UANG ATAU PEREDARAN KOMODITI

9dfdb163-74ce-40ed-b727-65d2f44bcfa1
http://www.maschun.com

UKURAN NILAI

Pada bagian awal marx membuka pembahasan mengenai uang atau peredaran dengan menjelaskan alasannya memilih emas untuk menjelaskan uang yang secara imajiner memliki nilai penyetara universal. Fungsi emas yang terutama adalah memberikan bahan pada komoditi tertentu pernyataan untuk mewakili nilai-nilai sebagai besaran yang secara kualitatif setara dan secara kuantitatif dapat di persamakan. Dengan begitu emas berfungsi sebagai suatu ukuran nilai universal. Komoditi kesetaraan yang secara khusus tersebut lebih lanjut menjadi uang.

Pernyataan nilai suatu komoditi dalam emas – x komoditi A=y komoditi uang – adalah bentuk uangnya atau harganya. Komoditi setara emas memiliki sifat uang. Pernyataan nilai relatif yang diperluas, deretan tak berujung dari kersetaraan-kesetaraan, telah menjadi bentuk nilai relatif yang khas dari komoditi uang. Namun deretan tak berujung tersebut kini telah menjadi kenyataan tertentu dalam masyarakat dalam bentuk harga-harga.

Uang sebagai ukuran nilai menurut marx adalah keharusan bentuk/ fenomenal dari ukuran nilai yang tetap ada dalam komoditi, yaitu waktu kerja. Karena pengambilan bentuk komoditi berarti diferensiasi (proses) menjadi komoditi (di satu pihak) dan komoditi uang (di pihak lain). Mengenai hal tersebut marx lebih lanjut mengungkapkan bahwa owen berusaha menghindar dari keniscayaan kondis-kondisi bentuk produksi kemudian bermain sulap dengan uang. Menurut marx “uang kerja” owen, tidak lebih uang daripada selembar tiket untuk (menonton) teater.

Lebih lanjut marx berpendapat bahwa pernyataan nilai komoditi dalam emas hanyalah tindakan ideal semata-mata. Dalam fungsinya sebagai ukuran nilai, uang hanya berlaku dalam kapasiatas imajiner atau ideal. Sebagai ukuran nilai dan standar harga, uang menunaikan dua fungsi yang sama sekali berbeda. Pertama, ia merupakan ukuran nilai sebagai penjelmaan sosial kerja manusia. Selanjutnya, ia merupakan standar harga sebagai suatu kuantitas logam dengan satu berat yang di tentukan. Sebagai ukuran nilai, ia berlaku untuk mengubah nilai-nilai semua komoditi menjadi harga-harga, menjadi kuantitas-kuantitas emas imajiner. Sebagai standar harga, ia mengukur jumlah-jumlah emas tersebut.

Namun demikian, untuk standar harga, suatu berat emas tertentu mesti di tetapkan sebagai satuan ukurannya. Manakala kuantitas-kuatitas dominasi yang sama, mesti di ukur. Stabilitas suatu ukuran yang tetap adalah sangat menentukan. Semakin sedikit satuan ukuran itu (suatu kuantitas emas) berubah-ubah, semakin baik standar harga itu memenuhi fungsinya. Tetapi, emas dapat berlaku sebagai ukuran nilai hanya karena ia sendiri adalah suatu produk kerja, dan karenanya potensial variable dalam nilai. Perubahan dalam nilai emas tidak mempengaruhi fungsinya sebagai suatu standar harga. Inilah alasan marx mengasumsikan emas adalah komodoti uang.

Karena berbagai sebab, nama-nama uang dari berbagai berat logam mulia secara berangsur-angsur dipisahkan dari nama-nama berat asli mereka. Untuk itu, marx membaginya menjadi tiga sebab utama yang menentukan pembentukan nama-nama uang tersebut secara historikal. Pertama, pemberlakuan uang asing, di kalangan komunitas-komunitas yang kurang berkembang. Ini terjadi di Roma pada zaman awalnya, ketika mata uang emas dan perak mula-mula beredar sebagai komoditi asing. Nama-nama mata uang asing tersebut, tidak pernah bertepatan dengan nama berat-berat pribumi. Kedua, bersama dengan meningkatnnya kekayaan material, logam mulia yang kurang berharga di gusur oleh logam mulia yang lebih berharga dari tempatnya sebagai ukuran nilai. Perak mengusir tembaga, emas mengusir perak meskipun ia tidak mempunyai kesahihan historikal secara umum. Ketiga, pemalsuan-pemalsuan uang yang selama berabad-abad terus menerus dilakukan oleh para raja-raja dan para pangeran/pengusaha, dalam kenyataan tiada meninggalkan apapun dari berat uang-uang logam emas kecuali namanya saja.

Proses sejarah ini telah mengubah pemisahan nama-uang dari nama-berat menjadi kebiasaan popular yang tetap. Karenya standar uang di satu pihak semurninya konvensional, ia pada akhirnya di atur dengan undang-undang. Dengan nama-nama yang di berikan secara resmi seperti satu shilling, satu penny, pound (starling) dan sebagainya.

ALAT PEREDARAN : Perubahan Komodti,Perdaran Uang, dan Mata Uang Logam dan Lambang Nilai

Dalam pertukaran komoditi ada pertentangan dan proses saling meniadakan satu sama lain. Dalam pertukaran itu dalam bentuk aslinya terdapat dua proses metomorfosis dari komoditi yakni pembelian dan penjualan. Juka sebelumnya dalam sistem barter, komoditi di pertukarkan secara langsung dengan komoditi yang di butuhkan. Sementara kemunculan nilai penyetara universal (uang), mensyaratkan komoditi mesti di tukar dengan uang terlebih dahulu agar dapat mendapatkan komoditi yang di butuhkan.

Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa dalam proses penjualan (metamorfosis pertama): adalah perubahan komoditi menjadi uang. Sementara dalam proses pembelian (metamorfosis kedua) adalah dimana uang berubah menjadi komoditi. Kedua metamorfosis tersebut, merupakan satu tindakan identical, di pandang sebagai bergantian antar dua pribadi yang berbeda. Metamorfosa sempurna adalah barang ketemu uang, uang ketemu barang. Kalau barang ketemu barang mati. Oleh karena itulah dibutuhkan yang namanya alat perdaran, yaitu Uang. Jumlah uang yang beredar, bisa juga di lihat dari komoditi yang terjual.

Pada awalnya dalam proses pertukaran yang dicari adalah komoditi, uang adalah sebagai alat peredaran. Uang sebenarnya sebelumnya bentuk nilai dari emas, penentuan harganya adalah  proses yang imajiner. Penentuan harga barang oleh uang itu selalu mengalami fluktuasi (naik turun). Harga komoditi bisa berubah karena adanya fluktuasi dalam pasar. Dalam proses peredaran uang akan selalu tetap dan monoton. Uang selalu ada pada pembeli, dan barang ada sama penjual. Disini Marx menekankan bahwa komoditi ini adalah barang konsumsi.

Lebih lanjut, uang mengambil bentuk dari nilai mata uang logam sebagai alat peredaran. Tentang  uang dijadikan sebagai alat peredaran seperti yang dijelaskan sebelumnya yakni dari emas, menjadi uang. Penentuan uang yakni dari berat emas yang ditetapkan sebagai standar harga-harga. Berat emas yang ditetapkan sebagai standar harga menyimpang dari awalnya. Misalnya berat emas harganya Rp 400.000 per kg. tetapi berat emas di lebur menjadi koin-koin 100 rupiah. Maka berat emas tadi tidak berlaku lagi.

Alat peredaran yang pertama adalah Logam. Untuk efisiensi, di keluarkanlah kebijakan penyederhanaan alat tukar, yakni uang kertas. Itulah kenapa uang kertas lebih efisien di pakai sebagai alat peredaran dari pada emas. Uang kertas secara simbolik menggantikan emas atau lambang harga. Kehadiran uang sebagai proses sementara, karena tujuannya adalah untuk barang. Uang kertas dapat berlaku di sebuah negara karena negara melaksanakan itu dengan proses paksaan, seperti dengan Undang-undang dan kebijakan lainnya. Disini ada lompatan revolusioner meskipun hanya dari simbol-simbol. Suatu cara yang semurninya fungsional dan dengannya ia secara eksternal di pisahkan dari zat metaliknya.

UANG : Penimbunan Harta Kekayaan, Alat Pembayaran dan Uang Universal

Sebelumnya telah di jelaskan bagaimana proses metamorfosis-metamorfosis dalam hal ini penjualan dan pembelian memiliki keharusan untuk terjadi secara terus menerus. Namun, pada suatu waktu, proses tersebut dapat berhenti, ketika produksi komoditi tidak berimbang dengan peredaran uang. Bagitupun sebaliknya.

Uang telah menjadi tujuan utama dari penciptaan komoditi. Uang seperti piala suci. Kolombus menyatakan bahwa emas dapat mebebaskan orang-orang masuk surga, atau lebih berharga dari tulang santo-santo. Padahal menurut marx, uang merupakan penyetara radikal yang menyamaratakan semua komoditi secara radikal. Artinya uang telah menegasikan nilai utama dalam komoditi (tenaga yang tercurah dan wakt kerja). Penimbunan kekayaan di lakukan dengan proses yang tradisional. Disini kita bisa melihat bahwa si pembeli di dorong dengan hasutan untuk selalu membeli. Peredaran komoditi dan uang harus seimbang, ketika terjadi dominasi perdearan salah satunya maka inilah yang menjadi dasar dari penimbunan harta kekayaan.

Menurut marx Ada tiga kebajikan sebagai motif produksi : kerja keras, berhemat dan keserakahan. Proses perputaran metamorfosis-metamorfosis yang terjadi secara terus menerus telah menjadi dasar dari akumulasi. Selain membeli dan menjual, penumpukan kekayaan juga di lakukan dengan sistem sewa. Proses itu semakin berkembang dan kompleks. Motif produksi yang akumulatif, mengakibatkan peredaran komoditi menjadi pasang surut.

Ketika peredaran komoditi berkembang, berkembang pula keharusan dan hasrat untuk mencekam komoditi. Ini menurutku berhubungan denga keseimbangan dari peredaran komoditi. Namun, motif utama dalam peredaran komoditi yang di dasarkan pada hasrat untuk menimbun kekayaan.

Penimbunan harta kekayaan, mendorong kompleksitas alat pembyaran. Alat pembayaran bertumbuh dalam waktu bersamaan dengan akumulai dana cadangan alat pembayaran. Jadi cadangan alat pembayaran, bersamaan dengan kemajuan masyarakat borjuis adalah bagian dari akumulasi. Disinilah muncul proses simpan pinjam, pajak, dan sistem sewa, yang pada akhirnya mendorong kemunculan penanda atau batas dari pembayaran. Lebih lanjut proses tersebut berfungsi sebagai bagian dari cadangan akumulasi.

Secara sederhana bahwa peredaran komoditi dan uang mensyaratkan peredaran di antara keduanya secara terus menerus. Peredaran tersebut tidak dapat terbatas pada satu wilayah saja, dia berkonsekuensi pada penetrasi skat-skat wilayah keseluruh daerah dan dunia, jawa, Kalimantan, inggris, dsb. Peredaran komoditi harus meluas. Di pasar dunia berkuasa suatu standar rangkap, yakni emas dan perak.

Disinilah uang menjadi alat penyetara universal di seluruh dunia.uang dunia berfungsi sebagai pembayaran universal, pembelian universal dan sebagai perwujudan mutlak kekayaan masyarakat itu sendiri. Secara dominan uang berfungsi sebagai alat pembayaran dalam penyelesaian neraca-neraca internasional. Ini yang di sebut oleh marx sebagai sistem merkantilis : Neraca Perdagangan. Emas dan perak secara hakki berfungsi sebagai alat pembelian internasional manakala keseimbangan lazimnya dalam pertukaran produk-produk antar nesion secara tiba-tiba terganggu.

Negeri-negeri dengan produksi yang berkembang membetasi penimbunan-penimbunan yang terkonsentrasi dalam ruangan-ruangan besi beton, bank-bank hingga minuman yang di perlukan untuk fungsi-fungsi khusus. Dengan demikian adalah benar jika di katakana bahwa, uang hanyalah lemak Badan Negara, yang karena terlalu banyaknya menghalangi kelincahan , dan jika terlalu sedikit membuatnya sakit.

Rangkuman Diskusi Kelas Das Kapital

Di Narasikan oleh : Boza Yudistira, Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s