Kartini : Penindasan Perempuan Dan Tugas Kedepannya

a96cad2f-4002-4818-a4bf-31ca8bc02159

Pada tanggal 21 April 2017, masyarakat Indonesia akan memperingati momentum peringatan Hari Kartini. Perhelatan Hari Kartini sendiri, diambil dari tanggal lahir Kartini. Kartini lahir dari sistem yang ia benci yaitu feodalisme dan kolonialisme. Sebuah sistem yang menyiksa rakyat dan dirinya sendiri. Era feodalisme di Indonesia, dimana rakyat menyerahkan hasil pertanian serta upeti kepada sang raja, menambah kemiskinan dan kesengsaraan bagi rakyat Indonesia (pada saat itu masih bernama Hindia Belanda). Ilmu pengetahuan di larang. Kekuaasan raja adalah dalil yang harus ditaati. Semua berada didalam kontrol raja dan para feodal lainnya. Feodalisme di Indonesia sejak awal menghendaki kontrol penuh para raja terhadap rakyatnya. Meluaskan kebijakannya untuk melangenggkan segala jenis penindasan. Memisahkan peran perempuan dan laki-laki, melangengkan diskriminasi, ras lebih tinggi daripada ras lainnya  untuk kepentingan para feodal.

Perempuan di letakan didalam kerja-kerja domestik, menjaga anak serta mengatur urusan rumah.  Perempuan tidak diikutkan dalam pengambilan hak, tidak dibiarkan berada di ranah politik. Perempuan bukan hanya di eksploitasi tenaganya tetapi juga ia menjadi tempat kekerasan seksual. Perempuan di kawinkan dengan paksa, umur yang masih muda, menjadi selir-selir raja atau menjadi budak pemuas seks para tentara KNIL. Sistem ini menyebabkan rakyat semakin menderita, kemiskinan makin menjadi-jadi, kelaparan, petani tidak lagi memiliki tanah, serta kematian ribuan manusia.

Pada saat itu, Kartini yang di kurung seperti dewi yang tolol belum bisa mengorganisir kekuatan rakyat, ia mengharapkan perempuan dan laki-laki setara. Apa yang di tentang oleh kartini adalah tradisi dalam keluarga borjuis. Tentu ini berbeda dengan keluarga kelas buruh. Masyarakat berkelas telah menciptakan dua fungsi keluarga. Pertama, adalah keluarga kapital, pernikahan didasarkan pada penggabungan dua modal besar dan mewariskan harta kekayaan kepada keturunannya sendiri agar modal terus berjalan dikeluarga mereka saja, dan menjaga garis kelasnya-kelas pemilik alat produksi. Kedua, adalah keluarga buruh pernikahan didasarkan untuk kepentingan keluarga kapital yaitu sebagai pemasok buruh yang patuh kepada mereka serta dijadikan sebagai konsumen atas komoditi  yang  telah diciptakan oleh kapitalis. Dalam intitusi keluarga ini perempuan tanpa sadar telah menjadi pekerja tanpa dibayar, ia mengerjakan pekerjaan domestik, mengurus keluarga sakit, mendidik anak, mengurusi pendidikannya sopan-santunya yang mengantarkan anaknya menjadi buruh bagi sang kapital. Belum lagi dengan penempatan laki-laki sebagai tulang punggung keluarga tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya maka perempuan ikut bekerja, meskipun dengan upah yang rendah. Ini menjadikan perempuan sebagai keuntungan terbesar bagi akumulasi modal kapitalis. Tidak berhenti disitu, perempuan juga mendapatkan perlakukan yang tidak menyenangkan di tempat kerja serta lingkungannya.

Saat ini setelah tergesernya sistem feodalisme yang diiringi dengan sistem pemerintahan yang lebih demokratis dari pada sebelumnya, meskipun masih dalam batasan masyarakat kapitalis. Perempuan dikatakan telah bebas, telah setara, bahkan dikatakan perempuan modern kini yang tidak lagi terikat oleh sistem apapun. Ini adalah pernyataan yang amat salah. Sebab melihat kondisi sekarang, penindasan bahkan kekerasan terhadap perempuan masih terjadi dimana-mana.

Di Indonesia, menurut Catatan Akhir Tahun 2016 yang dikeluarkan oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Hasilnya menunjukkan terdapat 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2016.  Di ranah personal, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menempati peringkat pertama dengan 5.784 kasus, Disusul kekerasan dalam pacaran 2.171 kasus, kekerasan terhadap anak perempuan 1.799 kasus. Kekerasan tersebut terjadi melalui kekerasan fisik 42 persen, kekerasan seksual 34 persen, kekerasan psikis 14 persen, dan selebihnya terjadi pada kekerasan ekonomi. Kekerasan terhadap perempuan juga terjadi di ranah komunitas dengan 3.092 kasus yang terbagi dalam perkosaan dan pecabulan. Bahkan, Komnas Perempuan juga menerima laporan 44 kasus kekerasan ditempat kerja. Ini menunjukkan masih banyaknya kekerasan terhadap perempuan pada situasi hari ini.

Pada tanggal 9 April 2017 lalu, beredar di media sosial, kekerasan yang terjadi kepada salah satu mantan buruh pabrik perempuan di Tanggerang PT. Penarub di Tugu Adipura. Dalam video yag berdurasi sekitar 1 menit tersebut, memperlihatkan bagaimana Kasat Intel Polresta Tanggerang AKBP Danu Wiata menampar seroang buruh perempuan setelah berdebat dan tidak mampu menjawab pertanyaan sang buruh perempuan. Buruh perempuan tersebut adalah Emilia yanti yang telah di PHK secara sepihak karena memperjuangkan haknya dan 1.300 pekerja lainnya yang tidak dibayar pesangonnya. Unjuk rasa ini memang telah lama dijalani oleh Gabungan Serikat Buruh di Indonesia. Unjuk rasa yang dilakukan saat car free day itu malah di hambur oleh pasukan polisi, yang juga berpakaian seperti preman. Poster-poster di rampas unjuk rasa di bubarkan secara paksa. Setelah kejadian tersebut polisi di diturunkan pangkatnya. Beginilah hukum dalam Negara borjuis, akan selalu ada cara untuk melindungi para pelaku seksis.

Kita juga tanpa sadar di diamkan dengan peraturan pemerintah yang reformis yang dikatakan dapat mengurangi kekerasan seksual terhadap perempuan. Dengan melarang perempuan keluar malam, menjaga busana perempuan, berdirinya komisi-komisi perlindungan anak dan perempuan. Namun pada kenyataannya hingga saat ini tidak mampu menghapuskan kekerasan. Sebab selama masih di dalam tatanan masyarakat kapitalis, Negara dengan berbagai aturan yang di buat beserta aparatus kekerasannya adalah alat yang digunakan oleh kapitalis  untuk melanggengkan kekuasaannya,  termasuk dalam menindas kaum perempuan.

Saat ini perkembangan peringatan hari Kartini sebagai lambang emansipasi perempuan Indonesia juga menuai berbagai polemik. Selain karena terdapat perempuan yang lebih progresif di zamannya, peringatan tersebut juga dianggap sebagai peringatan yang dipromosikan oleh kolonialisme Belanda. Namun, itu bukan alasan bagi kita untuk tidak mengambil pelajaran dengan baik dalam peringatan hari kartini untuk perjuangan mewujudkan pembebasan perempuan.

Apa yang di perjuangkan oleh kartini, seperti emansipasi politik, hak atas pendidikan, dan lain sebagainya masti di majukan. Pertama-tama kita perlu memulai pandangan yang tepat, bahwa ketidaksetaraan dari perempuan dan laki-laki bukanlah akar permasalahan dari penindasan yang dialami perempuan. Akar permasalahnya adalah sistem yang menjadikan perempuan dan laki-laki menjadi terasing dan tenaganya digunakan untuk akumulasi modal kapitalis. Perempuan dan laki laki sama-sama tertindas dan terekploitasi. Kelas borjuis juga telah mengkaburkan bahwa seolah-olah penindasan yang dialami mereka adalah berbeda. Kapitalis juga sering kali memecah rakyat dengan sentimen gender, ras, agama, maupun antar golongan. Padahal baik perempuan maupun laki-laki kelas buruh yang tidak memiliki alat produksi adalah sama. Kepentingannya untuk melawan sistem yang menindas.

Megawati yang melanggengkan penggusuran padarakyat miskin, Hillary Clinton yang turut andil dalam menyebarkan rasisme kepada kaum buruh perempuan muslim di Amerika Serikat, Kepentingan mereka meskipun sama-sama berjenis kelamin perempuan mewakili kelas penindas,  tentu berbeda, dengan buruh perempuan seperti Emilia yang berjuang untuk ratusan buruh yang di PHK sepihak.

Maka dari itu, yang kita harus lakukan adalah mengerti dan memahami penindasan yang terjadi terhadap rakyat saat ini. Perjuangan yang dibutuhkan saat ini bukan perjuangan pembebasan perjuangan perkelompok dan identitas tertentu. Melainkan semua kelompok tertindas, perempuan, laki-laki, kaum LGBTI, tani, buruh, kaum miskin kota, dan sebagainya. Kita harus terus meluaskan solidaritas dan persatuan bersama kelas tertindas melawan kuasa modal kapitalis berserta aparatus yang diakuasai. Kita juga tidak lagi menggantungkan masalah terhadap pemerintah yang jelas-jelas menghamba pada kapitalis bukan kepada rakyat. Karena itulah, perjuangan pembebasan perempuan adalah juga perjuangan mewujudkan masyarakat adil makmur, yakni masyarakat sosialis. Sebaliknya perjuangan mewujudkan masyarakat sosialis adalah juga perjuangan mewujudkan pembebasan terhadap perempuan. Kita harus melawan sistem yang tidak berperikemanusian ini, untuk menciptakan sistem yang lebih adil dan mensejahterakan setiap manusia.

Di Narasikan Oleh : Rinjani Ju, Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

Tulisan ini juga di cetak dalam brosur propaganda Lingkar Studi Kerakyatan pada momentum Hari Kartini 21 April 2017

Referensi :

  1. Panggil Aku Kartini : Pramoedya Ananta Toer
  2. Koran Arah Juang edisi 17 : Patriarki atau Seksisme
  3. https://m.tempo.co/read/news/2017/04/09/064864246/video-beredar-polisi-tampar-buruh-perempuan-di-tangerang, di akses tanggal 19 April 2017
  4. http://nasional.kompas.com/read/2017/03/07/19240821/2016.ada.259.150.kasus.kekerasan.terhadap.perempuan, di akses tanggal 19 April 2017
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s