Kaum Muda Harus Mendukung Pembebasan Bangsa Papua

141127202704_papua_640x360_afp_nocreditKaum muda merupakan elemen perjuangan yang tidak dapat ditawar-tawar dalam segala rupanya. Kenapa kaum muda? Karena sejarah diliputi oleh perjuangan kaum muda yang berdedikasi, militan, dan bercita-cita atas pembebasan umat manusia. Kaum muda tidak dipandang umur serta gendernya, selama dia bertekad dengan sepenuh jiwa atas perjuangannya, maka layaklah dia disebut kaum muda. Keperluan persatuan kaum muda seluruh dunia merupakan hal yang mendesak, sebab kapitalisme telah menciptakan penghisapan dan disisi lain menciptakan syarat persatuan perjuangan. Hal ini sangat mungkin diwujudkan karena penindasan yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme bukan hanya menimpa suku, agama, dan bangsa tertentu. Akan tetapi, telah mendunia dan menciptakan kontradiksi dari dua kelas yang saling bertentangan dan tak terdamaikan antara borjuis dan kelas buruh. Sosialisme sebagai alternatif dari kapitalisme merupakan agenda mendesak untuk segera diwujudkan. Oleh karena itu, kaum muda yang dimaksud bukanlah pemuda yang sembarangan, melainkan kaum muda yang selalu mendekatkan diri pada kelas tertindas dan berprinsip internasionalisme untuk mewujudkan sosialisme.

Hari ini, dorongan untuk persatuan dan solidaritas pemuda itu kembali menguat dari wilayah timur Indonesia, yakni kepada Bangsa Papua. Kenapa dikatakan sebuah Bangsa? Bukankah Papua sudah merupakan salah satu bagian dari Bangsa Indonesia? Ini pernyataan yang keliru, sebab sejak sebelum dan selama Papua berintegrasi bersama Indonesia, entitas Papua sebagai sebuah bangsa (nation) tidak dapat dipungkiri. Bahkan mobilisasi perlawanan rakyat Papua yang terus meningkat beberapa bulan terakhir untuk melindungi kemanusiaan dan eksplotasi sumber daya alamnya dari penghisapan terus menerus oleh borjuis nasional dan internasional semakin membuktikan entitas papua sebagai sebuah bangsa. Perlawanan yang semakin menguat ini mengambil jalan yang berbeda dari perlawanan yang didorong lama oleh kelompok tua, yang tergabung dalam kelompok bersenjata (TPN – OPM). Melainkan melalui jalan yang lebih damai dan bermartabat lewat metode politik mobilisasi massa untuk seruan Hak Menentukan Nasib Sendiri. Hal ini lagi-lagi dipelopori oleh kaum muda papua yang tergabung dalam kelompok AMP, KNPB, dan Garda Papua. Para pemuda ini pula yang banyak mengembangkan pengertian bahwa perjuangan pembebasan Papua tak bisa dari “belas kasihan” serta “pengakuan internasional” melainkan dari usahan yang tak kenal lelah dari persatuan rakyat dan Bangsa Papua untuk pembebasanya.

Sejarah Bangsa Papua

Sejarah Papua tidak bisa dilepaskan dari masa lalu Indonesia. Papua adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah utara Australia dan merupakan bagian dari wilayah timur Indonesia. Sebagian besar daratan Papua masih berupa hutan belantara. Papua merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland. Sekitar 47% wilayah pulau Papua merupakan bagian dari Indonesia, yaitu yang dikenal sebagai Netherland New Guinea, Irian Barat, West Irian, serta Irian Jaya, dan akhir-akhir ini dikenal sebagai Papua. Sebagian lainnya dari wilayah pulau ini adalah wilayah negara Papua New Guinea (Papua Nugini), yaitu bekas koloni Inggris. Populasi penduduk di antara kedua negara sebetulnya memiliki kekerabatan etnis, tetapi kemudian dipisahkan oleh sebuah garis perbatasan.

Se+erti juga sebagian besar pulau-pulau di Pasifik Selatan lainnya, penduduk Papua berasal dari daratan Asia yang bermigrasi dengan menggunakan kapal laut. Migrasi itu dimulai sejak 30.000 hingga 50.000 tahun yang lalu, dan mengakibatkan mereka berada di luar peradaban Indonesia yang modern, karena mereka tidak mungkin untuk melakukan pelayaran ke pulau-pulau lainnya yang lebih jauh. Para penjelajah Eropa yang pertama kali datang ke Papua, menyebut penduduk setempat sebagai orang Melanesia. Asal kata Melanesia berasal dari kata Yunani, ‘Mela’ yang artinya ‘hitam’, karena kulit mereka berwarna gelap. Kemudian bangsa-bangsa di Asia Tenggara dan juga bangsa Portugis yang berinteraksi secara dekat dengan penduduk Papua, menyebut mereka sebagai orang Papua.[1]

Sebelum dan sesudah menyatunya bangsa Papua dengan Indonesia, banyak masalah yang dihadapi bangsa Papua mulai dari soal rasisme, seksisme, diskriminasi, kemanusiaan, lingkungan, dan hak asasi manusia yang tidak terselesaikan hingga saat ini.

Pada bulan Desember 1949, periode Revolusi Nasional Indonesia, Belanda sepakat untuk mengakui kedaulatan Indonesia atas wilayah bekas Hindia Belanda, dengan pengecualian dari Papua Bagian Barat, dimana Belanda terus mengakui sebagai Nugini Belanda. Pemerintah Indonesia berpendapat bahwa itu adalah negara penerus dari Hindia Belanda dan menginginkan untuk mengakhiri kehadiran kolonial Belanda di Nusantara. Belanda berpendapat bahwa orang Papua dengan etnis yang berbeda dan bahwa Belanda akan terus mengelola wilayah itu sampai mereka mampu menentukan nasib sendiri. Dari tahun 1950 di Belanda dan negara-negara Barat sepakat bahwa Papua harus diberikan sebuah kemerdekaan sebagai negara. Namun karena pertimbangan global, terutama kekhawatiran pemerintahan Kennedy untuk menjaga Indonesia berada pihak mereka dalam situasi Perang Dingin. Amerika Serikat menekan Belanda untuk mengorbankan kemerdekaan Papua dan menyerahkan untuk digabung bersama Indonesia.

Pada tahun 1962, Belanda setuju untuk melepaskan wilayah administrasi PBB sementara, menandatangani Perjanjian New York Agreement, yang termasuk ketentuan referendum yang akan diadakan sebelum 1969. Militer Indonesia yang mengorganisir pemilihan ini, yang disebut Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) pada 1969 untuk menentukan pandangan penduduk lokal untuk masa depan Papua dan Papua Barat; hasilnya adalah mendukung integrasi ke Indonesia. Melanggar Perjanjian antara Indonesia dan Belanda, suara lewat angkat tangan tersebut ditunjukkan di hadapan militer Indonesia, dan hanya melibatkan 1025 orang yang mengangkat tangan dengan dipaksa lewat todongan senjata untuk memilih integrasi dengan Indonesia, jauh lebih sedikit dari 1% orang-orang  yang seharusnya berhak untuk memilih. Keabsahan suara yang kemudian dibantah oleh aktivis kemerdekaan, yang meluncurkan kampanye protes terhadap pendudukan militer Papua Barat oleh Indonesia.[2]

Duduk Persoalan Bangsa Papua

Seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya, pesoalan bangsa Papua saat ini bukan hanya soal pendistribusian ekonomi yang tidak merata secara menyeluruh, tetapi merupakan soal sejarah yang harus dipahami secara keseluruhan. Sejarah menyatunya bangsa Papua dengan Indonesia pun menampakan ketidakdemokratisan Indonesia pada hal tersebut, dengan menggunakan intimidasi militer. Terlebih jika kita gunakan Hukum Dasar (ground law) negara Indonesia, dalam pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa kemerdekaan itu ialah Hak Segala Bangsa. Artinya secara konstitusional negara menjamin hak atas penentuan nasib suatu Bangsa. Namun kondisinya hari ini bangsa Papua berjuang untuk menuntut hak demokratisnya, malah mendapatkan intimidasi, repsesi, penghilangan, dan bahkan pembunuhan. Hal ini sangat wajar terjadi dibawah sistem kapitalisme, dimana Negara secara historis dibentuk sebagai alat penindas bagi kelas yang berkuasa untuk melancarkan kepentingannya. Kapitalis sebagai kelas berkuasa pada situasi hari ini tentu akan menggunakan berbagai cara agar dapat meraih keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memperdulikan persoalan kemanusian dan lingkungan.

Menurut data yang dihimpun oleh LBH Jakarta bersama Jaringan mencatat berbagai pelanggaran hak asasi manusia di papua dari penangkapan, pembunuhan dan pembubaran aksi. Terhitung sejak April 2016 hingga 16 September 2016, total telah terjadi penangkapan terhadap 2.282 orang Papua yan melakukan aksi damai. berbagai penangkapan terus terjadi. Dalam kurun waktu 28 Mei hingga 27 Juli 2016, total terdapat 1.889 demonstran yang ditangkap. Sedangkan terhitung hingga 15 Agustus 2016, terdapat 77 demonstran yang ditangkap.  Penangkapan tersebut dilakukan di beberapa tempat berbeda di Papua dan mayoritas disertai dengan intimidasi dan tindak kekerasan. Dari data yang dihimpun sejak tahun 2012 sampai Juni 2016 terhimpun jumlah penangkapan mencapai 4.198 orang Papua.[3] Papua merupakan provinsi dengan jumlah kasus tertinggi kekerasan terhadap perempuan yakni mencapai 1.360 kasus untuk setiap 10.000 perempuan.[4]

Lebih lanjut pada periode 2009-2010, misalnya Komnas HAM menyatakan terdapat peningkatan kasus kekerasan sebesar 70 persen di Papua. Komnas HAM juga menegaskan bahwa banyak dari kasus kekerasan tersebut dilakukan oleh aparat keamanan Indonesia. Dan menurut laporan dari Koalisi Internasional untuk Papua periode April 2013 hingga desember, 90 persen unjuk rasa pada periode tersebut berujung pada ratusan penangkapan. Lebih dari separuh penangkapan tersebut juga terjadi penyiksaan, penganiayaan, dan perlakuan semena-mena.[5]

Kondisi demikian, menjadi keharusan bagi kaum muda dan rakyat tertindas lainnya, untuk mendukung perjuangan hak menentukan nasib sendiri bagi Bangsa Papua, dengan solidaritas tanpa batas serta mendorong pemahaman akan cita-cita perjuangan yang sebenarnya, yakni mewujudkan masyarakat sosialis. Perjuangan Bangsa Papua harus terus diringi dengan ide-ide sosialis, sebab kaum imprialis-kapitalis siap untuk menerkam Bangsa Papua yang mendorong terulangnya penghisapan dan penindasan.

Mengapa Kaum Muda Perlu Mendukung Pembebasan Bangsa Papua?

Bangsa Papua yang hari demi hari semakin di hisap oleh kolonialisme Indonesia dan Negara Imperialisme lainnya tentu akan semakin sadar akan ketertindasan yang dialami. Eksploitasi sumber daya alam (misalnya:Freeport), pembunuhan dan kriminalisasi gerakan rakyat Papua, diskriminasi rasialisme, dan sebagainya. Bahkan sogokan rezim melalui “Otonomi Khusus” semakin disadari oleh rakyat Papua sebagai ilusi semata. “Otonomi Khusus” telah gagal memberikan kebebasan politik apalagi kesejahteraan bagi rakyat Papua. Proyek pembangunan infrastruktur besar-besaran rezim Jokowi-JK justru akan semakin mempercepat mengerukan sumber daya alam dan kerusakan lingkungan Papua, yang secara ekonomi hanya menguntungkan segelintir elit tetapi tak menjawab pembangunan manusia Papua seutuhnya[6]. Oleh sebab itu, sudah menjadi kemendesakan bagi Bangsa Papua untuk lepas dari penindasan yang dialami sepanjang sejarah lewat Hak Sebuah Bangsa untuk Penentuan Nasib Sendiri.

Para penguasa di Indonesia seperti kebakaran jengot jika gerakan rakyat Papua menuntut hak untuk menentukan nasib sendiri, bahkan hal ini malah direspon dengan refresi dan intimidasi. Padahal dengan menjalankan hak untuk menentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua, ini akan semakin membuktikan bahwa Indonesia adalah Negara demokrasi bukan tirani. Namun tentu saja hal ini tidak mungkin secara mudah diberikan oleh para penguasa Indonesia. Sebab, dengan diterapkannya hak menentukan nasib sendiri bagi Bangsa Papua akan membongkar kejahatan-kejahatan mereka dimasa lalu dan juga akan semakin melemahkan penguasaan mereka atas eksploitasi sumber daya alam dan manusia Papua. Untuk itu, perjuangan dalam menuntaskan revolusi demokratik bagi Bangsa Papua tidak bisa didapat dengan meminta-minta, tapi harus direbut untuk mendapatkan demokrasi yang seutuh-utuhnya. Keberhasilan perjuangan ini jelas akan semakin melemahkan militerisme yang ada di Indonesia, karena benteng militerisme Indonesia sangat kuat di Papua. Bahkan penelitian dan pers Internasional tidak bisa bebas masuk di Papua.

Tentu saja perjuangan rakyat Papua untuk menghapuskan penindasan tidak berhenti pada pembebasan nasional/kemerdekaan. Selama kapitalisme masih ada, maka selama itu pula penindasan dan diskriminasi sosial akan terus terjadi. Artinya, perjuangan kemerdekaan Bangsa Papua harus sejalan dengan perjuangan menumbangkan kapitalisme dan mewujudkan sosialisme. Karena jika tidak terjadi, capaian-capaian yang didapat oleh kelas tertindas akan direbut kembali oleh kapitalis beserta antek-anteknya. Perjuangan ini membutuhkan solidaritas antar kelas tertindas papua dan Indonesia bahkan Internasional dengan prinsip Internasionalisme proletar. Dengan bimbingan organisasi revolusioner yang mengakar kuat pada lapisan kelas tertindas untuk memimpin perjuangan dalam mewujudkan pembebasan manusia atas manusia maupun bangsa atas bangsa.

Kaum muda sebagai bagian dari kelompok sosial yang mempunyai banyak waktu untuk belajar dan mudah menerima serta mengabdikan ide-ide yang berkembang termasuk ide pembebasan seperti Sosialisme, sudah seharusnya mendukung dan bersolidaritas terhadap pembebasan Bangsa Papua. Tentunya dengan pimpinan organisasi muda yang berperspektif sosialisme. Kaum muda Papua telah menunjukkan kepeloporannya ditengah kebuntuan gerakan rakyat di Papua. Sudah seharusnya kita juga turut mendukung sepenuhnya. Sebab, solidaritas akan menang melawan intimidasi, demokrasi akan menang melawan tirani, sosialisme akan menang melawan kapitalisme.[7]

Di Narasikan Oleh : Teduh Panji Prasetya, Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

Tulisan ini pernah di terbitkan dalam koran Suara Progresif (Koran Cetak Lingkar Studi Kerakyatan) Edisi II Bulan November 2016.

 

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Papua / Diakses 08 November 2016

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Konflik_Papua / Diakses 08 November 2016

[3]http://papuaitukita.net/2016/10/pemerintah-jangan-tutupi-pelanggaran-ham-di-papua-dalam-sidang-umum-pbb/ Diakses 08 November 2016

[4]http://www.paud-dikmas.kemdikbud.go.id/bindikmas/berita/papua-tertinggi-dalam-kasus-kekerasan-terhadap-perempuan / Diakses 08 November 2016

[5] Koran Arah Juang, Edisi 8, I-II Oktober 2016 (Kolom Berlawan : Perlawanan Membentuk Bangsa Papua Merdeka)

[6] http://koranpembebasan.org/2016/09/seruan-konsolidasi-rakyat-indonesia-bagi-bangsa-papua/ Di akses 8 November 2016

[7] Koran Arah Juang, Edisi Mei-Juni 2016 (Kolom Prespektif :Perjuangan Kelas Buruh Harus Mendukung Pembebasan Nasiobnal Papua)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s