Suaka dan Sosialisme

398472_620
Sumber : cdn.tmpo.co

(Tulisan ini merupakan dokumentasi hasil diskusi yang diselengarakan oleh Lingkar Studi Kerakyatan pada hari sabtu, 3 juni 2017. Diskusi yang diselengarakan merupakan rangkaian kegiatan reguler dari rangkaian diskusi bertajuk Ramadan Ilmiah, sub tema diskusi kali ini yaitu “Suaka dan Sosialisme”)

Sebelum membahas lebih jauh, perlu diketahui perbedaan dari migran, pengungsi, serta pencari suaka. Migran merupakan individu yang tinggal di negara asing selama lebih dari satu tahun, yang mana migran ini meliputi pengungsi, pencari suaka, maupun economic migran. Sedangkan pengungsi sendiri merupakan individu yang memiliki ketakutan akan kekerasan atas dasar rasial, agama, nasionalitas, ataupun keanggotaan dari kelompok sosial tertentu atau opini politik, yang mana ia telah berada di negara lain untuk mengharapkan perlindungan. Kemudian, pencari suaka sendiri merupakan seseorang yang mencari keamanan bagi dirinya, sembari menunggu keputusan aplikasi statusnya sebagai seorang pengungsi dalam instrumen nasional dan internasional yang relevan. Apabila keputusan ternyata negatif, maka terpaksa orang tersebut harus keluar dari negara yang bersangkutan, apabila sebaliknya maka orang tersebut diijinkan untuk tinggal di negara tersebut sebagai pengungsi.

Akhir-akhir ini kita melihat bahwa media massa nasional dan internasional diributkan dengan isu-isu migran yang berdatangan, khususnya dari Timur Tengah. Saat ini eropa tengah disibukkan dengan masalah migrasi dan krisis pengungsi terburuk sepanjang masa sejak Perang Dunia ke II. Pasalnya negara-negara Eropa mengalami kewalahan yang luar biasa dalam menyediakan suaka (asylum)  bagi para migran, pengungsi, atau pencari suaka. Organisasi PBB untuk pengungsi UNHCR (2015) mengatakan bahwa para migran ini kebanyakan datang dari Suriah–kurang lebih sejumlah 178.000 atau sebesar 50% jumlah migran–dan Afganistan yang menepati posisi kedua dengan jumlah migran terbanyak sebesar 80.000, sebesar 6% datang dari Eriteria, dan 4% dari Iraq. Situasi yang dihadapi Eropa saat ini sebanyak lebih dari total 590.000 manusia telah tiba di daratan Eropa di tahun 2015 yang mana hal tersebuh lebih dari dua kali lipat jumlah migran pada tahun 2014 lalu.

Antonio Guterres, kepala UNHCR, mengatakan situasi didunia saat ini sedang kacau ‘’Bantuan dan aksi kemanusiaan tidak lagi bisa mengatasi permasalahan ini. Kami tidak memiliki kapasitas untuk menolong semuanya. Semakin banyak orang yang menderita dan sayangnya, semakin tipis kesempatan untuk menolong mereka”

Lebih lanjut, dia juga mengatakan bahwa jumlah pengungsi global jauh mengalahkan jumlah bantuan yang diberikan, disatu sisi penebar konflik semakin kebal dari hukum, dan disisi lain dunia Internasional tidak bisa bekerjasama untuk berhenti berperang.

Sebagai negara-negara yang menjadi tempat atau titik tujuan dari migran, negara-negara yang tergabung didalam 28 negara Uni Eropa mencari titik solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan Migran Ireguler dengan keputusan Menteri Uni Eropa untuk merelokasi. Tetapi negara lainnya, seperti Hongaria dan Polandia menolak adanya ide solusi yang melibatkan seluruh Eropa untuk memecahkan masalah ini. Misalnya Inggris, sekarang mempertimbangkan menarik diri atau keluar dari Uni Eropa karena politik migran yang dijalankannya dibarengi dengan melemahnya atau krisis perekonomian di Eropa. Peningkatan para pencari suaka sendiri bisa kita lacak dari krisis ekonomi politik dari mode produksi Kapitalisme. Imigran dipaksa untuk meninggalkan negaranya (dari tempat sebelumnya) dan mencari kehidupan baru, akibat teralienasi dan terasing dari tempat tinggal sebelumnya. Pertarungan antar negara-negara imperialis mengakibatkan daerah-daerah yang tidak mampu bersaing menjadi korban dari kompetisi kelas borjuis.

Para pencari suaka justru dinggap sebagai sampah yang mengotori daerah tempat migrasi para pencari suaka. Krisis migrasi, juga mengorbankan kaum perempuan dan anak. Seperi kasus-kasus yang menimpa para anak-anak pada saat bermigrasi seperti tengelam, terhilang dari kawanan, sakit, putus sekolah, masalah terhadap kesehatan psikologis, bahkan menjadi sasaran dari Human Trafficing dan jenis-jenis masalah lainnya yang begitu kompleks.

Kapitalisme dengan corak produksinya selalu menyebabkan segala jenis kekacauan dalam masyarakyat. Segelintir orang yang mimiliki kekayaan bertujuan untuk mendorong perluasan distribusi produksi dan ekploitasi sumberdaya alam. Untuk mempertahankan sistem ekonomi Kapitalisme, kelas borjuis menggunkan berbagai cara, termasuk diantaranya adalah dengan menggunakan politik identitas yang berujung pada perang. Seperti yang terjadi di Suriah, dimana perang berkecambuk mengatasnamakan Sunni vs Syiah. Padahal terdapat kepentingan negara Imperialis yang cukup besar seperti Rusia, Amerika, Arab Saudi, untuk menguasai sumber daya alam disana. Berimbas kemudian seperti yang dikatakan pada pembahasan diatas, pengungsi dari Suriah tergolong yang paling banyak karena memang didaerahnya Perang berkecambuk. Rakyat Suriah mau tidak mau, bahkan dipaksa untuk pindah ke daerah lain karena ulah pertarungan antar kelas borjuis diberbagai negara.

Memang senjata ampuh bagi kapitalis adalah menggunakan Politik Rasisme. Melalui sentimen antar identitas, kapitalis mengadu domba rakyat tertindas agar tidak menyadari siapa musuh utamanya. Seperti yang terjadi di Myanmar, dimana kapitalis memanfaatkan sentimen agama mayoritas, yakni Burma, untuk menghancurkan agama minoritas, yakni Etnis Islam Rohingya. Padahal kepentingan disana bukanlah sentimen agama, akan tetapi lebih dalam adalah kepentingan Imperialis China dalam mengeksploitasi minyak didaerah tersebut, berusaha untuk mengusur dan menyingkirkan Etnis Rohigya yang sudah tinggal lama didaerah yang ingin di eksploitasi. Berimbas seperti pada Tahun 2015 lalu, akibat dari Politik Rasisme berkedok sentimen identitas ini, bisa kita saksikan dimana mereka terpaksa bermigrasi atau mencari suaka ketempat atau ke negara lain. Seperti beberapa tahun lalu, migrasi kaum Islam Rohingya akhirnya terdampar di Aceh, bahkan banyak Negara yang menolak keberadaan mereka. Keberadaan Negara yang menolak kedatangan mereka semakin membuat kondisi mereka semakin sulit, mulai dari penghilangan hak-hak dan pemberlakuan ketidaksamaan hak mereka dengan masyarakat asli daerah tujuan migrasi.

Para pencari suaka, boleh dikatakan yang seringkali menjadi korban dari Politik Rasisme yang disemburkan oleh kelas borjuis. Di Negara tujuan, mereka selalu di diskriminasi karena kelas borjuis disuatu negara tidak merasa diuntungkan oleh para pencari suaka. Seperti penolakan imigran muslim yg dilakukan oleh Rezim Trump di Amerika, Imigran Tamil di Australia, dan sebagainya, karena dampak dan imbas dari krisis Kapitalisme sendiri menyeret negara-negara Imperialis Eropa dan meresahkan rezim borjuis diberbagai negara. Disatu sisi harus menyikapi krisis, disisi lain harus mengeluarkan bantuan kemanusiaan untuk para migran, ini merupakan hal yang sangat bertentangan dengan watak Kapitalisme yang begitu rakus dan tidak peduli terhadap dampak yang ditimbulkan. Itulah basis material mengapa negara-negara Imperialis mempraktikan politik anti migran disamping para migran yang bergejolak mencari suaka atau perlindungan pada daerah-daerah baru yang dirasa dapat menjadi jawaban atas kegelisahan yang dialaminya.

Para pencari suaka sendiri, tidak terlepas dan memiliki kaitan erat dengan lahirnya Negara. Kemunculan Negara, melalui berbagai cara, baik melalui kolonialisasi maupun penjajahan serta pengambil alihan sumber daya alam. Kelas borjuis menciptakan batas-batas wilayah sebagai klaim untuk meraup keuntungan dan menciptakan pajak sebagai salah satu sumber akumulasi kapital. Pajak, diklaim sebagai sumber pendapatan Negara. Akan tetapi, kaum migran tidak dapat memberikan sumber pajak bagi Negara. Dengan begitu logis saja migran ini ditolak diberbagai negara. Dalam kondisi masyarakat kelas hari ini, hal tersebut sangat wajar.

Persoalan suaka bisa dilihat sebagai hasil logis dari prosesi akumulasi Kapital. Konsentrasi kekayaan yang hanya tersentral pada individu minoritas pemilik modal, tentu mengakibatkan kekacauan dalam mayoritas masyarakat. Ekpansi Kapital, telah mendorong kesengsaraaan, keresahan dan konflik horizontal menjadi tidak terhindarkan. Migrasi tidak bisa kita lihat antar Negara saja. Tapi juga perpindahan penduduk dari desa ke kota. Sebagai akibat dari penetrasi Kapital yang telah merubah mode produksi lama, menciptakan kelas buruh, dan melahirkan pencari suaka. Migrasi sendiri, juga dimanfaatkan oleh rezim untuk meningkatkan pendapatan devisa Negara. Meskipun demikian, rezim borjuis tidak pernah berkepentingan untuk melindungi para pencari suaka.

Persoalan suaka adalah konsekuansi dari akumulasi primitif, yakni penghancuran mode produksi lama. Sehingga terjadilah para pencari suaka. Masyarakat yang dihancurkan ruang hidupnya mau tidak mau berpindah tempat untuk mencari ruang hidup baru. Kebanyakan adalah dari masyarakat desa yang corak produksinya adalah pertanian, akan dihancurkan oleh industrialisasi. Ini mengakibatkan akan terjadi ploretarisasi, yakni pergeseran masyarakat menjadi kelas buruh. Urbanisasi pun lahir, masyarakat di desa akan ke kota bekerja dipabrik-pabrik, ini adalah konsekuensi dari perkembangan Kapitalisme.

Pencari suaka sebenarnya juga suatu konsekuensi logis dari penetrasi Kapital yang sudah menembus batas-batas wilayah hingga ke desa-desa. Tidak heran jika masyarakat di desa tertentu akan berpindah mencari penghidupan baru untuk keberlansungan hidup mereka berikutnya. Misalnya di Indonesia, banyak buruh-buruh yang menjadi buruh migran di Luar Negeri, karena di Indonesia tidak memungkinkan dan adanya ruang hidup yang lebih baik lagi. Kemudian, ini juga dikarenakan sistem Kapitalisme tidak mampu menciptakan produktifitas. Peningkatan nilai lebih terjadi dari pencurian nilai lebih pada kelas buruh. Pengangguran juga sengaja diciptakan, yang membuat masyarakat mencari tempat tinggal yang lebih baik ditempat lain. Contohnya masyarakat Jawa yang banyak tersebar diluar Jawa untuk bekerja, misalnya perpindahan dari Jawa ke Kalimantan. Ini penting disebutkan agar kita tidak terjebak bahwa suaka sekedar migrasi saja, tetapi pada intinya adalah perpindahan masyarakat dari daerah yang satu ke daerah lain.

Contoh lain dari sitem Kapitalisme yang berdampak pada pencari Suaka indonesia, diawali oleh masa pemerintahan rezim militer Orde Baru Soeharto pada tahun 1965 yang membangun relasi dan hubungan seribu benang dengan Imperialisme AS, berimbas banyaknya perusahan minyak dan pertambangan Multinasional membuka usaha baru di Indonesia. Seperti masyarakat Toraja, khususnya generasi muda banyak yang berpindah untuk kerja di perusahaan asing. Mereka pergi ke kalimantan untuk mengelola kayu dan minyak yang lebih menjanjikan. Ke Papua untuk menambang, ke kota-kota di Sulawesi dan Jawa, perpindahan ini terjadi sampai tahun 1995.

Disamping hiruk pikut kesemerawutan dunia yang diributkan oleh krisis migran, pengungsi, dan pencari suaka, disisi lain borjuasi memanfaatkan suaka sendiri sebagai perlindungan politik Kapital. Di Kuba contohnya, ketika jutaan rakyat Kuba berduka atas meninggalnya pemimpin Revolusi mereka, Fidel Castro, sekelompok orang Kuba di Miami justru berpesta di jalanan. Lalu siapa orang-orang Kuba di Miami tersebut ? Setelah sang revolusioner berhasil menggulingkan kekuasaan diktator Fulgencia Batista tahun 1959, ribuan orang kaya Kuba langsung melarikan diri ke Amerika Serikat (AS) yang sebagian besar adalah bekas tuan tanah, pemilik pabrik, bekas militer, dan pelaku bisnis. Mereka adalah pendukung loyal diktator Batista, pemerintahan diktator Batista sendiri merupakan sokongan dari Imperialisme AS. Orang-orang Kuba yang mencari suaka ke AS, Fidel menyebutnya ‘’Gusanos’’ (ulat atau cacing) adalah orang-orang yang diterima baik, dipelihara, dan dilindungi oleh pemerintah AS sendiri. Orang-orang Kuba di Miami juga paling banyak memberikan suaranya untuk Donal Trump, mereka senada dengan Trump dalam isu-isu rasisme dan anti-imigran.

Terjadinya embargo ekonomi dalam suatu negara juga mengakibatkan terjadinya para pencari Suaka, misalnya yang pernah terjadi di Rusia. Kemudian karena intervensi dari Imperialis seperti di Tamil, Suriah, Myanmar, dsb, yang mengakibatkan perang. Pembahasan yang cukup menarik adalah bahwa para imigran itu selalu ditindas karena dia tidak menghasilkan devisa bagi negara tujuannya. Mereka menjadi sangat tertindas karena tidak diakui oleh negara bersangkutan, hal lain yang menjadi faktor penyebab adalah didalam proses yuridis untuk mendapat pengakuan sebagai migran sangat rumit. Proses inilah yang menjadi embrio adanya migran ilegal. Logika kapitalis birokrat mengatakan bahwa Hukum adalah lembaga yang tertinggi didalam Institusi Pemerintahan, dan bersifat demokratis, tetapi lagi-lagi realita membuktikan adanya praktik-praktik Hukum yang tajam kebawah dan tumpul keatas. Proses administrasi yang rumit dan bahkan memberatkan akhirnya memaksa para migran untuk mengambil jalan pintas ilegal. Ini terjadi diberbagai belahan dunia, membuat para pencari suaka ini, yang kemudian akan menjadi kelas buruh semakin tertindas. Maka benarlah apa yang dikatakan Marx bahwa “Kelas buruh tidak memiliki Negara”. Dimanapun kelas buruh berada, dari latar belakang apapun seperti suku, agama, dsb, akan selalu ditindas. Maka apa yg harus kita lakukan setelah memahami basis material dari munculnya “Suaka” ?

Situasi objektif demikian telah menyebabkan basis bagi persatuan kelas pekerja diseluruh dunia untuk menghancurkan Kapitalisme. Akan tetapi, rezim yang berkuasa akan selalu mereduksi sentimen kelas menjadi sentimen identitas. Seperti sentimen tenaga kerja asing di Indonesia yang dihembuskan oleh kelas borjuis untuk memecah belah kelas pekerja.

Apa yg harus kita lakukan adalah membangun dorongan persatuan kelas pekerja diseluruh dunia. Jika kelas pekerja bersatu dan merebut kekuasaan dari kelas borjuis, corak produksi akan dikelola secara bersama dan terencana. Tidak mungkin ada pengangguran jika disuatu daerah kebutuhan tercukupi, karena ekonomi terencana tadi. Akan tetapi, ini tidak bisa di dorong hanya dalam satu Negara, karena embargo ekonomi pasti akan dilakukan oleh Negara imperialis. Artinya, perjuangan tersebut harus berskala Internasional, melalui persatuan kelas buruh diseluruh dunia untuk merebut kekuasaan dari kelas borjuis.

Apa yang kita butuhkan adalah sistem ekonomi-politik yang menjadi antitesa dari sistem Kapitalisme. Suatu sistem ekonomi yang mendorong prosesi ekonomi secara terencana, yaitu Sosialisme. Dalam masyarakat sosialis, kesenjangan antara masyarakat desa dan kota semakin lama akan dihapuskan, seiring dengan penghapusan kelas-kelas. Dalam perkembangan kapitalisme, teori sosialisme berkembang bukan hanya sekedar paham, tetapi sesuatu yang harus dikontekstualkan, penghapusan kelas-kelas sosial dan kontrol penuh didalam kekasaan kelas buruh. Jadi, banyak orang yang dibutuhkan untuk bekerja secara produktif, posisi manajerial bukanlah posisi yang diperebutkan seperti sekarang. Sehingga keterasingan manusia akan terhapuskan, karena setiap subjek akan didorong menjadi individu yang sadar dan produktif.

Kaum sosialis melihat ralitas situasi saat ini merupakan muara dan ujung dari sistem Kapitalisme atau akhir yang ditandai oleh krisis-krisis Kapitalisme. Kaum sosialis adalah orang yang sangat peduli dengan ketidakadilan, penderitaan manusia, pencemaran dan perusakan lingkungan hidup didunia ini. Kaum sosialis tidak memandang ketidakadilan tersebut dalam alam berpikir yang moralis. Kaum sosialis tidak menyelesaikan masalah-masalah Ekonomi-Politik, Sosial, Budaya, Hukum, Korupsi, dan kerusakan lingkungan secara terpisah-pisah, maksudnya adalah masalah-masalah tersebut tidak diselesaikan satu-persatu tanpa melihat kesalinghubungannya, itulah yang membedakan kaum sosialis dengan yang lain. Kaum sosialis berkepentingan untuk melawan kerusakan lingkungan, kemiskinan, pengangguran, serta pemanasan global yang tidak hanya mengancam kehidupan manusia sehari-hari, bahkan mengancam masa depan kemanusiaan itu sendiri.

Pada akhirnya, fenomena ini mencerminkan fakta bahwa sistem Kapitalisme telah mencapai batas-batasnya. Globalisasi, setelah menghabiskan dirinya, telab berubah menjadi kebalikannya. Dari faktor kuat yang mendorong pertumbuhan Ekonomi, kini Globalisasi menyeret runtuh semua bangunan yang rawan ini. Apa yang disebut-sebut sebagai pemulihan, bukan pemulihan sama sekali. Sangat lemah dan rapuh, sehingga setiap hantaman, baik dibidang Ekonomi, Politik, ataupun Militer, akan cukup menghentikan semua pemulihan ini. Kapitalisme semakin sekarat bahkan pakar strategi Ekonomi Kapital semakin pesimis menatap masa depan seperti yang disampaikan oleh Adam Parker, sang ahli strategi bursa saham AS ‘’Kami pikir kemungkinan besar kita akan mengarah ke tahun yang penuh gejolak dengan keuntungan yang rendah, dan menduga banyak pihak lainnya juga berpikir sama”

Pembahasan yang cukup kompleks terhadap realitas hari ini membawa kita kepada kesimpulan untuk mewujudkan ekonomi berencana yang dikelola secara demokratis oleh kelas buruh dan rakyat tertindas lainnya, karena perkembangan dari Kapitalisme sendiri memicu pula lahirnya Sosialisme. Perjuangan ini tidak bisa dilakukan disatu Negara saja, melainkan harus diwujudkan melalui persatuan kelas pekerja sedunia untuk mewujudkannya.

 

Di Narasikan oleh Don Pedro Anjelo : Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s