaikan kondisi gerakan mahasiswa yang terjadi seperti di Afrika Selatan. Ada sebuah program pemerintah yang diterapkan dalam sistem pendidikan yakni NAFAS, program ini sama dengan program biaya pendidikan di Indonesia yang diterapkan pemerintah pada sektor pendidikan tinggi yaitu Uang Kuliah Tunggal (UKT). Bagi mahasiswa di Afrika Selatan, program tersebut mengakibatkan kesenjangan sosial pada masyarakat. Selanjutnya mahasiswa Hongkong yang akhir-akhir ini marak melakukan aksi perlawanan yang dikarenakan tertangkapnya 17 aktivis mahasiwa. Hal ini dapat dikatakan sebagai aksi spontan karena tidak didasarkan pada akar persoalan yang mendasar secara keseluruhan dalam kehidupan sosial.

Suasana diskusi semakin hangat dengan berbagai polemik yang dikemukakan. Selanjutnya Wijaya, yang juga anggota LSK, menyampaikan perspektifnya terhadap situasi gerkan mahasiswa. Pertama-tama harus kita pahami, mengapa mahasiswa perlu bergerak? (melakukan perlawanan). Dalam situasi hari ini bahwa mahasiswa mempunyai banyak waktu untuk belajar sehingga memungkin mahasiswa memanfaatkan intelektualnya untuk mengkritisi akar persoalan yang terjadi dalam kehidupan sosial. Perlu ditekankan bahwa kemampuan intelektual tidak hanya dimiliki oleh mahasiswa saja, namun hakikatnya semua orang memiliki intelektual. Khususnya pada sektor Buruh, Tani dan Masyarakat miskin lainnya, juga merupakan intelektual tetapi karena keterbatasanya pada waktu bekerja sehingga memungkinkan untuk melancarkan aksi-aksi perlawanan sangat minim. Berbeda dengan mahasiswa yang punya banyak waktu untuk belajar.

Berbicara gerakan mahasiswa dalam perspektif historis, ketika revolusi industri di Inggris terjadi, ada begitu banyak industri (Pabrik) mulai berkembang. Belanda yang pada saat itu tengah menjajah Indonesia juga menciptakan pabrik-pabrik tersebut. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa mahasiswa pasca kelulusanya menjadi seorang tenaga kerja. Dengan demikian ekspansi kapitalisme pada sektor pendidikan mengakibatkan mahasiswa dicetak menjadi seorang calon tenaga kerja murah. Pendidikan hari ini tidak diajarkan secara kritis, sehingga budaya kritis tidak begitu tampak dalam aktivitas studi kita. Gerakan mahasiswa Indonesia mempunyai andil besar dalam sejarah. Pada abad ke-19 mulai didirikan universitas-universitas yang didorong oleh mahasiswa pribumi untuk menjadi pegawai kolonial Belanda pada waktu itu. Namun, pada posisi itu mahasiswa mulai mengerti bagaimana mengalami ketertindasannya. Hal tersebut mendorong mahasiswa Indonesia mempelopori gerakan perlawanan terhadap kolonial untuk perjuangan kemerdekaan yang terwujud pada tahun 1945. Pasca malapetaka 1965 terjadi, gerakan mahasiswa mengalami degradasi secara pemanen dalam sekejap akibat represifitas pemerintahan otoriter orde baru (orba) Soeharto. Akan tetapi pada tahun 1998, kepemimpinan Soeharto berhasil diturunkan dari tambuk kekuasaannya oleh aksi perlawanan mahasiwa dengan memobilisasi massa rakyat lainnya (Buruh dan Tani). Sampai pada situasi hari ini, aktifitas gerakan mahasiswa sangat steril dalam gerakannya. Ini merupakan akibat dari ekspansi kapitalisme kedalam dunia pendidikan seperti yang digambarkan Mandel dalam pidatonya.

Pada akhir sesi diskusi pertama, Dipta Abimana mempertegas kembali soal kondisi gerakan mahasiswa. Pada setiap situasi gerakan selalu diiringi oleh ideologi dan gerakan massa yang diakibatkan oleh kesadaran yang berkembang. Apabila kesadarannya dominan borjuis maka logikanya adalah untuk bersaing. Ada posisi dimana individual lebih dominan, dimana mahasiswa dibangun atas dasar situasi dan kekritisannya. Pengalaman tahun 1998, dimana aksi massa berhasil menumbangkan rezim Soeharto, namun tak dapat dipungkiri bahwa kesiapan massa pada saat itu akan tersediannya suatu ruang organisasi revolusioner yang mampu menopang kekuatan massa utnuk membangun sebuah tatanan Negara Proletar. Ini tentu menunjukan bahwa minimnya kesatuan teori dan praktek pada pelopor-pelopor gerakan saat itu, dimana ada faktor eksternal dan internal yang berpengaruh didalamnya seperti perkembangan situasi ekonomi politik internasional, pasar dan lain sebagainya. Negara-negara di dunia terbagi dalam bentuk negara berkembang dan negara maju. Akibat dari ekspansi kapitalisme yang diciptakan oleh negara maju dengan memanfaatkan negara-negara berkembang sebagai lahan produktif untuk memenuhi tuntutan akumulasi kapital seperti yang terjadi di Indonesia. Indonesia pada masa orba, Soeharto dikenal sebagai bapak pembangunan. Perlu diketahui bahwa apa yang dilakukan Soeharto merupakan hasil dari investasi modal asing negara-negara maju dan itu tanpa disadari bahwa ini merupakan piutang negara terhadap pemakaian modal melalui invastasi tersebut.

Diskusi dilanjutkan pada sesi kedua dengan pertanyaan “Apa yang Menjadi Masalah dalam Gerakan Mahasiswa?” (Tentang Kesatuan Teori dan Praktek). Pada sesi kedua ini, Eron Kolin sebagai pemantik menyampaikan konsep kesatuan teori dan praktek Ernest Mandel sebagai pengantar diawal. Dimana dalam proses keseluruhan kesatuan teori dan praktek yang dinamis. Artinya bahwa dalam prosesnya, teori kadang mendahului praktek dan sebaliknya. Pada setiap titik keharusan perjuangan mendesak maka sebai pelopor dalam mengorganisir kesadaran harus meningkatkan konsep ini pada tingkat yang lebih tinggi. Memahami proses dinamis konsep tersebut, harus di sadari bahwa mempertentangkan keduanya secara mendalam itu sepenuhnya keliru. Ketika Mandel menghadiri Konfrensi Sarjana Sosialis dan berbagai pertemuan penting lainnya, Ia menemukan pemisahan antara teori dan praktek terus dipertahankan di Amerika dan negara-negara eropa lainnya.

Pengelaman sejarah gerakan mahasiswa revolusioner  bukan hanya pada periode Marxis, tapi bahkan pada periode pra-Marxis sudah menjadi azas perjuangan. Praktek tanpa teori adalah sia-sia atau tidak akan melakukan perubahan yang mendasar, dengan kata lain kita tidak bisa membebaskan manusia tanpa kesadaran. Di pihak lain berteori tanpa praktek maka kita tidak akan pernah menemukan watak ilmiah. Hanya dengan melalui kesatuan konsep tersebut yang dilakukan seacara terus menerus secara bersamaan, maka upaya pembebasan manusia akan dilakukan secara sadar dan ilmiah. Dalam ilmu pengetahuan borjuis tentu akan memisahkan kerja manual dan kerja pikiran di dalam gerkan revolusioner. Hal ini tentu sebuah kekeliruan yang mendasar karena bertolak belakang dengan cita-cita perjuangan sosialisme. Salah satu perjuangan revolusioner untuk mencapai sosialime adalah mencapai pengahapusan kerja manual dan kerja intelektual. Pelajaran penting yang dapat kita ambil dari kemunduran revolusi Rusia adalah mempertahankan pemisahan kerja manual dan kerja intelektual masyarakat yang tenga melalui masa transisi dari kapitalisme menuju sosialisme. Akibatnya kemunculan birokratisme pada lembaga-lembaga semakin meningkat dan menjadi masalah baru.

Diskusi dilanjutkan oleh moderator dengan mempersilakan peserta diskusi untuk menanggapi atau menambahkan perspektifnya terhadap konsep kesatuan teori dan praktek. Ini langsung disambut baik oleh Dipta dengan mennyampaikan pandangannya. Menurut Dipta hal yang menjadi persoalan pertama adalah perluasan modal kapitalisme dalam aspek produksi yang dilakukan tanpa melihat basis kebutuhan masyarakat, karena logikanya adalah menuai keuntungan semata maka produksi yang dilakukan secara berlebihan dan memakasa masyarakat menjadi masyarakat konsumtif dan instan.

Pada konsep kesatuan teori dan praktek mengedapankan watak keilmiahan. Namun pada kondisi hari ini gerkan mahasiswa tidak jauh berbeda dengan penjelasan Mandels dalam pidatonya. Ada faktor internal yang mengakibatkan gerakan mahasiswa yang melakukan aksi yang spontan dimana hanya sekedar ajang keren-kerenan. Hal tersebut menurut mahasiswa merupakan sebuah perlawanan terhadap realitas masyarakat hari ini, namun pada dasarnya tidak sama sekali menunjukan sifat kelimiahannya. Ini dapat kita buktikan dalam beberapa gerakan perlawanan akhir-akhir ini dimana hanya sekedar mengorganisir keresahan masyarakat bukan mengorganissir kesadaran. Sebagai contoh ketika mahasiswa turun aksi hanya sekedar membawa spanduk dengan isian tuntutannya, tapi tuntutannya tidak dijelaskan secara terperinci dalam bentuk lain seperti pamflet dan media lainnya. Hal ini tentu membutuhkan kemampuan intelektual yang tinggi dengan landasan teoritik yang tepat. Lebih lanjut ada posisi dimana pembangunan organisasi yang tidak mendorong aktifitas yang produktif, akibatnya sifat malas-malasan tumbuh subur dalam organisasi. Ada pulah tradisi yang monokultur dan tidak disiplin terhadap prinsip ideologis organisasi. Organisasi semestinya menjadi sekolah bagi kader-kader didalamnya, maka proses pengkualitasan terhadap teori dapat dilakukan secara tepat dengan mendorong aktifitas produktif dalam organisasi.

Selanjutnya Wijaya kembali menambahkan mengenai kesatuan teori dan praktek, dimana terdapat kecendrungan mahasiswa melakukan aktifitas praktek saja, ada juga yang berteori saja. Ini sebagai contoh sekaligus menjadi kritik terhadap aksi yang dilakukan sejumlah mahasiswa UNMUL yang menolak reklame rokok yang terpasang di tempat-tempat umum. Aksi tersebut tidak berangkat dari sebuah analisis secara tuntas karena tidak dilandasi sebuah ilmu pengetahuan yang tepat. Di sisi lain pada organisasi internal kampus yang dalam aktifitasnya hanya sampai pada berteori tanpa menganalisis lebih jauh relevansi teorinya terhadap kondisi relitas masyarakat. Garakan mahasiswa selalu menggantungkan nasib pada pemerintah dengan sekedar membacakan tuntutan tanpa sebuah analisis yang ilmiah. Oleh sebab itu mengapa sehingga kita lebih menekankan pada gerakan yang dibangun atas dasar kesadaran? Kerena dengan kemampuan intelektual yang dimiliki oleh mahasiswa seharusnya menjadi pelopor dengan melibatkan diri dalam gerakan rakyat dan memobolisasi massa yang sadar untuk menhapuskan tatanan pemerintahan dengan sistem ekonomi politik kapitalisnya dan menggantikannya dengan tatanan masyarakat yang baru yakni sosialime.

Masuk pada sesi terakhir dengan pertanyaan “Pelajaran apa yang dapat diambil?” (Perlunya Organisasi Revolusioner). Pada sesi ini disampaikan langsung oleh Kawan Haidir, salah satu anggota LSK. Pada diskusi hari ini kita sadar akan keberadaan kita sebagai mahasiswa yang merupakan bagian dari sektor masyarakat tertindas. Keterasingan intelektual akibat pemisahan kerja manual dan kerja intelektual sebagai akibat dari ilmu pengetahuan borjuis yang mendominasi pada sektor pendidikan. Hal yang menjadi kontradiksi pokok hari ini adalah sistem ekonomi sosial yang berada dalam sistem kapitalisme (sistem yang tidak manusiawi).

Terdapat beberapa poin yang menjadi pelajaran penting dalam memajukan aksi perlawan untuk menghapuskan sistem ekonomi politik kapitalisme. Pertama, soal perspektif historis dan bahkan sampai pada kondisi hari ini seperti yang dijelaskan kawan-kawan sebelumnya mengenai gerakan mahasiswa yang cendrung Spontan dan Aktivisme. Kedua, soal konsep kesatuan teori dan praktek yang menjadi taradisi pembangunan gerakan pada abad-abad sebelumnya sebagai pelajaran dalam menciptakan aksi yang revolusiner untuk pembebasan manusia secara sadar. Ketiga merangkai kesatuan teori dan praktek tadi dalam sebuah organisasi Revolusioner. Maka pada saat ini sangat diperlukan pembangunan subuah organisasi revolusioner, yakni organisasi muda berperspektif sosialisme yang menjadi penghubung dari setiap sektor yang ada (Buruh, tani, nelayan dll) tanpa memisahkan kerja manual dan kerja Intelektualnya.  lebih lanjut, organisasi yang dibangun tidak dibatasi oleh sekatan usia, suku, ras, agama dan kebangsaan. Lebih dari pada itu sebagai antitesa dari organisasi-organisasi hari ini yang sering terjebak pada persoalan-persoalan subjektif seperti yang dijelasakan diawal. Organisasi muda sosialis berlandaskan pada azas pembebasan manusia secara sadar. Kesadaran ideologis juga menjadi prinsip dasar yang tidak dipisahkan untuk mencapai cita-cita perjuangan.

Organisasi muda sosialis harus menjadi sekolah bagi kader-kader didalamnya untuk menciptakan aktifitas produktif dan ilmiah. Artinya bahwa organisasi harus mampu menjelaskan tugas-tugas kemendesakan gerakan melalui bacaan situasi ekonomi politik pada realitas masyarakat dengan menggunakan analisis teori dan aksi yang revolusioner.

Salam…

 Hidup Rakyat!

 Sosialisme Jalan Sejati Bagi Pembebasan Manusia!

 Di Narasikan Oleh: Eron Kolin (Anggota Lingkar Studi Kerakyatan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s