Proses Kerja & Proses Valorisasi

007bf544-a743-42ae-ae40-a5b15eabc7bc
Sumber : lapalabracaliente.wordpress.com

Kali ini kita akan membahas hasil diskusi Kelas Das Kapital Jilid 1 Bab Tujuh tentang “Proses Kerja dan Proses Valorisasi”. Apakah yang dimaksud dengan kerja ? Ilmuan borjuis terkadang menyempitkan makna kerja yang sesungguhnya, mereka mengatakan bahwa kerja adalah suatu kegiatan untuk menghasilkan sesuatu, sepintas definisi ini memang dapat diterima secara umum. Tetapi perlu kita pahami bahwa pengertian kerja harus dikaji letak keilmiahannya bukan hanya proses menghasilkan sesuatu sebagaimana menurut para ilmuan borjuis. Sejatinya kerja adalah suatu proses interaksi antara manusia dan alam, sesuatu proses yang dengannya manusia, melalui tindakannya sendiri mengatur dan mengontrol alam untuk menghasilkan sesuatu yang merupakan buah dari kerja manusia berkat hubungannya dengan alam. Pada awalnya manusia melakukan hubungan kerja dengan alam sesuai dengan kebutuhan hidupnya, alam menjadi sumber penghidupannya sehari-hari, tidak berdasarkan pada motif yang merusak dengan cara yang brutal memperdayai alam sebagaimana yang kita perhatikan saat ini. Proses kerja awal manusia masih menggunakan alat yang masih tradisional, yakni dengan menggunakan bahan-bahan material seadanya mulai dari pecahan-pecahan batu untuk dipergunakan mengelupas bahan yang cukup keras dan alot. Dalam proses kerja terdapat faktor-faktor sederhana, yakni, pertama kegiatan dengan maksud tertentu, ialah kerja, kedua sasaran-sasaran yang padanya pekerjaan itu dilaksanakan, dan ketiga perkakas-perkakas pekerjaan.

Mari kita bahas satu-persatu, sebagaimana yang sudah diungkapkan sebelumnya kerja merupakan suatu proses interaksi (hubungan) & kontradiksi (pertentangan) antara manusia dengan alam untuk melakukan perbuatan menghasilkan sesuatu yang disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhannya sendiri, dan alam berperan dalam mengembangkan tingkat kesadaran manusia karena persinggungan keduanya. Namun untuk mewujudkan proses kerjanya itu manusia harus menjadikan sesuatu tersebut berwujud menjadi komoditi, yakni barang yang mempunyai nilai pakai untuk memenuhi kebutuhan manusia tersebut. Dengen begitu, proses kerja adalah aktivitas manusia melalui perkakas-perkakas kerja untuk menghasilkan produk-produk yang memiliki nilai pakai. Serta menjadi dasar dari kerja selanjutnya (bahan mentah). Hasil dari proses kerja digunakan untuk dua hal yakni konsumsi individual dan konsumsi produktif. Konsumsi individual berarti proses kerja menghasilkan komoditi yang memiliki niliai pakai untuk kebutuhan individu. Sementara konsumsi produktif berarti proses kerja menghasilkan komoditi yang di gunakan sebagai komoditi selanjutnya.

Dalam proses kerja ini manusia memerlukan sasaran-sasaran pekerjaan, yakni semua benda-benda yang hanya dipisahkan oleh kerja dari keterkaitan dengan lingkungannya, yang pada dasarnya disediakan oleh alam. Seperti ikan yang dipancing (ditangkap) dan dipisahkan dari unsur alam. Sasaran kerja ini hanya menjadi konsumsi individual yang dipergunakan untuk kebutuhan si pemancing ikan. Berbeda dengan sasaran kerja yang lain, seperti batu bara, logam, dan kayu. Sasaran kerja ini merupakan bahan mentah yang dapat menjadi bahan bagi kerja selanjutnya. Dengan menemukan sasaran kerja ini penemu melakukan proses kerja berkelanjutan untuk memproses bahan tersebut sesuai dengan keahliannya.

Untuk mempergunakan sasaran kerja ini sebagaimana mestinya, manusia membutuhkan perkakas-perkakas kerja agar dapat mengolahnya. Pada dasarnya perkakas kerja merupakan penghantar antara pekerja dengan sasaran kerja. Dia yang diselipkan oleh pekerja diantara dirinya sendiri dengan sasaran kerja. Perkakas kerja disediakan oleh bumi dan diciptakan oleh manusia (pekerja). Selain menyediakan perkakas kerja, bumi juga menjadi suatu “medan pekerjaan” bagi proses khususnya sendiri. Selain sebagai penghantar antara pekerja dengan sasaran kerja, perkakas kerja dalam peninggalan-peninggalannya juga berguna dan mempunyai arti penting bagi penyelidikan dan penelitian susunan-susunan masyarakat ekonomi yang telah punah (misalnya cangkul, tembikar, timbangan, atau jenis tertentu), sama seperti penyelidikan tulang-tulang fosil bagi penentuan spesies hewan-hewan yang telah punah. Sederhananya peninggalan perkakas kerja ini berguna sebagai standar pencarian mengenai perkembangan yang telah dicapai oleh kerja manusia dan juga menunjukan hubungan-hubungan sosial antar manusia yang dengannya manusia bekerja.

Ketika proses kerja ini sudah mulai berkembang yang dengannya manusia semakin dipisahkan alat kerjanya (perkakas kerja) dan hanya dimiliki oleh beberapa manusia saja, disinilah terjadinya proses alienasi (keterasingan) manusia. proses kerja ini merupakan gejala dari pelaksanaan sistem kapitalisme yang dengannya mempunyai dua karakteristik. Pertama para pekerja dikontrol pekerjaannya yang dimiliki oleh si kapitalis, dengan cara ini kapitalis memastikan agar pekerjaannya dijalankan dengan selayaknya serta alat produksi miliknya dipergunakan dengan cermat, ini berguna agar sasaran kerja tersebut tidak ada yang diboroskan atau menghemat supaya dipergunakan seperlunya dalam pekerjaan tersebut. Kedua, produk yang dihasilkan oleh pekerja sepenuhnya dimiliki oleh si kapitalis sebagai empunya perkakas kerja. Disini kapitalis punya wewenang penuh dalam mengatur tingkat produksi yang ingin dicapai, dengan asumsi dapat memberikan hasil keuntungan yang memuaskan agar berguna memperluas jangkauan produksinya.

Pada awalnya kapitalis melongo keheranan dampak dari aktivitas produksi yang dia lakukan tidak membuahkan keuntungan sedikitpun untuknya. Mari kita andaikan keheranannya dengan sebuah benang yang diproduksi si kapitalis. Untuk memproduksi sebuah benang, kapitalis membutuhkan ongkos produksi dengan rincian harga untuk membeli sugumpal kapas seharga 10 ribu, biaya listrik seharga 2 ribu, dan upah tenaga kerja seharga 3 ribu dalam waktu 6 jam kerja. Total nilai dari ongkos produksi tersebut adalah 15 ribu. Harga benang itu jika dikeluarkan ke pasar terbuka adalah sama dengan ongkos produksinya, yakni 15 ribu. Disinilah letak keheranan si kapitalis, Karena nilai yang dikeluarkannya untuk ongkos produksi tidak tervolarisasi, tidak ada nilai lebih yang diciptakan, uang tidak bertranspormasi menjadi kapital.

Disini kapitalis melakukan sesuatu hal dan memutar otaknya agar dapat memperoleh hasil yang lebih dari sebelumnya. Dia berkeras bahwa alat produksi yang dimiliki adalah miliknya, tidak menginginkan jika bahan mentah dan perkakas kerja yang dia miliki digunakan secara boros dan berlebihan, dia tidak ingin merugi atas klaim-nya terhadap hak-haknya. Si kapitalis juga menganggap telah membayar tenaga kerja yang dibeli dipasar, dalam sehari untuk menjadi miliknya. Tetapi biaya pemeliharaan tenaga kerja tersebut hanya setengah hari kerja. Si kapitalis melihat bahwa, pekerja mampu bekerja lebih dari waktu yang telah ditentukan, tetap produktif meskipun hanya di bayar setengah hari kerja, produksi yang dihasilkan juga meningkat dua kali lipat. Keadaan ini merupakan kemujuran bagi si kapitalis sebagai pembeli tenaga kerja, akan tetapi suatu kemalangan bagi pekerja yang hanya menjual tenaganya. Disinilah si kapitalis meilihat hal itu sebagai peluang untuk menciptakan nilai lebih, merubah uang menjadi kapital.

Sebab itu kita akan melihat terjadinya proses volarisasi dalam produksi kapitalis selanjutnya. Mari kembali kita andaikan. Untuk meningkatkan produktivitas dan memperoleh nilai lebih dari proses produksi, si kapitalis meningkatkan waktu kerja untuk menghasilkan benang yang awalnya 6 jam menjadi 12 jam. Di awal telah dinyatakan bahwa dalam 6 jam kerja mampu menghasilkan 1 benang. Jika jam kerja ini ditambahkan 2 kali lipat menjadi 12 jam, maka dalam waktu tersebut benang yang diproduksi juga meningkat menjadi 2 benang. Ongkos produksi 2 benang dalam 12 jam tersebut adalah 27 ribu. Harga benang tersebut jika dikeluarkan ke pasar terbuka adalah 30 ribu. Disini nilai produk itu 1/9 lebih besar dari nilai yang dikeluarkan untuk ongkos produksinya. 27 ribu berubah menjadi 30 ribu, nilai lebih sebesar 3 ribu telah diciptakan. Marx mengatakan ini sebagai “permainan sulap” yang telah berhasil, uang telah diubah menjadi kapital.

Pertanyaannya, dari mana nilai lebih seharga 3 ribu itu muncul ? Kemunculan tersebut tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Mari kita uraikan. Untuk memproduksi 2 benang dalam waktu 12 jam, otomatis ongkos produksi dari memproduksi 2 benang tersebut juga akan bertambah, yakni 2 gumpal kapas seharga 20 ribu, biaya listrik seharga 4 ribu untuk 2 benang. Akan tetapi dalam waktu 12 jam, pekerja di bayar sama dengan total waktu 6 jam kerja, yakni 3 ribu. Keseluruhan ongkos produksi tersebut jika di totalkan seharga 27 ribu. Di sinilah letak yang menyebabkan nilai lebih terjadi, yakni “curahan waktu tenaga kerja” yang tidak di bayar. Nilai lebih sebesar 3 ribu yang telah diciptakan oleh kapitalis, berasal dari peningkatan waktu 6 jam kerja seharga 3 ribu yang tidak di bayar oleh kapitalis kepada tenaga kerja. Inilah yang luput juga dari pengamatan ilmuan borjuasi, yang menilai proses produksi tersebut adalah proses yang saling menguntungkan antara kelas pekerja dan kelas borjuis, padahal tidak.

Proses inilah yang di namakan proses valorisasi, yakni proses produksi komoditi kapitalis yang melakukan pencurian waktu kerja. Pada dasarnya kapitalis mempunyai dua sasaran. Pertama, ia ingin memproduksi suatu nilai pakai yang didalamnya terkandung nilai tukar sebagai sumber keuntungannya yang berupa barang berguna untuk dijual, komoditi. Kedua, ia ingin memproduksi suatu komoditi yang bernilai lebih tinggi dari jumlah nilai-nilai komoditi yang dipakai untuk diproduksinya, yaitu alat-alat produksi dan tenaga kerja yang dibelinya dengan sejumlah uang di pasar terbuka. Kita menyaksikan saat ini pasar terbuka yang dimaksud adalah pasar pendidikan, tenaga-tenaga terdidik yakni, para calon pekerja yang sedang berada dibangku pendidikan yang siap dilempar di pasar tenaga kerja.

Rangkuman Hasil Diskusi Kelas Das Kapital

Di Narasikan oleh : Teduh Panji Prasetya, Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s