Bagaimana Kapitalisme Menghancurkan Bumi?

over-population-guardian-1e

“Manusia telah banyak merusak alam sejak manusia tidak lagi tunduk pada alam melainkan berbalik menaklukan dan mengubah Alam untuk memenuhi kebutuhannya sendiri”

Alam merupakan bagian dari bumi yang menjadi sumber kehidupan semua makhluk hidup, termasuk manusia. Manusia mengolah alam dengan alat kerjanya sehingga dapat berproduksi untuk bertahan hidup. Dengan bertambahnya kemampuan produksi, bertambah pula kemampuan manusia menaklukkan alam. Begitu besar pengaruh manusia terhadap alam sehingga kehidupan manusia tak bisa dipisahkan dari alam. Untuk itulah dibutuhkan keseimbangan agar alam dapat terus bereproduksi demi kelestarian dirinya, sekaligus menenuhi kebutuhan makhluk hidup lainnya. Bagaimana agar alam terus lestari, sementara pada dasarnya, lambat laun alam sendiri pasti akan mengalami perubahan kualitas yang menurun? Alam, pada satu titik, akan tidak sanggup lagi menahan kohesifitas bumi karena alam merupakan bagian dari bumi yang bergerak sehingga segala sesuatu yang ada di bumi, termasuk alam, juga ikut bergerak. Gerak hukum alam ini berjalan lambat, bisa jutaan tahun lamanya, mengikuti umur bumi. Namun, akibat ulah manusia, bumi menjadi cepat mengalami perubahan, karena alam telah dieksploitasi dan dijadikan komoditas demi tujuan pertumbuhan ekonomi.

Di dalam masyarakat dunia yang hubungan sosialnya ditentukan oleh kepemilikan terhadap alat produksi, produksi barang (dan jasa) tak akan ada kontrol sosialnya. Kelimpahan produksi hasil kerja manusia mengelola alam tak diabdikan untuk kemakmuran dan kemajuan mayoritas manusia serta melestarikan daya topang alam, melainkan untuk keberlangsungan akumulasi keuntungan belaka.  Sehingga tak heran, di dalam sistem semacam itu, seberapapun majunya pengetahuan dan alat kerja manusia tidak ada sangkut pautnya dengan pemerataan kesejahteraan dan keberlanjutan hidup bumi. Itulah bencana besar kemanusiaan di dalam sebuah sistem masyarakat kapitalisme saat ini.  Segelintir manusia yang bermodal besar, pemilik pabrik-pabrik dan perusahaan raksasa, memiliki kepentingan lebih hebat dalam mengeksploitasi sumber daya alam, sekadar demi akumulasi keuntungan dan perluasan modalnya. Mereka tidak memperdulikan syarat keseimbangan lingkungan, karena yang paling penting bagi mereka adalah sebanyak-banyaknya produksi, tak perduli sesuai atau tidak dengan kebutuhan dan daya jangkau mayoritas rakyat, atau merusak masa depan lingkungan alam. Itulah konsekuensi fundamental sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini, penyebab utama kerusakan alam.

Proses dialektika penaklukan manusia terhadap alam tergantung pada tingkat perkembangan tenaga-tenaga produktif (manusia dan alat kerjanya), karakter sistem sosial, dan tingkat perkembangan masyarakat dan manusia itu sendiri. Semakin maju alat kerja manusia, semakin besar kemungkinan penaklukan alam, semakin besar pula potensi pengrusakannya. Pengrusakan atau pelestarian alam adalah pilihan yang hanya dapat terjadi pada karakter sistem ekonomi dan hubungan sosial tertentu. Dan kapitalisme adalah hubungan ekonomi dan sosial yang memungkinkan pengrusakan lingkungan terjadi secara massal dan cepat. Namun, perkembangan pengetahuan dan teknologi dalam kapitalisme tersebut, sekaligus, memberikan kemungkinan manusia mengembangkan segala kreativitasnya untuk memperbaiki kerusakan alam.

Keuntungan di Atas segalanya

Daya dorong tujuan utama Kapitalisme adalah untuk mengakumulasi nilai lebih (Surplus value), yang dalam dunia modern biasanya berbentuk keuntungan. Dibawah Kapitalisme, tidak ada tujuan yang lebih berharga selain penumpukan nilai surplus. Dan tujuan itu menciptakan apa yangdianggap daya nalar dalam Kapitalisme. Kaum borjuasi akan terus menerus mendorong merevolusikan alat-alat produksi, untuk terus menerus mengembangkan bentuk baru teknologi produktif tanpa memperhatikan dampak terhadap manusia dan lingkungan hidupnya. Hanya demi keuntungan, nilai lebih  (surplus). Mengurangi biaya produksi melalui perbaikan teknologi adalah cara utama untuk memperoleh tambahan keuntungan (dalam suasana persaingan ketat, inilah cara untuk memastikan keuntungan sama sekali).

Pada kenyataannya bahwa dengan terus menerus mencari keuntungan sebesar-besarnya tidak serta merta berarti keuntungan sungguh naik, disinilah kaum kapitalis menghadapi kontradiksi yang cukup mendasar, yakni keberhasilan kapitalis masing-masing merugikan kaum kapitalis sebagai klas. Walaupun kapitalis dapat menghasilkan keuntungan lebih dengan menggunakan mesin-mesin yang lebih handal,yang biasanya berarti mengurangi jumlah tenaga kerja, akan tetapi kaum buruh merupakan sumber nilai lebih itu sendiri yang menguntungkan kaum kapitalis. Maka setiap kapitalis mencari potongan yang semakin besar dari “kue nilai lebih” dengan cara memperkecil ukuran kue itu sendiri. Ini bukanlah apa yang disebut pakar resolusi sengketa sebagai keadaan sama-sama menang.

Jika sang kapitalis ingin tetap bertahan maka mereka harus berupaya untuk menghasilkan seefisien mungkin dalam cara Kapitalisme, yang berati meningkatkan jumlah barang (komoditi) yang dapat dihasilkan dari jumlah tenaga kerja tertentu.  Ini mengapa Marx menggambarkan produksi untuk keuntungan sebagai produksi hanya demi produksi ; produksi Kapitalisme berupaya untuk terus meluas selama-lamanya ; tidak ada batasan sosial atau alami. Atau dengan kata yang lebih tepat ; tidak ada batasan alami bagi produksi kapitalisme karena tidak ada batasan sosial.

Kerusakan Bumi

Seperti kapitalisme, lingkungan pun sedang mengalami krisis. Penetapan status krisis lingkungan sudah berlangsung semenjak tiga dekade belakangan ini. Krisis yang sedang berjalan ini dapat dilihat dari cepatnya perubahan iklim akibat pemanasan global dan semakin bertambahnya efek rumah kaca dan polusi gas CO2 yang paling besar dihasilkan oleh penggunaan bahan bakar fosil. Aktivitas pabrik, mesin-mesin, dan alat transportasi yang diproduksi saat ini adalah penyumbang terbesar CO2.

Menurut penelitian, kerusakan dan pencemaran lingkungan 30 tahun terakhir jauh melampaui kerusakan lingkungan yang disebabkan aktivitas manusia selama ribuan tahun lalu, salah satu contoh yang terjadi di Indonesia seperti laju kerusakan hutan pada era tahun 1980-an di adalah sekitar satu juta hektar/tahun, kemudian pada awal tahun 1990-an tingkat kerusakan mencapai 1,7 juta hektar/tahun. Lalu, sejak tahun 1996 meningkat lagi menjadi rata-rata dua juta hektar/tahun (data 2001). Hutan yang sudah terdegradasi dan gundul di Indonesia ada di Sumatera (terdegradasi 5,8 juta hektar dan gundul 3,2 juta hektar); di Kalimantan (degradasi 20,5 juta hektar dan gundul 4,3 juta hektar); di Sulawesi (degradasi dua juta hektar dan gundul 203.000 hektar); di Nusa Tenggara (degradasi 74.100 hektar dan gundul 685 hektar); di Papua (degradasi 10,3 juta hektar dan gundul 1,1 juta hektar); dan di Maluku (degradasi 2,7 juta hektar dan gundul 101.200 hektar). Apalagi dengan berkembang pesatnya pasar akibat kebijakan neoliberal yang digalakkan oleh seluruh perangkat ekonomi kapitalisme, khususnya WTO[1], IMF[2], ADB[3] dan Bank Dunia, serta berbagai perjanjian perdagangan bebas selama lebih dari satu dekade ini, yang dilegitimasi oleh rejimpendukung investasi tanpa berpikir panjang. Logika akumulasi keuntungan dan modal, dengan memperdalam eksploitasi manusia dan alam, menyebabkan overproduksi kapitalisme.

Lebih lanjut, data Kementrian Kehutanan mencatat kerusakan hutan hingga 2009 mencapai lebih dari 1,08 juta hektar per tahun. menurun dari data kerusakan hutan tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 2 juta hektar pertahun. Kalimantan merupakan salah satu daerah yang memiliki hutan alam terbesar. pada tahun 2007 , dalam buku laporan State Of the world’s forests, FAO ( Food and Agricultural Organization) menempatkan Indonesia di posisi ke 8 dari sepuluh negara dengan luas hutan alam terbesar di dunia. Tetapi laju kerusakan hutan di indonesia mencapai 1,87 juta hektar dengan kurun waktu 2000-2005, mengakibatkan Indonesia menempati peringkat ke-2 dari sepuluh negara dengan kerusakan tertinggi di dunia. Secara global kerusakan hutan juga memberikan dampak ekonomi. Sebuah study di World Resource Institute memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun hingga 40-60%. Kalau di hitung berdasarkan kerugian uang yang timbul dari sektor lingkungan selama 30 tahun. Pola pembangunan Iindonesia selama ini yaitu eksploitasi sektor kehutanan untuk bisnis sawit, kertas dan bubur kertas, pertambangan, dan sebagainya.

Pertumbuhan ekonomi bermakna peningkatan konsumsi dan produksi komoditas industri tanpa pertimbangan masa depan. Akibat logika semacam inilah alam tak lagi mampu menopang kehidupan manusia di masa yang akan datang. Bahkan para aktivis lingkungan menyatakan, bahwa, demi mengembalikan kondisi alam seperti semula, menghendaki pertumbuhan ekonomi nol persen, atau dikenal sebagai zero growth. Kapitalis dengan watak ekploitatif tidak akan mampu memberikan dampak baik terhadap persoalan alam di bumi ini, dan yang justru menjadi korban adalah kelas buruh dan rakyat tertindas lainnya yang semakin terhisap.

Perjuangan Lingkungan Bersamaan dengan Pembebasan Manusia

Perjuangan lingkungan sudah merupakan  bagian dari perjuangan penumbangan sistem kapitalisme. Melakukan reorganisasi secara radikal terhadap cara produksi kapitalisme. Itulah satu-satunya jalan penyelamatan lingkungan yang berkesinambungan. Jelas sudah segala fakta yang ada disekelilingi kita. Memilih jalan tengah melalui konsep good will dengan maksud agar terjadi keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dengan biaya lingkungan yang masih bisa ditanggung, adalah omong kosong. Kerusakan alam merupakan konsekuensi mutlak atas sistem modal yang tak memikirkan kemanusiaan dan kelestarian alam.

Harapan solusi satu-satunya kini ada di tangan rakyat pekerja, yang bersatu berjuang menumbangkan Kapitalisme. Diperlukannya pernyebarluasan kesadaran bahwa kapitalismelah penyebab kerusakan lingkungan, yang membuat jutaan manusia mati sia-sia diatas reruntuhan tanah longsor, timbuhan kayu dari banjir bandang, kelaparan, sakit, badai akibat perubahan iklim, dan lainnya. Juga dibutuhkan perluasan pemahaman bahwa kesejahteraan tak mungkin didapat untuk jangka waktu yang lama jika lingkungan tak segera direhabilitasi.

Penyadaran penting dilakukan agar permasalahan lingkungan tidak selalu di pisahkan dari persoalan sosial, politik dan ekonomi. Rakyat perlu memahami, bahwa kerakusan dari sistem penindas hari inilah penyebab utama dari kerusakan lingkungan.

Menyangkut pengganti sistem kapitalisme yang rakus ini, prinsip-prinsip sosialisme sebagai wujud reorganisasi ekonomi dan produksi secara radikal yang mengabdi pada kebutuhan dan dikontrol serta dijalankan oleh mayoritas rakyat, adalah solusi yang tepat. Namun kita juga tak boleh menutup mata sekaligus belajar dari kegagalan sosialisme di masa lalu yang tidak memperhitungkan dampak lingkungan dari aktivitas perencanaan ekonomi. Mulai saat ini, lingkungan sama pentingnya dengan kemanusiaan. Atas dasar inilah wacana ekososialisme mulai marak dibicarakan kalangan kiri sebagai salah satu karakter sosialisme di abad 21 ini. Kita menginginkan agar alam dikelola melalui cara yang demokratis, tidak anarkis sekadar mengejar pertumbuhan dan melipatgandakan keuntungan. Ketika alam dipelihara secara demokratis, bukan hanya segelintir orang yang mendapat manfaat, melainkan seluruh umat manusia, generasi masa depan kita, dan anak cucu kita.

Dinarasikan Oleh : Aling Pranajaya, Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

Refrensi :

[1] World Trade Organization

[2] International Monetary Fund

[3] Asian Development Bank

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s