MARXISME DAN EKOLOGI (Bagian 1)

ilustrasi manusia dan alam 1-15
Sumber foto : http://www.brilio.net

Tulisan berikut ini, merupakan rangkuman dari buku yang ditulis oleh John Bellamy Fost Seorang Professor dari University of Oregon Amerika Serikat, yang berjudul “Ekologi Marx, Materialisme dan Alam”, Buku ini membahas pandangan-pandangan tentang alam yang muncul seiring perkembangan materialisme dan sains dari abad ketujuhbelas hingga kesembilanbelas dan dua  arus pemikiran yang keseluruhannya banyak disampaikan dalam kaya Darwin dan Marx. Namun, yang menjadi tujuan utama buku ini adalah memahami dan mengembangkan sebuah pandangan ekologis revolusioner yang sangat kita butuhkan kini; sesuatu yang menghubungkan transformasi sosial dengan transformasi relasi manusia kepada alam yang kita nilai sebagai ekologis.

 

Dalam pengertiannya yang paling umum, materialisme mengklaim bahwa asal muasal dan perkembangan semua yang ada bergantung kepada alam dan “materi”, yaitu realita fisik yang independen dari, dan ada sebelum adanya pemikiran. Pendekatan marx sendiri terhadap materialisme terinspirasi oleh filsuf yunani kuno Epicurus, yang menjadi bahan tesis doktoralnya.

Ketertarikan marx terhadap Epicurus tumbuh sejak studi awalnya akan agama dan filsafat pencerahan, dalam hal ini dipengaruhi Bacon dan Kant, dan masing-masing telah menunjjuk Epicurus sebagai orang yang fundamental bagi perkembangan filsafat mereka. Lalu didorong lebih jauh oleh perkenalannya dengan Hegel, yang melihat Epicurus sebagai “penemu sains alam empiris” dan penjelmaan atas apa yang disebut sebagai jiwa pencerahan pada masa kuno. Lalu diperkuat lagi oleh semangat ketertarikan kembali terhadap doktrin materialis yang muncul diantara banyak  Hegelian muda, mulai dari Feurbach awal tahun 1830-an.

Basis bersama materialis ini, Epicurunisme berpandangan anti teologis: menolak semua penjelasan atas alam berdasarkan maksud ilahiah. Untuk memahami arti penting sebuah pertanyaan mengemuka dalam semua diskusi filosofi awal abad kedelapanbelas, yakni seperti yang digambarkan Engels:

“Apakah Tuhan telah menciptakan dunia, atau dunia telah ada secara abadi? Jawaban filsuf yang diberikan pada pertanyaan ini membelah mereka menjadi dua kubu. Mereka yang menegaskan keutamaan roh atas alam, dan dengan begitu pada akhirnya mengasumsikan penciptaan dunia dalam bentuk tertentu, tergabung dalam kubu idealisme. Kubu lainnya menilai, alam lah sebagai utama dianut oleh materialisme.

Ekologi

            Haeckel, salah seorang pengikut Darwin di Jerman. Menggunakan kata “Okologie” atau ekologi dalam Generelle Morphologie der Organismen tahun 1866. Dari bahasa Yunani, kata ekonomi yaitu “oikus” berarti rumah tangga. Berkaitan dengan apa yang Darwin dalam The Origin of Species sebagai “ekonomi alam”. Heackel menuliskan,

Dengan ekologi, kita maksudkan adalah badan ilmu pengetahuan tentang ekonomi alam, investigasi total tentang relasi binatang terhadap lingkungan organic dan anorganiknya; termasuk yang terpenting, hubungan persahabatan dan permusuhannya dengan binatang-binatang dan tumbuhan, secara langsung dan tidak langsung yang berkontak dengan dirinya. Dengan kata lain, ekologi adalah studi tentang semua hubungan timbal balik yang diacu oleh Darwin sebagai kondisi bagi perjuangan eksistensi. Ilmu ekologi ini, sering diacu tidak akurat sebagai “biologi” dalam pengertian sempit. Dan berkembang jauh membentuk komponen utama bagi apa yang umum diacu sebagai “Sejarah Alam.”

Rachel Carson, menyatakan: “Hari ini akan sulit menemukan orang terdidik yang menyangkal fakta evolusi. Namun begitu banyak dari kita menyangkal konsekuensi yang jelas: bahwa manusia dipengaruhi oleh pengaruh lingkungan yang sama, mengontrol kehidupan banyak ribuan spesies lainnya, yang padanya manusia terkait ikatan evolusioner.

Implikasi lebih luas dari hal ini dan keseluruhan arti penting materialisme bagi perkembangan pemikiran ekologis dapat dipahami lebih jelas lewat pespektif ekologi kontemporer dengan melihat empat “hukum informal” ekologi terkenal karya Barry Commoner. Hal tersebut adalah: (1) semua berkaitan dengan lainnya, (2) segala sesuatu harus pergi ke suatu tempat, (3) alam mengetahui yang terbaik, (4) tidak ada yang datang dari yang tidak ada.

Dua yang pertama dan yang terakhir dari hukum informal ini adalah prinsip utama fisika Epicurun, ditekankan dalam buku pertama Lucretius De renum natura, yang berusaha menampilkan filsafat epicurean dalam bentuk puisi. Ketiga, sekilas mengimplikasikan pemahaman naturalistik, determinisme teleologis. Namun dalam konteks argumentasi Commoner lebih baik dipahami sebagai “evolusi mengetahui yang terbaik”. Yakni, sepanjang perjalanan evolusi, sebaiknya tidak  dipahami secara kaku telah ditentukan sebelumnya, atau proses teleologis, tapi sebagai kontingensi (yang tak terduga-duga) dalam setiap tahapannya, spesies (termasuk manusia), telah beradaptasi dengan lingkungan mereka lewat proses seleksi alam variasi yang kekal, berlangsung jutaan tahun. Lalu, menurut perspektif ini, kita sebaiknya berhati-hati melakukan perubahan mendasar ekologis, sadar bahwa jika kita memperkenalkan hal baru ke lingkungan, seperti kimia-kimia sintetis, yang bukan dari hasil evolusi secara lama, maka kita sedang bermain api.

Banyak yang beranggapan marx kurang perhatian terhadap ekologi. Padahal, sejak awal konsep keterasingan marx tentang keterasingan manusia dalam kerja berkaitan dengan pemahaman keterasingan manusia dari alam. Ada enam argumentasi pengkritik yang sering disampaikan terkait ekologi. Pertama, pernyataan ekologi marx hayalah “pencerahan sampingan” Karena tidak terhubung sistematis dengan karya utamanya. Kedua, pandangan ekologis dalam jumlah kecil muncul pada kritik awalnya tentang keterasingan , dan kian tak tampak pada akhirnya. Ketiga, marx dikatakan gagal menjelaskan eksploitasi alam (mengabaikan hal tersebut dalam teori nilainya), dan mengadopsi “pandangan promothean” (pro teknologi anti ekologis). Keempat, dikatakan  bahwa pandangan marx tentang teknologi kapitalis dan perkembangan ekonomi mengatasi masalah ekologis: karenanya masayarakat masa depan (asosiasi penghasil) akan berada dibawah kondisi keberlimpahan. Dengan begitu, ekonom alec nove yang berusaha menerangkan logika marx, menyatakan , tidak perlu secara serius memperhatikan persoalan alokasi sumber daya yang langka, atau mengembangkan sebuah sosialisme yang sadar ekologis. Kelima, marx dikatakan sedikit memberi perhatian terhadap isu sains atau efek teknologi terhadap lingkungan, dan dengan begitu tidak memiliki basis ilmiah bagi analisis isu-isu ekologis. Menurut sosiolog ingris, Michael redclift dan Graham woodgate, marx menganjurkan bahwa interaksi manusia dengan lingkungan alam, sementara bersifat sosial, juga adalah luas dan tidak berubah, umum terhadap setiap fase eksistensi sosial. Perspektif ini tidak mengakui secara penuh peran teknologi dan efeknya bagi lingkungan. Keenam, marx dikatakan telah menjadi speciesist secara radikal memutus hubungan antara manusia dan binatang, dan memihak yang pertama diatas yang terakhir.

Banyak kritik ini mencampuradukkan marx dengan teoritikus sosialis lainnya, yang marx sendiri kritik. Marx diserang karena sangkaan teknologi “prometheanisme”, kendati serangan paling keras yang pernah ditulis terhadap pandangan yang disebut sebagai “Promothean” dibuat oleh Marx sendiri, dalam kritiknya terhadap System of Economical Contradictions (Sistem Kontradiksi Ekonomi) karya Proudhon. Sama halnya, Marx dikritik karena gagal mengakui sumbangsih alam terhadap kemakmuran, kendati Marx secara tajam mrngkritik sosialis Jerman, Ferdinand Lassale, karena mengadopsi pandangan “supernatural,” bahwa hanya kerja sematalah sumber kemakmuran, dan mengabaikan sumbangsih alami. Apa yang dipertanyakan oleh sebagian besar kritik ini adalah materialisme Marx. Materialism Marx dikatakan telah menggiringnya menekankan jenis “Baconian” atas alam dan pembangunan ekonomi, ketimbang menegaskan nilai-nilai ekologis. Dengan begitu Marx dianggap sebagai Whig radikal (kelompok politik di Inggris mendukung ekonomi dan kemajuan perdagangan) melawan pemuja alam Tories; perwakilan ulitarian antroposentrisme vs ekosentrisme. Persoalan kritisisme ini, seperti banyak sosioekonomik kontemporer, yang gagal memahami interelasi material yang berkembang (disebut oleh Marx “relasi metabolis) antara manusia dan alam dilupakan sama sekali.

Maka, beranjak dari konsep “penguasaan alam” Caudwell (1937), seorang pemikir marxis terbesar generasinya di Britania, menulis dalam Illusion and Reality (Ilusi dan Realitas),

Bahwa manusia, dalam perjuangannya dengan alam (yakni, pejuangan mereka untuk kemerdekaan) memasuki hubungan tertentu dengan masing-masing lainnya untuk memenangkan kemerdekaan itu… tapi manusia tidak dapat mengubah alam tanpa mengubah dirinya sendiri. Pemahaman penuh saling interpenetrasi gerakan refleksif antara manusia dan alam, dimediasi oleh kebutuhan dan hubungan-hubungan yang berkembang yang dikenal sebagai masyarakat, adalah pengakuan kebutuhan, tidak hanya dalam alam, namun dalam diri kita sendiri, dan dengan demikian dalam masyarakat. Dilihat secara objektif, hubungan aktif subyek-obyek ini adalah sains, dilihat secara subjektif adalah; namun seperti kesadaran tumbuh dalam keasatuan aktif dengan praktek, itu sederhananya adalah kehidupan konkrit, keseluruhan proses kerja, merasa, berpikir, dan berkelakuan seperti individu manusia dalam sebuah dunia individu-individu dan alam.

Dengan konsepsi dialektis seperti ini, Caudwell menggunakan pendekatan koevolusioner terhadap relasi manusia dan alam, berakar dari Darwin dan juga Marx. Perkembangan terbesar dalam evolusi pemikiran ekologis adalah hasil kebangkitan konsepsi materialis akan alam, berinteraksi dengan perubahan kondisi historis.

Selanjutnya, dituliskan oleh Levins dan Lewontin (jantung analisisnya dari Engels dan Caudwell, tapi dengan basis ilmiah yang lebih kuat) adalah konsep “Organisme sebagai subyek dan obyek evolusi.” Artinya, Organisme tidak melulu. Mereka juga mengubahnya. “sering dilupakan bahwa benih adalah lingkungan bagi tanah. Tanah mengalami perubahan evolusioner yang besar dan selamanya, sebagai konsekuensi langsung aktivitas pertumbuhan tanaman didalamnya. Dan perubahan ini berbalik mengubah kondisi eksistensi organism.” Secara esensial ini adalah pandangan Ekologis Dialektis.

Marxisme memiliki keunggulan potensial besar berurusan dengan semua isu, karena bersandarkan pada teori masyarakat (antecedent) kondisi produktif material masyarakat, dan bagaimana hal tersebut membatasi kemungkinan-kemungkinan yang dilakukan dan kebebasan manusia; namun juga, setidaknya dalam Marx dan Engels (Marxisme), tidak pernah memalingkan pandangan dari keharusan hubungan antara kondisi-kondisi material ini dengan sejarah alam, yakni sebuah konsepsi materialis akan alam. Maka, Marxisme menunjukkan keharusan materialism ekologis, atau konspesi dialektis sejarah alam. Kendati hal inilah yang lalu disebut “materialism dialektis”.

Keterasingan Manusia dan Alam

Dalam Manuskrip Ekonomi dan Filsafat tahun 1844, Marx menuliskan tentang pengembangan keterasingan buruh. Menurutnya keterasingan pekerja dari (1) obyek pekerjaannya, (2) proses kerja, (3) keadaanya sebagai spesies manusia (yakni aktivitas transformatif, kreatifitas, mendefenisikannya sebagai spesies tertentu), (4) dari sesama manusia. begitulah konsep Marx tentang keterasingan, tidak terpisahkan dari keterasingan manusia dan alam, baik dari alam internal mereka sendiri maupun alam eksternal. “Universilitas manusia”.

Alam adalah badan inorganic manusia, disebut demikian karena dia bukanlah badan manusia. Manusia hidup dari alam, artinya alam adalah tubuhnya, dan dia harus mempertahankan dialog dengan alam, jika tidak ingin mati. Dengan menyebut bahwa fisik manusia dan kehidupan mental terhubung dengan alam, arti sederhananya adalah alam itu sendiri berhubungan dengan dirinya sendiri, karena manusia adalah bagian dari alam.

Bagi Marx, hubungan ini secara jelas adalah organik tetapi melampaui fisik, sementara pada saat yang sama secara praktis adalah perpanjangan aktual organ-organ badan manusia-alam dilihat sebagai tubuh inorganik manusia.

 

Manusia menurut konsepsi ini, memproduksi hubungan kesejarahannya dengan alam sebagian besar melalui cara memproduksi alat-alat kehidupan mereka. Alam dengan demikian bermakna praktis bagi manusia, sebagai hasil aktivitas kehidupan. Maka, keterasingan terjadi pada saat bersamaan adalah pengasingan manusia dari aktivitas kerjanya sendiri dan peran aktifnya dalam mentransformasi alam. Keterasingan semacam ini, megasingkan manusia dari badannya sendiri, dari alam sebagaimana alam tersebut berada diluar manusia, dari esensi spritualnya, esensi kemanusiaannya.

Keterasingan alam, timbul dari kehidupan praktis manusia, tidak lebih abstrak dalam intinya ketimbang keterasingan kerja keduanya didasarkan akan dorongan secara ekonomi politik masyarakat kapitalis. Keterasingan kerja adalah cerminan kenyataan bahwa kerja dikerdilkan secara besar-besaran kedalam status komoditi. Diatur oleh hukum permintaaan dan penawaran. Namun, proletarisasi pekerja ini tergantung pada transformasi hubungan manusia terhadap tanah seperti ditegaskan ahli-ahli ekonomi klasik, hanya lewat kerja, lewat pertanian, tanah eksis bagi manusia. tapi hubungan terhadap tanah ini secara cepat ditransformasikan lewat apa yang disebut sebagai “akumulasi primitif” termasuk didalamnya pengaplingan tanah, kemunculan perkebunan besar dan penggusuran petani.

Dominasi atas bumi itu sendiri, kompleks dan dialektis berasal dari konsepnya tentang keterasingan. Hal tersebut, mengartikan, pertama, dominasi bumi oleh mereka yang memonopoli tanah (dengan demikian menguasai kekuasaan mendasar alam); dan kedua, dominasi bumi dan benda mati (mempresentasikan kekuatan tanah dan kapitalis) atas sebagian besar manusia. Maka, keterasingan bumi, dan dominasinya atas sebagian besar manusia (diasingkan demi kepentingan segelintir orang) adalah elemen penting dalam kepemilikan pribadi dan telah eksis pada kepemilikan tanah feudal, menjadi “akar kepemilikan pribadi”, sebelum kemunculan kapitalisme. “tanah telah tampak sebagai badan inorganic tuan tanah, yang menjadi tuan dan menggunakannya  untuk mendominasi petani”. Tetapi sitem masyarakat borjuislah menyebabkan dominasi akan bumi ini (dan lewat dominasi bumi ini menjadi dominasi manusia) menjadi sempurna. Sementara sistem borjuis tampak menentang sistem kepemilikan tanah luas dia bergantung kepadanya sebagai tahap kunci bagi perkembangannya. Maka kepemilikan tanah luas seperti di inggris menggiring sebagian besar populasi ke pelukan industry dan mengerdilkan pekerrja ke dalam penderitaan total.

Peran kepemilikan tanah skala besar dalam memonopoli tanah, dengan begitu mengasingkan bumi. Bagi marx, adalah analog dengan dominasi capital atas uang dipahami sebagai “benda mati”. Pernyataan “uang tidak mengenal tuan” adalah “pernyataan dominasi penuh materi atas manusia”. hal ini “kenyataan bahwa tanah, seperti manusia”. Hal tersebut adalah pernyataan terpenuh atas kenyataan “bahwa tanah, seperti manusia”, telah tenggelam ke “tingkat obyek yang dapat diperjualbelikan”.

“Pandangan alam yang telah tumbuh dibawah rezim kepemilikan pribadi dan uang adalah pengecaman aktual atas dan degradasi praktis terhadap alam. Keterasingan dari alam ini, diekspresikan lewat pemujaan uang, yang telah menjadi “esensi yang diasingkan”: uang jadi universal dan pembentuk sendiri nilai atas semua benda. Dengan begitu dia telah melucuti semua dunia manusia dan juga dunia alam dari nilai khususnya.”

Darwin(isme), Marx(isme) dan Teologi Alam

Tahun 1837, Charles Darwin membuka seri pertama buku catatannya tentang “transmutasi spesies”. Setelah membaca tulisan Thomas Malthus Essay on Population(1838), Darwin telah memahami transmutasi spesies terjadi dengan seleksi alam disebabkan oleh perjuangan untuk eksistensi. Terinspirasi oleh deskripsi Malthus tentang pertumbuhan eksponensial populasi bila tak dibatasi, dengan begitu dibutuhkan pembatasan alam terhadap pertumbuhan  pupulasi untuk mempertahankan antara populasi dan sarana subsistensi, Darwin menjelaskan dalam bukunya pembatasan pertumbuhan populasi diantara spesies beroperasi layaknya “kekuatan ratusan ribu baji menekan setiap struktur teradaptasi kedalam celah-celah ekonomi alam dalam karya besarnya On the Orgion of Species by Means of Natural Selection (Tentang Asal Muasal Spesies dengan Cara Seleksi Alam).

Darwin tidak mengungkapkan penemuannya hingga tahun 1858, alasan penundaan dua dekade ini ke publik, terkait dengan bidaah melawan pandangan mapan direpresentasikan teorinya tentang seleksi alam. Perspektif dominan tentang dunia alam pada masa Darwin, kendati pengaruhnya menyusut dikalangan ilmuwan dan filsuf, adalah teologis. Berakar pada konsep pemeliharaan ilahiah. Usaha-usaha dilakukan pada abad kedelapanbelas dan awal abad kesembilanbelas “mentemporelasikan” tingkat alam seiring menguatnya ide evolusioner. Namun, masih saja pandangan religious campur tangan atas semua usaha memahami evolusi alam. Banyak pandangan dalam geologi pada periode tersebut berbentuk katastropisme (bencana-isme), sebuah kompromi antara penjelasan injil tentang penciptaan dan pertumbuhan sains ilmiah tentang proses pembentukan geologis, inilah kemuculan dari teologi alam.

Hubungan Negara dan gereja di sebagian besar negri eropa sangatlah dekat, bahkan hingga abad kesembilan belas. Artinya, tuduhan materialisme dan ateisme adalah serangan yang amat serius. Darwin sadar penghujatan akan Tuhan yang dia lakukan lebih bidaah. Sebab tak hanya menyerang teologi religius, namun juga pandangan antroposentris, yakni dalam pengertiannya Tuhan ditampilkan telah menciptakan alam bagi manusia, dan pikiran dianggap terpisah dari materi. Pandangan Darwin, satu sisi cenderung menurunkan status spesies manusia dengan mengalamatkan asal manusia dari spesies lebih rendah, yakni kera (semoyang).

Darwin adalah cucu dari industrialis Josiah Wedgwood, tinggal di kebun yang luas di Down House di Kent. Uangnya diinvestasikan di saham rel kereta api. Darwin seorang yang percaya kuat dengan tatanan borjuis. Sainsnya revolusioner, tapi Darwin bukan, disinilah letak dilemanya. Sesekali, Darwin membiarkan inkonsistensi perlahan masuk kedalam analisisnya (ketidakkonsistenan ini dapat dilacak dari posisi kelasnya).

Saat Darwin sedang berjuang dengan pandangannya tentang evolusi dan materialisme, Karl Max sedang berusaha membebaskan diri dari filsafat idealis Jerman, secara esensial adalah pandangan teologis. Dibawah pengaruh Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) mendominasi sistem filsafat Jerman, yang berusaha menerangkan roh (atau pikiran) dalam sejarah. Pada tahun 1840-1841, Karya Marx paling awal yang menjadi tesis doktoralnya adalah Difference Between the Democritean and the Epicuruen of Nature (Perbedaan antara Alam Demokritusan dan Epicurean). Tulisan ini secara esensial diawali pandangan Hegelian kiri, namun telah mulai keluar dari batas tersebut dengan mengangkat persoalan pertentangan antara filsafat idealisme dan materialisme.

Epicurus warga atena, lahir di pulau samos 341 S.M, enam tahun setelah kematian plato, dan enam tahun sebelum Aristoteles membuka sekolahnya di Lyceum. Epicurus terinspirasi karya atomis Yunani, Leucippus, dan Demokritus, melihat semua realitas terdiri dari atom yang tidak berubah, jumlahnya tidak terbatas, terlalu kecil untuk dilihat; namun bentuk dan ukurannya berbeda, menempati ruang kosong. Atom ini memiliki sifat bisa bergerak, bergabung, dan berpisah dalam berbagai cara untuk membentuk obyek-obyek indera. Perbedaan paling jelas Epicurus dari Demokritus adalah proposisi tambahannya bahwa atom tidak bergerak sepenuhnya berdasarkan pola yang telah ditentukan (determinant). Banyak atom tiba-tiba menikung cepat, menciptakan elemen kesempatan/peluang dan ketidakpastian (dengan begitu, memberikan ruang bagi kehendak bebas). Pada teori atomlah, sains pertama kalinya merasa terlepas dari perasaan akan dunia tak berdasar, tulis Hegel.

Filsafat Epicurus adalah sistem logika ketat secara ekstrim, dan sekali beberapa asumsi telah diterima, sebagian besar yang lainnya tampak mengikuti secara deduksi. Diantara deduksi terpenting adalah konsep ruang yang tidak terbatas (termasuk jumlah dunia yang tidak terbatas) dan waktu yang tidak terhingga. Proporsi awal filsafat alam Epicurean bahwa “tak ada yang pernah diciptakan kekuasaan ilahiah dari yang tidak ada” dan “alam tidak bisa dikurangi menjadi tidak ada”. Kedua proporsi ini bersama-sama membentuk apa yang dikenal sebagai “prinsip kekekalan”. Materialisme Epicurean berarti pengusiran kekuasaan ilahiah, semua prinsip teologis dari alam. Salah satu sumbangan terpenting Epicurus yang sangat mempengaruhi Marx adalah konsepnya tentang keadilan. “keadilan” tulisnya “tidak pernah dalam dirinya sendiri, namun dalam urusan manusia dengan yang lainnya disemua tempat dan waktu, jenis ikatan yang tidak melukai daan tidak dilukai.” Jika hukum tidak mendorong kebaikan dalam urusan manusia dengan yang lainnya,”jika dia tidak lagi cocok dengan konsep umumnya, “maka hukum tersebut tidak lagi memiliki hakikat esensi keadilan.” Dalam Epicurus yang materialis, bertentangan dengan idealis, konsepsi hukum tidak mengakui aspek transedensi yang terlepas dari kebutuhan interaksi sosial manusia, seperti kemudian ditunjukkan oleh Marx, Epicurus lah pertama kali menghasilkan konsep kontrak sosial.

Filsafat alam Epicurean bertitik berangkat “prinsip konservasi”, dengan begitu cenderung berwawasan ekologis. Secara khusus tampak dalam karya Lucretius. Dalam kalimat sejarahwan pemikiran ekologis kuno, J. Donald Hughes, “saat ditanyakan beberapa pertanyaan yang kini dianggap sebagai ekologis, “Lucretius menyinggung pencemaran udara karena pertambangan, penurunan, panen karena degradasi tanah, dan kemusnahan hutan; juga berpendapat bahwa manusia tidak berbeda secara radikal dengan binatang.

Lebih lanjut, Marx dalam tulisan berikutnya, menyatakan bahwa Epicurus adalah tokoh pencerahan pada masa kuno, dan merupakan sentral bagi semua pemikir yang mengembangkan pandangan materialis pada abad ketujuhbelas dan kedelapanbelas. Ketertarikan Marx atas hubungan Epicureanisme terhadap pencerahan, juga terhadap materialisme Perancis dan Inggris khususnya tidak hanya dalam tesis doktoralnya. Itu terbukti dalam tulisannya Catatan tentang Filsafat Epicurean (1839), juga pada karyanya yang dituliskan bersama Friedrich Engels yaitu Keluarga Suci (1845), dan Ideologi Jerman (1846).

Pada tahun 1841, ketika penguasa Prussia mulai memberangus Hegelian muda radikal, Marx memilih beralih ke jurnalisme. Salah satu Koran besar Rhineland adalah Rheinische Zeitung, dimana Marx memegang posisi sebagai redaksi (editor). Tulisan pertamanya, mengenai “Perdebatan Hukum atas Pencurian Kayu”. Marx mengembangkan analisa tentang penghapusan hak-hak tanah atas petani kecil yang sebelumnya disebut sebagai Tanah Bersama. Perangkat undang-undang tersebut muncul seiring dengan pertumbuhan industri dan sistem kepemilikian pribadi. Padahal, ketika itu petani kecil secara tradisional memanfaatkan hutan dengan mengambil kayu mati dan pohon tumbang untuk menghangatkan rumah pada musim dingin dan memasak. Hingga para tuan tanah akhirnya melarang bahkan sekedar berburu atau melintas hutan, secara hukum, petani kecil tersebut bisa dijerat dengan pasal pencurian. Dengan cara ini, pemilik hutan berusaha mengubahnya menjadi “nilai” (sumber kekayaan pribadi).

Marx menegaskan kontradiksi antara petani kecil dengan pemilik tanah. Negara dengan undang-undangnya, tentu jatuh ke tangan pemilik tanah. Sedangkan, si miskin dihapuskan semua hubungannya terhadap alam, walau hanya demi kelangsungan hidup. Dari titik ini, Marx menentang pengaplingan atas bagian dari bumi untuk kepemilikan privat.

BERSAMBUNG…

Dinarasikan Oleh Rei Sander | Aggota Lingkar Studi Kerakyatan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s