Marxisme dan Transformasi Marxisme

karl marx
Sumber : keywordsuggest.org

(Tulisan ini merupakan rangkuman hasil diskusi Lingkar Studi Kerakyatan bertajuk Ramadhan Ilmiah dengan tema “Mana Tradisi Marxis yang Sejati”, referensi diskusi ini juga diambil dari buku dengan judul yang sama, yaitu “Mana Tradisi Marxis yang Sejati” karya penulis John Molyneux)

Sampai saat ini, Marxisme telah ditafsirkan dalam banyak perbedaan. Tentu saja, masalah ini, bukan saja tentang perbedaan pendapat terhadap masalah-masalah tertentu. Kita banyak menyaksikan diantara kaum marxis saling memenjarakan, memerangi serta membunuh. Bahkan banyak dari mereka yang mengklaim Marxis namun bertolak belakang dengan barikade revolusioner. Atas dasar itu, pertanyaan tentang apa itu Marxisme? Boleh dikatakan menjadi pertanyaan mendasar yang perlu kita jawab dengan jelas. Sebagian orang mungkin menganggap pertanyaan tersebut tidaklah penting, kebanyakan dari mereka yang seperti itu, sebenarnya sudah merasa puas dengan menerima klaim sebagai Marxis.

Terdapat berbagai pendekatan yang digunakan untuk menerjemahkan Marxisme. Mari kita ulas terlebih dahulu pendekatan tersebut secara kritis. Pendekatan pertama yang akan kita ulas adalah pendekatan yang digunakan oleh para pendukung ideologi dari Kapitalisme. Mereka menggunakan pendekatan yang sungguh naïf dan serampangan terhadap Marxisme. Mereka mengutuk semua kaum Marxis dan Marxisme. Bagaimana mungkin, Stalin, Pol Pot, dan jagal di Kamboja disamakan dengan Lenin, Plekhanov dan kaum Bolshevik yang setia pada Revolusi Oktober. Pendekatan tersebut tentu akan melahirkan pengetahuan yang salah terhadap Marxisme.

Pendekatan lainnya juga dilakukan oleh para Marxolog akademisi. Mereka menterjemahkan segala aliran pemikiran Marxis. Para akademisi tersebut, tidak menemukan ketegasan terhadap teori maupun pelaksanaanya dalam Marxisme. Marxis yang benar-benar ingin merubah dunia, tidak pernah sekedar mencari nafkah untuk memahami dunia. Kaum marxis tidak punya pilihan lain, selain menghadapi masalah yang terjadi dan membuat garis  secara tegas antara Marxisme sejati dan yang salah.

Terdapat juga pendekatan yang menggunakan cara untuk mengidentifikasi Marxisme melalui tulisan-tulisan Marx dan menilai pengikutnya semata-mata pada kata-kata sang guru. Pendekatan seperti ini akan gagal memahami bahwa Marxisme bukanlah dogma melainkan panduan bergerak. Marxisme tidak dapat direndahkan atau dibatasi hanya pada apa yang Marx tulis, itu akan membuat Marxisme menjadi sepenuhnya mandul. Marxisme bukanlah metode analisis atas teks-teks, melainkan atas realitas sosial yang terus berkembang.

Namun, tidak tepat juga, jika kita mereduksi isi pokok dari Marxisme dengan sekedar menjadikannya sebagai metode belaka. Keliru, jika kita hanya mencari tesis-tesis tertentu dalam karya Marx untuk keluar dari kesalahan pendekatan terhadap Marxisme. Cara yang tepat adalah menggunakan teori Marxis untuk melihat Marxisme secara utuh.

Selesai sudah tugas kita untuk menelusuri secara kritis, berbagai pendekatan yang digunakan untuk memahami Marxisme sejati. Lebih lanjut, marilah kita menggali lebih dalam prinsip-prinsip dasar Marxisme.

Prinsip dasar pertama adalah, Marxisme menjadikan sudut pandang dan perjuangan kelas buruh sebagai pijakan. Marxisme adalah teori untuk seluruh kelas buruh diseluruh dunia. Kapitalisme telah berkembang dalam bentuk yang berbeda, jauh sebelum Marxisme lahir. Dengan begitu, Marxisme tidak dapat berkembang sebelum Kapitalisme mengembangkan tenaga produktif, sampai akhirnya terlihat dengan jelas potensi kelas tersebut untuk mampu menggulingkan Kapitalisme. Namun begitu, Marxisme bukan hanya merupakan teori tentang perlawanan dan perjuangan kelas buruh melawan sistem Kapitalisme. Tetapi juga dan lebih penting adalah tentang revolusi sosial, kediktatoran proletariat dan penghapusan semua kelas. Oleh karena itu, Marxisme memandang bahwa kelas buruh adalah ‘kelas universal’, dalam pengertian bahwa kelas ini yang memiliki masa depan dan dapat membebaskan seluruh umat manusia.

Prinsip kedua adalah Marxisme sebagai “jantungnya ilmu pengetahuan”. Mengapa kita mengatakan demikian? Karena Marxisme merangkum keseluruhan disiplin ilmu, dan memperlakukannya secara dialektis (kesaling-hubungan). Bagi sebagian orang, Marxisme sebagai teori kelas sosial tertentu, bertentangan dengan klaimnya sebagai ilmu pengetahuan. Anggapan tersebut adalah hasil dari dua kekacauan. Pertama, kesalahan melihat sifat dari ilmu alam. Kedua kekacauan dalam memahami kesaling-hubungan antara ilmu alam dan ilmu sosial.

Ilmu alam, dianggap tidak memiliki pengaruh sosial. Pandangan ini, pada akhirnya berakibat pada kesimpulan yang dikotomis dan mekanis. Hukum-hukum Kapitalisme digambarkan sebagai hal yang bersifat alamiah dan abadi. Hasil-hasil ilmu alam dianggap sebagai suatu kemenangan yang mutlak. Padahal, sejarah ilmu alam memperlihatkan hukum-hukum perkembangannya bukan sebagai suatu yang mutlak, melainkan sesuatu yang terus berubah. Pengetahuan selalu merupakan hubungan antara subjek dan objek. Semua manusia mempunyai hubungan yang kurang lebih sama dengan dengan hukum-hukum alam tapi tidak dalam hukum-hukum sosial. Seorang buruh dan kaum borjuis yang mengalami kecelakaan bermotor, akan sama-sama merasakan sakit. Namun, sistem ekonomi tidak mengakibatkan hasil yang sama bagi keduanya. Kelas borjuis bisa dengan cepat meredakan rasa sakitnya, sementara kaum buruh harus berusaha keras untuk mendapatkan pengobatan terhadap rasa sakit yang dia rasakan.

Tujuan dari setiap ilmu pengetahuan adalah untuk merubah realitas, kenyataan alam maupun kenyataan sosial. Kelas borjuis membutuhkan ilmu alam, namun tidak ingin mengubah sistem sosial. Meskipun kadang-kadang, kelas borjuis memang perlu mengubah kenyataan sosial dalam batasan-batasan Kapitalisme. Karena itu kelas borjuis juga berperan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan namun tentu saja untuk kepentingan kelasnya, untuk mempertahankan proses akumulasi modalnya.

Dengan begitu, satu-satunya golongan yang berkemampuan untuk mencapai pengertian akan sistem sosial secara lengkap adalah kelas proletariat. Karena hasil dari sudut pandang ini Sifat Ilmiah dari Marxisme bukan suatu yang dipaksakan. Sifat Ilmiah dari Marxisme dapat terpenuhi, karena Marxisme berbasiskan pada kelas buruh.

Prinsip ketiga adalah bahwa Marxisme merupakan ekspresi dari revolusi proletariat yang dituangkan di dalam teori. Teori tentang Internasionalisme Proletariat, Kediktatoran Proletariat, hingga kebutuhan atas sebuah Partai Revolusioner yang menjadi ingatan perjuangan kelas pekerja. Hal itu tidaklah jatuh dari langit, melainkan atas praksis perjuangan kelas. Penyebaran proletariat diseluruh dunia, mendasari munculnya teori tentang internasionalisme proletariat. Pengalaman atas perlawanan kelas buruh terhadap kelas borjuis, melahirkan teori tentang Kediktatoran Proletariat dan pentingnya sebuah Partai Revolusioner. Lahirnya kelas buruh modern beriringan dengan mode produksi yang lebih kompleks menghasilkan 3 komponen dasar pemikiran Marxisme yakni Materialisme Historis, Materialisme Dialektika dan teori Ekonomi Marxis. Dengan begitu, dapat kita simpulkan bahwa Marxisme merupakan hasil logis atas perlawanan kelas proletariat melawan penindasan oleh kapitalisme. Dengan begitu, peranan Marxisme bukannya untuk menciptakan revolusi, melainkan memandu kelas proletar menuju kemenangan.

Dalam perjuangan kelas proletariat melawan kelas borjuis perimbangan kekuasaan diantara keduanya terus menerus berlangsung. Dengan begitu, Marxisme juga perlu untuk terus berkembang. Namun begitu, perkembangan tersebut, tidak boleh beranjak dari prinsip-prinsip dasarnya. Lenin dalam tulisannya yang berjudul The Historical Destiny of The Teaching of Karl Marx mengatakan bahwa Marx telah “meletakkan batu-batu sendi ilmu yang harus dimajukan kaum sosialis kesegala arah bila mereka tidak ingin ketinggalan zaman.” Gagasan-gagasan revisionisme berusaha untuk memindahkan batu-batu sendi tersebut. Kaum revisionis berusaha untuk merevisi prinsip-prinsip dasar Marxisme. Beranjak dari sudut pandang kelas buruh dan menyeberang ke sudut pandang kelas lainnya.

REVISIONISME

Penjelasan kita sebelumnya, rasanya cukup untuk menjadi kriteria, dalam memperjelas bahwa banyak sekali diantara mereka yang mengaku Marxis sebenarnya mengubah dan menghianati prinsip-prinsip dasar Marxisme. Sejarah Marxisme setelah Marx, telah didominasi dalam sejumlah kekuatan material dan sejumlah pengikut. Transformasi Marxisme diantaranya bisa kita bagi dalam tiga bagian, yakni Sosial-Demokrat (internasional kedua), Stalinisme, dan Nasionalisme Dunia Ketiga. Bagian-bagian tersebut dapat membantu kita memahami bagaimana Marxisme mengalami perevisian terhadap prinsip-prinsip dasarnya. Mari kita mengamati perkembangan tersebut secara kritis.

Pertama, revisionisme Karl Kautsky dan Chauvinisme Partai Sosial-Demokrat (SPD) Jerman. Pada tahun 1881 Kautsky menulis: “Kaum sosial-demokrat tidak memiliki ilusi bahwa tujuan-tujuan kita dapat tercapai lewat jalan parlementer”, sehingga “langkah pertama dalam revolusi yang akan datang” ialah untuk “menghancurkan aparatus negara borjuis”. Namun dari dasawarsa 1890-an Kautsky dan SPD menjadikan jalan parlementerisme sebagai strategi. Kaum sosial-demokrat berpandangan bahwa sosialisme sebagai akibat yang akan muncul secara kurang lebih otomatis dari perkembangan ekonomi. Menurut mereka, pertumbuhan ekonomi kelas buruh, dimungkikan dengan pertumbuhan ekonomi kapitalis. Berdasarkan hal tersebut, kaum sosial-demokrat menyimpulkan bahwa proletariat akan menjadi semakin sadar dan semakin banyak yang akan menyoblos SPD dalam pemilihan, sampai akhirnya partai itu akan mendapat mayoritas kursi.

Berkali-kali Marx menegaskan bahwa “perjuangan kelas ialah perjuangan politik”, sehingga “merebut kekuasaan harus menjadi tugas luhur kelas buruh”. Dengan begitu, perjuangan politik sepeti yang disampaikan oleh Marx tidak dapat lahir diatas kepasifan. Apa yang tidak mampu dijawab baik Kautsky maupun SPD adalah pertanyaan darimanakah dasar dari kepasifan tersebut?  “Marxisme” versi Kautsky dalam semua hal yang penting, bahkan di bidang filsafat, memenuhi kepentingan birokrasi gerakan buruh. Seperti  dicatat di atas, materialisme mekanis–sikap filosofis Kautsky dan Internasional Kedua–pada dasarnya merupakan filsafat khas borjuis. Kelas buruh dianggap sebagai hasil pasif dari perkembangan materil, sehingga filsafat ini meniadakan peranan aktif revolusioner kelas buruh dan partai sosialis.

Dengan begitu, melihat Kautskyisme sebagai Marxisme berarti membingungkan bentuk dan isi teori tersebut. Meskipun bentuknya “Marxis”, namun isinya mencerminkan kepentingan golongan non-buruh. Kautskyisme tampak sebagai Marxisme ragu-ragu, moderat dan mengedepankan unsur-unsur Marxisme yang dapat ditolerir oleh kelas borjuis. Kautsky dengan demikian memiliki kesaman lebih besar terhadap Bernstein, bukan kepada Marxisme. Ini semakin jelas, ketika para kaum sosial-demokrat tersebut mengambil keputusan untuk mendukung Perang Dunia I. Tindakan tersebut merupakan sebuah pengkhianatan terhadap kelas buruh dan tradisi Marxis.

Kedua, Stalinisme. Berbeda dengan Kautskyisme, Stalinisme muncul dari dalam tubuh Partai Bolshevik di tahun-tahun setelah perang sipil di Rusia, dan meraih posisi dominan melalui sederetan perjuangan internal selama tahun 1920-an, sampai akhirnya dapat menguasai partai itu secara absolut sejak tahun 1928-29.

Kelas buruh Rusia, yang pada tahun 1917 telah meraih puncak kesadaran dan perjuangan revolusioner yang paling tinggi dalam sejarah, hampir tiada lagi. Selama perang sipil, mayoritas besar kaum buruh yang paling sadar dan militan meninggal dalam pertempuran, ataupun menjadi pejabat negara. Sebagai dampak dari Perang Dunia, revolusi dan perang sipil, mengakibatkan ekonomi Rusia ambruk secara total. Produksi industrial bruto anjlok menjadi hanya 31% dari tingkat produski tahun 1913, sistem angkutan umum runtuh, banyak penyakit mewabah dan rakyat menderita kelaparan. Jumlah buruh industrial jatuh dari 3 juta di tahun 1917 menjadi 1,25 juta di tahun 1921. Partai Bolshevik ibaratnya tergantung di dalam sebuah ruang hampa. Untuk menjalankan administrasi dalam negeri, kaum Bolshevik terpaksa harus menerima dan mempekerjakan pejabat-pejabat dalam jumlah yang besar dari bekas pemerintahan Tsar, sehingga pemerintah Bolshevik menjadi semakin birokratis, walaupun ini sama sekali tidak diinginkan.

Stalin memilih mempertahankan revolusi di Rusia dengan mengabaikan teori dan tujuan dari revolusi proletariat Internasional. Kemudian Stalin mengajukan rumusan baru mengenai “sosialisme dalam satu negeri”. Stalin dengan percaya diri menyatakan bahwa rumusan “sosialisme dalam satu negeri” 100% cocok dengan kepentingan dan cita-cita kaum birokrat yang semakin menguasai Negara Soviet. Mereka ingin kembali kesebuah kehidupan stabil yang tidak lagi diganggu oleh petualangan revolusioner internasional. Sebelum melakukan ini, semenjak kematiannya Lenin, Stalin menjalankan dua operasi untuk merubah konsepsi dasar Marxisme-Leninisme. Pertama, merevisi Marxisme-Leninisme dari sebuah doktrin yang selalu berkembang berdasarkan orientasi praktek, menjadi sebuah dogma yang kaku, setara dengan suatu agama negara. Kedua, merevisi Marxisme-Leninisme agar sesuai dengan praktek aktual Stalinis-muncul sebagai konsekuensi dari operasi pertama. Untuk membela Negara Soviet, rezim Stalinis memerlukan angkatan bersenjata dan persenjataan sekuat Negara-negara kapitalis. Tetapi Rusia adalah negeri miskin, miskin sekali dibandingkan dengan negara-negara barat. Sebuah surplus raksasa harus diperoleh dan ditanam kembali guna merangsang pertumbuhan industri, tetapi dalam situasi di mana kebanyakan warga Rusia hidup melarat, surplus semacam itu tidak mungkin diambil dari rakyat pekerja secara sukarela. Hanya dapat diperoleh melalui eksploitasi secara paksa. Itulah sebabnya birokrasi Soviet menjadi sebuah kelas penguasa, dan akibat dari rumusan “sosialisme dalam satu negeri” adalah sebuah masyarakat yang sama sekali bukan sosialis, melainkan kapitalis negara.

Logika “sosialisme dalam satu negeri” memporak-porandakan teori Marxis tentang aparatus negara. Stalin menegaskan pandangan tersebut dengan mengatakan bahwa selama sosialisme hanya berdiri rakyat pekerja sebagai tameng untuk menjaga kelas borjuis Nasional. Di saat yang sama, “sosialisme dalam satu negeri” menimbulkan sejumlah kontradiksi dalam gerakan komunis internasional. Teori ini pada dasarnya adalah teori nasionalis, yang pada akhirnya membuka pintu untuk aliran nasionalis dalam semua Partai Komunis.

Ketiga, Nasionalisme Dunia Ketiga. Dengan disuntikkanya teori “sosialisme dalam satu negeri” ke dalam tubuh Marxisme terjadi sederetan revisi lain yang agak drastis. Di Dunia Ketiga, “Marxisme” Stalinis berkembang dengan cara yang agak berbeda. Tipu muslihat yang dipraktekkan secara sistematis oleh negara-negara imperialis dengan membentuk negara baru yang independen secara politis-formal, tetapi masih bergantung secara ekonomi dan militer pada pihak imperialis. Bagi kaum marxis perkembangan kapitalisme menuju tahapan imprialisme mensyaratkan perbudakan kolonial dan finansial atas mayoritas besar penduduk dunia oleh sejumlah kecil minoritas negara kapitalis maju dan terkaya. Oleh karena itu, perjuangan pembebasan nasional di negara terjajah, adalah prasyarat dalam melawan penindasan nasional yang menghambat persatuan secara sukarela kelas pekerja diseluruh dunia. Lebih dari itu, kaum marxis berkewajiban membentuk perjuangan kelas pekerja yang independen dan melampaui tujuan nasional menuju revolusi yang permanen.

Hampir semua rezim atau gerakan nasionalis di Dunia Ketiga mengatasnamakan “sosialisme”, dan tidak sedikit yang mengaku “Marxis”. Salah satunya adalah strategi perang gerilya. Perang gerilya mengharuskan kaum pejuang untuk berpindah keluar kota ke pedesaan. “Marxis” yang pertama yang mengambil langkah ini adalah Mao, setelah hancurnya kelas buruh dan Partai Komunis di kota-kota besar sebagai akibat strategi Stalin. Motifnya adalah untuk menyelamatkan sejumlah kader komunis yang masih hidup. Ketika pangkalan Maois yang pertama diserang oleh tentara Chiang Kai-shek, para gerilyawan terpaksa melakukan “long march” yang amat jauh dari Cina selatan ke daerah Yenan.

Perang gerilya menyebakan sebuah pergeseran bukan hanya dalam lokasi perjuangannya, tetapi juga dalam isi sosialnya. Seorang buruh tidak bisa menjadi gerilyawan tanpa berhenti menjadi buruh, dan kebanyakan kelas buruh tidak bisa berpartisipasi dalam perjuangan gerilya di pedesaan. Dengan begitu, perang geriliya menggantikan peran kaum buruh sebagai basis bagi sudut pandang Marxisme dengan kaum tani. Watak kelas petani telah dijelaskan oleh Marx dalam tulisannya Brumaire Kedelapanbelas Louis Bonaparte. Menurut Marx, “kaum tani tidak bisa mewakili diri mereka sendiri, mereka harus diwakili oleh pihak lain. Wakil itu harus sekaligus menjadi tuan mereka, sebuah pihak berwenang di atas mereka, sebuah kekuasaan pemerintahan tak terbatas yang melindungi kaum tani dari kelas-kelas lain, serta mengirim mereka hujan dan sinar matahari dari langit.” Kaum tani memang bisa berjuang, terkadang dengan tekad yang luar biasa, tetapi tidak bisa menjadi kelas penguasa dalam masyarakat. Hal ini dibuktikan berkali-kali dalam sejarah, dari pemberontakan Wat Tyler di Inggris tahun 1831 sampai ke perjuangan Emiliano Zapata di Meksiko dan sejumlah pemberontakan di Cina. Dengan begitu, bisa kita simpulkan bahwa basis kelas Marxisme dari Nasionalisme Dunia Ketiga bukanlah kelas proletary, melainkan kelas borjuis kecil.  Gagasan yang sama juga muncul dalam posisi Castro, Guevara, dan Debray yang beranggapan bahwa kita tidak perlu menunggu sampai syarat-syarat objektif revolusi mematang, karena kaum revolusioner (yaitu kaum geriliyawan) dapat menciptakan syarat-syarat itu sendiri. Hasil pendekatan ini bukan Materialisme Marxis, melainkan Idealisme yang ekstrim.

Artinya, dengan beranjak dari sudut pandang kelas buruh, ketiga aliran yang mengaku “Marxis” ini akhirnya hanya memelopori sebuah tahapan khusus sistem kapitalisme. Dengan begitu, semakin jelas bagi kita untuk menentang sepenuhnya setiap upaya merevisi prinsip-priinsip dasar Marxisme.

 

Di Narasikan oleh : Boza Yudistira, Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s