Peringati International Women’s Day : Bangkitkan Semangat Perjuangan Pembebasan Perempuan

777ff0e2-1190-435b-b58b-f4ca8b3e47cb

Samarinda, Rabu (08/03/2017). Puluhan massa dan berbagai elemen organisasi yang tergabung dalam aliansi menyambut International Women’s Day diantaranya FMK, LSK, SEBUTAN, PEREMPUAN MAHARDHIKA, KPO-PRP, HMJ SOS UNMUL, BEM FISIP UNMUL, dan GMNI menggelar panggung ekspresi perempuan di depan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman (FKIP), jalan gunung kelua, Universitas Mulawarman. Panggung tersebut bertemakan “Bangun Perjuangan Pembebasan Perempuan” Menurut korlap, alasan mereka mengangkat tema tersebut, agar membangkitkan kembali semangat perjuangan perempuan dengan mengambil pelajaran dari sejarah International Women’s Day. Panggung ekspresi perempuan di tampilkan dengan berbagai ekspresi, mulai dari orasi politik, musikalisasi puisi hingga lagu-lagu perlawananan. Orasi politik disampaikan oleh masing-masing perwakilan organisasi.

Dahlia misalnya, anggota dari Perempuan Mahardhika tersebut orang pertama yang menyampaikan orasi politiknya. “Hari ini, kita berdiri dimana kondisi perempuan tidak baik-baik saja. Kita merasakan keresahan yang sama, kekerasan seksual terhadap kaum perempuan semakin meningkat setiap tahunnya dan bisa terjadi dimana saja, kapan saja dan oleh siapapun. Upah yang tidak layak, penggusuran lahan terjadi dimana-mana, pendidikan yang mahal, ini semua konsekuensi dari sistem kapitalisme yang hanya berkepentingan mengakumulasi modal sebesar-besarnya untuk keuntungan pribadi. Serta Negara yang tidak akan berpihak pada rakyat miskin dan kaum perempuan. Oleh karena itu, kita harus bersatu membangun perjuangan pembebasan perempuan dan berhadapan dengan kelas penguasa”

Selanjutnya, Hema, perwakilan Lingkar Study Kerakyatan (LSK) juga turut memberikan orasi politiknya. Menurut hema, Hari Perempuan Internasional merupakan salah satu bukti sejarah perlawanan kaum perempuan berhadapan langsung dengan kelas penguasa, ia juga menyebutkan beberapa keberhasilan yang dicapai oleh perjuangan perempuan saat itu, dimana kaum perempuan bisa masuk ke ruang publik, mendapatkan pendidikan, hingga hak perceraian dan aborsi. Namun begitu, Hema juga tidak menafikkan bahwa penindasan terhadap perempuan hari ini masih terjadi. Anggota LSK tersebut, mengungkapkan bahwa, kaum perempuan tetaplah kelas yang di eksploitasi, karena masih terjadi pemisahan alat dan tenaga produksi.

Dalam selebaran yang di bagikan, juga turut di beberkan beberapa data terkait penindasan perempuan dalam situasi terakhir. “Sampai hari ini, memang terlihat jelas bagaimana diskriminasi terhadap kaum perempuan masih saja terjadi. Di Indonesia menurut Catatan Akhir Tahun 2016 Komnas Perempuan, pemerkosaan terjadi sebanyak 2.399 kasus (72%) pencabulan 601 kasus (18%)  dan pelecehan seksual 166 (5%). Selain itu, kekerasan seksual juga terjadi pada kaum LGBT Data Ardhanary Institute menunjukkan, setidaknya ada 37 kasus kekerasan seksual berbasis Sexual Orientation, Gender Identity, Expression (SOGIE) kepada lesbian, biseksual dan transgender famale to male pada tahun 2014, dan 34 kasus pada tahun 2015. Sedangkan kekerasan seksual terhadap gay dan waria berdasarkan data Gaya Warna Lantera Indonesia pada tahun 2015 berjumlah 26 kasus, dan Suara Kita mencatat 1 kasus pada tahun 2016. Menurut KPAI angka kekerasan seksual terhadap anak semakin tinggi setiap tahunnya, bahkan dari tahun 2013 ke 2014 naik 100 persen. Artist Merdeka Sirait selaku ketua KPAI menyatakan bahwa sekitar 21 juta anak di Indonesia mengalami kekerasan, 58 persen diantaranya menjadi korban kekerasan seksual.

Laporan yang diungkapkan kepala ILO (International Labour Organisation) di tahun 2015 mengambil data dari 178 negara menemukan bahwa tingkat partisipasi perempuan dalam pekerjaan lebih rendah 25,5% dibandingkan partisipasi laki-laki. Dan 6,2% perempuan yang ada di dunia merupakan pengangguran dibandingkan dengan laki-laki yang tidak memiliki pekerjaan 5,5%. Parahnya, laporan tersebut juga menyatakan  bahwa perempuan memiliki jam kerja yang lebih lama dari laki-laki. Diskriminasi terhadap pekerja perempuan, juga terjadi di Negara yang industrinya maju. Semakin banyak kaum perempuan masuk diruang kerja, dimana mereka juga harus bertanggung jawab  atas kerja domestik (peran ganda), namun kesenjangan upah tetap berlaku. Di Eropa misalnya, upah laki-laki dan perempuan  berkisar antara 100 euro (sekitar Rp.1,5 juta) hingga 700 euro (sekitar Rp.10 juta) per bulan” di kutip dari selebaran yang di bagikan.

Perwakilan LSK tersebut, juga menyayangkan beberapa gerakan perempuan yang keliru melihat akar persoalan. “Parahnya, masih saja ada perjuangan perempuan yang melakukan kompromi politik. Seperti capaian menduduki parlemen, menjadi akademisi, dsb. Masih saja yakin dapat mengahapuskan penindasan perempuan dengan menggunakan reforma-reforma dan mengabaikan persatuan gerakan perempuan dengan rakyat tertindas lainnya. Semakin melemahnya gerakan perempuan, ini ditandai dengan mulai adanya pemisahan laki-laki dan perempuan berdasarkan ras, suku, agama, dan psikologi dimana manusia mengalami pengalaman individu-individu yang berbeda. Bagaimana mungkin kita bisa menghapuskan penindasan perempuan hari ini dengan sendiri-sendiri, satu demi satu, bahkan per sektor saja. Kaum perempuan pun semakin di ilusi untuk memusuhi laki-laki oleh kelas borjuis, agar memecah belah gerakan perempuan dan rakyat tertindas lainnya. Padahal sistem hari ini tidak mengenal apapun ras, suku, jenis kelamin, orientasi seksual, dan agamamu. Sistem hari ini hanya mengenal darimana asal kelasmu. Masyarakat pun mengkonsumsi media dari kelas yang berkuasa yakni pemilik modal mengenai penampilan, yang dikembangkan untuk menyediakan dan menjual produk. Kondisi tersebut semakin di perparah dengan kemunculan gerakan perempuan yang menganggap bahwa kemerdekaan kaum perempuan dapat di rebut dengan mengkonsumsi produk-produk kecantikan kapitalis. Inilah gerakan yang dipenuhi dengan konsumerisme, kaum perempuan menganggap mereka dapat membeli kebebasan mereka dan menyakinkan pada setiap perempuan bahwa mereka yang gagal adalah ketidakmampun mereka secara individu. Padahal ini semakin digunakan untuk merendahkan kaum perempuan. Oleh karena itu, gerakan perempuan yang dibangun untuk menghapuskan penindasan yang sangat nyata dirasakan oleh kaum perempuan harus melihat secara utuh darimana asal-usul penindasan perempuan, dan mencabut akarnya yakni masyarakat kelas” Jelas  Hema.

Jamal dari KPO-PRP menyatakan  kekerasan terhadap perempuan, dan diskriminasi gender yang terjadi secara brutal lainnya harus dilawan sekuat dan secepat mungkin. Menurutnya gerakan yang di bangun haruslah mencabut akar permasalahan yakni masyarakat berkelas. Selain itu ia juga menyatakan bahwa gerakan pembebasan perempuan di Indoensia juga berkewajiban untuk mendukung kemerdekaan bangsa papua sebagai hak demokratis. “Tentu saja kita tidak seperti gerakan feminisme borjuis, yang semata-mata menyarankan kesetaraan seks dan gender hanya di pucuk kekuasaan masyarakat. Kita juga menolak logika dalam teori Sarinah yang masih menerima domestifikasi terhadap kaum perempuan sebagai takdir. Tidak benar juga, pandangan dalam teori patriarki yang melihat seolah-oleh penindasan perempuan adalah hasil pernikahan antara kaum laki-laki dan kapitalisme. Sebab, kaum laki-laki dari kelas buruh, juga di hisap oleh perempuan borjuis. Penindasan terhadap kaum perempuan tidak bisa di lihat dari analisis psikologis, melainkan harus di tarik dari garis kelasnya. Sebab, penindasan terhadap perempuan bagaimanapun adalah hasil dari lahirnnya masyarakat kelas. Dengan begitu gerakan pembebasan perempuan berkeharusan untuk bersatu dengan elemen rakyat tertindas lainnya. Termasuk mendukung kebebasan bangsa Papua, sebagai hak demokratis.” ujar Anggota KPO-PRP tersebut, dalam orasi politiknya.

Ade, perwakilan dari FMK menegaskan akan pentingnya sebuah pembangunan partai alternatif. Ia juga menyerukan agar gerakan perjuangan perempuan berkewajiban untuk menolak persekutuan dengan elit politik borjuis. “Negara tidak bisa kita definisikan sebagai suatu entitas yang netral. Negara berada dalam antaonisme kelas yang semakin tajam. Itulah kenapa Negara tidak perah berpihak pada rakyat pekerja dan menyelesaikan penindasan terhadap perempuan. Di lain hal, partai-partai yang ada hari ini, sudah memperlihatkan secara nyata pada kita tentang keahliannya dalam membohongi dan menghianati rakyat. Rakyat perlu membangun sebuah partai alternatif. Tentu saja partai yang akan di bangun, haruslah menolak segala bentuk anasir-anasir kolaborasi kelas”

Berdasarkan informasi yang kami dapat dari Putri-ketua HMJ SOS Unmul. Panggung ekspresi perempuan tersebut merupakan puncak dari rangkaian sebelumnya. “Jauh sebelum panggung ekspresi tersebut di laksanakan, kami juga melakukan diskusi yang bertajuk melawan kekerasan seksual di kampus. Selain dari itu, kami juga melaksanakan mimbar-mimbar bebas di beberapa kampus untuk menggalang massa agar terlibat dalam panggung ekspresi dan memberikan pencerdasan pada mahasiswa tentang arti penting memperingati Hari Perempuan Internasional ” ucap putri.

fca3ff12-f1a4-4a2e-bf06-a535cf388a76

Sehari sebelumnya, mimbar bebas dilakukan di 6 titik dengan fakultas yang berbeda-beda. Angga  salah satu massa aksi perwakilan dari LSK mengatakan massa aksi sempat mendapatkan larangan dari pihak keamanaan kampus untuk mengadakan mimbar bebas di FKIP. Namun, mimbar bebas tetap dilaksanakan, walaupun sempat terjadi adu mulut dengan petugas keamanan kampus.

Di akhir acara Putri selaku Humas aksi menyatakan bahwa, untuk menjaga semangat kawan-kawan yang terlibat dalam mempelajari tentang pejuangan pembebasan perempuan, gabungan dari berbagai organisasi tersebut, akan merencanakan untuk melaksanakan “Sekolah Perempuan”. Kegiatan tersebut di rencanakan untuk memperkuat pemahaman kawan-kawan yang terlibat tentang seksualitas, relasi, dan perjuangan pembebasan perempuan. Panggung ekspresi di tutup pukul 18.36 Wita, dengan meneriakan salam perjuangan. (RX)

8b1d85e0-a9be-4345-8c35-3eefda1cbefb

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s