KRISIS KAPITALISME DAN PEMBANGUNAN PABRIK SEMEN

Untitled-1.jpg
di ambil dari koran Suara Progresif (koran mandiri Lingkar Studi Kerakyatan) Edisi 4

Sejak akhir tahun 1900-an , negara-negara kapitalis seperti juga halnya Indonesia, lebih sering dikecohkan dengan penggunaan istilah ‘globalisasi’’. Yang se akan-akan bahwa tuntutan praktek ekonomi kapitalisme neoliberal adalah tuntutan sejarah, dan agar ekonomi suatu negara dapat berkembang dan beradaptasi dengan perkembangan ekonomi dunia. Tetapi sejarah tidak bisa menggambarkan praktek ekonomi – politik kapitalisme agar tampil bagus dan di terima di hadapan rakyat. di sanalah guna sejarah bagi kita yang ingin memahami kapitalisme.[1]

Dengan dalih globalisasi dan kemajuan teknologi maka sebuah negara dapat di katakan sebagai negara maju namun dari temuan Oxfam, 1 persen orang didunia memiliki kekayaan yang sebanding dengan 99 persen penduduk dunia. Lebih lanjut menurut Oxfam, kekayaan 62 orang terkaya di dunia setara dengan kekayaan 3,5 milyar penduduk termiskin didunia. Di Indonesia saja kekayaan 40 orang terkaya sebesar 680 triliun rupiah atau setara dengan 10,4 persen PDB Indonesia. Kekayaan 40 orang tersebut setara dengan 60 juta rakyat yang paling miskin di Indonesia. Lantas mengapa kesenjangan yang sangat luar biasa tersebut bisa terjadi? Padahal saat ini kemajuan ilmu pegetahuan dan teknologi sudah sangat pesat. Semua itu dapat terjadi karena Kapitalisme atau kapital (modal) merupakan sistem ekonomi politik dimana tanah, sumber daya alam, mesin dan industri pabrik, serta alat-alat produksi lainnya yang dapat memenuhi hajat hidup orang banyak hanya dimiliki secara pribadi. Pemilik modal (kapitalis) tidak mendapatkan alat-alat produksi dengan bekerja keras, dia melakukan usahanya untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Ini yang mengakibatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat dinikmati secara bersama karena dimiiki oleh segelintir orang saja. Kapitalisme dapat dikatakan sebagai kontradiksi pokok dari kesenjangan sosial yang terjadi sampai saat ini.

Dampak dari perkembangan tersebut bisa terlihat sampai hari ini dimana berbagai sendi-sendi kehidupan penting yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti sumber daya alam, pabrik, dan sebagainya dimiliki oleh segelintir kapitalis. Di Indonesia misalnya lihatlah ARB dengan kekayaan yang menyebar se-Nusantara, begitu pula Prabowo, dan para pengusaha lainnya yang masuk daftar orang terkaya di Indonesia ditengah angka kemiskinan yang terus meningkat.

Tentu saja kita tidak bisa serta merta berdamai dengan situasi dan kondisi hari ini. Cepat atau lambat kita akan merasakan dampak langsung dari sistem kapitalisme, karena kapitalisme sudah memasuki berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti kapitalisasi pendidikan, upah pekerja yang tidak layak, mahalnya harga kebutuhan pokok dan sebagainya. Untuk itu perlawanan terhadap penumbangan kapitalisme menjadi kebutuhan, sebab kapitalisme tidak mampu menjawabi situasi masyarakat yang terus berkembang untuk mewujudkan kesejahteraannya. Lebih lanjut, syarat-syarat yang diperlukan untuk membangun dunia baru menjadi kebutuhan bagi setiap gerakan rakyat yang berkembang hari ini.

Kekacauan Produksi dan Krisis

Pertengahan Agustus lalu, seorang Profesor ekonomi dari New York University, Nouriel Roubini, membuat pernyataan yang menggemparkan dunia akademis saat diwawancara oleh The Wall Street Journal. Nouriel Roubini, yang empat tahun lalu membuat prediksi yang akurat tentang krisis global, menganggap teori Karl Marx sangat benar ketika mengatakan bahwa “kapitalisme akan menghancurkan dirinya sendiri”. Pernyataan itu menggemparkan, sebab disampaikan oleh bukanekonom Marxist dan itu tersampaikan di sebuah koran borjuis paling bergengsi. Roubini pun segera dituding sebagai komunis atau setidaknya punya simpati kepada penulis “Das Capital” itu.[1]

Masalah dalam kapitalisme dari awal sudah muncul lewat pemaksaan pada kaum tani untuk menyingkir dari tanah-tanah garapan mereka untuk bersedia menjadi buruh yang di upah rendah dengan jam kerja yang sangat tinggi. Zulkifli, petani yang tergabung dalam Serikat Petani Indonesia (SPI) Mekar Jaya yang mengalami penganiayaan oleh polisi karena ingin melindungi lahan garapannya di Desa Mekar Jaya Kec. Wampu Kab. Langkat.[2] Adalah salah satu contoh bagaimana sesungguhnya sistem ini sama sekali tidak mampu menjamin keberlangsungan hidup umat manusia.

Selain itu kemunculan masalah mendasar dari sistem kapitalisme secara keseluruhan terkuak saat barang-barang sudah tidak lagi mampu di serap oleh pasar (baca : kebutuhan + daya Beli). Barang-barang yang tidak kembali dalam bentuk uang/modal yang lebih besar lagi (akumulasi) telah menyebabkan krisis. Ini adalah kondisi dimana produksi berlebih (Over Produksi), yang sering di sebut sebagai krisis klasik kapitalisme. Namun itu tidak membuat para pemodal berhenti memproduksi barang dagangan. Untuk tetap mempertahankan kapitalisme, kesimpulan kelas pemodal dalam krisis awal ini bukan komoditas yang di kurangi melainkan justru di perbanyak komoditasnya dan di perluas pasarnya. Kesimpulan ini pula yang membuat kapitalisme tumbuh hingga tahap lanjut. kekacauan produksi dalam kapitalisme terjadi karena dalam setiap rencana produksi komoditas, para kapitalis tidak pernah benar-benar mengoreintasikannya pada kebutuhan masyarakat, melainkan pada pasar dan seberapa besar keuntungan yang akan di dapat. Terlebih lagi kapitalis selalu di hadapkan pada persaingan yang menjadi bagian di dalam sistem ekonomi kapitalisme dan membuat setiap kapitalis berlomba-lomba untuk memenangkan pasar.[3]

Selama para kapitalis berlomba-lomba memenangkan keuntungan pasar tanpa di sadari bahwa system ini telah menemui kebuntuan dalam upaya mencari keuntungannya, dalam artian semua barang yang di produksi oleh para kapitalis hanya mampu di beli oleh para kapitalis itu sendiri. Meningkatnya jumlah komoditas melebihi kebutuhan/permintaan akan menurunkan daya beli konsumen, dalam kondisi ini tentu saja sebagai konsumen tidak akan mampu lagi menyerap komoditas yang dihasilkan kapitalis, meskipun budaya membeli terus di genjot sedemikian rupa.

Dalam fase pertumbuhan ekonomi, masyarakat biasanya terlihat sanggup membeli semua komoditas kapitalis, karena mempunyai penghasilan yang cukup dari pekerjaan mereka. Kapitalisme pun terlihat baik-baik saja. Tapi ini hanya penampakan luar yang hakikatnya akan terbongkar dalam fase krisis. Di era krisis, kebusukan kapitalisme tidak bisa di tutupi. Banyak kapitalis yang bangkrut dan mengakibatkan banyaknya pengangguran. Ini berkonsekuensi pula pada tingkat kesejahteraan rakyat dan kemampuan masyarakat dalam menyerap komoditas.

Pabrik Semen dan Siasat Busuk Kapitalisme

Dalam dunia yang sudah terglobalisasi dan terkoneksi satu sama lain, krisis yang menyerang suatu negara dengan sendirinya, baik langsung maupun tidak langsung, akan menyebrang dan mempengaruhi ekonomi negara lain. Apalagi jika yang krisis adalah induk kapitalisme global, yaitu Amerika serikat dan Eropa, tentu akan membawa pengaruh di negara-negara lain di dunia. Pendek kata, ‘jika Amerika bersin, maka bukan cuma airnya yang terkena ke muka kita, tapi juga penyakit demamnya.’ Jika dampak krisis ini dapat sangat merugikan bagi kaum kaya di Indonesia, lantas bagaimana dampaknya terhadap si miskin? tentu saja para kapitalis selalu mengorbankan rakyat dalam setiap krisis untuk menyelamatkan modalnya. Perusahaan-perusahaan malakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), para buruhnya menjadi penganguran, upah buruh yang murah, pemotongan anggaran-anggaran sosial, publik, dan sebagainya. Posisi negara juga semakin vulgar, membela pemilik modal seperti melakukan bailout kepada perusahaan yang sedang kolaps. Atau dalam kondisi krisis, Kapitalisme akan berusaha kembali membangun keuangan di atas sektor industrialisasi yang tentu saja pembangunanya di lakukan di Negara-negara berkembang seperti Indonesia, India, Malaysia dan negara berkembang lainya di benua Asia.

Pembangunan pabrik semen di wilayah Indonesia adalah salah satu upaya bagaimana kapitalisme mencoba memperbaiki kondisi krisisnya. Dalam sistem kapitalisme, daya dorong tujuan utamanya adalah untuk mengakumulasi nilai lebih (Surplus Value), yang dalam dunia modern biasanya berbentuk keuntungan. Sehingga pembangunan pabrik semen di wilayah yang memiliki bahan baku ini tidak lebih dari siasat busuk kapitalis Indonesia demi mengembalikan keseimbangan dalam krisis yang tengah terjadi pada Kapitalisme Global. Dalam artian sederhana, pembangunan pabrik semen bukan untuk memenuhi pembangunan infrastruktur, namun sebagai sarana pemenuhan keuntungan pribadi si pemilik modal. Bagaimana tidak, dalih utama dalam pembangunan pabrik ini adalah agar masyarakat sekitar pembangunan dapat memiliki lapangan pekerjaan baru. Di sinilah siasat busuk dari kapitalisme semakin nyata. Ia menggunakan dalih pembangunan dan lowongan pekerjaan untuk mengilusi kesadaran rakyat. sekenario ini berusaha membangun opoini masyarakyat, seolah-olah dengan pembangunan rakyat akan sejahtera, dengan di bukanya lowongan pekerjaan maka kemiskinan, kriminalitas akan berkurang. Benarkah demikian? Tentu saja tidak. Sekali lagi, inilah siasat busuk dari kelas borjuis untuk mengilusi kesadaran rakyat, demi meningkatkan kekayaanya.

Pertama, pembangunan infrastuktur yang selama ini di dorong oleh pemerintah, jelas-jelas tidak di peruntukkan untuk rakyat. lihatlah bagaimana pemerintah lebih gemar membangun tempat pemberlanjaan seperti mall mewah ketimbang merenovasi pasar-pasar tradisional. Kita juga menyaksikan bagaimana pemerintah malah membangun rell kereta api untuk pengangkutan batu bara dan jalan tol yang jelas-jelas tidak menjadi kebutuhan rakyat. Kedua,  pandangan bahwa pembangunan pabrik semen akan menciptakan adanya lowongan pekerjaan, yang akan mengurangi tingkan kemiskinan dan kriminalitas, jelas keliru. perlu di pahami bahwa, sebagai akibat dari penetrasi kapital, yang masuk sampai kedesa-desa, akan mengakibatkan terjadinya perubahan mode produksi lama dengan mode produksi baru. Dengan demikian masyarakat yang sebelumnya sebagai petani akan tergusur kemudian mau tidak mau harus kehilangan tanahnya dan menjadi pekerja. Lowongan pekerjaan yang di sediakan oleh pabrik semen, tidak akan mampu menampung jumlah pengangguran yang ada. Sehingga, jumlah pengangguran bukan malah berkurang malah semakin tinggi. Dengan begitu tingkat kriminalitas juga akan semakin meningkat. Selain itu, penetrasi kapital yang masuk sampai kedesa-desa juga akan mendorong proses urbanisasi yang berakibat peningkatan masyarakat miskin di daerah perkotaan.

Lebih lanjut, fungsi kars sebagai sumber air sejumlah sungai utama dan  ratusan mata air di pesisir, dasar laut dan di pulau lepas pantai akan menghilang. Dapat di pastikan, jika karst di keruk maka akan terjadi kemarau panjang yang juga akan merugikan sektor pertanian dan perkebuna. tempat hidup flora dan fauna  yang khas ekosistem karts dan berperan menunjang keseimbangan ekosistem serta wilayah cagar budaya, yang sedikitnya mewariskan 37 goa prasejarah dengan artefak atau gambar-gambar prasejarah tertua di Asia Tenggara juga terancam hilang selain itu penopang ekonomi masyarakat dayak dan sekitarnya  berupa hasil hutan non kayu, seperti sarang burung walet, madu hutan dan lainnya juga berpotensi besar untuk hilang.

Namun penolakan terhadap pembagunan pabrik semen kebanyakan di respon dengan mengusung singgel isu yakni soal lingkungan “saja”.  Atau menitipkan perjuangannya pada elit plitik borjuis yang mengkleim diri sebagai wakil rakyat. Mengharapkan wakil-wakil rakyat palsu tersebut tidak akan dapat membawa kemajuan bagi perjuangan rakyat. Lebih jauh karena kesadaran sosial dan ekonomi juga kesadaran politik. Negara pada hakekatnya merupakan representasi dari kelas yang berkuasa, kehadirannya tidak lain adalah untuk menjalankan kepentingan kelas yang berkuasa. Aparatur Negara seperti halnya parlemen merupakan tempat dimana rakyat diilusi dengan demokrasi palsu kelas borjuis. Oleh karena itu rakyat harus merebut sendiri demokrasinya. Mengutip Lenin dalam Pelajaran Dari Revolusi (1910), rakyat harus diyakinkan bahwa “tiada juru selamat dari kayangan (yang) akan turun menyelamatkan; belenggu penindasan hanya bisa dihancurkan dengan tangan kita sendiri”.  Selanjutnya tidak dengan menitipkannya kepada parlemen Negara yang sudah terbukti berulang kali mencuri kemenangan yang telah dicapai oleh rakyat. Melainkan menghancurkan sistem pemerintahan Negara borjuis dan menggantikannya dengan dewan-dewan rakyat.

Kita harus mendorong massa yang terorganisir agar terbangun kesadaran kelasnya dan memahami tugas-tugas mendesaknya. Bagi kita tidaklah cukup hanya dengan menyerukan penolakan terhadap pembangunan pabrik semen dan kerusakan lingkungan. Kita harus menghapuskan sepenuhnya motif produksi yang hanya mengutamakan keuntungan pribadi si pemilik modal. Sehingga kebutuhan sekarang adalah memenangkan ide-ide revolusioner di tengah-tengah rakyat tertindas, secara terus menerus.

Dari krisis ini dapat kita simpulkan bahwa Kapitalisme sendiri yang telah memastikan bahwa sosialisme dapat terjadi. Di dorong oleh revolusi industri kapitalisme menyamaratakan produksi sosial melalui teknologi baru dan menggunakan pembagian kerja, kapitalisme memungkinkan kemampuan memproduksi barang dan jasa semakin maju ke tingkat yang tidak mungkin di bayangkan sebelumnya. Tingkat produksi yang ada telah mampu memenuhi kebutuhan materil setiap rakyat di dunia dan membebaskan rakyat dari keharusan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk kerja melelahkan hanya demi memenuhi kebutuhan hidup dasar.[6]Di tambah ketika apa yang masyarakat miliki untuk memenuhi hidupnya semakin tidak ada lagi selain ‘tenaga kerja’ nya , dalam arti menjadi kelas buruh, maka sebagai kaum sosialis sudah menjadi keharusan untuk memanfaatkan kondisi krisis ini dan kondisi masa yang telah berkontradiksi langsung dengan kapitalisme menjadi massa yang sadar dan terorganisir. Karena masa yang sadar dan terorganisir akan dapat memulai revolusi sosialis itu sendiri.

Ingatlah selama kapitalisme memunculkan cangkul untuk kita menggali kuburnya dan selama pengupayaan membangun kesadaran kelas buruh terus di lakukan maka bukan tidak mungkin kita dapat merebut dan mengambil alih alat produksi serta pabrik-pabrik yang ada, karena tanpa pemilik modal kaum buruh tetap dapat menjalankan aktivitas produksinya, namun tanpa kaum buruh pemilik modal tidak akan bisa menjalankan aktivitas produksinya.

Oleh Fateh Muhammad, Anggota LSK

Tulisan ini pernah di terbitkan dalam koran Suara Progresif (Koran Cetak Lingkar Studi Kerakyatan) Edisi IV Minggu 1 Bulan Desember 2016

Refrensi :

[1] makarrak.blogspot.co.id

[2] http://www.spi.or.id

[3] Sosialisme : Jalan sejati pembebasan manusia hal 13

[4] http://www.change.org

[5] http://www.mongabay.co.id/

[6] Apa yang di perjuangkan di perjuangkan sosialisme hal.38

[1] Sosialisme: Jalan Sejati Pembebasan Manusia,.hal 1

Buku Saku KPO – PRP  : Sosialisme ‘Jalan sejati Pembebasan Manusia

Dipo Negoro  : Apa Yang di Perjuangkan Sosialisme

Web  Makkarak.Blogspot : Krisis Kapitalisme dan dampaknya

Web mongabay : karst-kaltim-terancam-pembangunan-pabrik-semen

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s