Tentang Komoditi

testerKelas Das Kapital merupakan salah satu agenda yang dilaksanakan Lingkar Study Kerakyatan bersama dengan KPO-PRP Samarinda. Memahami isi dari Das Kapital adalah kebutuhan mutlak, agar kaum revolusioner tidak terjebak pada revisionisme (merevisi ajaran Marxis). Karya Marx dan Engels dalam tulisan tersebut merupakan kritik terhadap ekonomi politik yang selanjutnya disebut Das Kapital, isinya memuat bagaimana sistem kapitalisme lahir dan bekerja. Dengan memahami hal tersebut kita sebagai kaum revolusioner akan melawan balik dan mengubah sistem ekonomi politik hari ini. Diskusi diawali dengan eksplorasi dari setiap peserta dilanjutkan dengan proses berdiskusi yang dipandu oleh moderator dengan beberapa point yakni sebagai berikut.

Komoditi adalah segala sesuatu yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia (barang & jasa). Kebutuhan tersebut bisa saja berwujud secara langsung sebagai objek yang dikonsumsi dan secara tidak langsung sebagai alat produksi. kegunaan dari yang berwujud dan tidak berwujud tadilah yang menjadikannya nilai pakai. Nilai pakai merupakan unsur yang terkandung dalam komoditi, Mula-mula manusia menciptakan barang untuk digunakan, kemudian memproduksi barang tersebut, inilah yang disebut sebagai nilai pakai. Oleh karena itu barang diciptakan bukan untuk dibuang (sesuatu yang tidak berguna, demikian pula kerja yang terkandung didalamnya tidak berguna).

Nilai pakai dalam realisasinya dapat diklasifikasikan menjadi dua bentuk, yakni nilai pakai relatif dan nilai pakai universal. Nilai pakai relatif adalah komoditi yang berguna bagi orang-orang tertentu saja. Misalnya, sepatu atau baju bayi yang hanya berguna bagi bayi saja atau sebuah celana dengan ukuran tertentu yang hanya berguna bagi orang-orang yang memiliki ukuran lingkar pinggul tertentu saja. Sedangkan nilai pakai universal adalah komoditi yang berguna bagi siapa saja, misalnya sebuah komputer, note book yang digunakan untuk menggunakan menulis naskah ini, atau kendaraan bermotor.

Segala sesuatu yang berguna dapat dilihat dari dua sudut pandang, yakni kualitas dan kuantitas. Dalam hubungannya dengan nilai pakai, kerja yang terkandung bermakna kualitatif sedangkan hubungan nilai dengan kerja bermakna secara kuantitatif. Saat kita membahas nilai pakai kita tidak berurusan dengan jumlah tertentu, misalnya sekian ton besi tetapi inti dari pemahaman nilai pakai adalah kegunaan dari besi tersebut. Kemudian nampak sebagai hubungan kuantitas, inilah yang menjadi pembawa material nilai tukar. Menurut Marx nilai tukar yang terkandung dalam sebuah komoditi akan tercermin ketika terjadi perjumpaan dengan komoditi lainnya. Mempertukarkan nilai pakai jenis tertentu dengan nilai pakai lainnya. Untuk mempertukarkan komoditi yang bersangkutan harus memiliki nilai pakai yang berbeda dengan nilai pakai dengan komoditi lainnya. Sepatu, misalnya, nilai pakainya berbeda dengan nilai pakai sebuah jas. Apabila sepatu nilai pakainya terletak pada kegunaannya sebagai alas kaki, maka sebuah jas nilai pakainya terletak pada kegunaannya untuk membungkus tubuh. Jadi, ada perbedaan nilai pakai antara sepatu dan jas.

Ketika komoditi saling berjumpa tidak hanya sebagai syarat untuk  nilai tukar, tetapi juga sebagai bentuk penyetara. Misalnya, Dua pasang sepatu nilai tukarnya terkandung di dalam sebuah jas ketika antara sepatu dan jas dipertemukan atau saling berjumpa. Demikian pula sebaliknya, sebuah jas, nilai tukarnya tercermin dalam dua pasang sepatu. Jas tersebut akan berfungsi sebagai penyetara dua pasang sepatu. Pertanyaannya, mengapa secara kuantitas, ada perbedaan antara pertukaran antara sepatu dan jas? Maksudnya, mengapa dua pasang sepatu hanya bisa ditukarkan oleh sebuah jas? Mengapa tidak satu pasang sepatu dan satu buah jas saja yang berlaku dalam pertukaran diantara dua komoditi yang saling berjumpa tersebut?

Adapun kesamaaan yang terkandung dalam tiap komoditi adalah merupakan hasil dari kerja manusia. Di dalam nilai pakai tentu terkandung kerja berguna atau kegiatan produktif, yang merupakan perpaduan dua unsur yakni oleh alam dan kerja. Dengan produktivitas kerja yang dimaksud merupakan produktivitas kerja konkret yang berguna. Namun peningkatan jumlah material (komoditi) dapat bersamaan dengan jatuhnya besaran nilai. Ketika kita mengatakan bahwa nilai komoditi merupakan hasil  kerja tanpa memberikan bentuk nilai yang berbeda dari bentuk asal (alamiahnya) dan dengan menyetarakan kerja yang terkandung dalam setiap komoditi. Saat itu pula telah terjadi pemisahan nilai dengan kerja dan begitupun sebaliknya, inilah yang disebut dengan kerja manusia yang abstrak.

Suatu benda juga dapat menjadi nilai pakai tanpa memiliki nilai apapun. Hal ini terjadi ketika kegunaannya bagi manusia tidak diperantarai kerja. Misalnya udara, padang rumput, Hutan yang tumbuh liar. Begitupun dengan benda hasil kerja manusia dapat berguna tanpa menjadi komoditi. Ketika hasil kerjanya sendiri menciptakan nilai pakai untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan menghasilkan komoditi adalah kerja manusia menghasilkan nilai pakai sosial.

Hubungan untuk mempertukarkan nilai pakai jenis tertentu dengan nilai pakai lainnya memiliki hubungan yang selalu berubah, nampak sebagai kebetulan atau sepenuhnya relatif. Nilai tukar di dalam komoditi merupakan jumlah tertentu dari waktu kerja. Waktu kerja ini akan senantiasa berubah sesuai dengan perubahan dalam produktivitas kerja. Dimana, produktivitas kerja ditentukan oleh bermacam keadaan, antara lain rata-rata derajat kemampuan dan keterampilan pekerja, perkembangan ilmu pengetahuan dan penerapannya, organisasi sosial produksi, alat-alat produksi, serta lingkungan alam.

Misalnya, Dalam hubungan nilai komoditi A= kain lenan dengan komoditi B= jas. Komoditi jas tidak hanya disetarakan dengan kain lenan secara kualitatif tetapi juga dengan jumlah tertentu (kuantitatif). 1 jas di setarakan dengan 20 yard kain lenan (1 jas = 20 yard kain lenan), dengan begitu berarti jumlah masing-masing komoditi memerlukan jumlah dan waktu kerja yang sama.

  1. Kita andaikan bahwa nilai kain lenan berubah, sedangkan nilai jas tak berubah. Jika, waktu kerja yang diperlukan untuk memproduksi kain lenan menjadi dua kali lipat. Karena, ketidaksuburan tanah, maka nilai kain lenan juga akan meningkat dua kali lipat. 20 yard kain lenan = 2 jas, karena sekarang satu jas hanya mengandung setengah jumlah waktu kerja dari 20 yard kain lenan. Sebaliknya jika waktu kerja yang diperlukan untuk memproduksi kain lenan untuk memproduksi kain lenan berkurang separuh. Katakanlah sebagai akibat perbaikan perkakas tenun, maka nilai kain lenan akan jatuh menjadi separuhnya. Dengan begitu persamaan kita akan menjadi 20 yard kain lenan = ½ jas.
  2. Nilai kain lenan tetap (tak berubah), sedangkan nilai jas berubah. Jika dalam keadaan seperti ini, waktu kerja yang diperlukan untuk memproduksi jas menjadi dua kali lipat, katakanlah akibat panen bulu domba yang tidak baik. Maka persamaannya 20 kain lenan = ½ jas. Jika sebaliknya nilai jas turun separuhnya, maka 20 yard kain lenan = 2 jas.

 

Bila kita perbandingkan masalah yang berbeda dalam sub 1 dan 2, maka terlihat bahwa perubahan sama dalam besaran nilai relatif dapat timbul dan sebab-sebab yang bertolak belakang. Persamaan 20 yard kain lenan = 1 jas menjadi 20 kain lenan = 2 jas, disebabkan baik lenan menjadi dua kali lipat maupun karena nilai jas turun separuhnya, dan persamaan itu menjadi 20 yard kain lenan = ½ jas, baik karena nilai kain lenan jadi turun separuhnya atau karena nilai jas naik dua kali lipat.

  1. Katakanlah bahwa jumlah kerja yang diperlukan untuk memproduksi kain lenan dan jas berubah secara serentak dalam arah dan proporsi yang sama, dalam hal ini 20 yard kain lenan tetap setara dengan satu jas.
  2. Waktu kerja yang diperlukan untuk memproduksi kain lenan dan jas, artinya nilai mereka dapat berubah serentak dalam arah yang sama, tetapi dengan derajad yang tidak sama, atau dalam arah berlawanan, dan begitu seterusnya. Pengaruh dan semua kemungkinan kombinasi seperti ini atas nilai relatif suatu komoditi dapat secara mudah ditetapkan dengan menerapkan kasus 1, 2 dan 3.

Perbedaan durasi atau jangka waktu kerja antara komoditi satu dengan yang lainnya inilah yang membuat komoditi memiliki nilai tukar yang berbeda-beda, jika saling dipertukarkan. Artinya perbedaan nilai tukar antar komoditi mencerminkan berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh pekerja untuk mencurahkan kerjanya dalam memproses sebuah komoditi.

Dalam perkembangannya, kita menemukan pernyataan nilai relatif yang tidak lengkap. Rangkaian dari setiap penyetaraan nilai saling berkaitan dan diperpanjang dengan setiap komoditi yang baru diciptakan menjadi nilai baru. Dan itu tidak akan pernah berakhir. Selanjutnya komoditi yang beraneka ragam dan pernyataan nilai yang tiada habisnya, berbeda-beda dari bentuk nilai relatif. Kekurangan-kekurangan bentuk nilai relatiflah, kemudian diperluas pada bentuk penyetara yang bersesuaian.

Misalnya, bentuk 1: 1 jas = 20 yard kain lenan, 10 pon teh = ½ ton besi. Nilai jas dapat dinyatakan dengan kain lenan, dapat disamakan dengan besi, dan begitu seterusnya. Pemakaian kata-kata yang tidak perlu dan terlampau banyak menjadi tidak terelakkan lagi. Bentuk ini dapat dipraktekkan pada tahap awal, ketika hasil kerja dan nilai baru diubah menjadi komoditi.

Bentuk 2, yakni membedakan tiap komoditi dari nilai pakainya sendiri. Dimana jas sudah memiliki nilai yang berbeda dengan bentuk alamiahnya dalam setip bentuk, dan kemudian di setarakan dengan kain lenan, teh, besi dan dengan komoditi lainnya kecuali dirinya sendiri (nilai yang sama). Bentuk nilai ini semakin jelas ketika kerja-kerja khusus seperti ternak yang mulai dipertukarkan dengan komoditi lainnya. Fase pertamakalinya komoditi benar-benar dihubungkan satu sama lain sebagai nilai dan dibiarkan saling bertukar.

Bentuk 3, merupakan bentuk nilai dari gabungan  seluruh komoditi yang saling dipertukarkan, yakni bentuk nilai umum. Suatu komoditi memperoleh pernyataan umum dari nilainya, pada waktu yang bersamaan menjadi setara. Dan setiap komoditi yang baru muncul akan mengikutinya. Misalnya, kain lenan sudah dapat ditukarkan dengan semua komoditi lain, berarti kain lenan sudah dalam bentuk sosial. Dalam bentuk ini bukan hanya hanya dapat dibedakan secara kualitatif tetapi juga dalam bentuk kuantitatif sudah dapat ditentukan. Begitu pula dengan nilai relatif sosial akan menyetarakan kerja pada setiap komoditi (kerja abstrak).

Selanjutnya, bentuk 4. Pada saat komoditi dalam bentuk kesetaraan yang universal. Ada pengecualian bentuk nilai relatif yang mencapai ketetapan obyektif dalam masyarakat umum , yakni jenis komoditi khusus . Nilai relatif yang sebenarnya merupakan pencerminan dari curahan kerja abstrak oleh pekerja pada masing-masing komoditi tersebut, yang mewujud dalam bentuk satu komoditi (kain lenan) sebagai patokan atau kiblat, dalam perkembangannya, nilai relatif ini digantikan dengan emas. Dan sampai saat ini, emas  masih dijadikan sebagai nilai relatif terhadap berbagai interaksi nilai tukar komoditi yang digantikan oleh komoditi khusus yang berfungsi sebagai uang. Atau dengan kata lain emas disepakati secara sosial sebagai nilai relatif yang menjadi patokan atau kiblat dari berbagai nilai tukar yang pada saat ini menubuh dalam bentuk uang sebagai pengganti komoditi. Misalnya, 20 yard kain lenan = 2 ons emas = 2$, maka 20 yard kain lenan = 2$.

Para ahli Ekonom borjuis membuat seolah oleh nilai tukar dalam komoditi adalah roh yang di tiupkan oleh sang maha goib. Mereka selalu berupaya menghilangkan peran serta manusia di dalamnya. Seakan sebuah komoditi dengan sendirinya memiliki nilai tukar, dengan sendirinya punya nilai pakai yang berkualitas. Seakan  hembusan sakti dari tuhanlah yang bisa menyulap kayu menjadi rumah, kapas menjadi baju. Inilah cara yang di gunakan oleh para ahli ekonomi borjuis untuk membawa kita pada kesesatan berpikir. Kemudian Kita seperti sedang menutup mata, berjalan dalam kesesatan berpikir sambil menginjak punggung kelas pekerja. Mengenai ini, akan kita bahas lebih rinci pada kelas selanjutnya (yakni soal : Fethisisme Komoditi dan Rahasianya)

Beruntunglah kita yang telah mengetahui dan berusaha mengubahnya.

Bergabunglah dengan kami pada kelas selanjutnya..

 

Di narasikan oleh, Rey Xander / Anggota LSK

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s