Proses Pertukaran

 

e88b0acd-d46e-4ef0-9b1a-ac19a5af8096
http://www.pidipedia.com

Kali ini hasil diskusi kelas Das Kapital jilid satu akan membahas proses pertukaran. Semenjak manusia mulai hidup menetap (sebelumnya manusia melakukan aktivitas dengan cara berburu dan berpindah-pindah), dengan ditemukannya corak produksi pertanian, maka hasil produksi tersebut mengalami kelebihan produksi (surplus produksi), membawa pemikiran manusia untuk mempertukarkan hasil produksinya dengan yang lainnya melalui proses pertukaran. Proses pertukaran awal manusia masih tradisional, yakni dengan cara barter. Mula-mula manusia melakukan proses pertukaran karena demi memenuhi kebutuhan tiap masing-masing kelompok/klan. Sejarah barter dapat ditelusuri kembali pada tahun 6000 SM. Barter merupakan kegiatan tukar-menukar komoditi yang terjadi tanpa perantaraan uang, sebagai alat tukar. Pola hubungan pertukaran ini, masih saling berkebutuhan, dimana tiap kelompok bertukar satu komoditi dengan komoditi lain, sesuai dengan kebutuhan kelompok tersebut, aktivitas pertukaran tersebut masih bersifat komunal, karena komoditi yang pertukarkan hanya mempunyai nilai-guna (tanpa nilai-tukar) bagi kelompok tersebut. hubungan pertukaran ini adalah antara subjek (manusia)  dan objek (barang). Karena sebuah komoditi tidak bernyawa dan tidak dapat melakukan proses pertukaran, oleh karenanya perlu peran manusia untuk mempertukarkan antar komoditi satu dengan komoditi yang lain. Hubungan pertukaran ini bersifat yuridikal (atau hubungan dua kehendak) yang sudah disepakati  oleh dua kelompok tersebut satu sama lain, melalui kesepakatan sosial antar kelompok.

Pertukaran produk-produk secara langsung mempunyai bentuk pernyataan nilai sederhana pada satu seginya, tetapi masih belum dalam segi lainnya. Bentuk itu adalah x barang (komoditi) A = y barang (komoditi) B. Bentuk pertukaran langsung produk-produk adalah: x nilai-pakai A nilai pakai B. Disini barang-barang A dan B masih belum merupakan komoditi, melainkan menjadi komoditi hanya melalui pertukaran. Sederhananya sebuah komoditi dapat dikatakan komoditi apabila telah melalui proses pertukaran. Kita andaikan bahwa satu kelompok ingin melakukan pertukaran ikan sebanyak 5 Kg dengan 10 Kg beras dengan kelompok lainnya. Karena komoditi tidak dapat dipertukarkan dengan nilai pakai yang sama (ikan dengan ikan, dlsb), dia harus dipertukarkan dengan komoditi lain sesuai nilai pakai yang dibutuhkan kelompoknya. Proses pertukaran ini terjadi karena kesepakatan bersama antar satu dengan yang lainnya.

Perkembangan motif pertukaran dengan cara barter mengalami perubahan, karena kesulitan yang dialami oleh manusia dalam barter adalah kesulitan mempertemukan orang-orang yang saling membutuhkan dalam waktu bersamaan. Kesulitan itu telah mendorong manusia untuk menciptakan kemudahan dalam hal pertukaran, dengan menetapkan benda-benda tertentu sebagai alat tukar, yakni sebagai nilai penyetara antar komoditi satu dengan komoditi lainnya. Salah satu wujud alat tukar tersebut adalah emas sebagai penyatara universal. Disamping dorongan manusia untuk dapat menciptakan kemudahan dalam proses pertukaran maka terwujudlah bentuk pasar yang dapat mepertemukan kelompok satu dengan kelompok lainnya dalam melakukan pertukaran komoditi. Meski demikian bentuk pasar yang kita pahami bukan bentuk pasar seperti pengandaian ilmuan borjuis yang mengatakan bahwa pasar merupakan tempat terjadinya proses interaksi antara konsumen dan produsen (pembeli-penjual), tetapi pasar dapat dimaknai sebagai proses terjadinya pertukaran komoditi melalui kesepakatan secara sosial. Dan pada proses inilah pasar digunakan sebagai pusat perdagangan. Dengan demikian, syarat dalam proses pertukaran bukan hanya pasar tetapi juga komoditi universal (penyetara),  sesama tetangga (klan) juga merupakan pasar dalam aktivitas proses pertukaran.

Dengan adanya penyetara universal yakni emas, maka proses pertukaran sudah mencakup pasar yang lebih luas  melebihi (batas wilayah/klan). Karena ada perwujudan nilai penyetara universal akan menghubungkan komoditi yang satu dengan komoditi yang lainnya. Hal ini juga berkonsekuensi pada perubahan aktivitas produksi masyarakat. Pada perkembangan ini manusia tidak lagi memproduksi komoditi untuk kebutuhan hidupnya, tapi untuk memproduksi uang (atau dengan kata lain penumpukan uang). Proses pertukaran yang sudah berkembang ini merupakan terjadi karena adanya kesepakatan sosial (hukum yuridikal) antar masyarakat yang memiliki komoditi untuk dipertukarkan. Pada dasarnya Komoditi tidak bisa sepenuhnya dapat disetarakan nilainya, misalnya klan A ingin mempertukarkan ikan dengan jagung dengan ukuran tertentu dengan klan B, karena proses ini mempertimbangkan “curahan kerja” pada setiap masing-masing komoditi, hal ini berkenaan dengan waktu kerja dalam memproduksi komoditi tersebut. Dengan demikian maka muncul komoditi sebagai nilai setara untuk mempertemukan komoditi satu dengan yang lainnya, yakni alat tukar, emas menjadi kiblat, hal ini pula mendorong terjadinya pasar dalam melampaui batas-batas wilayah, karena klan satu dengan yang lainnya mempunyai kebutuhan komoditi yang berbeda, maka perlu pasar lebih luas, dan juga menghubungkan antar komoditi terjadi.

Jika kita melihat kondisinya hari ini, proses pertukaran tidak hanya melibatkan komoditi yang berwujud seperti barang dagangan (pangan dan teknologi), tetapi juga manusia yang dijadikan komoditi oleh pihak pemilik modal (kapitalis), perwujudan ini dapat kita lihat dimana terjadinya proses perdagangan manusia untuk dijadikan tenaga kerja, manusia dianggap bernilai dari kelas kapitalis hanya kerja yang dicurahkannya saja namun kelayakan yang diterima oleh kelas pekerja sangat jauh dari perwujudan humanisasi (kemanusiaan) yang dialaminya. Hal ini pada dasarnya memang tidak terlepas dari motif perlakuan kelas kapitalis, yakni akumulasi, ekspansi, dan eksploitasi yang memberlakukannya pada alam maupun manusia. Wujud yang dialami oleh kelas pekerja adalah upah yang tidak layak diberikan oleh kelas kapitalis, hal ini berujung pada daya beli kelas pekerja yang minim ditengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, hutang adalah bagian yang tidak terlewatkan oleh kelas pekerja, fungsi hutang ini beguna untuk kelas kapitalis agar dapat terus mengeksploitasi kelas pekerja selama masih terus produktif dalam aktivitas produksinya. Disinilah merupakan bagian dari proses pertukaran (perdagangan) yang dialami manusia, yakni kelas pekerja (buruh), mereka dipisahkan dari alat produksinya dan dimonopoli oleh bagian kecil manusia yang dinamakan kelas kapitalis.

Di Narasikan oleh : Teduh Panji Prasetya, Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s