Kapitalisme dan Perjuangan Kelas Buruh

arahjuang.com
Sumber : arahjuang.com

Ada baiknya, terlebih dahulu kita memahami apa yang dimaksud dengan kapital, kapitalis dan kapitalisme. Kapital adalah segala sesuatu yang dipergunakan untuk menciptakan nilai baru dari nilai yang sudah ada. Jika tidak dapat menciptakan nilai baru maka tidak dapat disebut sebagai kapital. Seperti uang yang hanya digunakan untuk membeli kebutuhan tidak dapat disebut sebagai kapital, sedangkan uang yang dipinjamkan yang disertai bunga dapat disebut kapital karena dapat menyebabkan pertambahan nilai.

Kapital memiliki dua bentuk, yaitu kapital uang dan kapital barang. Kapital uang atau kapital finansial memiliki kekuatan yang lebih besar, sebab mudah dipindahkan, disimpan, dijaga, dan dipertukarkan kepemilikannya. Selanjutnya, kedua jenis kapital ini menghasilkan tiga macam kapital, yaitu kapital riba, kapital dagang, dan kapital usaha. Kapital riba adalah kapital finansial yang terdapat dalam bidang usaha simpan-pinjam yang disertai dengan bunga. Kapital dagang adalah kapital barang yang diperjualbelikan tanpa melalui proses produksi. Kapital usaha adalah kapital untuk memproduksi komoditas dalam rangka memenuhi kepentingan pasar. Kapital usaha harus melibatkan tenaga kerja dan menghasilkan surplus dengan mengeksploitasi tenaga kerja dalam rangka mencari keuntungan.

Kapitalis adalah pihak yang menggunakan tenaga buruh dengan kerja upahan sementara mereka sendiri tidak terlibat bekerja dalam proses produksi namun menimbun keuntungan melalui kapital yang mereka miliki. Dengan begitu, Kapitalisme sebagai sistem sosial-ekonomi dengan corak produksi dimana kapitalis yang menguasai alat produksi dan tidak terlibat dalam proses produksi namun mengambil nilai lebih dari hasil kerja mayoritas buruh yang tidak memiliki kapital dan tidak menguasai alat produksi tetapi terlibat secara penuh dalam proses produksi.

Sebagai corak produksi, kapitalisme memiliki empat ciri. Pertama, input dan output produksi dikuasai secara pribadi. Kedua, produksi dijalankan untuk memenuhi kebutuhan pasar demi memperoleh keuntungan. Ketiga, alat produksi dikuasai oleh kapitalis sebagai kelas borjuis yang berkuasa yang memperoleh keuntungan dari nilai lebih yang dihasilkan oleh kelas buruh. Keempat, kapitalisme bergantung kepada kerja upahan dari kelas pekerja yang bertahan hidup dengan menjual tenaga kerjanya untuk memperoleh upah sebagai gantinya.

Dalam sistem kapitalisme ini, kelas buruh mengalami penindasan dan penghisapan yang paling besar. Upah yang diterima buruh dari hasil kerjanya ditekan serendah-rendahnya oleh si kapitalis agar hanya mampu membeli komoditas untuk bertahan hidup. Kemudian upah kerja tersebut dikembalikan kepada si kapitalis dengan pembelian komoditas yang mereka ciptakan sendiri. Buruh sebagai produsen sekaligus konsumen dari barang yang mereka produksi, namun semua nilai lebih yang mereka hasilkan malah dinikmati oleh kapitalis.

Jika kapitalisme mengalami krisis, maka yang terjadi adalah pemecatan massal, pencabutan subsidi, penghapusan tunjangan-tunjangan sosial, pemangkasan anggaran publik, dan semua tindakan mengorbankan kelas buruh di satu sisi, serta membantu kapitalis di sisi lain seperti pemberian dana talangan besar-besaran untuk kapitalis yang terancam bangkrut, pengurangan atau penghapusan pajak, dan sebagainya. Jika hal tersebut tidak cukup untuk menyelematkan kapitalisme dari krisisnya, maka yang terjadi adalah perang antar negara untuk memperebutkan barang baku dengan menjadikan kelas buruh dan rakyat pekerja sebagai pasukan utama yang berperang untuk kepentingan kelas penguasa masing-masing.

Terkait dengan kapitalisme, terdapat komoditas sebagai objek yang menjadi sarana akumulasi modal kapitalis. Komoditas adalah barang atau benda yang diperjualbelikan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Disebut komoditas apabila ia mengandung nilai guna dan nilai tukar. Nilai guna adalah unsur kegunaan yang terkandung dalam suatu barang untuk memenuhi kebutuhan manusia atau digunakan dan dikonsumsi oleh manusia. Sedangkan nilai tukar adalah nilai yang diperjualbelikan di pasar. Pembeli akhir dari suatu komoditas membeli barang demi nilai guna yang terkandung dalam suatu barang. Sedangkan yang bukan pembeli akhir, membeli barang tersebut demi nilai tukar di dalamnya, pembelian ini bukan untuk memenuhi kebutuhan melainkan untuk memperoleh laba atau nilai lebih di dalamnya. Harga komoditas tidak hanya ditentukam oleh waktu kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi barang tersebut. Tetapi juga dipengaruhi oleh hukum permintaan dan penawaran.

Kemajuan-kemajuan teknologi hari ini belum mampu menciptakan kemakmuran bagi seluruh umat manusia. Di negara yang kaya sumber daya alamnya sekalipun tidak menjamin akan tercipta masyarakat yang adil dan makmur. Bahkan satu persen populasi dari kaum yang kaya raya menguasai setengah kekayaan di dunia, sementara setengah dari populasi rakyat sedunia hanya menikmati satu persen dari kekayaan tersebut. Sebenarnya dengan pendapatan yang mereka peroleh sudah dapat menghapuskan kemiskinan dalam suatu masyarakat. Namun yang terjadi adalah hal yang sebaliknya, yaitu perang imperialis dan perusakan lingkungan yang terjadi diberbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Di Indonesia 117 juta rakyatnya berada di bawah garis kemiskinan. Sementara itu kekayaan 40 orang paling kaya di Indonesia setara dengan harta 60 juta rakyat Indonesia yang paling miskin. Hal ini menunjukkan bahwa setiap aktivitas ekonomi bukan ditujukan untuk menciptakan kesejahteraan yang merata, melainkan untuk melakukan penimbunan atau akumulasi kekayaan. Pada tahun 2005 akumulasi modal kapitalis Indonesia sejak tahun 2005 mengalami kenaikan sebesar 80% setiap tahunnya. Akan tetapi, akumulasi tersebut tidak memberikan dampak positif bagi kondisi hidup manusia maupun ekosistem, bahkan yang terjadi adalah banyaknya premanisme terhadap buruh dan penembakan terhadap petani, serta terjadi berbagai kegiatan eksploitasi alam yang sifatnya merusak dan menghancurkan ekosistem.

Sebagian dari kehancuran dan ketimpangan kondisi hari ini disebabkan oleh hukum alam yang membatasi setiap aktivitas manusia, sebagian besar lainnya disebabkan oleh sistem ekonomi-politik yang berlaku hari ini, yaitu kapitalisme. Kapitalisme secara umum merupakan sistem dimana minoritas pemilik modal, memonopoli alat-alat produksi, serta mengeksploitasi kelas buruh dengan motif produksi untuk melakukan akumulasi kapital sebesar-besarnya.

Dalam perusahaan nasional sekalipun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kelas buruh dieksploitasi dan nilai surplus yang dihasilkan buruh tidak dinikmati oleh buruh. Akan tetapi, nilai surplus tersebut diambil dan dinikmati oleh pejabat negara maupun disalurkan untuk mendanai proyek kapitalis negara. Mayoritas negara di dunia menjalankan sistem ekonomi kapitalisme. Namun, terdapat perbedaan diantara negara-negara kapitalis. Amerika, Australia, dan Inggris adalah negara kapitalis maju yang sudah pada tahap imperialisme. Sedangkan di Indonesia tingkat kapitalismenya masih terbelakang. Hal ini ditandai dengan tidak adanya industri nasional yang mengolah bahan mentah menjadi barang jadi, memiliki ketergantungan kepada negara-negara imperialis dalam bentuk hutang maupun alat produksi, dan sebagainya.

Dampak dari berlakunya sistem kapitalisme ini sebagian besar dialami oleh kelas buruh. Selain dirampas nilai lebih dari hasli kerjanya, buruh juga menderita akibat dari sistem kerja kontrak dan outsourcing dimana mereka bisa diupah lebih rendah daripada UMR, lembur tidak dibayar, dapat terjadi PHK secara sepihak, dan sebagainya. Dikalangan kaum tani, terkhusus pada petani miskin dan buruh tani, terjadi monopoli dan perampasan tanah yang tidak hanya dilakukan oleh tuan tanah tradisional, tetapi juga oleh tuan tanah yang memiliki dominasi atas bisnis-bisnis perkebunan yang menjadikan bidang pertanian sebagai sarana untuk melakukan akumulasi modal dan lebih menuju kapada pemenuhan tuntutan pasar terhadap komoditas pertanian, daripada untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat secara menyeluruh. Pedagang kecil, seperti pemilik toko kelontong dan PKL juga terancam hak hidupnya dalam sistem kapitalisme ini. Kapitalisme akan terus melakukan ekspansi dalam rangka melakukan akumulasi modalnya. Menjamurnya mini market yang dimonopoli oleh kapitalis akan menciptakan kebangkrutan bagi para pedagang kecil tersebut. Belum lagi dengan adanya tindakan penggusuran pasar-pasar tradisional dan PKL dengan alasan merusak keindahan dari sudut pandang borjuis. Pemuda, mahasiswa terkhususnya juga merasakan kerugian akibat dari berlakunya sistem kapitalisme ini. Hal tersebut dapat berupa komersialisasi pendidikan, kegiatan belajar yang tidak ilmiah, tidak demokratis, terasing terhadap realitas, serta tidak adanya jaminan kerja layak ketika lulus.

Rasisme dan seksisme juga merupakan buah dari berlakunya sistem kapitalisme hari ini. Rasisme merupakan alat yang digunakan untuk memecah-belah rakyat dan kelas tertindas demi kepentingan penguasa. Negara-negara imperialis banyak mendatangkan buruh dari negara-negara dunia ketiga agar bisa mendapatkan tenaga kerja yang murah, tidak memiliki serikat, dan dapat dipekerjakan dengan kondisi yang buruk. Dengan adanya rasisme kaum migran selalu mendapat perlakuan buruk. Salah-satunya yaitu selalu dijadikan kambing hitam apabila tidak tersedia lapangan kerja bagi masyarakat lokal dalam sebuah negara. Rasisme menciptakan sekat-sekat antar umat manusia. Dengan ini rasisme selalu memberikan tindakan-tindakan diskriminasi terhadap kelompok masyarakat yang berbeda ras dengan mengenyampingkan hakikat dari sebuah eksistensi manusia. Di Indonesia, rasisme terhadap etnis Tionghoa pernah digunakan oleh Soeharto untuk melawan musuh politiknya dengan menciptakan stigma bahwa etnis Tionghoa adalah komunis dan antek dari Partai Komunis Tiongkok di tahun 1965, dan di tahun 1998 kemarahan rakyat dialihkan kepada kerusuhan dan perkosaan massal dengan fitnah yang mengatakan bahwa krisis ekonomi disebabkan oleh etnis Tionghoa. Padahal populasi Tionghoa di Indonesia yang dikategorikan sebagai orang kaya hanya sebesar 35% dan sisanya miskin.

Selain rasisme, kapitalisme juga menciptakan bentuk penindasan yang berupa seksisme, khususnya terhadap kaum perempuan. Dikatakan bahwa masa kini emansipasi telah tercipta bagi kaum perempuan, namun ternyata diskriminasi terhadap perempuan semakin nyata terlihat. Perempuan yang bekerja di pabrik seringkali mendapatkan upah yang rendah ditambah dengan beban untuk mengerjakan tugas domestik sebagai ibu rumah tangga. Perempuan masih menjadi mayoritas korban dari pelecehan seksual dan pemerkosaan. Hal ini disebabkan karena kapitalisme menjadikan tubuh perempuan sebagai komoditas yang diperjualbelikan melalui iklan, film, kosmetik, dan sebagainya. Meskipun perempuan mengalami penindasan, namun hal ini tidak dapat dilihat sebagai penindasan berbasis gender. Sebab, perempuan yang lebih kaya dapat menggunakan jasa orang lain untuk melindungi dirinya. Dan kaum perempuan tersebut juga dapat mempekerjakan perempuan lainnya untuk mengerjakan tugas domestik dengan upah yang murah. Selain itu, banyak pihak yang memandang bahwa patriarki adalah penyebab dari ketertindasan perempuan pada masa ini. Namun, perlu diketahui bahwa pada masa perang, laki-laki dari rakyat miskin atau kelas buruh yang terpaksa mengikuti wajib militer dan menjadi barisan terdepan yang berhadapan dengan kematian di medan perang demi melindungi kepentingan kapitalis.

Sistem ekonomi-politik kapitalisme harus digantikan dengan sistem yang dapat menunjang kondisi hidup yang lebih baik. Hal ini perlu dilakukan dengan penguasaan alat produksi oleh kaum buruh serta merencanakan dan menjalankan ekonomi secara demokratis. Kapitalisme telah menciptakan krisis beberapa kali, hal ini sebagai tanda bahwa diperlukan persiapan untuk menyambut revolusi. Jika tidak terdapat persiapan yang matang maka kehancuran kapitalisme dapat menuju pada fasisme dan fundamentalisme. Pilihannya hanya ada dua: sosialisme atau barbarisme.

Perjuangan Kelas Buruh

Kelas buruh atau proletariat sebagai kelas yang tidak memiliki dan tidak menguasai alat-alat produksi yang bertahan hidup dengan menjual tenaga kerjanya untuk mendapatkan upah atau gaji. Borjuasi dan proletariat memiliki kedudukan yang saling bertentangan, pihak borjuis menginginkan upah yang serendah mungkin, sedangkan proletariat menginginkan upah setinggi mungkin.

Kapitalisme sebagai sistem yang mengeksploitasi kelas buruh melalui penghisapan oleh borjuasi. Terdapat kekeliruan mengenai pandangan terhadap kelas buruh. Sebagian berpendapat bahwa kelas buruh adalah mereka yang bekerja mengandalkan otot, melakukan pekerjaan kasar di pabrik, tambang, konstruksi dan bangunan, sementara karyawan kantoran yang bekerja di depan komputer, pekerjaan tulis-menulis, tidak melakukan kerja fisik dianggap bukan buruh. Pekerja kantoran dianggap pekerja kerah putih (white collar workers) juga termasuk kelas buruh karena mereka juga menjual tenaga kerjanya untuk hidup. Pembedaan antara pekerja otot dan pekerja otak adalah pembedaan yang dibentuk oleh tatanan masyarakat kelas. Fisik, baik berupa tangan, kaki, dan badan tidak dapat bekerja tanpa otak. Begitupula otak itu sendiri merupakan benda fisik dengan berbagai syaraf dan jaringan selnya yang memungkinkan manusia menjalankan proses berpikir dalam kapasitas tertentu. Seseorang yang dipaksa berpikir melebihi kemampuannya akan mengakibatkan kelelahan otak sekaligus kelelahan badan. Pekerja kerah putih ini juga akan menjadi pihak yang dikorbankan saat kapitalisme mengalami krisis. Hal ini dapat berupa pemecatan massal maupun pencabutan subsidi. Perbedaan antara mana yang proletar dan mana yang bukan proletar, bukan berdasarkan perbedaan gaji atau kondisi kerja, melainkan kepada kepemilikan alat produksi dan akumulasi kapital.

Terdapat dua kelompok sosial yang berada diantara kelas borjuasi dan proletariat, yaitu pemilik usaha kecil dan manajer-manajer perusahaan. Pemilik usaha kecil atau borjuis kecil ini ditindas oleh bisnis-bisnis besar dan perusahaan-perusahaan raksasa. Selain itu dalam tingkat tertentu mereka juga terhisap (oleh kapital finansial dan oleh bank-bank) namun beberapa orang diantara kelas borjuis kecil juga mempekerjakan buruh sehingga borjuis kecil dalam tingkatan tertentu juga menghisap tenaga kerja upahan. Selanjutnya manajer-manajer sebagai pekerja upahan yang bertugas untuk mengawasi dan memperlancar pemerasan nilai lebih yang dihasilkan oleh para buruh. Manajer, mandor, pejabat pegawai negeri sipil, perwira-perwira polisi, dan sebagainya, masuk kategori ini. Kedua kelompok sosial ini sering disebut sebagai kelas menengah.

Pengangguran, baik karena belum mendapatkan kerja atau karena dipecat, termasuk proletariat. Sebab kapitalisme menciptakan pengangguran sebagai tenaga kerja cadangan yang dipertahankan untuk menjamin upah murah yang dapat menguntungkan si kapitalis. Jika para buruh yang berserikat atau berjuang menuntut kenaikan upah atau perbaikan kondisi kerja bisa ditekan dengan ancaman dan dipecat kemudian digantikan oleh pengangguran di luar sana yang membutuhkan pekerjaan.

Selanjutnya, serikat buruh memegang peran yang penting sebagai organisasi untuk membela dan mempertahankan kepentingan kelasnya. Serikat buruh sebagai organisasi para buruh dengan berjuang secara kolektif untuk mencapai tujuan bersama. Serikat buruh sebagai organisasi bagi kaum buruh untuk memahami hak-haknya, mengorganisir rekan-rekan kerja di berbagai bagian, serta berjuang untuk memenuhi, melindungi, atau meningkatkan hak-haknya. Aktivitas serikat buruh bisa meliputi perekrutan, pendidikan, perundingan upah, penanganan keluhan, gugatan hukum, atau bahkan demonstrasi dan pemogokan. Serikat buruh sebagai alat perjuangan jangka panjang bagi kelas buruh untuk melawan kapitalisme.

Kelas buruh memegang peran yang sangat penting dalam menumbangkan kapitalisme. Hal ini dikarenakan kelas buruh adalah kelas yang mengalami penindasan dan penghisapan secara langsung oleh kapitalisme. Sedangkan kaum tani kontradiksinya adalah dalam persoalan tanah dan pelajar/mahasiswa kontradiksi utamanya adalah mengenai biaya pendidikan. Kelas buruh juga berperan sentral dalam roda perekonomian nasional maupun internasional. Dengan ini maka kelas buruh berwatak internasionalis karena mengglobalnya kapitalisme memaksa kelas buruh tidak bisa membatasi perjuangannya hanya pada batas-batas nasional melainkan harus mengobarkan perjuangan internasional kelas buruh dan sosialisme sedunia.

Kemudian, serikat buruh tidak bisa membatasi ruang aktivitas mereka hanya pada tuntutan ekonomi, tetapi juga perlu untuk bergerak di bidang politik. Oleh sebab itu diperlukan adanya partai buruh sebagai sarana untuk melakukan radikalisasi politik secara merata. Partai buruh memilik anggota yang direkrut dari kelas buruh yang kesadaran kelasnya paling tinggi dan politiknya paling maju, diorganisir dan dihimpun dalam organisasi politik sebagai pelopor revolusioner demi menarik lapisan-lapisan lebih luas dari kelas buruh ke politik revolusioner sekaligus sebagai perwujudan kekuatan politik buruh dalam melawan musuh-musuh kelasnya.

Selanjutnya terdapat dua macam partai buruh, yaitu partai buruh reaksioner dan partai buruh revolusioner. Partai buruh revolusioner lahir akibat dari adanya tindakan-tindakan reaksioner dalam gerakan buruh. Tindakan reaksioner ini dapat berwujud reformisme dan ekonomisme. Kaum reformis tidak berkehendak untuk menghapuskan kapitalisme, sebaliknya mereka ingin mengelola kapitalisme sedemikian rupa sehingga menguntungkan kelas buruh. Mereka percaya bahwa tanpa membangun sosialisme, buruh bisa dibebaskan dari penindasan melalui reforma-reforma berupa kenaikan upah, pengurangan jam kerja, tunjangan, dan sebagainya. Hal ini memang dimungkinkan dalam masa damai khususnya pada saat booming kapitalisme. Namun begitu krisis reforma-reforma ini akan dirampas lagi oleh kapitalis, dan partai buruh yang berkuasa, macam partai buruh di Inggris, di Australia, dan di Brazil yang menjabat kekuasaan politik dipaksa untuk melakukan kebijakan pengetatan anggaran dan pemotongan subsidi yang mengorbankan kelas buruh untuk kepentingan kapitalis.

Salah satu kecendrungan yang muncul didalam serikat buruh adalah ekonomisme. Ekonomisme, adalah kecenderungan yang menganggap bahwa gerakan buruh tidak boleh mengurusi soal politik melainkan hanya berkutat pada soal-soal ekonomi atau hak-hak normatif saja. Padahal perjuangan kelas buruh berlangsung pada 3 bagian sekaligus, yaitu ekonomi, politik, dan teori.

Buruh, sebagai kelas yang terbentuk langsung dan menghadapi penindasan serta penghisapan langsung oleh kapitalis, memiliki kepentingan utama dalam menghapuskan kapitalisme pada khususnya dan semua bentuk penindasan pada umumnya. Ditambah vitalnya posisi kelas buruh sebagai penyelenggara utama ekonomi, kelas buruh memegang posisi kepeloporan dalam perjuangan serta harus menggandeng dan mendukung perjuangan kaum tertindas lainnya. Posisi ini tidak dimiliki elemen rakyat lainnya.

Kaum tani terbagi-bagi ke dalam banyak golongan yang berbeda-beda. Buruh tani misalkan lebih terbuka terhadap proses kolektivisasi tanah dibandingkan petani miskin yang lebih menghendaki reforma agraria. Begitupula dengan petani kaya yang cenderung defensif bahkan resisten terhadap reforma agraria karena akan memengaruhi bahkan mengurangi kepemilikan tanahnya. Berbeda dengan kelas buruh yang dimanapun sektor industrinya, semuanya tidak menguasai alat produksi. Kaum Tani juga bukan kelompok sosial yang kontradiksi pokoknya mengarah ke sosialisme melainkan hanya pada pendistribusian tanah.

Pemuda mahasiswa kepentingannya adalah pada lapangan pekerjaan dan pendidikan. Ketika ada jaminan lapangan pekerjaan dan pendidikan digratiskan maka kontradiksi di sektor pemuda mahasiswa mereda atau bahkan terselesaikan. Begitu pula dengan para pedagang kaki lima dan pedagang pasar tradisional yang akan menurun dan tuntas kontradiksinya begitu jaminan terhadap lapangan pekerjaan mereka diwujudkan. Semua hal ini bisa diberikan oleh konsesi-konsesi atau reforma kapitalisme. Ini sekali lagi menyimpulkan bahwa kelas yang paling berkepentingan untuk menghapus kapitalisme dan mewujudkan sosialisme adalah kelas buruh. Melalui perjuangan kelas, buruh mewujudkan pembebasan kelas buruh sekaligus menghapuskan penindasan terhadap rakyat tertindas.

Agar kelas buruh bisa dimenangkan ke sisi revolusioner dan terintegrasi secara politik dan organisasional untuk menghapuskan penindasan, kelas buruh perlu membangun partai buruh revolusioner yang mampu mempelopori dan mempersiapkan keadaan yang mampu mendukung kondisi yang tepat baik pada masa pra maupun pasca revolusi menuju sosialisme. Terdapat sedikitnya ada dua tugas utama dari partai buruh revolusioner. Pertama adalah melakukan klarifikasi ideologi. Tujuannya adalah membangun kejelasan perspektif terhadap apa yang diperjuangkan. Selain itu juga melatih, kader-kader di dalamnya untuk berkomitmen terhadap ide-ide sosialisme. Kedua, adalah propaganda ide-ide sosialisme. Baik propaganda dalam bentuk umum maupun konkrit. Tujuannya adalah untuk merekrut orang-orang yang berkomitmen terhadap ide-ide sosialisme. Menjelaskan banyak hal secara utuh mengenai sosialisme. Didistribusikan dalam aksi-aksi masa, pemogokan dan aktivitas lainnya ditengah-tengah kaum buruh dan rakyat tertindas lainnya.

Dengan begitu, rakyat pekerja akan siap membangun sebuah masyarakat tanpa kelas, tanpa penindasan manusia atas manusia, bangsa atas bangsa.

 

Di Narasikan oleh : Aruna Fievel, Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

—-

Catatan : Tulisan ini merupakan rangkuman dari hasil diskusi Lingkar Studi Kerakyatan dalam agenda Ramadhan Ilmiah serta materi yang disusun oleh Leon Kastayudha, berjudul “Apa Itu Kapitalisme dan Bagaimana Melawannya” dan buku yang diadaptasi oleh Dipo Negoro dengan judul “Apa Yang Diperjuangan Sosialisme”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s