Merawat Lingkungan, Melawan Kapitalisme

2017-06-06-photo-00002305.jpg
sumber foto : kdimagens.com

Pada tanggal 05 Juni 2017 kemarin, adalah peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Berbagai elemen masyarakat ikut meresponnya. Banyak diantaranya mengeluh-eluhkan kondisi lingkungan hidup yang makin rusak. Apa sebenarnya yang menyebabkan semua itu? dan bagaimanakah agar lingkungan hidup dapat terjaga keberlangsungannya? pertanyaan ini sepertinya masih perlu untuk dijawab. Kita bisa melihat akar masalah kerusakan lingkungan yang terjadi, dari sudut pandang ekonomi politik hari ini. Sistem dimana alat-alat produksi, hanya kuasai segelintir orang saja (pemodal) yang memiliki kepentingan untuk mengeksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) diatas keinginan meningkatkan kekayaan pribadinya. Kita kemudian menyebutnya sistem kapitalisme.

Harus kita sadari terlebih dahulu, bahwa saat ini alam menjadi sepenuhnya objek dari manusia. Alam sepenuhnya murni dilihat sebagai penggunaan, tidak dilihat sebagai sebuah kekuatan untuk dirinya sendiri. Tidak heran, jika bumi tempat manusia hidup, saat ini menuju titik kematiannya dengan sangat cepat. Hukum-hukum alam, tidak lain adalah tipu muslihat untuk menundukkan alam dibawah kebutuhan manusia. Kerja manusia dalam mengelola alam, tidak lagi sebagai ekspresi untuk memenuhi kebutuhan. Hubungan manusia dan alam dijadikan sebagai dorongan untuk menumpuk keuntungan dan kekayaan pribadi.

Perkembangan kapitalisme selalu ditandai dengan kerusakan lingkungan. Pada abad ke-19, merupakan masa awal revolusi industri, dimana kerusakan lingkungan yang mulai terlihat dan terus meningkat. Hal ini merupakan akibat dari aktivitas pabrik dan bersamaan dengan peningkatan konsumsi batu bara saat itu. Kondisi ini diperparah dengan adanya industri kimia, sehingga meningkatkan polusi udara. Dan penggunaan pupuk kimia yang mulai diperkenalkan hampir keseluruh dunia serta mengakibatkan kerusakan tanah. Bahkan menjalarnya berbagai penyakit yang mengakibatkan kematian tidak bisa terhindarkan. Kerusakan lingkungan hidup pun menjadi isu utama yang meluas dan memicu tekanan politik dari kelas menengah perkotaan yang kemudian menghasilkan undang-undang lingkungan hidup pertama.

Pada tahun 1950 dan 1960an sistem kapitalisme mengalami boom ekonomi yang panjang. Selama periode ini terdapat peningkatan penggunaan bahan bakar fosil, terutama bensin yang bersamaan dengan ekspansi dari industri otomotif. Kemudian diperparah dengan penggunaan kimia sintetis hampir disetiap sektor aktivitas manusia serta uji coba nuklir. Situasi tersebut menjadi dasar terbangunnya gerakan dalam isu lingkungan hidup, sebagai agenda konferensi PBB tentang lingkungan hidup, tanggal 5 juni 1972 ditetapkan sebagai Hari Lingkungan Hidup Dunia. Dengan embel-embel untuk menjaga perdamaian dunia juga dibutuhkan peningkatan kesadaran masyarakat dunia tentang pentingnya lingkungan.

Alih-alih sebagai penjaga perdamaian dunia, PBB malah melahirkan International Monetary Fund (IMF) sebagai anak organisasi, yang dengan dalih pula menyelamatkan ekonomi dunia dan merangsang pembangunan paska kerusakan yang disebabkan  pada perang dunia ke-2. Dengan syarat-syarat negara peminjam dana harus melakukan berbagai kebijakan yang sangat menguntungkan kelas borjuis seperti privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), penghapusan hambatan ekspor dan impor, penghapusan pengendalian harga dan subsidi negara, termasuk memperluas hak dan membantu masuknya investor asing. Bisa kita lihat juga, hari ini, peran PBB hampir nihil didalam berkecamuknya konflik-konflik senjata yang terjadi di Timur Tengah, pembantaian kelompok etnis Muslim Rohingya, hingga tindakan represif aparat Indonesia pada warga Papua.

Hal itu, masuk ke Indonesia diera orde baru Presiden Soeharto. Membuat borok yang begitu besar dibumi Papua, ibu pertiwi menjadi barang dagangannya, yakni PT.Freeport McMoran. Kerusakan lingkungan terjadi menyebabkan sebuah lubang besar dengan kedalaman 800 meter, sungai-sungai tercemar, flora dan fauna punah. Lahan-lahan pertanian tidak lagi produktif, bahkan tergusurnya suku-suku asli Papua, akibat masuknya Freeport dengan kebijakan-kebijakan pro Kapitalisme ala Soeharto.

Apa yang terjadi hingga saat ini (Membaik atau memburuk) ?

Seperti yang telah disinggung diatas bahwa Kapitalisme adalah telah menciptakan bencana besar dalam peradaban umat manusia. Dilansir pada situs National Geoghraphic Indonesia, bahwa bumi semakin panas 1,2 derajat. Rata-rata kenaikan permukaan air laut pada tahun 1901-1990 adalah 1,2 milimeter, namun sebuah kejutan terjadi pada 1993-2010 rata-rata kenaikan berlipat menjadi 3 milimeter per tahun. Jika hal tersebut terus terjadi bisa kita asumsikan bahwa pusat-pusat pemukiman seperti perkotaan di pinggiran pantai akan kehilangan luasanannya, yang berarti hilang pula tempat tinggal manusia.

Di tahun 1979, Es Arktika masih seluas 7,20 juta ha, dan ditahun lalu 2016 hanya tersisa 4,71 juta ha. Bahkan akibat pemanasan global ditahun 1980-2016  ada 746 kasus bencana tidak alami (suhu ekstrim, kekeringan, kebakaran hutan dll). Atau ditahun 2003 gelombang panas yang menawaskan 70.000 jiwa yang seharusnya hanya terjadi sekali dalam 500 tahun kini hanya sekali dalam 40 tahun.

Bahkan, Polusi di Tiongkok mencapai titik kritisnya pada tahun 2015, dimana 23 kota  di Tiongkok mengalami pencamaran polusi udara terburuk, kita juga tahu bahwa Tiongkok adalah salah satu negara terbesar pengonsumsi energi kotor.

Itu adalah sebagaian contoh dari kerusakan lingkungan yang terjadi. Sekali lagi kita tidak bisa berharap sebuah dunia yang sehat, bersih, dan hijau sambil bergandengan tangan mesra dengan kapitalisme. Pembangunan ala kapitalisme adalah pembangunan yang berorientasikan pada peningktan nilai lebih. Kelas borjuis menguasai negara, mengatur arah jalannya pembangunan, dimana pembangunan harus bisa mengakumulasi (melipatgandakan) modal yang mereka miliki. Di Indonesia, dengan jargon pembangunan, sisi ekologis atau lingkungan hanya menjadi dokumen penghias dalam memuluskan akumulasi kapital. Pemerintah Indonesia menjual sumberdaya alam dengan dalih pembangunan untuk kepentingan umum. Dikeluarkannya hak pengelolaan hutan IUPPHHK-HA/HT atau dulu dikenal HPH dan HTI, membuat bumi Kalimantan dan Sumatera khususnya rusak, dan tak lagi rimba.

Kita bisa lihat baru-baru ini pada masyarakat Samin, di Kendeng, bagaimana para borjuis dengan menunggangi pemerintah dan aparatusnya, mencoba mengeruk tempat hidup orang banyak, mencoba membuat lubang menganga untuk membuka industri semen. Belum selesai dengan Kendeng, adanya rencana pembangunan pabrik semen di Biduk-Biduk, akan semakin memperarah wajah bumi, juga mematikan perekonomian warga sementara yang bertumpu pada jasa pariwisata, karena rusaknya alam Biduk-Biduk jelas mengurangi minat wisatawan.

Di Samarinda sendiri lubang-lubang tambang yang ditinggal begitu saja oleh para borjuis ini, menyebabkan kematian pada puluhan anak-anak. Bahkan, di tahun 2014 dan 2017 baru ini, Balikpapan yang jarang sekali terjadi banjir, kali ini harus menyusul tetangga mereka (Samarinda) yang sudah kenyang dengan banjir.

Dengan demikian perkembangan historisnya sampai pada hari ini, menunjukkan karakter kapitalis tidak berkelanjutan (ekologis). Karena bagi para borjuis ini, sisi ekologi tidak menghasilkan uang, atau mengakumulasi kapital mereka secara masif. maka dari itu kebiabadaban mereka telah merusak wajah dari ibu pertiwi.

Bagaimana seharusnya?

Kita sudah menyaksikan, bahwa kebijakan politik berpihak pada kelas borjuis, untuk melipatgandakan kekayaan pribadinya, kelas borjuis ini menunggangi apapun, termasuk kebijakan yang tidak pro lingkungan. Karena begitulah sebenarnya kapitalis birokrat. Mereka menggunakan jabatannya untuk memenuhi kebutuhannya. Itulah yang menyebabkan kapitalis birkokrat sangat takut kepada kelas borjuis. Berbagai kebijakan yang menguntungkan bagi kelas borjuis akan dilegalkan. Seperti, Reklamasi Teluk Benoa, Teluk Jakarta, pembangunan pabrik semen di Kendeng dan Biduk-Biduk, sampai pembukaan Pertambangan di perkotaan Samarinda hingga, perusakan daerah mangrove Teluk Balikpapan untuk daerah industri. Dan masih banyak lagi.

Namun, kita juga tidak bisa bersandar pada LSM/NGO yang bergerak dibidang lingkungan dengan langkah-langkah advokasi-advokasinya dan juga demonstrasinya yang menawan, mencoba menyelesaikan kerusakan lingkungan dalam kapitalisme. Maka, sandaran kita sangat rapuh, serapuhnya pijakan Tuan dan Nyonya NGO kita. Yang malah terjebak dalam logika kapitalisme dengan mengkomoditikan konservasi (REDD, CSR, dll). Karena berharap Tuan Presiden kita memberi kebijakan-kebijakan pro lingkungan sama saja berharap Superman mendarat diplanet ini.

NGO memiliki kesibukan-kesibukan advokasi ataupun serangkaian penelitian yang tidak murah, mereka tidak abai terhadap politik, tapi hampir membenarkan bahwa permasalahan lingkungan adalah masalah moral dari politikus, yang nantinya hanya akan bermuara terhadap hal-hal reformis, sekali lagi ini bukan hanya masalah moral, tapi masalah sistem yang hanya berpihak pada segelintir pemilik modal. Perjuangan mewujudkan lingkungan hidup harus melampaui reforma-reforma pada perubahan mendasar tatanan masyarakat. Tidaklah cukup dengan sekedar reforma-reforma.

Kita tidak bisa melakukan perubahan yang mengakar (revolusioner) tanpa mempelajari teori-teori yang benar matang dan revolusioner. Ibarat berjalan ditengah-tengah gurun tanpa sebuah kompas dan peta, yang kita lakukan hanya jalan tanpa tau dimana oase berada, tanpa arah, benar kita berjalan, tapi berjalan-jalan yang percuma. Seperti yang dikatakan Lenin “tidak ada praktek yang revoluisoner tanpa teori yang revolusioner.”

Sudah jelas bahwa hari ini, rakyat terbagi menjadi kelas yang bertentangan. Kerusakan lingkungan tidak menjadi masalah bagi para kelas borjuis tersebut, karena saat banjir melanda mereka punya rumah yang nyaman, gedung tinggi diatas perbukitan, atau saat cuaca ekstrim melanda mereka tinggal menekan tombol ON di remote kendali AC mereka guna menyejukan tubuh mereka yang rakus itu, dan kalau saja naiknya permukaan air laut merendam kota-kota dipesisir, mereka bisa dengan gampang pindah ke daerah pegunungan.

Tentu berbeda dengan mereka yang tidak memiliki alat-alat produksi, yang dihisap waktu dan tenaganya untuk menambah kekayaan pemilik modal, yang tak berdaya saat banjir tiba, mati tertimbun tanah longsor, tidak mendapatkan air layak pakai, kelaparan, dan berbagai macam ancaman penyakit lainnya. Kepasrahan dan reformasi kapitalisme tidak akan dapat menjawabnya.

Kehidupan yang layak hanya mungkin dilakukan dalam medan perjuangan untuk merebut kendali atas ekonomi-politik. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kerusakan lingkungan, berkaitan erat dengan proses produksi. Kepemilikan atas alat-alat produksi oleh kelas pemilik modal, telah membawa masa depan manusia dan lingkungannya kepada masa suram.

Dengan begitu, motif produksi yang demikian (keinginan untuk meningkatkan kekayaan pribadi) harus diganti sepenuhnya. Kendali atas alat-alat produksi haruslah berada dibawah kelas pekerja.  Keberlangsungan alam, hanya dimungkinkan dengan produksi yang terencana. Perencanaan tersebut, tentu bukan untuk keuntungan pribadi melainkan atas kebutuhan sosial. Kelas proletar akan merencanakan pembangunan secara demokratis. Kelas proletar akan menentukan keberlangsungan lingkungan selanjutnya. Kerja yang demikian dilakukan secara sadar oleh rakyat pekerja dibawah prinsip-prinsip sosialisme, sebagai wujud reorganisasi ekonomi secara radikal dan mengabdi pada kebutuhan rakyat.

Ditulis Oleh : Ulin Zwageri | Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

Referensi :

http://www.jatam.org/wp-content/uploads/2015/02/Pelanggaran-HAM-Dalam-Kasus-Eks-Lubang-Tambang-Batubara-di-Kalimantan-Timur.pdf

http://www.limbahb3.com/15-masalah-lingkungan-terparah-pada-tahun-2015/

http://nationalgeographic.co.id/berita/2017/02/dampak-dampak-pemanasan-global-kini-semakin-nyata

https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Lingkungan_Hidup

http://www.pengertianahli.com/2015/01/imf-pengertian-tujuan-dan-sejarah-imf.html

http://www.hijauku.com/2012/09/28/data-data-terbaru-perubahan-iklim/

Majalah National Geographic Indonesia edisi April 2017,, penerbit Kompas Gramedia Majalah

Koran Arah Juang Edisi 19, “Menjaga Bumi, Melawan Kaptalisme”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s