Aksi Solidaritas Perjuangan Petani Kendeng : STOP INDUSTRI MEMATIKAN

17425841_1909177432655363_3337521329345162652_n

Samarinda, Kamis (23/03/2017), puluhan masa aksi dari berbagai elemen organisasi yang tergabung dalam Forum Satu Bumi melakukan aksi solidaritas terhadap perjuangan Petani Kendeng dalam mempertahankan tanahnya, akibat dari kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh PT. Semen Indonesia di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Minggu lalu dari hari Senin (13/03/17), puluhan Petani Kendeng melakukan aksi pengecoran kaki di depan Istana Negara sebagai simbol protes dan menuntut keberanian Presiden Jokowi untuk menutup pabrik semen PT. Semen Indonesia. Beberapa hari aksi tersebut berlangsung, tuntutan mereka tidak juga dipenuhi oleh pemerintah, sehingga salah satu pejuang kendeng bernama “Jeng Patmi” meninggal dunia dengan dugaan akibat serangan jantung. Inilah yang mengakibatkan solidaritas terhadap perjuangan Petani Kendeng semakin berkobar di berbagai daerah.

Di Samarinda, aksi yang berlangsung di sekitar Taman Samarendah dari pukul 08.00 wita ini, juga dilakukan dengan aksi pengecoran kaki oleh beberapa peserta aksi sebagai simbol solidaritas perjuangan para petani. Tidak hanya itu, sebagian peserta aksi juga mengecat tubuh mereka dengan cat warna hitam yang bertuliskan kata ‘mematikan’. Aksi tersebut mengusung slogan “STOP INDUSTRI MEMATIKAN”. Peserta aksi juga menyerukan perlawanan terhadap kerusakan sumber daya alam akibat industrialisasi yang merusak lingkungan di Kalimantan Timur. Seperti yang tertulis oleh selebaran yang di bagikan peserta aksi :

“Kalimantan Timur adalah salah satu provinsi paling mematikan bagi warganya didunia. Hal itu terjadi karena sudah sejak zaman kolonial sekitar 1894 Tanah Borneo sudah melakukan ekstraksi pada tubuh alamnya melalui pembongkaran minyak dan gas alam yang hingga saat ini terus terjadi. Lebih dari satu abad berlalu, Kaltim hingga hari ini masih mengandalkan perekonomiannya dengan bersandar pada ekonomi mematikan seperti penebangan pohon HTI dan HPH, pengerukan batubara dan pembukaan lahan sawit. Sejak 2014 terakhir tercatat 232 lubang tambang menganga di Kota Samarinda, kerugian yang muncul karena adanya eksploitasi batubara di Kukar sejak 2013 mencapai Rp581,43 triliun, dari 1.460 IUP di Kaltim 60%-nya tidak menyetor jaminan reklamasi dan 1.205 IUP mengemplang tidak membayar iuran tetap dan royalty kepada negara hingga merugikan negara sebesar 3,35 miliar, rencana penghancuran di Kawasan Benteng Alam Karst di Kaltim dengan mengeluarkan 16 izin pertambangan batu gamping di Kabupaten Berau dan Kutim serta 1 izin pembangunan pabrik semen dan ancaman dari pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit pada kawasan gambut yang juga tidak kalah penting sebagai penyangga ekosistem di Kaltim.”

Lebih lanjut, selebaran tersebut juga menggambarkan tentang luasnya industri yang merusak ruang hidup rakyat di Kalimantan Timur :

“Kaltim seluas 12,7 hektare, 46 persen atau setara 5,2 juta hektare ternyata diperuntukkan untuk kawasan tambang. Sementara, luas perkebunan 3,37 juta hektare. Dari angka-angka ini menunjukkan bahwa tidak lebih dari 4,27 juta Ha adalah ruang hidup yang harus kita bagi untuk rumah ibadah, rumah sakit dan sekolah, jalan dan pasar serta taman bermain dan pemukiman dengan jumlah penduduk 3,4 juta jiwa.”

Pak Akmal, perwakilan dari kelompok tani di Kecamatan Muara Jawa yang terlibat dalam aksi tersebut, dalam orasinya menyatakan dukungan terhadap perjuangan Petani Kendeng.

“Penderitaan yang dirasakan oleh petani Kendeng adalah juga penderitaan yang dihadapi oleh petani di Kalimantan Timur.  Di Muara Jawa, Perusahaan PT.PKU milik Luhut Binsar Pandjaitan menggusur 6 kelompok tani di 3 Kecamatan. Praktek perampasan lahan dilakukan perusahaan dengan merusak tanah tumbuh kelompok tani. Dengan kondisi ini, para penguasa tidak berpihak sama sekali terhadap petani, melainkan lebih berpihak kepada korporat. Terbukti dari penegakan hukum yang berkembang, prosesnya lebih cepat jika yang mengadu adalah korporat. Sebaliknya jika para petani yang mengadu, prosesnya dibuat berbelit-belit bahkan tidak membuahkan hasil. Aparat keamanan juga terlihat justru lebih mengayomi korporasi daripada para petani. Petani yang memperjuangkan haknya sering kali mendapatkan intimidasi. Padahal apa yang kita makan sekarang ini adalah hasil buah dari kerja petani” tegas Pak Akmal.

Selanjutnya, orator perwakilan dari Jatam Kaltim menyampaikan kekecewaannya terhadap sikap Presiden Jokowi yang seolah lepas tangan terhadap persoalan pembangunan pabrik Semen di Kendeng.

“Berbagai industi yang selama ini menjadi pilihan adalah industri tidak terbarukan yang seringkali menimbulkan banyak masalah. Ancaman terhadap kesehatan dan juga kerusakan lingkungan. Di sisi lain, kita turut memberikan solidaritas terhadap perjuangan yang dilakukan petani Kendeng yang sudah mendapat kepastian hukum. Namun, negara hari ini justru tidak menghormati keputusan hukum dan tidak menunjukkan keberpihakannya kepada perjuangan petani” ungkap orator tersebut.

Peserta aksi yang terdiri dari berbagai organisasi seperti kelompok tani, organisasi mahasiswa, dan NGO/LSM lainnya secara bergantian melakukan orasi. Mereka menyampaikan kekecewaannya terhadap rezim pemerintah dan menyerukan berbagai elemen gerakan untuk menguatkan solidaritas dalam melawan kesewenang-wenangan. Angga, perwakilan dari Lingkar Studi Kerakyatan (LSK) dalam orasinya menjelaskan pandangannya bahwa pembangunan industrialisasi yang merusak adalah konsekuensi logis dari situasi ekonomi politik, yakni krisis kapitalisme.

“Kapitalisme karena watak produksinya yang bersifat ekspansi, eksploitasi, dan akumulasi yang tidak pernah menyesuaikan dengan kebutuhan rakyat, mengakibatkan dirinya selalu terjebak dalam krisis. Kapitalis nasional yang bekerja sama dengan imperialisme dan kapitalisme internasional dalam upaya menyelamatkan krisisnya, akan selalu mencari sumber komoditi baru untuk dimonopoli. Biasanya monopoli ini diarahkan ke negara dunia ketiga yang industrinya masih terbelakang seperti Indonesia. Dimana tanah dan alamnya masih begitu luas untuk terus di eksploitasi, proses ini bisa kita sebut sebagai akumulasi primitif. Inilah yang mengakibatkan banyaknya konflik agraria seperti penggusuran lahan petani terjadi diberbagai daerah di Indonesia seperti di Rembang, Muara Jawa, Surokonto, dan sebagainya. Pembangunan pabrik semen dengan iming-iming kesejahteraan adalah ilusi dari rezim pemerintah untuk memuluskan proses akumulasi modal.” Tegas Angga.

Perwakilan dari LSK tersebut juga menegaskan bahwa perjuangan kita harus terus menguatkan persatuan dengan gerakan rakyat lainnya dalam melawan sistem yang menindas.

“Untuk itu, perjuangan mewujudkan kesejahteraan sejati akan dimungkinkan bukan hanya merebut hak atas tanah, karena selama kapitalisme masih ada, alat produksi seperti bibit dan teknologi serta distribusi hasil pertanian masihlah dikuasai oleh para pemodal. Karenanya, perjuangan kita harus dimajukan dalam melawan sistem yang menindas ini. Hal tersebut dapat dilakukan jika para petani menggalang persatuan dengan rakyat tertindas lainnya seperti mahasiswa, nelayan, kaum miskin kota, dan khususnya pada kelas buruh. Serikat buruh KASBI sendiri juga mengatakan dalam solidaritasnya, bahwa Buruh di PT. Semen Indonesia banyak tak dipenuhi hak-haknya. Kelas buruh ini adalah aliansi strategis dari kaum tani, yang nantinya akan menjadi Dewan Tani dan Dewan Buruh yang mewujud menjadi Dewan Pekerja, sehingga akan menggantikan sepenuhnya sistem Negara borjuis yang dikuasai para pemodal dengan demokrasi ploretariat, yakni demokrasinya rakyat tertindas. Dewan tersebut akan menentukan sendiri barang yang akan diproduksi sesuai dengan kebutuhan rakyat, sehingga krisis tidak akan terjadi lagi seperti halnya sistem kapitalisme. Dengan demikian, kesejahteraan rakyat akan terwujud secara ilmiah, sebab tidak akan berubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri yang tidak merubahnya ” Ungkap Angga.

17458009_10210871417114049_315798506073178934_n

Selain orasi politik, aksi solidaritas terhadap perjuangan Petani Kendeng ini juga di isi dengan lantunan puisi serta lagu-lagu perjuangan. Meninggalnya Bu Patmi dalam perjuangannya merupakan tugas historis dalam melawan gerak kapital. Bahkan, Bu Yatmi dan para petani lainnya mengatakan bahwa perjuangan ini bukan hanya untuk kita saja, tetapi untuk anak cucu kita kelak agar dapat menikmati hasil alam yang dikelola sesuai kebutuhan untuk kesejahteraan bersama.

Hingga pukul 11.30 wita masa aksipun akhirnya mengakhiri aksi solidaritasnya. Rencananya masa aksi yang tergabung dalam Forum Satu Bumi ini dalam waktu dekat akan melakukan aksi yang lebih besar. Aksi tersebut ditutup dengan Doa atas meningalnya Bu Patmi yang dipimpin oleh perwakilan dari Front Nahdiyin Kaltim, serta meneguhkan sikap untuk terus berada pada garis perjuangan melawan industri mematikan. (TAW)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s