Bedah Buku “Apa Yang Diperjuangkan Sosialisme” : Membangun Sel-Sel Sosialis

wp-image-191251462jpg.jpeg

Sabtu (07/01/2017) Lingkar Studi Kerakyatan yang baru saja terbangun, yakni Lingkar Studi Kerakyatan Kutai Timur (LSK Kutim) mengadakan diskusi bedah buku “Apa Yang Diperjuangkan Sosialisme”. Diskusi ini diadakan dalam rangka membangun dan memperkuat perspektif sel-sel sosialis sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem kapitalisme. LSK Kutim mengadakan diskusi tersebut bersama mahasiswa dari beberapa kampus di Kutim. Mahasiswa dalam kesehariannya memiliki banyak waktu untuk belajar dan mengembangkan intelektualitasnya, oleh karena itulah mahasiswa sangat mudah menerima dan mengabdikan ide pembebasan seperti sosialisme. Sebab sosialisme juga sebagai ilmu pengetahuan, dan sebagai ilmu pengetahuan dia dituntut untuk dipelajari. Dalam pendiskusian kali ini dihadiri oleh beberapa mahasiswa dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIS) Sangatta dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Kutai Timur.
Diskusi diawali dengan pemaparan tentang siapa kaum sosialis itu, Febrian sebagai Pemantik menjelaskan bahwa “yang pertama, kaum Sosialis adalah orang yang sangat peduli terhadap ketidakadilan, penderitaan manusia, pencemaran dan perusakan lingkungan hidup di dunia kita. Namun kaum sosialis bukan satu-satunya yang mempunyai perasaan kasihan semacam itu. Hal yang paling membedakan kaum Sosialis dengan yang lainnya adalah kami sangat pecaya bahwa kondisi hari ini dapat berubah. Artinya kondisi ekonomi politik, kerusakan lingkungan, rasisme dan militiresme serta bentuk penindasaan lainnya akan berakhir. Untuk itu kaum sosialis berkepentingan membangun kesadaran rakyat tertindas serta mengorganisir kesadarannya”.

Selain menjelaskan siapa kaum sosialis itu Febrian juga menerangkan bagaimana kapitalisme itu bekerja, “Kapitalisme berarti tanah, sumber daya alam, mesin pabrik dan alat produksi di miliki secara pribadi. Kelas borjuis (pemilik modal) sebagai kelas yang berkuasa dalam sistem kapitalisme selalu menginginkan keuntungan bagi dirinya tanpa memperdulikan bagaimana keuntungan itu di dapat; kerap kali dalam prakteknya keuntungan itu di peroleh dengan cara merusak alam serta menghisap tenaga kerja yang ada, tentu kita masih ingat tentang rencana pembangunan pabrik semen di Kaltim yang akan mengeruk sebagian wilayah Karst yang tentunya akan merusak lingkungan, serta beberapa aksi buruh yang menginginkan kenaikan upah serta hidup layak. Ini membuktikan bahwa sistem kapitalisme merupakan corak produksi yang sangat merugikan umat manusia, sebab melihat segala-galanya bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan sebagai provit (keuntungan).

Di Indonesia  Kekayaan 40 orang pemilik modal paling paling kaya sama dengan total jumlah kekayaan 60 juta rakyat Indonesia yang paling miskin.  kekayaan para pemilik modal tersebut dalam 5 tahun terakhir sejak tahun 2010 naik rata-rata 60 persen setiap tahunnya. Tentu saja selama sistem kapitalisme ini masih ada dan di terapkan sebagai sistem ekonomi dunia maka selama itu pula tembok kesenjangan akan semakin tinggi menjulang.

Selanjutnya, beberapa pertanyaan menarik muncul dari peserta diskusi “Jika kemudian kita telah melakukan revolusi sosialis, atau negara kita telah menjadi negara sosialis maka bagaimana cara negara kita untuk tetap dapat bertahan di tengah-tengah negara kapitalis, ‘’ ujar Akbar salah satu Peserta Diskusi yang berasal dari Sekolah tinggi Ilmu Pertanian  (STIPER).

Kemudian kawan Kautsar Ismail salah satu anggota LSK yang juga bertugas sebagai moderator dalam diskusi kali ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut “Ya , pertanyaan yang cukup menarik dari kawan Akbar, mungkin akan saya jawab sedikit. Kapitalisme itu bung gak mandang kau Indonesia, Cina, Afrika, Papua, bahkan Amerika sekalipun kau tetap di hisap . Tentu saja ide sosialisme atau keberadaan kaum sosialis ini tidak hanya dibangun di Indonesia. Namun ide dan keberadaan kaum sosialis juga tengah ada di luar sana contohnya Kita semua juga tau bahwa beberapa negara telah mencoba mempraktekannya, Uni soviet, Kuba dan yang terakhir adalah Vanezuela telah mencoba menerapkan ideologi sosialisme dalam pembangunan negaranya, secara garis besar aku menyimpulkan bahwa tidak bertahan lamanya ide sosialisme ini di negara tersebut,  terjadi BUKAN karena sosialisme tidak dapat di terapkan di negeri tertentu, atau bahkan di masyarakat dunia lainnya, melainkan karena ada kelas-kelas yang selalu tidak menghendakinya berdiri. Kelas itu adalah kelas yang merasa di rugikan dalam sosialisme, yaitu segelintir kelas borjuis/kapitalis. Semakin tertindas masyarakat maka akan semakin bangkit kesadaran melawan penindasan tersebut, oleh karena penindasan terjadi di seluruh dunia maka yang kita butuhkan agar dapat bertahan adalah bersolidaritas dengan negara-negara sosialis lainnya, membangun kemandirian pangan serta menjaga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dan tentunya produksi yang tidak berlebihan.

Irwan salah satu peserta diskusi yang berasal dari Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam (STAI) Sangatta  juga melontarkan pertanyaan “Bagaiamana caranya kita sebagai mahasiswa yang bekerja untuk mengintervensi atau bergerak melawan kapitalisme ini sementara kita juga membutuhkan pekerjaan namun di satu sisi kita juga ingin bergerak melawannya”

Pertanyaan dari kawan Irwan ini kemudian di tanggapi oleh kawan Vita yang juga sebagai salah satu anggota dari LSK Kutim “yang pertama harus di ingat adalah kita tidak memaksakaan orang-orang yang percaya dengan ide sosialisme ini untuk berhenti bekerja, namun kita harus mengintervensi kesadaran mereka bahwa bekerja dengan sistem seperti ini akan berdampak pada penghisapan terus menerus, oleh karenannya dia yang yakin dengan ide ini tentunya akan berkontribusi langsung terhadap gerakan perjuangan yang ada, minimal ikut membaca buku atau menyumbangkan sedikit uangnya untuk kemajuan organisasi. Dalam LSK sendiri salah satu prinsip kita adalah membangun budaya membaca dan menulis, koran-koran yang ada di hadapan kawan-kawan ini adalah bukti bahwa dalam kondisi bagaimana pun kita tetap bisa melancarkan propaganda melawan kapitalisme melalui tulisan koran perlawanan yang ada”.

Kawan Akbar kemudian melanjutkan dengan memberi tanggapan dalam konteks yang lain “Kesalahan pertama negara kita adalah tidak menggratiskan Pendidikan dan Kesehatan di tengah masyarakat ini berdampak serius terhadap permasalahan yang timbul. Kalau saja Pendidikan dan Kesehatan itu gratis saya yakin pekerjaan seperti bertani dan berkebun masih ada dan para pekerja tersebut akan mempertahankannya, akan tetapi biaya kesehatan dan pendidikan itulah yang mendesak masyarakat untuk bekerja di pabrik, perusahaan dan tentunya meninggalkan lahan-lahannya dan tak jarang lahannya juga ikut terjual, tentu saja dengan bekerja dipabrik mereka berharap akan mendapatkan kesejahterahan”.

Zamy juga menambahkan “saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan kawan Akbar. Pendidikan dan Kesehatan merupakan hal yang sangat urgent dalam suatu negara, contoh kecil sekarang kita kuliah “Gratis” tapi menurut saya itu adalah kepintaran yang licik. Karena didalamnya kita secara tidak langsung ditekan untuk tidak boleh berpandangan kritis terutama kepada kebijakan-kebijakan pemerintah”. Selanjutnya kawan Zamy juga mengajukan pertanyaan, “Sekarang kita sedang berbicara tentang kapitalisme dan menginginkan kehancuran sistem ini, kemudian apa alternatif yang kita tawarkan kepada rakyat tertindas yang sudah nyaman dengan pekerjaannya?”. Kemudian kawan Febrian kembali menanggapi, “Dalam pamflet yang kawan-kawan pegang kita dapat melihat alternatif apa yang dapat di bangun dalam melawan sistem yang tidak mempunyai masa depan ini, Tentu saja untuk melawan sistem yang tidak adil kita harus memberikan tawaran dengan sistem yang lebih adil. Dengan istilah sosialisme yang kita maksud adalah suatu masyarakat dimana individu-individu tidak hanya menikmati hak secara hukum, namun juga sumber daya ekonomi dan kebebasan politik, untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Ini berarti mengganti kapitalisme dengan suatu sistem ekonomi yang tidak dijalankan untuk kepentingan pribadi segelintir orang, sebaliknya sistem ekonomi dimana produksi berdasarkan atas kebutuhan dan kepentingan manusia dan tentunya juga untuk generasi mendatang. Sosialisme juga akan menjamin kesenjangan masyarakat akan hilang karna corak produksi sosialisme adalah corak produksi yang tidak memisahkan antara alat produksi dengan tenaga produksi, serta menjamin tidak ada penghisapan manusia atas manusia”.

Kontradiksi di dalam kapitalisme sendiri yang akan semakin membuktikan sosialisme dapat terwujud, yakni sistem yang tidak pernah terlepas dari krisis akibat produksi berlebih yang terus dibuatnya.  Disaat krisis terjadi rakyat akan semakin sadar akibat kemiskinan dan penindasan yang terus menerus dialaminya, dan akan menyadari bahwa situasi hari ini di dalam sistem kapitalisme tidak sedang baik-baik saja serta mencari alternatif dari keadaan yang terjadi. Namun kesadaran sosialis tidak serta merta muncul dengan sendiri pada lapisan masyarakat tertindas. Butuh intervensi yang sadar dari faktor subjektif, seperti yang dijelaskan dalam buku ini, yakni partai revolusioner. Partai revolusioner yang dimaksud adalah partai yang dapat menjadi ingatan perjuangan kelas buruh dan rakyat tertindas lainnya disepanjang sejarah dalam mewujudkan sosialisme. Tugas mendasar dari partai revolusioner adalah mengorganisir dan membangun kesadaran kelas tertindas, yang terbagi menjadi dua hal penting. Pertama, adalah membangun kejelasan perspektif terhadap apa yang diperjuangkan, yakni klarifikasi ideologi. Termasuk didalamnya adalah melatih kader-kader yang berkomitmen terhadap cita-cita perjuangan. Kedua, adalah mempropagandakan ide-ide sosialisme secara utuh kepada lapisan masyarakat tertindas, meyakinkannya dengan sabar dan terus menerus, serta merekrut lapisan-lapisan termaju untuk turut serta membangun partai revolusioner demi menumbangkan kapitalisme. Hanya dengan demikian sosialisme dapat terwujud, yakni adanya kesiapan faktor objektif dan subjektif.

Sebagai penutup diskusi, moderator menyampaikan bahwa “Dalam hal ini Lingkar Studi Kerakyatan hadir untuk menyiapkan faktor subjektif, sebagai embrio pembangunan organisasi muda sosialis yang juga berkepentingan untuk membangun partai revolusioner. Untuk itu, dalam pendiskusian kali ini kami mengajak kawan-kawan untuk terlibat bersama kami, dalam membangun kembali tradisi ilmiah dan demokratis yang hari ini sudah menjadi aktivitas langka dalam gerakan kaum pemuda/mahasiswa dan rakyat tertindas lainnya. Dengan membudayakan kebiasaan membaca, berdiskusi, dan menulis bagi setiap anggota, serta secara konsisten membangun tradisi revolusioner dengan mendistribusikan Koran, selebaran, mimbar bebas, stand propaganda, dan terus berjuang bersama rakyat tertindas lainnya. Berangkat dari hal tersebut, kami juga menawarkan kepada kawan-kawan berbagai bahan bacaan dan Koran propaganda yang berisikan tentang perkembangan situasi gerakan rakyat dan perspektif pembangunan organisasi muda/mahasiswa serta partai revolusioner. Dalam hal ini adalah Koran Arah Juang dan Koran Suara Progresif”. Kemudian diskusi ditutup dengan salam.

Jayalah Sosialisme!!!

Bangun Kesadaran Kelas Tertindas!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s