PERUBAHAN UANG MENJADI KAPITAL

29ca2463-d3e7-48fa-85f5-d74d69ceec75
Sumber : Teropongsenayan.com

RUMUS UMUM KAPITAL

Perdagangan merupakan dasar historikal yang di atasnya ia berdiri proses pertukaran nilai pakai. Ketika barang di jual menjadi uang, dan uang di rubah kembali untuk di beli barang (B-U-B). Sebaliknya ketika uang berubah menjadi barang dan barang menjadi uang (U-B-U). Inilah yang menjadi dasar dari kemunculan kapital. B-U-B adalah proses untuk mendapatkan barang (komoditi) lainnya dengan perantara uang. Sementara U-B-U adalah proses untuk menciptakan kapital dengan perantara barang, artinya barang di beli dan di jual dengan harga yang lebih mahal.

Dalam rumus B-U-B adalah pertukaran untuk kebutuhan, kenapa uang menjadi perantara di dalam pemenuhan kebutuhan ? Karena semenjak uang menjadi komoditi yang memiliki nilai penyetara universal maka setiap komoditi yang di pertukarkan mensyaratkan pertukaran terhadap uang terlebih dahulu.  Sementara U-B-U barang sebagai perantara berfungsi sebagai penciptaan nilai lebih. Inilah yang di katakan Marx proses yang tidak produktif, dan proses yang menipu serta tidak masuk akal.

Nilai lebih lahir dari ketika si pemilik uang, menaikkan harga komoditi yang dia beli, melebihi harga dari yang semula. Meningkatnya besaran harga tersebut, dengan begitu pemilik uang telah merubah komoditi sebagai kapital. Pemilik uang, atau si kapitalis, tidak menjadikan nilai pakai sebagai tujuan utama. Karena komoditi tidak di gunakan untuk di pakai, melainkan untuk meningkatkan uang yang dia keluarkan.

Sebagaimana Allah Bapak membedakan dirinya dari dirinya sendiri sebagai Allah Putra seperti perantara. Proses ini seperti komoditi hanya dijadikan nilai lebih, 100 rb dengan 110 rb sebenarnya sama. Namun perantara dan motif peningkatan nilai lebih tersebutlah yang telah membuatnya seolah-olah berbeda. Bapak mengirim putranya kepada manusia. Kenapa Allah Bapak itu tidak menyampaikan titahnya (wahyunya) secara langsung? Dengan begitu ia seakan-akan membedakannya dengan sang putra.

Membeli untuk menjual, atau lebih tepatnya membeli untuk menjual lebih mahal “U-B-U” merupakan rumus umum bagi kapital, dan juga menjadi suatu bentuk khas dari kapital para pedagang. Meskipun dalam kapital industri adalah untuk uang juga, yang merubah (menjual) suatu komoditi menjadi uang yang lebih banyak.

KONTRADIKSI-KONTRADIKSI DALAM RUMUS UMUM KAPITAL

Bentuk peredaran, yang di dalamnya uang ditransformasi menjadi kapital, berkontradiksi dengan semua hukum sebelumnya mengenai sifat komoditi, nilai, uang dan bahkan sifat peredaran itu sendiri. Peningkatan nilai lebih telah melanggar hukum komoditi sebagai kebutuhan. Nilai lebih juga telah melanggar nilai utama dalam komoditi, yakni tenaga kerja dan waktu kerja. Selain itu, nilai lebih juga telah mengabaikan fungsi uang sebagai penyetara nilai-nilai dan alat untuk mengukur harga suatu komoditi.

Selama masalahnya berhubungan dengan nilai pakai maka kedua belah pihak (pembeli dan penjual) di untungkan. Itulah kenapa selama perubahan komoditi hanya menyangkut perubahan bentuk nilai, maka ia niscaya menyangkut pertukaran-pertukaran.

Ekonom borjuis, yang mengungkapkan bahwa proses pertukarkan sudah semestinya menjadi ruang bagi peningkatan nilai lebih. Kemudian hal Inilah yang di benarkan oleh Condilac. Ia menganggap bahwa tidak benar dalam pertukaran terjadi pertukaran nilai yang setara. Condilac telah mengabaikan kemunculan secara historis dari fungsi pertukaran, nilai, uang dan peredaran itu sendiri. Marx kemudian mengkritik hal tersebut dengan mengungkapkan bahwa proses dimana penjualan komoditi dengan lebih tinggi dari pada nilianya hanyalah untuk mendapatkan kembali (dengan menipu) suatu bagian dari uang yang telah di berikan. Seperti dijelaskan selanjutnya oleh Marx, tipuan yang terjadi, seperti halnya di kerjaan Romawi dimana provinisi-provinsi kecil harus membayar upeti kepada romawi, sebab kerjaan romawi yang paling berkuasa. Namun dalam proses pertukaraan komoditi tertentu kelompok provinsi kecil ini, menjual komoditi dengan harga mahal atau dengan nilai lebih yang tinggi kepada Romawi. Disinilah tipuan terjadi, sebab uang yang dipakai Romawi untuk membeli komoditi tersebut merupakan uang upeti yang didapatkan dengan cuma-cuma dari kelompok provinsi kecil-kecil ini.

“Perang adalah perampokan, perdagangan adalah penipuan” ujar Franklin. Kapital pedagang dan kapital yang menghasilkan bunga adalah bentuk derivatif dan sekaligus menjadi jelas, bahwa kedua bentuk itu, lahir sebagai bentuk kapital modern. Dimana, bentuk U-B-U adalah semurni-murninya kapital saudagar sejati, seluruh gerakan ini berlangsung di dalam lingkungan peredaran. Sementara itu, pada kapital riba bentuk U-B-U direduksi menjadi ujung-ujung tanpa antara, yakni U-U, uang yang ditukarkan dengan uang yang lebih banyak, uang menjadi sumber keuntungannya. Uang tidak lagi dipergunakan sebagaimana tujuan ia diciptakan untuk pertukaran komoditi. Tetapi, bunga berarti uang, lebih banyak uang. Inilah yang menjadi embrio dari sistem bunga atau kapital finans yang berkembang dalam kapital modern sekarang.

Selanjutnya, nilai-nilai dalam peredaran tidak bisa di naikkan dalam proses pertukaran dalam distribusi. Pada proses pertukaran nilai yang beredar itu tidak bertambah sedikitpun. Apa yang ada adalah pembagian distribusi, meskipun di satu pihak terjadi kerugian dan keuntungan di lain pihak.

Kapital atau nilai lebih tidak dapat lahir dari peredaran dan sama mustahil baginya untuk lahir kecuali dari peredaran. Ia mesti mempunyai asal-usulnya dalam peredaran maupun tidak dalam peredaran. Diluar peredaran, hubungan dari komoditi dan komoditi itu sendiri, yakni waktu dan tenaga kerja yang di butuhkan. Kapitalis mengambil nilai lebih dari tenaga dan waktu kerja yang di curi dari para pekerja.

Dengan begitu kita mendapatkan suatu hasil rangkap. Perubahan uang menjadi kapital mesti di kembangkan berdasarkan hukum-hukum pertukaran komoditi itu sendiri, sehingga titik pangkalnya adalah pertukaran kesetaraan-kesetaraan itu. Pembentukan kapital harus mungkin, sekalipun harga dan nilai suatu komoditi itu sama. Hal itu tidak dapat dijelaskan dengan mengacu pada sesuatu perbedaan antara harga dan nilai. Jika harga itu benar-benar berbeda dari nilai-nilai, maka kita terlebih dahulu harus mengembalikan yang tersebut duluan pada yang tersebut belakangan. Yaitu mengabaikan situasi ini sebagai situasi kebetulan untuk mengamati gejala pembentukan kapital atas dasar pertukaran komoditi dalam kemurniannya dan untuk mencegah pengamatan kita dicampuri situasi-situasi kebetulan yang mengganggu dan tidak relevan dengan arah sesungguhnya dari proses itu.

PEMBELIAN DAN PENJUALAN TENAGA KERJA

Pemilik komoditi membutuhkan tenaga kerja, untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas dari komoditinya. Sebaliknya tenaga kerja tidak memiliki komoditi, melainkan hanya tenaga sebagai komoditi untuk di jual. Seperti halnya komoditi lainnya, tenaga kerja tidak dapat memiliki nilai tukar jika tidak di lempar dalam proses peredaran (pasar), sebagai penjual tenaga kerjanya sendiri. Seperti yang diungkapkan Sismondi bahwa “Kemampuan kerja bukan apa-apa, kecuali jika ia dijual”.

Seperti budak menjual tenaganya selama 24 jam, untuk meningkatkan keuntungan pemilik komiditi. Ini berkaitan dengan undang-undang yang mengatur sistem kontrak pada saat itu. Misalnya saja seorang budak harus bekerja selama 24 jam, dan secara turun-temurun harus bekerja kepada pemilik komoditi karena memiliki utang, untuk membayar utang hanya bisa diperoleh dari menjual tenaga kerjanya saja. Sementara dalam masyarakat kapitalis, kelas kapitalis harus memperlakukan para pekerja seoalah-olah mampu memenuhi kebutuhannya dengan upah yang di berikan oleh di kapitalis, membuat dirinya seolah bebas bekerja untuk dirinya sendiri. Padahal upah yang di berikan oleh pemilik komoditi, tidak sebanding dengan tenaga dan waktu yang di keluarkan oleh para pekerja, dan dia bekerja untuk meningkatkan nilai lebih bagi pemilik komoditi. Dengan demikian ia dapat mengalienasi para pekerja dan menghindari penolakan hak-hak kepemilikan pribadi atas pemilik komoditi.

Selanjutnya, bagaimana nilai tenaga kerja ditentukan? Nilai tenaga kerja ditentukan seperti juga komoditi lain, yakni seharusnya dari waktu kerja perlu dan tanaga yang dicurahkan untuk memproduksi komoditi. Oleh karenanya, produksi komoditi mensyaratkan keberadaan dari kehidupan tenaga kerja. Sementara dalam masyarakat kapitalis sekarang, nilai tenaga kerja (gaji) tidak berangkat dari curahan kerja yang tercurah dari para pekerja, tapi di ukur dari nilai lebih yang di dapat oleh kapitalis. Padahal, beberapa jam saja pekerja memproduksi komoditi, hasil tersebut sudah dapat mencukupi gaji para pekerja. Nilai lebih bagi kapitalis juga di dapat dari banyaknya waktu yang digunakan oleh pekerja untuk memproduksi komoditi.

Tenaga kerja sebagai manusia bisa sakit dan mati sehingga bisa menganggu proses transformasi uang menjadi kapital di dalam pasar. Untuk itu, pengembangbiakan atau reproduksi tenaga kerja sangat diperlukan oleh pemilik komoditi. Ini diperlukan juga untuk menciptakan tenaga kerja yang segar dan sehat, serta dapat memiliki keterampilan dan kecekatan dalam mengelola cabang industri tertentu, yang maju dan istimewa. Oleh karena itulah, anak-anak para pekerja yang segar sangat di bina oleh pemilik komoditi untuk menggantikan para pekerja yang sudah tidak produktif (sakit, cacat, tua, dsb). Pemilik komoditi menciptakan suatu pendidikan dan pelatihan-pelatihan khusus, seperti sekolah-sekolah, universitas, kursus-kursus tertentu, dan sebagainya, untuk para pekerja baru ini agar kelak dapat menjalankan proses produksi. Biaya-biaya pendidikan ini berbeda-beda menurut derajat kerumitannya. Biaya ini juga menjadi proses total nilai yang dikeluarkan untuk memproduksi komoditi.

Di semua negeri dimana produksi kapitalis berkuasa, kebiasannya adalah pekerja akan dibayar setelah ia berfungsi dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan dalam kontrak (kerja). Dengan demikian, pekerja memberikan terlebih dahulu (kredit = uang muka) nilai pakai tenaga kerjanya kepada si kapitalis. Ia membiarkan pembeli menkonsumsi tenaga kerjanya sebelum ia menerima pembayaran harga. Dimana pekerja memberikan kredit kepada si kapitalis. Tenaga kerja sudah dijual, meskipun baru dibayar kemudian. Proses ini bukan proses yang tidak beresiko, karena sewaktu-waktu pekerja bisa saja kehilangan upahnya. Misalnya pada saat kapitalisme krisis dan si kapitalis mengalami kebangkrutan, para pekerja bisa mendapatkan upah yang murah, pemutusan hubungan kerja, dan sebagainya seperti yang sering terjadi sekarang.

Lingkungan peredaran atau pertukaran komoditi adalah alam khusus bagi Kebebasan, Persamaan, Hak-pemilikan, dan Bentham. Kebebasan : karena pembeli maupun penjual suatu komoditi seperti tenaga kerja, hanya ditentukan oleh kemauan bebas masing-masing sendiri. Mereka membuat kontrak sebagai orang-orang yang bebas yang sederajat di mata hukum. Persamaan : karena mereka bertemu satu sama lain hanya sebagai pemilik sederhana komoditi dan mereka menukar kesetaraan dengan kesetaraan. Hak milik : karena masing-masing hanya berkuasa atas miliknya sendiri . Bentham : karena masing-masing hanya memikirkan dirinya sendiri. Kekuatan yang menghubungkan mereka satu sama lain adalah egoisme, kepentingan diri masing-masing. Inilah yang terjadi dalam masyarakat kapitalis hari ini, yang membuat dia juga bertahan. Sebab masyarakat khususnya pekerja hanya sibuk memikirkan dirinya masing-masing, belum menyadari bahwa dirinya adalah kelas yang berkepentingan merombak struktur ekonomi politik kapitalisme.

Rangkuman Hasil Diskusi Kelas Das Kapital

Di Narasikan oleh : Tirta Adi Wijaya, Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s