Peringati Hari Buruh Sedunia : GERAM Menyerukan Persatuan Rakyat Hancurkan Rezim Penindas dan Wujudkan Kesejahteraan

 

29c29b96-2b33-41ed-a0ed-8516943a1db5
Foto : Massa Aksi GERAM 

Samarinda, Senin (1/5/17), puluhan massa aksi yang terdiri dari berbagai organisasi dan individu, yang tergabung dalam aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) melakukan aksi massa di depan gerbang Universitas Mulawarman Samarinda dalam rangka memperingati Hari Buruh Sedunia, biasa disebut sebagai May Day. Aksi ini dilakukan dengan menyerukan berbagai seruan dan tuntutan. Selain tuntutan soal perburuhan, terdapat juga tuntutan lainnya seperti perempuan, pertanian, dan Pendidikan. Sebanyak 42 tuntutan yang disuarakan massa aksi dalam momentum kali ini.

Aksi dimulai tepat pukul 10:00 wita. Sebelum memulai aksi sudah banyak kawan-kawan media meliput dan juga terdapat aparat polisi yang sedang memantau perkembangan aksi. Aksi yang dilakukan oleh GERAM ini berkenaan dengan peringatan perjuangan kelas buruh yang berhasil menunjukan keberaniannya untuk melawan kelas pemodal yang berkuasa dan menghisap hasil kerja keras buruh. Perjuangan kelas buruh dalam melawan ketamakan dan kekejian dari kelas pemodal ini menghasilkan apa yang dirasakan oleh buruh saat ini, seperti jam kerja yang berkurang, adanya hari libur, tunjangan kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Keberhasilan perjuangan kelas buruh ini merupakan upaya tanpa kenal lelah dan tanpa kolaborasi dengan penguasa.

Selain itu aksi ini juga berupaya untuk menyadarkan seluruh masyarakat yang ada, agar dapat memahami sejarah perjuangan kelas buruh. Semenjak terbitnya surat edaran dari Menteri Tenaga Kerja bernomor B.122/M.Naker/PHIJSK-KKHI/IV/ 2017. Surat edaran tersebut menyebutkan bahwa untuk seluruh kepala daerah yang ada di Indonesia agar dapat mendorong lembaga pemerintah dan serikat buruh supaya dapat mengagendakan kegiatan positif di momentum Hari Buruh Sedunia. Kegiatan positif yang dimaksud adalah tidak digunakan sebagai aksi unjuk rasa, melainkan aksi sosial dan dialog dengan pemerintah. Dorongan tersebut adalah wujud dari ketakutan rezim akan kekuatan kelas buruh yang sangat terkonsentrasi dibanyak tempat pada setiap daerah. Selain itu, ini wujud dari pemalsuan sejarah perjuangan kelas buruh yang berjuang tanpa kompromi dengan penguasa, bukan dengan aksi sosial tetapi aksi massa.

Dalam aksi ini, seluruh elemen organisasi menyuarakan orasi politiknya untuk menyambut Hari Buruh Sedunia tahun 2017 ini. Perwakilan dari BEM KM Unmul memulai orasinya dengan menyebutkan bahwa situasi di Indonesia sekarang tidak sedang baik-baik saja.

“Saat ini kita menyaksikan bahwa kondisi yang dialami Indonesia sedang tidak baik-baik saja, sektor pendidikan berorientasi kepada provit, lulusan mahasiswa hanya dijadikan tenaga kerja tanpa kemampuan dan kepekaannya terhadap lingkungan sekitar. Selain itu, kondisi masyarakat di Indonesia saat ini tidak mencerminkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat melainkan hanya segelintir manusia saja. Upah honorer di kampus yang masih dikatakan tidak layak jika dibandingkan dengan jam kerja yang dia lakukan. Hal yang sama di alami oleh buruh di perusahaan. Mahasiswa juga mengalami penindasan dan penghisapan akibat sistem Uang Kuliah Tunggal yang sampai saat ini masih belum jelas transparansi dan aturannya. Pelayanan yang kita hadapi saat inipun masih memberi jalan mulus bagi korporasi-korporasi besar yang ada diseluruh Indonesia, begitu pula pajak yang masih memanjakan korporasi dan pemilik modal untuk menginvestasikan modalnya. Hal ini juga berkaitan dengan kondisi perempuan yang ada di Indonesia, banyak terdapat perempuan di pabrik-pabrik, ruang publik, hingga ranah keluarga mengalami pelecehan seksual, selain itu dampak dari pemisahan kerja laki-laki dan perempuan membuat perempuan termarjinalkan keranah domestik.”

Orasi politik dilanjut dari berbagai organisasi yang ada menyesalkan dan menuntut buah dari kebijakan Menteri Tenaga Kerja yang memalsukan sejarah perjuangan kelas buruh, dengan cara sekedar melakukan aksi sosial bukan aksi massa. Kita sering menyaksikan kondisi buruh diseluruh Indonesia semakin ditindas dengan berlakunya sistem kerja kontrak dan kerja magang yang pada, buruh dibayangi dengan ketidakpastian kerja dan upah yang murah. Selain itu aksi ini juga merupakan wujud solidaritas untuk kelas buruh di Indonesia dan dunia dalam memperingati May Day tahun 2017 saat ini yang sama-sama sedang berjuang menuntut hak-haknya.

Menanggapi hal itu Hema dari perwakilan Lingkar Studi Kerakyatan mengungkapkan kondisi terkini yang dialami oleh bangsa Indonesia yang kian hari tidak berhasil mewujudkan keadilan yang seadil-adilnya.

“Hari ini kita menyaksikan kondisi yang sedang di alami Indonesia bahkan dunia semakin mewujudkan kebobrokannya ditengah sistem kapitalisme. Kita tidak dapat mengatakan bahwa dalam masyarakat Indonesia bukanlah suatu entitas yang tunggal, kita sudah terbelah menjadi dua kelas yang bertentangan dan tak terdamaikan, yakni kelas pemodal dan kelas buruh. Kondisi penguasa di Indonesia saat ini terlihat miris, dimana 4 orang terkaya total kekayannya setara dengan 100 juta rakyat yang paling miskin. Dan lebih parahnya lagi dalam skala dunia dimana 1 % manusia setara dengan 99% rakyat dunia, atau jika kita kalkulasikan, sekitar 36 orang terkaya di dunia setara dengan 3.5 milyar rakyat miskin di dunia. Konsentarasi kekayaan yang sangat timpang ini berujung pada ketidakpastian bagi umat manusia, yang kaya semakin kaya yang miskin semakin dimiskinkan. Itulah wujud dari sistem kapitalisme, dimana seluruh aset yang berupa alat produksi bukan dimiliki secara bersama tetapi dimonopoli oleh beberapa manusia saja. Sistem ini mewujudkan kerja sosial dimana kelas pekerja bekerja untuk menghasilkan suatu hasil produksi, tetapi seluruhnya dimiliki oleh yang punya alat produksi, yakni kapitalis. Akibatnya penindasan hari ini semakin meraja-lela. Ribuan masyarakat papua di tangkap dan di kriminalisasi tahun 2016 lalu karena melakukan aksi damai untuk hak menentukan nasib sendiri. Bu Emilia kaum buruh perempuan beberapa minggu lalu di pukul oleh kepolisian karena memperjuangkan haknya akibat PHK sepihak dari perusahaan.”

Di tengah-tengah penyampaian orasi politik yang dilakukan berbagai elemen organisasi, hujan membasahi Kota Samarinda. Kondisi tersebut tidak menyurutkan massa aksi untuk melanjutkan aksinya. Hal ini sudah sepantasnya dilakukan karena perjuangan yang dilakukan kali ini belum begitu berat sebagaimana yang dilakukan oleh kelas buruh pada waktu itu yang berjuang mati-matian agar berhasil mewujudkan tuntutannya.

Orasi kali ini disampaikan oleh Jamal perwakilan dari KPO-PRP Samarinda. Sebelum memulai orasinya Jamal mengajak massa aksi untuk menyanyikan lagu Internasionale untuk memantik semangat massa aksi yang sedang diguyur hujan.

“May Day merupakan simbol dari perjuangan kelas buruh. Saat ini kita menyaksikan dimana aparatus negara sudah berani memasuki ranah sipil yang sebenarnya berupaya untuk memberangus gerakan kelas buruh dan kelas tertindas yang ada. Militer saat ini sudah banyak terdapat dipabrik-pabrik untuk menjaga kelas pemodal dan memberangus aksi kelas pekerja dalam bentuk represifitas. PP 78 Tahun 2015 yang dilegitimasi oleh rezim Jokowi tidak mencerminkan keberpihakannya kepada kelas buruh, dimana upah ditentukan oleh tingkat pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi, bukan berdasarkan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) kelas buruh. Kondisi terakhir yang di alami oleh buruh Muara Badak terdapat 100 lebih buruh yang akan di PHK akibat banyak perusahaan mau tutup, dan banyak buruh mengalami sistem kerja outsourcing. Selain itu, politik austerity (pengetatan anggaran) yang diupayakan rezim juga mencerminkan ketidakmampuannya mewujudkan keadilan bagi rakyat, dengan kebijakan ini terjadi penghapusan subsidi pendidikan, kesehatan, BBM, dan sebagainya. Ini berwujud terjadinya peran pihak korporasi dalam aktivitas negara, yang artinya terjadi liberalisasi jalan perekonomian negara”

Selanjutnya, Jamal menawarkan alternatif dari upaya aksi yang dilakukan pada hari ini, yakni mendorong disiplin ilmu pengetahuan yang kita pelajari dikampus untuk dapat berpihak dengan kelas tertindas dan berjuang bersama mereka.

“Kemarin kami ke Muara Badak bertemu dengan buruh-buruh disana, mereka sangat berharap kedepan kita bisa belajar bersama dengan buruh disana, membahas persoalan ekonomi politik, pertanian, lingkungan, serta undang-undang perburuhan. Dengan harapan ini, kita perlu kedepan untuk melakukan pendidikan bersama kelas buruh, disiplin ilmu kita harus dapat diaplikasikan bukan hanya dipelajari dan dihapal tetapi harus diwujudkan bersama, ilmu hukum harus dapat mempelajari persoalan undang-undang ketenagakerjaan yang merugikan kaum buruh, ilmu sosial dan politik harus dapat mengedepankan keberpihakannya kepada kelas tertindas, ilmu ekonomi harus digunakan untuk membongkar keburukan-keburukan kelas kapitalis yang menghisap kelas buruh, begitupun dengan ilmu-ilmu lainnya harus dapat menterjemahkannya dalam realitas yang ada. Selain itu ilmu tersebut harus berguna untuk menyadarkan seluruh kelas tertindas bahwa kesejahteraan yang sejati tidak bisa di dapat dengan meminta-minta, melainkan harus direbut oleh kekuatan kita sendiri. Dengan membangun kekuasaan kelas tertindas, yakni negara kelas pekerja. Dengan demikian kita dapat mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, tanpa ada penindasan dan penghisapan.

Seiring dengan guyuran hujan yang semakin deras. Peserta aksi silih berganti melakukan orasinya. Tepat pada pukul 12.00 wita, aksipun ditutup oleh Korlap dengan menyatakan bahwa “Perjuangan hari ini adalah tahap awal kita dalam merespon berbagai momentum perlawanan di bulan merah.” Rencananya massa aksi GERAM akan merespon beberapa momentum perlawanan di bulan Mei. Aksipun ditutup dengan salam perjuangan. Hidup Buruh ! Salam Pembebasan ! (TPP)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s