MARXISME DAN EKOLOGI (Bagian 2)

ecology_marx
Sumber Foto : famntt.wordpress.com

Naturalisme Pendeta, Teologi Alam dan Sistem Ekonomi Politik

            Sebagai bagian tradisi teologi alam secara umum ditempuh oleh naturalis pendeta. Teologi alam pertama kali dikembangkan oleh teolog pada akhir abad keenambelas dan ketujuhbelas demi memapankan eksistensi Tuhan lewat pelajaran alam.

William Paley, teolog alam utama abad kedelapanbelas dan kesembilanbelas yang menuliskan dalam karyanya berjudul Principles of Moral and Political Philosophy (Prinsip Moral dan Filsafat Politik) mempertahankan hubungan kepemilikan yang ada, meski dimengerti bahwa itu tidak alamiah dan tidak adil. Kepemilikan semacam itu, meski bukan sebagai anugerah alam tapi oleh otoritas sipil, sebaiknya diperlakukan sebagai sesuatu yang tidak boleh dilanggar. Tidak terbuka opsi untuk pengambil-alihan sebab, sudah ada “penunjukan oleh sorga”. Paley berkata , “dunia penuh dengan rancangan” namun, “rancangan tersebut diarahkan untuk maksud baik”. Kemudian dalam karya Paley Principles of Moral and Political Philosophy terdapat tanda-tanda pandangan masyarakat patriarkis, tanggung jawab terhadap orang miskin, yang lalu hilang dalam teologi alamnya. Pandangannya bahwa makin bertambah populasi, bertambah pula kebahagiaan masyarakat. Meskipun populasi dibatasi oleh persediaan makanan dan kesuburan tanah. Paley percaya bahwa dalam beberapa derajat tindakan amal publik adalah alami, pembagian kepemilikan diantara umat manusia yang diratifikasi oleh Tuhan.

Namun, akhirnya pandangan Paley berubah secara drastis sesuai dalam teori Malthus tentang populasi. Persoalan populasi menjadi bidang yang mendapat pethatian khusus. Sejak munculnya artikel tanpa nama yang mengusulkan lebih konkrit tentang prinsip populasi yaitu, jika populasi tidak dibatasi maka ia akan bertambah secara deret geometri (1, 2, 4, 8, 16, 32, dst) sementara persediaan makanan cenderung hanya bertambah secara deret aritmatika (1, 2, 3, 4, 5, 6, dst). Karena pertumbuhan populasi tidak akan pernah bisa melebihi pertumbuhan makanan, maka dibutuhkan pembatasan alami tertentu atas pertambahan populasi demi mempertahankan kesetaraan antara populasi dan sarana-sarana bertahan hidup. Pembatasan alami ini sederhananya berupa penderitaan atau kekejaman. Pembatasannya dibagi dua, preventif (membatasi kelahiran) dan positif (menambah jumlah kematian). Pembatasan ini menurut Malthus, mengisyaratkan pembatasan moral, dalam bentuk membatasi hubungan seks bebas sebelum pernikahan (membatasi keseburan), seperti yang diungkapkan oleh Godwin, bahwa “percampuran hubungan seks (lebih dengan satu orang)” itu sendiri menjadi pembatasan preventif; sementara pembatasan positif, lewat dampak kemiskinan, bencana kelaparan yang mengerikan.

Kritik terhadap Malthus

Tapi, basis pendapat ini lemah sedari awal. Dengan mengatakan bahwa sarana bertahan hidup hanya dapat bertambah secara deret aritmatis, Malthus sesungguhnya menyatakan bahwa pertambahan periodic atas produk rata-rata tahunan pertanian tidak mungkin bisa bertambah. Data empiris Malthus sendiri, yakni analisis pertumbuhan populasi Amerika Utara tidak mendukung aksioma ini. Pertumbuhan cepat populasi Amerika Utara, yang telah bertambah secara geometris juga mengakui indikasi jumlah persedian pangan pun telah bertambah secara geometris.

Singkatnya, Malthus tidak memiliki bukti pendukung bagi apa yang disebut Marx sebagai ide asli Malthus atas teorinya tentang populasi. Dia mengklaim hal itu sesuai dengan semua pandangan pengamat yang kaya tentang pengetahuan pertanian (sebuah pandangan yang segera dikritisi ahli ekonomi politik praktisi pertanian Skotlandia, James Anderson). Seperti yang dikatakan Joseph Schumpeter (seorang pemikir besar sejarawan ekonomi koservatif) “Hukum berkurangnya perolehan dari tanah…sepenuhnya tidak ada disinggung oleh Malthus. Hingga kemudian kemunculan ilmu pengetahuan tanah modern lewat karya Justus von Liebig, dan lainnya.

Perkawinan ekonomi politik dengan teologi alam Kristen inilah (menjelma dalam Paley, Malthus, dan Chalmers), yang membuat naturalis pendeta begitu mengancam, tapi juga bagi semua prospek penyatuan manusia dengan alam. Opisisi radikal terhadap pandangan ini, berperan penting sedari awal dalam perkembangan konsepsi materialis sejarah oleh Marx dan Engels.

Teori paling destruktif dan kasar yang pernah ada di bumi adalah teori Malthus maupun Malthusianisme. Sembarangan dan barbar. Teori yang disusun untuk menekan manusia menerima kekerasan hukum ekonomi-politik, penuh keputus-asaan. Hukum populasi Malthusian dirancang untuk menghapuskan konsep bahwa santunan bagi si miskin adalah “hak” dan membuat butir bahwa elemen termiskinkan dalam masyarakat adalah “keberlebihan.” Dengan demikian tak perlu dilindungi dari kelaparan. Malthusianisme sebagai “teori kesayangan” borjuis dengan begitu menjadi rasionalisasi bagi konstruksi rumah-rumah kerja atau “Penjara Bastilles Undang-undang bagi si Miskin,” sementara tidak mengabaikan Undang-undang bagi si Miskin, juga memastikan sesuai dengan syarat doktrin Malthus.

Teori Populasi Malthus dijawab oleh Engels dengan mengembangkan penjelasan mengenai “tentara cadangan industri” atau surplus relative pekerja yang menjadi bagian dari konsep ekonomi-politik Marxian. Kesalahan Malthus menurut Engels adalah ketika Malthus menegaskan bahwa “terlalu banyak manusia yang ada yang bisa dipertahankan dari alat-alat subsistensi yang ada”, namun, kata Engels, “bukan over populasi yang diperbandingkan dengan persediaan makanan/alat subsistensi yang ada tapi, over populasi dibandingkan dengan lapangan pekerjaan”. Tentara cadangan industri (pekerja yang menganggur) telah ada sepanjang waktu, banyak atau sedikitnya tergantung seberapa besar pasar mendorong keberadaan lapangan kerja. Dengan begitulah surplus populasi muncul.

Dari sini pula konsep tentang proletariat hadir ketika Marxisme menjadi oposisi Malthusian. Dijelaskan lebih lengkap oleh Engels dalam artikelnya tentang Kondisi Kelas Pekerja Inggris dimana seolah-olah kita dibukakan mata bahwa jurang pemisah kemiskinan dan gemerlapnya dua kelas sangat dalam, situasinya seperti terpisah ribuan tahun. Antara kaum pekerja di Manchaster (yang kumuh, penuh kelaparan dan penyakit) dengan kaum borjuis di Manchaster (yang tinggal di Villa atas bukit dan segala fasilitasnya). Kondisi kumuh, penyakit, udara, limbah dan dampak lingkungan di kawasan industri sangat mendapat perhatian Engels. Hingga dia mengumpulkan data dari dokter, ahli dan pengamatannya sendiri kemudian memberikan analisis rinci tentang kesehatan publik. Dari segala polusi itulah, penyakit yang ditimbulkan adalah kelainan tulang, mata, keracunan timbal dan penyakit paru-paru hitam. Selain itu, tingginya angka kematian akibat Tuberculosis dan Tifus.

Jams Anderson, Liebig dan Sistem Metabolisme

Marx memakai metabolisme sebagai konsep untuk menggambarkan hubungan manusia terhadap alam melalui proses kerja. Karena kerja adalah “…proses manusia dan alam dimana melalui aksinya sendiri, memediasi, meregulasi dan mengontrol antara dirinya sendiri dengan alam…menghadapi material alam sebagai kekuatan alam. Dia (proses kerja) adalah kondisi universal bagi interaksi metabolis antara manusia dan alam, syarat kekal yang diterapkan oleh alam bagi keberadaan manusia” (Capital, Vol I).

Konsepsi di atas merupakan kritik teoritisnya Marx atas tiga prinsip ekonomi-politik borjuis yaitu: analisis ekstraksi surplus produksi dari produsen secara langsung, teori kapitalis tentang sewa tanah, dan teori Malthusian yang mengaitkan keduanya. Lebih jauh lagi, akan mengkritik juga tentang kerusakan alam dimana kritik tersebut telah mendahului pemikir-pemikir ekologi sekarang, secara analisa, kritik Marx akan agrikultur kapitalis melalui dua tahap, (1) kritik atas Malthus dan Ricardo, (2) pertimbangan mengenai revolusi kedua agrikultur terkait teori kimia tanah Justus von Liebig yang mengharuskan Marx menganalisa kondisi yang mendasari hubungan berkelanjutan terhadap bumi.

Seperti pendapat kebanyakan menyangka pemahaman teori sewa tanah yang dimiliki Marx berawal hanya dari David Ricardo, padahal, menurut JB Foster, pengertian sewa-tanah yang didapat Marx lebih menguggulkan James Anderson, seorang ahli ekonomi-politik Scotland karena Ricardo gagal memahami perkembangan historis budidaya tanah.

Tentang sewa tanah, menurut Anderson, merupakan sebuah ganti rugi/biaya untuk penggunaan tanah lebih subur. Tanah, yang paling tidak subur, untuk penanaman, hanya menghasilkan pengganti biaya produksi. Sedangkan, tanah yang lebih subur menerima premi tertentu bagi hak eksklusif penanamannya. Besar kecilnya premi tergantung kesuburan tanahnya. Premi inilah yang kemudian disebut sebagai Sewa. Dalam aspek lain, tuntutan revolusi agricultural mengemuka seiring banyaknya pemakaian pupuk kimiawi. Ketiga tahap revolusi agrikultura  dikemas Liebig dan Marx dengan singkat melalui proses budidaya tanah masyarakat yang diseret oleh perkembangan ekonomi-politik. Pada revolusi agrikultur pertama, dalam proses beberapa abad yang gradual, ditandai dengan munculnya pengaplingan tanah dan pemusatan pasar; perubahan teknis, termasuk perbaikan pemupukan dengan kotoran binatang (beriringan pula muncul manajemen peternakan), rotasi tanaman dan saluran air. Selanjutnya, revolusi agrikultur kedua (1830-1880) merusak tatanan tanah sebelumnya dengan dikarakterisasi oleh pertumbuhan industri pupuk buatan dan perkembangan kimia tanah. Revolusi agrikultur ketiga, pada abad keduapuluh, penggantian tenaga hewan oleh mesin, pemisahan manajemen ternak terhadap pemupukan hingga menjadi otonom, disertai pengubahan genetika tanaman/bibit (produksi monokultur lebih sempit) dan penggunaan asupan kimia lebih intensif, seperti pupuk kimia ditambah dengan pestisida. Dengan demikian, perkembangan historis  pada masanya, meyakinkan karakter asli agrikultur kapitalis tidak berkelanjutan (ekologis).

Terjadinya kerusakan tanah (penurunan kualitas tanah) yang menyebabkan sepanjang abad kesembilanbelas isu kesuburan tanah menjadi mengemuka dalam masyarakat kapitalis Eropa dan Amerika Utara. Setelah itu, yang muncul adalah isu polusi di perkotaan. Isu tersebut menjadi kehawatiran luas masyarakat ditambah dengan naiknya permintaan pupuk (kimia) menambah kepanikan atas kesuburan tanah. Fenomena nyata bisa dilihat dari kotoran burung yang diimpor dari Peru pada tahun 1835. Tahun 1841 sebanyak 1.700 ton dan 220.000 ton pada 1847 (Lord Ernie, English Farming Past and Present).

Dalam situasi-situasi tersebut, makin menegaskan bahwa konsep metabolisme Marx mempunyai pengaruh atas alienasi manusia dan alam seperti yang ditulisnya dalam Grundrisse dimana “bukanlah kesatuan kemanusiaan yang hidup dan aktif dengan yang alami, kondisi-kondisi non-organik pertukaran metabolic mereka dengan alam, dengan demikian penguasaan mereka akan alam yang butuh penjelasan, atau hasil proses historis, tapi lebih pada keterpisahan antara kondisi-kondisi non-organik eksistensi manusia ini dan eksistensi aktifnya, pemisahan yang secara penuh hanya ditampilkan dalam relasi kerja upahan dan capital”.

 

Promotheanisme

            Prodhon berpengaruh besar terhadap pemikiran Marx, melalui karya awalnya, yakni What is Property? (Apakah Kepemilikan itu?), pada tahun 1840. Karya yang paling baik dikenal dengan jawabannya “itu adalah pencurian”.

Dalam Apakah Kepemilikan itu? Prodhon telah mengembangkan sebuah tema yang kemudian menjadi sentral dalam karya Marx: yakni, ide bahwa disamping kerja terhadap tanah atau bahan mentah dalam kegiatan produksi tidak bisa menjustifikasi kepemilikan pribadi (sebagaimana dalam teori Lockean tentang hak kepemilikan alam), dan mengesampingkan mayoritas populasi dari apa yang  harusnya menjadi relasi komunal terhadap bumi. Menulis tentang penjualan Negara atas hutan dan tanah lainnya yang sebenarnya adalah milik keseluruhan populasi, yang kemudian di kritik Marx dalam Kapital, bahwa:

Bahkan jika bangsa adalah pemilik, bisakah generasi hari ini menyingkirkan generasi esok? Orang memiliki menggunakan hak milik orang lain (usufruct); pemerintah mengatur, mengawasi, melindungi dan memberlakukan undang-undang keadilan distributive (keadilan didasarkan prestasi/jasa seseorang). Jika bangsa juga membuat konsesi tanah, hal itu hanya penggunaannya; dia tidak memiliki hak untuk menjualnya atau mengasingkan mereka dalam cara apapun… Hancurkan tanah atau (hal sejenis), jual dia; dan kau tidak hanya mengasingkan satu, dua atau lebih jenis panenan, tapi kau menghancurkan semua produk yang kau ambil darinya, kau dan anak-anakmu dan anak dari anak-anakmu.

Tapi, dua tahun kemudian, Marx menanggapi berbeda karya Prodhon. Marx menuliskan Kemiskinan Filsafat (1847), sebagai kritik terhadap Prodhon yang lebih memberi perhatian terhadap ekonomi ketimbang filsafat. Bagi marx dan Engels, hal itu mencontohkan apa yang mereka sebut dalam Manifesto Komunis sebagai “sosialisme borjuis”, yang didefenisikan sebagai sebuah usaha mengkontruksi masyarakat borjuis tanpa kemiskinan, dan tanpa proletariat, atau setidaknya tanpa penentangan proletariat.

Dalam kerangka filsafat Prodhon berusaha mengembangkan “filsafat kemiskinan” nya, diawali dengan konsep nilai, berlanjut kepada pembagian kerja, permesinan, kompetisi, dan monopoli. Demi menjelaskan pandangan ekonomisnya, Prodhon menyimbolkan gambaran masyarakat dan aktivitas manusia dalam nama “Promotheus.” Promotheus adalah Tuhan, tulisnya. Prodhon mempelajari bahwa “keadilan semata adalah keproporsionalitasan nilai.”

Sesungguhnya, Promotheus mengetahui bahwa biaya produksi seperti satu jam kerja buruh, seminggu, sebulan, atau setahun, dia mengetahui bahwa semua produk ini diatur menurut biayanya, membentuk progresi kekayaan. Lalu pertama, dia memastikan eksistensinya dengan menyediakan bagi dirinya sendiri batang termurah, dan konsekuensinya paling dibutuhkan; lalu, begitu posisinya aman, dia melihat ke depan barang-barang mewah jika dia bijaksana dengan selalu menyusun sesuai posisi alami masing-masing barang dalam skala harga.

            Bagi Prodhon, esensi antagonisme antara proletariat dan masyarakat terletak pada pembagian kerja, tampak mencegah perkembangan harmonis. Persoalannya adalah bagaimana menciptakan sesuatu yang menampilkan “sintesis mempertahankan tanggung jawab, personalitas; singkatnya, kekhususan kerja yang akan menyatukan pembagian kerja ekstrim dan variasi terbesar dalam keseluruhan yang kompleks dan harmonis, jawabannya terletak pada permesinan.

Sosialisme borjuis Prodhon, atau lebih tepatnya usaha keliru yang membuat produksi borjuis lebih sosial. Bagi Marx “Penentuan nilai oleh waktu kerja, rumus yang diberikan tuan Prodhon kepada kita dalam mencipta ulang rumus masa depan, adalah semata ekspresi ilmiah relasi ekonomi masyarakat hari ini. Hal ini tidak memadai sebagai jaln keluar persoalan yang ditimbulkan oleh masyarakat kapitalis. Strategi revolusioner membutuhkan keterputusan dengan sistem produksi ini berdasarkan distribusi waktu kerja.

Pandangan Manifesto Komunis

            Kritik terhadap Malthusianisme dan Promotheanisme adalah aegumen pokok Manifesto Komunis (1848), mempresentasikan konsepsi materialis sejarah dalam sebuah manifesto revolusioner untuk pertama kalinya. (Marx dan Engels terungkap sebagai pengarangnya pada tahun 1850).

Bagian Satu Manifesto memuat penghormatan besar Marx dan Engels akan borjuis, merayakan penuntasan revolusionernya, menunjukkan bahwa di luar penuntasan ini timbul kontradiksi, krisis periodic ekonomi, serta kelahiran ahli warisnya proletariat industri. Marx dan Engels mengacu pada kenyataan bahwa,

kapitalisme telah menaklukkan desa jadi diatur oleh kota. Telah menciptakan kota-kota besar, secara dahsyat menambah populasi kota ketimbang desa, dan telah menyelamatkan populasi dalam jumlah besar dari kedunguan kehidupan pedesaan. Sebagaimana dia telah membuat desa tergantung pada kota, dia telah membuat negeri barbar dan semi barbar tergantung kepada yang beradab, bangsa petani gurem kepada borjuis, Timur kepada Barat.

Di situ, mereka mengamati bahwa perbedan kota dan desa adalah “pembagian terpenting antara kerja material dan mental”: bentuk penundukan yang membuat seorang manusia menjadi binatang kota terkungkung, yang lainnya jadi binatang desa yang terkungkung, dan mengucilkan populasi pedesaan dari semua kejadian didunia, dan konsekuensinya dari semua kebudayaan. Marx bersikukuh bahwa, sementara proletariat dipisahkan dari udara segar, kebersihan, kebutuhan fisik dasar kehidupan, petani pedesaan dibawah kapitalisme dipisahkan dari semua hubungan terhadap kebudayaan dan interaksi sosial dunian lebih besar. Satu porsi populasi yang tereksploitasi memiliki akses terhadap interaksi sosial dunia (bagian dari eksistensi urban), yang lainnya kurang hubungan dengan kebudayaan dunia. Satu sisi asupan intelektualnya tercabut, yang lainnya tercabut asupan materialnya. Ini salah satu yang dipakai menjelaskan mengapa proletariat adalah kekuatan revolusioner lebih besar ketimbang petani.

Salah satu tugas pertama revolusi apapun yang melawan kapitalisme adalah menghapuskan pembagian antagonistic kota dan desa. Poinnya, alam bukan direndahkan, tapi antagonism antara kota dan desa adalah manifestasi utama hakikat keterasingan budaya borjuis.

Bagian Dua Manifesto, diperuntukkan terhadap kebutuhan historis proletariat dan komunis secara khusus, dengan begitu mereka bersikukuh akan kebutuhan melakukan penghapusan perbedaan antara kota dan desa secara gradual, lewat distribusi lebih merata populasi di seluruh negeri, suatu hal yang hanya mungkin dilakukan lewat “kombinasi pertanian dengan industry manufaktur.” Maka Marx dan Engels berusaha menhubungkan ulang pada tingkat apa yang telah diceraikan, disebut sebagai metabolisme manusia dengan alam. Usaha semacam itu dikombinasikan lebih lanjut dengan “penghapusan kepemilikan dalam tanah, penerapan sewa tanah untuk tujuan publik, menanami tanah yang disia-siakan, prinsip konservasi dan perbaikan tanah.”

Karakteristik penciptaan kekayaan kapitalisme disertai dengan penambahan kemiskinan relative bagi populasi lebih besar, inilah yang dipahami bahwa “Penaklukan kekuatan Alam terhadap manusia” telah disertai dengan pengasingan alam, termanifestasi lewat pembagian kota dan desa, yang merupakan hal pokok dalam kapitalisme.

Selanjutnya, bagian satu Manifesto membatasi mereka terhadap kontradiksi yang mereka percayai berperan dalam transisi revolusioner dari kapitalisme ke sosialisme. Di sini, factor-faktor ekologi, seperti pembagian kota dan desa, tampaknya tidak berperan. Dan hanya dalam proposal mereka tentang bagaimana mulai membangun sebuah masyarakat asosiasi penghasil, pada akhir kedua manifesto, Marx dan Engels menekankan apa yang layak disebut fackor ekologis.

Alasan bagi percabangan dua isu ini tampak jelas. Marx dan Engels secara umum tidak memperlakukan tindakan penghancuran alam (di luar perannya pada kehidupan langsung proletariat, yakni kekurangan udara, kebersihan, syarat-syarat kesehatan, dst) sebagai faktor besar dalam gerakan revolusioner melawan kapitalisme. Dimana, mereka menekankan kontradiksi ekologis, tampak mereka tidak percaya bahwa hal tersebut berkembang hingga berperan penting dalam transisi menuju sosialisme. Alih-alih, pertimbangan semacam itu terkait penciptaan hubungan lebih berkesinambungan terhadap alam, bahkan dengan ciri menonjol, jadi bagian dialektika dan konstruksi komunisme.

Sesungguhnya, justru karena Marx dan Engels begitu banyak menekankan tentang penghapusan kontradiksi kota dan desa, sebagai kunci mengatasi keterasingan manusia dengan alam, mereka cenderung melihat persoalan ekologi dalam pengertian di luar kaki langit masyarakat borjuis dan tujuan-tujuan mendesak gerakan proletariat. Berhati-hati agar tidak jatuh ke dalam jebakan sosialis utopis menawarkan cetak biru masa depan masyarakat, pergi terlalu jauh dari gerakan yang ada, bagaimana mereka menekankan kebutuhan bagi gerakan mengatasi keterasingan dengan alam dalam usaha menciptakan masyarakat yang berkelanjutan. Dalam pengertiannya, analisis tidak hanya berbasiskan konsepsi materialis akan sejarah, tetapi juga konsepsi materialis akan alam. Hal ini menentukan tahap matang perspektif ekologis Marx (teori tentang interaksi metabolis alam dan masyarakat).

Dinarasikan Oleh Rai Sander | Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s