Fetishisme, Komoditi dan Rahasianya

a0ba884f-9df1-4fc5-af31-ca7dbb55a435
Sumber : industri.bisnis.com

Dalam kelas das kapital sebelumnya, kita telah mengulas tentang bagaimana sifat utama dari komodiri serta bentuk-bentuk nilai yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana yang juga telah kita ketahui bahwa komoditi adalah hasil kerja manusia, dan dengannya memiliki kesaling-hungungan dengan komoditi satu dan yang lainnya. Mula-mula benda-benda kegunaan yang menjadi komoditi, adalah produk dari kerja individu-individu perseorangan secara tidak bergantung satu-sama lain. Menurut marx gabungan dari kerja individu ini adalah kerja masyarakat. Ketika komoditi memasuki tahap pertukaran, disinilah interaksi sosial terjadi.

Suatu barang akan terlihat biasa-biasa saja jika ia tidak memiliki nilai pakai maupun nilai tukar. Namun jika ia berubah menjadi komoditi yaitu memiliki nilai pakai dan nilai tukar ia secara alamiah menjadi komoditi yang didewakan/dipuja. Apakah kita memandang komoditi ini dengan sifat memuaskan kebutuhan manusia saja ataukah komoditi tersebut adalah bentuk kerja manusia. Contoh manusia mengubah bahan alam seperti kayu menjadi meja. Disaat meja tersebut menjadi komoditi maka terlihat jelas adanya kerja manusia tercurah didalamnya. Sifat komoditi adalah pertama-tama, ia berasal dari pencurahan otak manusia, syaraf-syaraf, otot-otot dan organ-organ pengindra. Kedua, ia berasal dari lamanya/durasi pencurahan atau kuantitas kerja itu sendiri. Disaat komoditi-komoditi tersebut dipertukarkan menggunakan sifat komoditi, tercapailah nilai tukar yang relatif. Contohnya satu meter kain lenan sama nilainya dengan dua sepatu. Dua sepatu sama nilainya dengan tiga celana. Maka satu meter kain lenan bisa sama nilainya dengan tiga celana. Semua kerja disitu adalah kerja abstrak manusia dan ini juga berangkat dari kesepakatan sosial.

Muculnya fetishisme ini dikarenakan saat komoditi (nilai penyetara universal) yang mampu ditukarkan oleh banyak komoditi dijadikan kiblat pertukaran dan komoditi tersebut didewakan/dipuja oleh manusia. Sehingga komoditi-komoditi yang dipertukarkan pun menghilangkan sifat aslinya komoditi yaitu berasal dari pencurahan otak manusia, syaraf-syaraf, otot-otot dan organ-organ pengindra, lamanya/durasi pencurahan atau kuantitas kerja itu sendiri serta adanya kerja sosial didalamanya. Yang dimaksud kerja sosial adalah kerja-kerja dari berbagai individu untuk menjadikan komoditi, itulah yang dikatakan kerja sosial. Contohnya untuk membuat baju penjahit membutuhkan beberapa meter kain, benang, jarum dan sebagainya. Setelah menjadi baju, baju tersebut dianggap ‘buatan’ si penjahit. Disitu telah melupakan bahwa ada kerja-kerja manusia lainnya/kerja sosial dalam membuat kain, benang, jarum dan sebagainya.

Sehingga Fetisisme adalah mitos atau khayalan. Di dalam dunia pertukaran antar komoditi fetisisme ini sekarang sering muncul dari kalangan ilmuwan-ekonom borjuis. Menurut ekonom borjuis komoditi sebagai kekuatan alat tukar terhadap komoditi lainnya, kekuatannya tersebut muncul dengan sendirinya. Dan karena dia muncul secara spontan dengan sendirinya, maka kemunculannya tersebut diamini oleh manusia dan kemudiaan, akhirnya, nilai tukar yang terkandung dalam komoditi tersebut disepakati secara sosial. Para ekonom borjuis tidak melihat adanya curahan kerja dari pekerja yang memproduksi komoditi yang kemudian mendorong berbagai nilai yang dikandung oleh komoditi tersebut. Anggapan dari para ekonom borjuis yang menganggap bahwa nilai tukar yang terkandung di dalam komoditi terlepas dari curahan kerja para pekerja tersebut, oleh Karl Marx diistilahkan dengan para ekonom vulgar yang terperangkap dalam kesadaran fetisisme.

Sebagaimana telah di ulas sebelumnya, bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam komoditi, seperti nilai pakai, nilai tukar, dan nilai relatif kemunculannya di dorong oleh aktivitas para pekerja yang mencurahkan kerjanya pada suatu obyek (alam) demi untuk terciptanya atau terproduksinya sebuah komoditi. Jadi, tidak benar apabila nilai-nilai yang terkandung di dalam komoditi tersebut muncul dengan sendirinya. Para ekonom borjuis, dengan mengatakan seperti itu, seakan-akan ingin menyampaikan bahwa nilai tukar yang terkandung di dalam komoditi itu adalah roh yang ditiupkan oleh Tuhan ke dalam tubuh-ragawi komoditi. Suatu prilaku yang sangat menggelikan.

Dapat ditarik kesimpulan bahwasannya dalam perkembangan ekonomi borjuis kerja kerja sosial dalam membuat komoditi yang telah dilakukan dikaburkan menjadi kerja individu, dan menjadi klaim pribadi, sehingga fetishisme melegalkan itu.

Di Narasikan oleh : Riani Ju, Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s