Kritik terhadap Gerakan Moral dan Arti Penting Gerakan Revolusioner

gerakan-moral

Pada hari Kamis 12 Januari 2017, aksi serentak nasional di 19 titik seluruh Indonesia dilakukan oleh mahasiswa yang tergabung dalam Aksi Bela Rakyat 121. Aksi yang dipelopori oleh BEM Seluruh Indonesia (BEM-SI) ini dilakukan karena meningkatnya berbagai harga kebutuhan rakyat di awal tahun 2017 seperti BBM, kesehatan, STNK dan BPKB, cabai merah, dan tarif dasar listrik. Berangkat dari situasi tersebut, Aksi Bela Rakyat 121 bergerak untuk meminta rezim Jokowi-JK agar dapat lebih baik dalam mengelola Negara[1]. Aksi inipun membawa slogan yang sangat bombastis seperti “Reformasi Jilid 2” dan “Merdeka atau Mati”. Refresifitas oleh aparat juga terjadi dibeberapa daerah selama aksi ini berlangsung. Tidak sebombastis slogannya, hasil dari aksi tersebut justru tidak membawa perubahan yang signifikan. Yang terlihat justru mempromosikan program-program pemerintah, dilihat dari Nota Kesepahaman yang ditandatangani oleh Staf Kepresidenan dan Kordinator Pusat BEM-SI[2]. Aksi yang cukup besar secara kuantitas tersebut dengan cepat mengalami kemunduran.

Situasi diatas menggambarkan kecenderungan gerakan yang sering muncul hari ini. Gerakan yang ikhlas, tanpa pamrih, serta siap membela rakyat jika terjadi keresahan dimana-mana. Namun karena berbagai masalah yang dihadapi tersebut tidak kunjung selesai, masalah bukannya berkurang justru semakin bertambah. Akhirnya mereka mengalami demoralisasi dan kembali beraktivitas ke sektor mereka masing-masing. Gerakan seperti inilah yang disebut sebagai Gerakan Moral. Dikatakan Gerakan Moral karena bergerak tidak berdasarkan kondisi material, namun lebih kepada belas kasihan. Seperti pertapa yang turun saat ada persoalan. Membereskan persoalan itu lalu tanpa pamrih kembali kepertapaannya. Dampaknya bergerak dengan menitipkan nasib kepada penguasa yang nota bane penindas itu sendiri. Gerakan moral yang sering kali membesar ini tentunya harus terus diblejeti kekurangannya. Selanjutnya mempropagandakan kepada lapisan massa luas gerakan seperti apa yang seharusnya perlu kita bangun. Agar rakyat tidak terus mengalami degradasi sehingga berdampak kepada pembangunan gerakan yang lebih maju, yakni mewujudkan tatanan masyarakat adil dan makmur secara ilmiah.

Lahirnya Berbagai Karakteristik Gerakan

Dalam masyarakat kapitalis, sumber penghidupan atau alat pruduksi berupa tanah, sumber daya alam, mesin dan industri pabrik, serta alat produksi lainnya yang dapat memenuhi hajat hidup orang banyak hanya dimiliki secara pribadi. Segelintir pemilik modal (kapitalis) yang menguasai berbagai alat produksi ini melakukan usahanya bukan berdasarkan kebutuhan masyarakat, melainkan untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Ini yang mengakibatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah semakin pesat tidak dapat dinikmati secara merata, yang mengakibatkan kesenjangan sosial semakin lebar. Bahkan hingga januari 2016, Oxfam merilis 1 persen orang paling kaya di dunia jauh lebih kaya dari seluruh penduduk dunia[3]. Alampun juga semakin rusak akibat akibat nafsu bejat kapitalis ini, hingga kini pencemaran lingkungan yang semakin menguat selama 30 tahun terakhir jauh melampaui kerusakan lingkungan yang disebebkan aktivitas manusia selama jutaan tahun lalu[4].

Akibat produksi berlebih dan tidak merata, kapitalisme tidak pernah terlepas dari krisis yang semakin membawa rakyat kepada jurang kemiskinan, kebodohan, dan penindasan sistematis lainnya. Penggusuran tanan petani semakin merajalela, jutaan buruh mengalami PHK dan upah murah, subsidi rakyat dipangkas, harga sembako semakin mahal, dan sebagainya. Krisis kapitalisme yang semakin dalam ini yang tidak di sentuh oleh Gerakan Moral, sehingga memisahkan diri dengan sektor rakyat lainnya. Padahal didalam sistem kapitalisme, berbagai elemen rakyat akan semakin sadar atas penderitaan yang dialaminya. Di berbagai daerah dapat kita saksikan gerakan petani semakin meluas untuk mempertahankan lahan yang direbut oleh korporasi, gerakan buruh membentuk berbagai serikat, nelayan mengorganisir dirinya untuk melawan proyek reklamasi. Namun gerakan yang terpisah-pisah seperti ini tentu akan semakin melegitimasi sistem yang berkuasa. Apalagi kapitalis tentu tidak akan rela kekuasaanya direbut secara sukarela. Kapitalis mempertahankan kekuasaanya dengan berbagai aparatus yang dia kuasai seperti menghegemoni kesadaran rakyat melalui media-media besar, mengirim militer dan sipil reaksioner untuk merebut tanah-tanah rakyat, hingga melakukan kriminalisasi terhadap gerakan rakyat yang menguat lewat pasal-pasal karet yang dibuat oleh aparatus-aparatus bayaran mereka diparlemen untuk mempermulus proses akumulasi modal.

Berbagai refresi dalam sistem kapitalisme memunculkan berbagai varian gerakan rakyat yang bergerak melawan mulai dari konservatif, reformis, hingga revolusioner. Pertama Gerakan Konservatif, gerakan ini mengarah kepada politik identitas seperti kesukuan, keagamaan, kebangsaan, dan juga sektor-sektor tertentu seperti agraria, lingkungan, gender, dan sebagainya. Artinya tipe gerakan ini bergerak jika terdapat masalah yang merugikan identitas dan sektor tertentu, serta berjuang untuk sektor mereka saja. Bentuk perlawanannya dilakukan secara terpisah-pisah, sering kali digunakan oleh kapitalis lewat sokongan modal sebagai alat penunjang penindasan untuk memperkuat hegemoninya dengan mempertentangkan masalah satu dengan masalah lainnya (konflik horizontal). Kedua Gerakan Reformis, gerakan ini sudah mulai melihat permasalan yang ada di berbagai sektor. Hanya saja masih memuja kebebasan ditengah masyarakat berkelas (liberal). Mengadvokasi berbagai keresahan yang muncul, hingga akhirnya terus mengalami kekalahan. Melakukan perlawanan terhadap rezim yang berkuasa, namun disatu sisi berharap agar rezim (yang jelas-jelas sebagai penindas) untuk lebih baik, artinya sebagai penitip nasib. Gerakan Moral juga termasuk varian dari gerakan ini. Selain itu, Gerakan Reformis juga tidak melihat kontradiksi pokok kapitalisme sebagai akar permasalahan, justru melakukan berbagai reforma pada kapitalisme agar dapat lebih baik yang kita sadari akan menyiapkan jurang krisis yang lebih mendalam. Ketiga Gerakan Revolusioner, gerakan ini memahami permasalan tidak secara sepotong-sepotong. Membuat kesalinghubungannya dari isu-isu yang berkembang terhadap akar persoalan dari perspektif ekonomi-politik, yakni sistem kapitalisme. Membuat garis demarkasi yang tegas dengan kelas penindas dengan politik kelas, bukan kolaborasi kelas. Melakukan pengorganisiran berbasiskan kepada kesadaran, bukan keresahan. Mendidik masyarakat untuk mewujudkan tatanan masyarakat baru, dimana dijalankan secara demokratis oleh kelas buruh dan rakyat tertindas lainnya, yakni masyarakat sosialis. Ditengah dominasi kesadaran borjuis, gerakan revolusioner dalam posisi yang minoritas. Namun dengan semakin mendalamnya krisis yang terjadi, gerakan revolusioner disaat tertentu bisa meningkat secara signifikan. Tentu kita harus menyiapkan diri disaat situasi tersebut terjadi.

Lemahnya Iman Gerakan Moral

Di Indonesia, tipe gerakan moral mulai mendominasi semenjak rezim otoriter Orde Baru (Orba) berkuasa. Pasca kemerdekaan, berbagai sektor gerakan rakyat  terus berkembang untuk menuntaskan revolusi nasional. Bahkan bisa disebut sebagai gerakan politik karena terus berpolemik untuk perebutan kekuasaan Negara. Berbagai organisasi yang berkembang memiliki afiliasi terhadap partai politiknya masing-masing. Gerakan yang berkembang masif pasca kemerdekaan itu dibalik sedemikian rupa oleh rezim otoriter orba pasca tahun 1965. Berbagai gerakan rakyat yang dituduh punya kedekatan politik dengan partai komunis dihancurkan, dan menyisakan gerakan yang tidak membahayakan rezim pemerintah. Memang sengaja dibiarkan untuk memberi wajah sipil dan oposisi kepada rezim militer orba didunia Internasional. Sebab, salah satu ciri dari negara demokratis adalah mempunyai oposisi. Dalam hal ini, rezim orba menciptakan oposisi mereka sendiri, yakni mahasiswa. Sementara gerakan rakyat lainnya dibumihanguskan, gerakan mahasiswa diperbolehkan bersuara. Inilah yang membuat legitimasi gerakan mahasiswa sebagai ‘penyambung lidah rakyat’ bertahan hingga kini. Gerakan harus murni, netral, gerakan sebagai kelompok penekan dan gerakan intelektual yang memisahkan dirinya dari rakyat.

Gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral ini pula yang membawa rezim militer orde baru ke tampuk kekuasaan, yakni berbagai organisasi mahasiswa religius konservatif yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang dikenal dengan angkatan 66. Gerakan mahasiswa angkatan 66 ini memiliki pengaruh besar dalam melegitimasi pemenjaraan dan pembantaian jutaan rakyat yang dituduh komunis. Organisasi yang tergabung dalam KAMI sendiri sebelumnya memang kalah dominasi dari gerakan mahasiswa nasionalis dan komunis. Setelah rezim orde baru berkuasa mantan aktivis KAMI ini yang banyak menduduki kursi pemerintahan sebagai hadiah kemenangan mereka, yang juga berperan dalam membuka keran investasi bagi kapital global untuk masuk ke Indonesia.

Praktis gerakan mahasiswa dan rakyat yang berkembang pasca 65 adalah gerakan yang hanya diperbolehkan, bahkan diakomodir hanya sampai pada batas yang diijinkan oleh penguasa dan tidak mengancam stabilitasnya. Eksistensi gerakan moral mulai mulai menguat, dimana mahasiswa turun ke jalan jika terlihat negara mengalami masalah dan kembali ke kampus ketika masalah tersebut sudah selesai. Misalnya, kritik mahasiswa terkait dengan kasus korupsi pemerintah, kemudian langsung diakomodir oleh rezim orde baru dengan membentuk ‘Komisi Empat’ atau Komite Anti Korupsi (KAK)[5]. Tetapi, saat kritik mahasiswa sudah berada diluar panggung yang ditentukan, saat kritik sudah mengancam stabilitas politik, maka gerakan mahasiswa tidak segan-segan diberantas oleh orde baru. Hal tersebutlah yang kita jumpai dalam peristiwa Malari yang dilanjutkan dengan kebijakan NKK/BKK. Dimana mahasiswa di dorong untuk kembali ke sarangnya, yakni belajar didalam kampus dan dijauhkan dari aktivitas politik. Dominasi kesadaran yang dibuat oleh rezim orde baru kepada gerakan mahasiswa bertahan hingga kini, gerakan yang spontanis dan sektarian. Situasi historis tersebut yang tidak dipahami dengan baik oleh gerakan mahasiswa sekarang, sehingga mereka seringkali mengulangi sejarah yang telah berkali-kali gagal.

Hari ini varian gerakan moral didominasi oleh gerakan mahasiswa sisa-sisa produk NKK/BKK Orde Baru, yakni berbagai organisasi yang tergabung dalam BEM Seluruh Indonesia (BEM-SI). Seperti yang sebelumnya kita saksikan pada tanggal 20 mei 2015 lalu, BEM SI menuntut agar Jokowi-JK turun dari jabatannya, tetapi setelah di undang oleh Jokowi makan di istana tuntutannya berubah menjadi “mengawal kebijakan Jokowi-JK”[6]. Terlihat sekali membuat besar gerakan agar dapat mendekatkan diri pada elit yang berkuasa, seperti yang terjadi pada gerakan mahasiswa angkatan 66. Yang terbaru pada aksi BEM-SI 12 Januari 2017 lalu, dengan menggunakan slogan yang sangat bombastis seperti “Reformasi Jilid 2” dan “Merdeka atau Mati”. Setelah mendapatkan nota kesepahaman dengan pemerintah, dengan sekejap gerakan tersebut menurun untuk mengawal hasil pertemuan, yang terlihat hasilnya justru mempromosikan program-program pemerintah, bukan merubah secara signifikan. Alhasil gerakan mahasiswa kembali lagi kepertapaannya belajar dikampus masing-masing. Melakukan program kerja organisasi yang jauh dari permasahan rakyat, melakukan berbagai event organisir, mengemis bantuan dana pada korporasi, mengundang berbagai artis dan militer untuk masuk ke dalam kampus, dan sebagainya. Contohnya di Universitas Mulawarman pada 20 Januari 2017 lalu, baru seminggu setelah aksi 121 militer langsung mendapatkan ruang didalam kampus untuk mengisi materi “Kuliah Umum”[7].

Padahal proses kemerdekaan dan reformasi di Indonesia, perjuangannya dilakukan bukan dengan kompromi, tetapi berhadap-hadapan dengan penguasa. Berjuang secara teguh dan selalu mendekatkan diri kepada kelas tertindas untuk merebut kekuasaan, bukan mengemis kepada penguasa yang jelas-jelas sebagai penindas. Dapat kita saksikan pada rezim Jokowi-Jk hari ini di isi oleh antek-antek rezim otoriter orde baru. Wiranto sebagai Menkopolhukam memiliki keterkaitan pada kasus pelanggaran HAM penembakan Tri Sakti I dan II, Hendrepriyono menjadi kepala BIN saat pembunuhan aktivis HAM Munir, Surya Paloh sebagai antek Orba dan borjuasi media massa berperan dalam pemberangusan kepada jurnalis yang ingin mendirikan serikat, Aburizal Bakrie yang pernah menjadi bagian dari korporasi Bakrie Group bertanggung jawab atas kasus lumpur lapindo[8]. Lemahnya Iman perjuangan gerakan moral selain karena tidak melihat basis material kapitalisme juga tidak melihat posisi negara sebagai perpanjangan tangan kelas berkuasa (borjuis) untuk melanggengkan kekuasaanya. Perjuangan demikian tentu semakin melegitimasi penindasan.

Kepentingan Membangun Gerakan dan Organisasi Revolusioner

Sejarah sudah membuktikan bagaimana berbahanya gerakan mahasiswa dan rakyat yang mengambil kosepsi gerakan moral. Bukannya dapat merubah kesenjangan sosial yang terjadi secara signifikan, justru menjadi alat bagi kelas berkuasa untuk melegitimasi kekuasaannya. Hal ini dikarenakan konsepsi gerakan moral lebih menekankan pada kekuatan moral (belas kasihan) dari pada kekuatan politik. Gerakan mahasiswa merupakan wajah dari gerakan moral yang berkembang saat ini. Konsep gerakan yang tidak boleh pamrih dengan kekuasaan, gerakan harus tulus, murni, non partisan, bergerak sebagai kelompok penekan serta gerakan mahasiswa sebagai gerakan intelektual. Selain itu, dengan slogan-slogan yang menganggap diri mereka sebagai hero atau begawan sehingga memisahkan diri dengan gerakan rakyat lainnya seperti mahasiswa adalah agen perubahan, pemimpin masa depan, kelas menengah yang menghubungkan antara kepentingan rakyat dan penguasa, agen kontrol sosial dan sebagainya. Muncul sebagai aktor politik ketika bangsa sedang krisis, ketika krisis berlalu mahasiswa kembali ke kampus untuk belajar. Padahal semua atribut yang melekat tersebut adalah konstruksi sosial yang diciptakan penguasa, seperti masa orde baru. Gerakan moral yang berkembang juga semakin melanggengkan sistem kapitalisme yang menindas ini, karena menganggap tatanan kapitalisme sudah baik yang dibutuhkan adalah mengkritisi kebijakan-kebijakan yang ada. Pada akhirnya gerakan moral hanya akan menjadi alat peralihan dari satu penguasa ke penguasa lainnya.

Berbagai slogan dan mitos yang berkembang pada gerakan moral seharusnya sudah dibuang ke tempat sampah. Saat ini, gerakan yang dibutuhkan oleh kaum muda dan mahasiswa adalah gerakan politik dan ideologis. Gerakan yang diarahkan untuk berjuang bersama kelas buruh dan rakyat tertindas lainnya dalam melawan kapitalisme. Mengapa bersama kelas buruh? Sebab, kelas buruh inilah kekuatan tenaga produktif dalam sistem kapitalisme yang berkepentingan mewujudkan masyarakat adil dan makmur secara ilmiah. Tentu bukan mahasiswa agen perubahan seperti slogan bombastis gerakan moral selama ini, karena dibandingkan dengan kelas buruh jumlah mahasiswa hanya sebagian kecil. Ploretarisasi (pergeseran menjadi buruh) adalah konsekuensi logis dalam sistem kapitalisme termasuk kepada mahasiswa. Mayoritas dari mahasiswa tentunya akan menjadi kelas buruh dikemudian hari, misalnya mendaftarkan diri ke berbagai lembaga kapitalis besar (termasuk negara) ketika dia lulus nanti.

Ini mengharuskan gerakan kaum muda dan mahasiswa memiliki ideologi yang tepat sebagai arah perjuangannya. Ideologi yang dimaksud adalah sosialisme, karena hanya sosialisme satu-satunya alternatif ilmiah dari kapitalisme. Sosialisme akan menjadi kekuatan bagi kaum muda dan mahasiswa mempraktekkan perjuangannya bersama kelas buruh dan rakyat tertindas lainnya. Dengan teori-teori sosialisme, mahasiswa tidak lagi bergerak hanya dengan mengadvokasi berbagai keresahan, memenangkan isu lokal, dan melakukan perlawanan terpisah-pisah lainnya sebagaimana gerakan moral turun gunung jika masalah terjadi. Melainkan menarik kesalinghubungan berbagai masalah kepada akar persoalan, yakni sistem kapitalisme. Ini semua tidak bisa dilakukan disaat menjadi mahasiswa saja, tidak jarang setelah lulus mahasiswa justru kehilangan semangat perlawanan bahkan menjadi penindas baru akibat tidak memiliki perspektif tepat. Hanya dengan sosialisme kaum muda dan mahasiswa mendapat jalan untuk menjadi revolusioner seumur hidupnya[9].

Namun memahami ide sosialisme, memiliki perspektif kelas dan berjuang untuk menarik kesalinghubungan pada isu-isu tertentu saja tidaklah cukup. Tidak ada diantara kita yang dapat memahami dan merubah situasi secara keseluruhan sendirian. Apalagi ditengah gempuran ideologi borjuis. Kesemuanya itu dapat dilakukan jika kaum muda dan mahasiswa terlibat aktif dan terpimpin secara kolektif di dalam pembangunan organisasi revolusioner. Dengan organisasi revolusioner kaum muda dan mahasiswa dapat melakukan perjuangan mewujudkan masyarakat sosialis secara sistematis dan terorganisir. Melakukan pengorganisiran berbasiskan kesadaran, membangun sel-sel diskusi, membuat propaganda rutin lewat koran revolusioner, mengisi perspektif untuk menarik kesalinghubungan setiap situasi yang berkembang, memenangkan lapisan-lapisan maju dan sadar kelas untuk terlibat dalam pembangunan organisasi revolusioner, serta membangun kontak dengan organisasi revolusioner diberbagai negara dengan perspektif internasionalisme.

Dengan gerakan dan organisasi revolusioner, gerakan mahasiswa dan rakyat tertindas lainnya tidak lagi mengulang kesalahan-kesalahan dari masa lalu sebagaimana gerakan moral. Tetapi dapat terus mengkualitaskan perjuangannya tahap demi tahap dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur, yakni masyarakat sosialis. Dimana dijalankan secara demokratis oleh kelas buruh dan rakyat tertindas lainnya.

Di Narasikan Oleh : Teduh Panji Prasetya dan Tirta Adi Wijaya, Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

Tulisan ini akan diterbikan dalam Koran Suara Progresif (Koran Cetak Lingkar Studi Kerakyatan) Edisi VIII Januari 2017

Referensi :

[1] http://www.netralnews.com/news/nasional/read/47524/digelar.di.19.titik..aksi.bela.rakyat.121, di akses tanggal 21 Januari 2017

[2] FB : BEM Seluruh Indonesia, di akses tanggal 12 Januari 2017

[3] file:///E:/Tulisan%20Koran/Koreksi%20Tulisan%20Koran/Materi%20Gerakan%20Moral/Satu%20Tahun%20Yang%20Kita%20Lalui%20dan%20Partai%20Revolusioner%20Yang%20Kita%20Butuhkan%20_%20Arah%20Juang.html, di akses tanggal 21 Januari 2017

[4] https://lingkarstudikerakyatan.wordpress.com/2016/11/24/bagaimana-kapitalisme-menghancurkan-bumi/, di akses tanggal 21 Januari 2017

[5] Max Lane : Unifinished Nation

[6][6] http://www.teropongsenayan.com/10389-bem-si-makan-bareng-jokowi-di-istana-malu-maluin, di akses tanggal 21 Januari 2017

[7] http://www.unmul.ac.id/, di akses tanggal 19 Januari 2017

[8] http://www.arahjuang.com/2016/09/16/jokowi-dan-para-pelanggar-ham-sekutunya/, di akses tanggal 21 Januari 2017

[9] http://www.arahjuang.com/2015/09/28/menjadi-kaum-muda-pemberontak-seumur-hidup/, di akses tanggal 21 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s