Seruan Kaum Muda Dalam Perjuangan Kaum Buruh Kutai Timur

 

 

 

df8e5cc2-86ad-4635-8421-187254899579
Foto : Diskusi Pra May Day Aliansi Buruh dan Mahasiswa Kutai Timur

Tinggal hitungan hari sebuah peringatan besar bagi kaum buruh seluruh Dunia akan di laksanakan, tepat tanggal 1 Mei 2017 mendatang semua kaum buruh akan memenuhi jalanan-jalanan meninggalkan pabrik-pabrik, perusahaan juga perkebunan, buruh dari semua bidang ini akan membawa semua atribut dan tuntutannya untuk merebut kembali hak-hak normatif dan ekonomisnya. Apakah kaum buruh akan berjalan sendirian dalam menuntut kebebasannya ini. Tentu sebagai kaum muda kita tak akan membiarkannya berjalan sendiri.

 

Tanggal 22 april 2017 kemarin seluruh elemen Mahasiswa dan Pemuda Kabupaten Kutai Timur , Kalimantan Timur melaksanakan diskusi persiapan aksi Mai Day. Semua element yang hadir, yaitu Lingkar Studi Kerakyatan (LSK), Satuan Pemuda Mahasiswa Pancasila (SAPMA-PP), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Persatuan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIPER KUTIM, PUSTAKA, LMND, dan perwakilan Buruh PT. Anugrah Energitama –Bengalon KM 110 yang tergabung dalam Serikat buruh Front National Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) sepakat akan menyatukan kekuatan untuk melakukan aksi dalam peringatan Mai Day mendatang.

Sebagai kaum muda kami menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan kaum buruh sebagai kelas tertindas dalam menumbangkan Kapitalisme tidak bisa di lakukan sendiri, Kapitalisme yang sudah berumur hampir 400 tahun ini telah mengekploitasi serta mengakumulasi modalnya dengan menindas semua kelas bukan hanya kelas buruh, kaum tani, kaum perempuan, kaum miskin kota, pekerja seni, juga pemuda dan Mahasiswa semua kelas ini tidak luput dari penindasan Kapitalisme.

May Day lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politik mereka. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.

Sebagai gambaran pada awal abad ke 19 para kaum pekerja dan buruh di Amerika sudah mengeluhkan akan jam kerja yang sangat panjang “bekerja keras mulai dari matahari terbit sampai dengan matahari tengelam” berlaku setiap hari kerja. 14 (empat belas), 16 (enam belas), bahkan 18 (delapan belas) jam kerja dalam sehari sudah merupakan hal yang biasa terjadi pada saat itu. Pada sebuah peristiwa pengadilan terhadap pimpinan pemogokan dari pekerja pabrik pembuatan sepatu yang dikenai tuntutan berkonspirasi pada tahun 1806, terungkap bahwa para pekerja dan buruh pabrik itu telah diharuskan dan dipekerjakan selama 19 (Sembilan belas) sampai 20 (dua puluh) jam perhari.

Sebagai kaum muda kami menyadari Proses kapitalisasi seperti mahalnya biaya kuliah, miskinnya ilmu pengetahuan, serta fasilitas kampus yang tidak mendukung untuk menciptakan manusia yang merdeka bukan hanya terjadi di sektor pendidikan, melainkan juga terjadi pada sektor rakyat lainnya. Pada sektor pertanian, sebagian besar petani kita tidak mempunyai tanah dan sebagian besar tanah dikuasai oleh korporasi swasta dan asing, Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) mencatat kurang lebih 56 persen aset berupa properti, tanah, dan perkebunan, dikuasai hanya oleh 0,2 persen penduduk Indonesia. Pada sektor perburuhan, mayoritas kaum buruh kita masih didominasi buruh pada sektor informal yakni hingga 60 persen (Data BPS : 2014). Kebijakan upah minimum (yang murah) tentu hanya menyentuh kaum buruh formal. Kaum buruh informal umumnya tidak dapat mengakses upah minimum karena dianggap bukan kaum buruh, bekerja dibawah tekanan karena bisa dipecat kapan saja oleh majikan, serta dengan pendidikan/keterampilan yang rendah.

Situasi tersebut diatas tentu semakin meningkatkan angka kesenjangan sosial. Di Indonesia, kekayaan 40 orang terkaya sebesar 680 triliun rupiah setara dengan 10,4 persen PDB Indonesia. Kekayaan 40 orang tersebut setara dengan 60 juta rakyat yang paling miskin. Tidak heran jika Koefisien Gini (sebagai alat untuk mengukur kesenjangan sosial) di Indonesia berada pada angka 0,41—yang berarti berada dalam kondisi yang sangat senjang. Dalam skala dunia, saat ini 1 persen orang didunia memiliki kekayaan yang sebanding dengan 99 persen penduduk dunia. Tercatat pula bahwa kekayaan 62 orang terkaya didunia setara dengan kekayaan 3,5 milyar penduduk paling miskin (Riset Oxfam University). Data yang sungguh ironis ditengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun disatu sisi tidak mampu menjawab kebutuhan umat manusia.

Begitupun yang terjadi di Kabupaten Kutai Timur, buruh perkebunan, pertambangan dan buruh-buruh pada perusahaan-perusahan lainnya, sangat jauh dari kata sejahtera, selain di karenakan sitem perburuhan di kabupaten kutai timur yang sangat kacau, kapitalisme sejatinya memang tidak pernah berkepentingan mensejahterakan buruh-buruh yang menghasilkan nilai lebih dengan cara bekerja berjam-jam di hadapan mesin-mesin dan alat produksi lainnya. Pada tampuk kepemimpinan yang baru visi dan misi Bupati dan wakil Bupati terpilih yang menonjolkan sektor Agribisnis dan Agroindustri, namun nyatanya masih tidak berkepentingan mensejahterakan buruh-buruh, terutama buruh perkebunan Kelapa Sawit yang ada di kabupaten Kutai Timur.  Visi dan misi yang menonjolkan masalah perkebunan itu ternyata tak ubahnya seperti seruan pelegalan terhadap ekploitasi besar-besaran terhadap buruh dan lingkungan untuk memenuhi keuntungan pribadi dan kelompok-kelompok elit di daerah ini. Bulan februari kemarin ratusan buruh perusahaan sawit Bumi Mas Agro (BMA) menggelar unjuk Rasa di halaman kantor bupati dan DPRD sebagai bentuk kekecewaan mereka terhadap sistem kerja perusahaan yang menekankan kerja paksa sehingga buruh merasa di perbudak pasalnya jika tidak memenuhi target buruh hanya mendapat upah sebesar 30 ribu rupiah dalam satu hari. Upah yang di berikan tentu sangat bertentangan dengan waktu kerja yang di berikan yaitu waktu normal 7 jam per hari, namun karena harus mencapai target maka buruh akan menambah sendiri waktu kerjanya tanpa harus di bayar perusahaan. Belum lagi kasus-kasus seperti PHK sepihak, Pemecatan tanpa pesangon, buruh harian yang bertahun-tahun tak pernah di angkat menjadi pegawai tetap, buruh yang tak mendapatkan hak kesehatan seperti BPJS walaupun telah membayar iuran terus menerus, tempat tinggal kumuh tanpa air bersih, dsb, menjadi cacatan penting bahwa pemerintah hari ini masih tidak berkepentingan mensejahterkan buruh.

Kemudian juga kaum borjuis memang akan terus menerus berupaya melemahkan semangat hari buruh seduinia, salah satunya dengan melarang buruh turun ke jalan, menjadikan hari buruh sebagai happy day. Hari buruh di isi dengan membuat panggung-panggung musik, donor darah, jalan sehat, dsb. Dengan alasan agar hari buruh menjadi hari yang menyenangkan, sementara elit birokrasi serikat buruh juga terus berusaha memecah belah gerakan buruh dengan menyebar stigma pemecatan, penurunan jabatan, dsb.

Selamanya kita akan menolak logika May day is Happy day atau menolak jika hari buruh ini di peringati tanpa perlawanan dan tuntutan. Selama buruh belum mendapatkan tempat tinggal layak, upah yang layak, jam kerja yang manusiawi, kebebasan berserikat, tunjangan-tunjangan hari besar, dan mendapatkan upah dari nilai lebih yang di keluarkan buruh melebihi jam kerjanya (lembur), dan lainnya. Selama semua hal ini belum terpenuhi maka sebagai kaum muda kita akan terus bersatu bergerak bersama kaum buruh untuk mendukung kebebasannya. Kami juga akan memastikan bahwa aksi yang akan di lakukan di tanggal 2 Mai ini akan menurunkan 100 buruh dan mahasiswa dengan tuntutan mendasar yaitu Penghapusan Outsourcing, Pemagangan, dan Upah Murah, juga kami menuntuk untuk dapat memberikan jaminan layanan kesehatan bagi buruh perkebunan, jaminan keselematan kerja, serta hunian layak dengan dengan tersedianya sanitasi yang baik.

Oleh karenanya kami mengundang semua kaum muda, kaum perempuan, pekerja seni, kaum miskin kota, kaum tani, mahasiswa, seluruh organisasi serta masyarakat yang ada di kabupaten Kutai Timur untuk bersama-sama turun kejalan dan menyerukan kemenangan yang permanen. Tentu kami juga berharap terdapat gerakan yang sama di seluruh daerah di Indonesia serta Dunia pada peringatan May Day nanti, karena kemenangan kaum buruh adalah kemenangan seluruh rakyat tertindas.

Kaum Muda, bersama Buruh dan Rakyat Tertindas Lainnya, Bersatulah !

Oleh : Aliansi Buruh dan Mahasiswa Kutai Timur

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s