Peringati 77 Tahun ISD : Gerakan Rakyat Di Samarinda Gelorakan Perlawanan terhadap Industrialisasi yang Merusak dan Komersialisasi Pendidikan

Peringatan International Students’ Day (ISD) menjadi momentum perlawanan oleh beberapa aliansi gerakan rakyat di Samarinda, Kalimantan Timur. Munculnya izin pembukaan pabrik semen mendorong puluhan mahasiswa dan masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Karst (AMPK) turun kejalan  (17/11/2016) melakukan demonstrasi serta beberapa penampilan kesenian kerakyatan di depan kantor Gubernur Kaltim. Mereka menuntut Penolakan terhadap pembukaan pabrik semen yang di anggap merusak lingkungan. Dalam rilis pers-nya massa aksi mengungkapkan kondisi karst yang ada di kaltim. “Kalimantan Timur memiliki bentang alam Karst dengan total luas lebih dari 3,5 juta Ha yang tersebar di 10 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Kaltim. Bentang alam Karst yang terbesar berada di wilayah Berau-Kutim yang disebut dengan bentang alam Karst Berau-Sangkulirang-Mangkalihat, yakni seluas 2,1 juta Ha. Keberadaan Bentang alam Karst ini sesungguhnya memiliki fungsi yang sangat penting keberadaan dan kelestariannya dalam mendukung kehidupan masyarakat sebab merupakan sumber kehidupan utama karena fungsi ekologi dan hidrologinya.” Tulis Fitri Humas AMPK.
Bukan hanya karst namun seluruh Pemanfaatan sumber daya alam yang bersifat eksploitatif ini berdampak hanya merusak alam saja, seperti yang dikatakan Pradarma Rupang perwakilan JATAM Kaltim “sampai hari ini 1201 izin tambang batu bara masih saja diterbitkan, dan yang dihasilkan kepada kita kaum muda, masyarakat desa, masyarakat adat dan kaum miskin kota hanyalah kemiskinan dan buta huruf yang merata berada di Kalimantan timur selain itu juga kematian 27 anak akibat lubang tambang” Serunya. Lebih lanjut rupang menyampaikan ”Karst bukanlah komoditi, dan tidak untuk segelintir orang saja, baru saja masyarakat hulu segar turun melakukan penolakan terhadap eksploitasi alam yang merupakan sumber kehidupan mereka, tetapi langsung di intimidasi, mendapatkan kekerasan, karena watak pemerintah yang hanya mementingkan kepentingan pemilik modal saja” ujarnya. 

Kritik semakin tajam di teriakkan oleh peserta aksi dalam orasi-orasi politiknya. Kali ini giliran orator yang mewakili Kongres Politik Organisasi-Perjuangan Rakyat Pekerja (KPO-PRP) memberikan orasi politiknya. “sejak Indonesia belum merdeka sampai hari ini, berbagai macam industri telah secara bergantian mengeksploitasi sumberdaya alam kita dan menciptakan kesenjangan sosial yang semakin tajam. Mulai dari industri kayu, migas, batu bara, semuanya telah terbukti tidak mampu menciptakan kesejahteraan bagi rakyat. Tidak mampu menjawab soal soal kemiskinan, kelaparan, pengangguran dan berbagai penghisapan terhadap rakyat” ujar orator tersebut. Ia juga menilai bahwa kesenjangan sosial yang terjadi hari ini adalah ulah para pengusaha dan rakyat malah di jadikan korban yang harus menanggung keruskan yang terjadi. “kali ini setelah sumberdaya alam seperti batu bara, migas, sudah mulai menipis para pengusaha dan penguasa mulai memutar otaknya untuk mencari alternatif sebelum rakyat benar benar menyadari kebusukan dan kerakusan dari sistem yang mereka pertahankan. Sistem yang hanya mengutamakan keuntungan pribadi para pemilik modal. Oleh karena itu, kita menyaksikan bagaimana PHK Masal, penggusuran lahan-lahan petani dan kaum miskin kota, pemotongan subsidi pendidikan semakin tak terbendung. Inilah bukti nyata bagaimana para penguasa dan pengusaha tidak pernah bertanggung jawab terhadap kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan pengangguran yang mereka ciptakan. Malahan mereka dengan segala keangkuhannya membebankan semua ketimpangan sosial, dan kerusakan alam yang mereka ciptakan, kepada rakyat pekerja yang setiap hari mereka hisap melalui penambahan jam kerja, pemotongan uang lembur, dan bahkan di PHK jika tidak mampu memenuhi target. Ini adalah kejahatan yang secara nyata kita saksikan.” Lanjut perwakilan dari KPO-PRP tersebut. 

Orator perwakilan dari KPO-PRP tersebut, belum berhenti. Ia juga mengungkapkan aktor-aktor di balik kerusakan lingkungan, penggusuran dan pembunuhan terhadap unsur yang melawan. Ia juga menyerukan agar rakyat harus merebut kekuasaannya dari tangan borjuasi dan mewujudkan demokrasi seutuh-utuhnya. “Kita tau benar bahwa aktor di balik kerusakan lingkungan, penggusuran lahan, dan pembunuhan terhadap setiap unsur yang melawan tidak lain adalah aparatus negara, mulai dari parlemen, militer, hakim, peneliti dan akademisi murahan yang menghamba pada uang para pemodal (yang di dapatkan dari hasil keringat kelas pekerja). Dengan begitu, tidak ada alasan bagi kita, untuk menyerahkan perjuangan rakyat kepada aktor-aktor yang dengan jelas adalah sekutu para pemodal. Baru-baru ini salah satu kawan kita di karungi dan di pukuli sampai babak belur karena berusaha meyakinkan warga tentang bahaya pembangunan industrialisasi yang merusak. Beberapa bulan yang lalu 26 aktivis buruh di kriminalisasikan akibat berjuang menuntut kesejahteraannya. Dengan begitu, kita sudah semestinya untuk menggalang solidaritas seluas-luasnya. Bersatu dan melawan setiap upaya represifitas terhadap gerakan rakyat. mempersiapkan sebuah tentara rakyat yang siap melawan balik para sipil reaksioner yang di didik dan di biayai oleh negara. Tidak lagi dengan berharap agar negara hadir membantu rakyat”. 

Sore harinya puluhan mahasiswa dari berbagai Organisasi yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Samarinda (AMS) turun kejalan dalam memperingati International Student Day (ISD). 

Massa aksi yang dalam rilis persnya menyerukan “Reformasi Pendidikan dari, oleh, dan untuk Rakyat” ini, menyampaikan bahwa” Pendidikan yang sudah dikomersialisasikan dan dijadikan alat untuk mendapatkan keuntungan sehingga pendidikan yang dihasilkan tidak mencerdaskan bangsa.” Tulis Yani Humas AMS, selain itu aktivitas mahasiswa yang dibatasi juga menjadi persoalan,” biaya kuliah yang semakin tahun semakin mahal saat ini ditambah tidak diberikan sarana dan prasarana yang berkualitas sehingga tidak mampu menunjang kebutuhan proses belajar mengajar. Seterusnya ruang demokrasi bagi mahasiswa mulai dibatasi dengan beberapa kebijakan universitas seperti batasan aktivitas malam serta tidak adanya transparansi anggaran dari perguruan tinggi. Belum lagi terjadi pungutan liar (Pungli) dan korupsi yang dilakukan oleh tenaga pendidik .” tulisnya.

           Lebih lanjut perwakilan BEM FTIK juga menyampaikan “hari ini kampus mulai di swastanisasi dan menjadi lahan untuk keuntungan saja” ujarnya.

Perwakilan Lingkar Studi Kerakyatan (LSK) juga menjelaskan Momentum ISD merupakan gerakan dalam melakukan perlawanan terhadap rezim “Sejarah ISD merupakan sejarah perlawanan yang di lakukan oleh mahasiswa Cekoslovakia dalam melawan Fasisme dan ketidakadilan. Momentum tersebut dapat menjadikan pelajaran bagi kita bahwa keadilan sosial termasuk di dalamnya pendidikan tidak bisa di dapat dengan meminta-minta, namun harus direbut oleh rakyat yang berkepentingan atas kebutuhannya sendiri. Sudahi pula slogan herois yang melekat pada mahasiswa seperti Agent of Change, Social Control, dan Iron Stock yang membuat mahasiswa memisahkan dirinya dengan gerakan rakyat (buruh, tani, nelayan, dll). Slogan ini membuat seolah-olah mahasiswa sebagai hero atau begawan yang menolong rakyat ketika ada masalah saja, namun ketika masalah tersebut selesai mereka akan kembali ke kampus. Ini lebih disebut sebagai gerakan moral, bukan intelektual yang melihat masalah secara keseluruhan. Selain itu, posisi mahasiswa yang tidak bersentuhan langsung dengan alat produksi serta minoritas dari sektor masyarakat yang lain semakin menegaskan bahwa mahasiswa bukanlah agen perubahan, melainkan adalah kelas buruh. Karena kelas buruh merupakan mayoritas dari sektor masyarakat di dunia dan bersentuhan langsung dengan alat produksi para pemodal. Bayangkan beberapa hari saja buruh melakukan mogok akan berdampak signifikan bagi terciptanya krisis dan perkembangan kapital global, berbeda dengan aksi yang dilakukan oleh mahasiswa. Oleh karena itu, perlawanan  dalam melawan komersialisasi pendidikan harus sejalan dengan perlawanan terhadap kapitalisme lewat persatuan kelas buruh dan mahasiswa yang memiliki perspektif revolusioner” ungkap orator dari LSK.

Selain itu perwakilan KPO-PRP yang mempertegas persoalan pendidikan terjadi karena proses neoliberalisme yang terjadi  “Ini sebagai akibat dari ekonomi politik kapitalisme yang membelenggu kemajuan masyarakat. Kita menyaksikan bagaimana neoliberalisme masuk kedalam dunia akademik di Indonesia dan memperkuat institusi pendidikan sebagai ladang akumulasi modal. Inilah yang menyebabkan naiknya biaya kuliah serta berbagai biaya tambahan lainnya, menjamurnya pendidikan non reguler (di luar S1 reguler), dan maraknya pemberangusan demokrasi di dalam kampus ” Selain itu perwakilan dari KPO-PRP juga menambahkan bahwa gerakan mahasiswa haruslah bersatu dengan klas pekerja yang dalam hal ini juga menjadi korban dalam proses neoliberalisasi yang ada “Terdapat juga ladang-ladang bisnis yang lainnya seperti lembaga penelitian ataupun jasa konsultasi, ladang bsinis tersebut terutama menguntungkan bagi para intelektual kampus yang memiliki jaringan luas. Proses liberalisasi pendidikan juga telah membuat membludaknya jumlah perguruan tinggi dan para mahasiswa. Pola-pola ‘liberalisasi’ sangat khas menjadikan institusi pendidikan otonom, menanamkan logika kompetisi (persaingan), dan merubah peran negara dalam pembiayaan pendidikan. Kita menyaksikan bagaimana sistem kerja outsourcing, Honorer yang upah dan jaminan kerjanya jauh dari layak terjadi di kampus. Demikianlah para buruh outsourcing menerima pemotongan upah, buruh kampus bahkan dosen banyak yang menerima upah yang jauh dari upah minimum, bahkan secara esensial pendapatan mereka jauh lebih sedikit dari nilai lebih yang mereka produksi. Belum juga banyaknya di antara mereka yang tidak menikmati jaminan sosial seperti kesehatan, kecelakaan kerja ataupun tunjangan hari tua.” 

Kesejahteraan rakyat hanya dapat di capai dengan perjuangannya sendiri. Rakyat harus merebut kekuasaannya dan mewujudkan demokrasi seutuh-utuhnya. Karena itulah kita berkepentingan untuk bersekutu dengan rakyat, karena kesejahteraan rakyat hanya dapat di capai dengan perjuangannya sendiri. Rakyat harus merebut kekuasaannya dan mewujudkan demokrasi seutuh-utuhnya. Karena itulah kita berkepentingan untuk bersekutu dengan rakyat tertindas khususnya kelas buruh, sebagai kelas yang mampu meruntuhkan kekuasaan para pemilik modal (kapitalis). Tidak akan ada industri alternatif yang ekologis di bawah kekuasaan kapitalis. Sebab, produksi sosial yang di ciptakan oleh kelas pekerja hanya di peruntukkan pada kepemilikan pribadi para pemodal. Sementara itu di bawah kekuasaan kelas pekerja, produksi sosial akan peruntukkan pada kebutuhan sosial. Sehingga tidak akan ada kerusakan lingkungan sebab, eksploitasi alam akan di lakukan sesuai kebutuhan. Oleh karena itu, persatuan antara mahasiswa dan kelas pekerja adalah keharusan dan kemendesakan. 

E.A

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s