ORGANISASI NON PEMERINTAH PELAYAN IMPERIALISME

(Tulisan Ini Merupakan Rangkuman Hasil Diskusi, ORNOP : Pelayan Imperialisme)

 

Ada sebuah kelembagaan yang tidak memproduksi apapun dijaman feodalisme namun mendapatkan dana, kelembagaan-kelembagaan agama ini seperti Gereja Roma memang diperlukan untuk membendung nalar kritis yang muncul agar para kelas tertindas tidak memberontak bahkan bertanya (asal mula penindasan).

Kemudian di abad 21 ini globalisasi merupakan wajah baru dari imperialisme, bukan hanya perluasan akumulasi modal atau pasar saja juga bahkan bukan hanya akulturasi dan asimilasi budaya populer barat yang masuk baik secara pelan maupun sporadis ke negara dunia ketiga, namun pula juga masuknya kelembagaan sosial yang juga dikembangkan oleh negara dunia pertama dan  bersifat mengaburkan perjuangan kelas. Mereka menyebut diri mereka ORNOP (Organisasi Non Pemerintah) Keanggotaan ORNOP sendiri sebagian besar berasal dari intelektual, akademisi, dsb, banyak juga anggota dari ORNOP dari kalangan bekas Marxis yang sudah terdemoralisasi.

David Korten, seorang aktivis dan pengamat ORNOP memberikan gambaran perkembangan ORNOP.Ia membagi ORNOP menjadi 4 generasi berdasarkan strategi yg dipilihnya.

Generasi pertama,mengambil peran sebagai pelaku langsung dalam mengatasi persoalan masyarakat. Pendekatannya adalah derma, dengan usaha untuk memenuhi kebutuhan yang kurang dalam masyarakat. ORNOP generasi ini memfokuskan kegiatannya pada kegiatan amal untuk anggota masyarakat yg menyandang masalah sosial.

Generasi kedua, memusatkan perhatiannya pada upaya agar ORNOP dapat mengembangkan kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Peran ORNOP di sini bukan sebagai pelaku langsung, tetapi sebagai penggerak saja. Orientasinya pada proyek pengembangan masyarakat. Fokusnya pada upaya membantu masyarakat memecahkan masalah mereka, misal program-program peningkatan pendapatan,industri kerajinan dan lain-lain. Semboyan yang populer adalah “Berilah Pancing dan Bukan Ikannya!”

Generasi ketiga, keadaan di tingkat lokal dilihat sebagai kiblat saja dari masalah regional atau nasional. Masalah mikro dalam masyarakat tidak dipisahkan dengan masalah politik  pembangunan nasional. Karena itu penanggulangan mendasar dilihat hanya bisa dimungkinkan kalau ada perubahan struktural. Kesadaran seperti itulah yg tumbuh pada ORNOP generasi ini bersamaan dgn otokritiknya atas ORNOP generasi sebelumnya sebagai “pengrajin sosial”. ORNOP generasi ini disebut sebagai “sustainable system development”.

Generasi keempat disebut sebagai “people movement”. Generasi ini berusaha agar ada transformasi struktur sosial dalam masyarakat dan di setiap sektor pembangunan yangmempengaruhi kehidupan. Visi dasarnya adalah cita-cita terciptanya dunia baru yg lebih baik.Karena itu dibutuhkan keterlibatan penduduk dunia. Ciri gerakan ini dimotori oleh gagasan dan bukan organisasi yang terstruktur.

Dari keempat generasi tersebut ORNOP menyebut ada sebuah langkah alternatif sebagai jalan ketiga. Dimana ORNOP-ORNOP ini akan mengkolaborasikan sifat “statis dari negara” dengan “kapitalisme yang liar” dan kemudian memperjuangkan sebuah entitas tunggal yaitu mereka menyebut dengan “masyarakat sipil”. Disinilah para ORNOP ini mengaburkan pertentangan kelas yang ada dengan istilah “masyarakat sipil” mereka tidak membedah bahwa didalamnya ada sebuah pertentangan dimana para buruh terus dicurangi oleh pemodal dengan wajib lembur, para petani yang terus tergusur oleh-oleh kapitalis agraria, dan belum lagi bagaimana upah minimum para kelas pekerja yang nyaris tidak berarti ditengah inflasi. Kemudian juga mereka melakukannya dengan politik identitas. Misalnya, kesukuaan. Contohnya di Indonesia Istilah Masyarakat Adat membuat perjuangan mereka harus berkolaborasi dengan borjuis-borjuis kecil, asalkan  satu suku.

ORNOP ini bergerak dibidang permasalahan-permasalahan sosial, seperti HAM, keseteraan jender, kemiskinan dan lingkungan, namun ORNOP ini menjadikan isu-isu tersebut komoditi yang mereka balut dengan proposal proyek penelitian atau kemandirian masyarakat dalam ekonomi (kerajinan tanganisme). Tidak hanya berhenti disitu ORNOP-ORNOP ini tidak akan mau melihat kesinambungan antara permasalahan dengan sistem ekonomi politik hari ini yang menjadi sebuah sistem penindasan,  atau mereka mengkotak-kotakan masalah yang ada, maka dari itu solusi-solusi yang mereka tawarkan tak lepas dari penelitian dan pelatihan.

Disinilah ORNOP itu tidak akan menyentuh peran Amerika Serikat dan Eropa dan juga kebijakan-kebijakan pro pasar bebas sebagai pemeran utama terjadinya permasalahan isu-isu tersebut, karena proposal itu akan mereka tawarkan kepada lembaga-lembaga keuangan dunia (IMF, Bank Dunia dll), semakin proyek tersebut mengaburkan perjuangan kelas, semakin pula lembaga-lembaga keuangan itu mengucurkan dana dengan deras.

Telah jelaslah basis perjuangan ORNOP ini bukanlah basis kelas  -bahwa didunia dan perkembangannya selalu ada kelas-kelas yang berlawanan-, melainkan malah menjadi dermawan, pengrajin hingga reformis, hal tersebut yang membuat pihak-pihak imperialis memanfaatkan keberadaan ORNOP ini menjadi alat perpanjangan tangan mereka dan juga menjadi pengabur perjuangan kelas.

Di buku Menelanjangi Globalisasi –Sepak Terjang Imperialisme abad 21- juga di ulas terkait pelanggaran HAM, kemiskinan, gender, dll. Namun, isu2 yg disampaikan ini hanyalah jalan untuk mencari dana donor dari lembaga2 keuangan seperti IMF, Bank dunia, dll. Mereka lebih bergerak di bidang proyek daripada gerakan, karena ORNOP ini timbul agar rakyat tidak melihat akar persaoalan dari ekonomi yaitu pasar bebas anak kandung dari kapitalisme.

Dalam buku ini ada tiga kondisi dimana ORNOP ini muncul. Pertama, ornop ini muncul di masa rezim-rezim diktator yang menghembuskan isu-isu HAM. Ketika ada negara yang dengan pemimpin bertangan besi, ORNOP dijadikan tempat berlindung untuk mengkritisi kebijakan oleh para profesional , akedimisi dan juga jurnalis, tapi mereka tidak berani mengkritik sumber dana mereka seperti Amerika, yang dimana naiknya para diktator-diktator ini adalah peran terbesar dari kubu blok barat dalam memperebutkan kekuasaan di negara-negara dunia ketiga, seperti di Indonesai naiknya diktator Suharto tidak terlepas dari peran borjui-borjuis Amerika untuk menanamkan modalnya di Indonesia . Berbeda  dengan kaum marxis, ORNOP memasukan masyarakat kedalam sub sub isu,,, contoh YLBHI yang melakukan advokasi pelanggaran 65,dan hanya sebatas konteks moral, namun tidak membicarakan keberpihakan peran CIA yang dibalik itu adalah kepentingan pasar bebas untuk menjatuhkan Soekarno karena menghambat akumulasi modal borjuis-borjuis internasional dll,dan juga rezim diktator juga menciptakan korupsi yang masiv.

Kedua, kuatnya hegemoi kapitalisme yang melahirkan krisis dan disusul pemberontakan-pemberontakan rakyat,  yang ada kemudia dikaburkan oleh ORNOP dengan berbagai proyek , seperti di Chili, ketika rakyat memberontak kediktatoran, ORNOP ini muncul dengan proyek “Mengapa kekerasan dominan terjadi di pemukiman kumuh” yang sangat membuat para pelembaga donor mereka dengan senang hati mengucurkan dana untuk proposal penelitian mereka, dari isu ini mereka mencari dana untuk menjalankan proyeknya.

Ketiga, ORNOP ini sebagai lapangan pekerjaan. Ketika pemangkasan dana dilakukan negara terhadap para akadamesi ORNOP medapatkan celah untuk merekrut akademisi ini dengan gaji yang cukup besar,   para akademisi pun tercebur kedalam lumpur-lumpur proyek pra ORNOP tersebut tanpa mempertanyakan kebijakan-kebijakan negara yang lebih mengutamakan kesejahteraan borjuis dengan kebijakan pro pasar bebas. Kemudian anggota ORNOP ini melakukan kunjungan ke berbagai belahan dunia bertemu dengan ORNOP-ORNOP lain di konferensi mewah di aula-aula hotel-hotel berbintang. Mendapat mobil mewah, rumah mewah, dll. Tentu saja para akademisi yang secara idelogi masih dangkal lebih senang menjadi anggota ORNOP ketimbang terlibat aktif di gerakan kiri yang miskin dana.

Mereka juga mereduksi aksi massa. Misalkan dengan menggunakan jalur2 legal, ke pengadilan, mediasi hingga konferensi, namun tetap saja kelas penindas tidak akan mau menuruti permintaan dari kelas-kelas tertindas, karena itu  ORNOP juga menciptakan budaya menghamba, membebesarkan tokoh-tokoh tertentu sehingga membuat masa dibawah tidak dapat menyuarakan aspirasi dan keluh kesahnya, agar  yang terpenting mereka  mereduksi akar persoalan sebenarnya dari sistem kapitalisme.

Ideologi mereka jelas seperti dalam buku ini, yakni Borjuis. Karena mengambil dana dari lembaga donor dunia yang nota bane adalah lembaga kapitalis.

Mekanisme proses mendapatkan dana dari juga diulas dalam buku yang ditulis Longgena Ginting, yaitu DNS (Debt Swap for Nature) dimana utang-utang negara dunia ketiga di konversi menjadi sebuah proyek-proyek penelitian atau pemberdayaan masyarakat lokal dalam hal konservasi lingkungan.

Mencermati berbagai skema dana lingkungan yang ada di Indonesia selama 30 tahun terakhir, terlihat polanya selalu bermula dengan “dana hibah”, dan kemudian berujung pada “dana utang”, baik yang bersifat G-to-G (pemerintah kepada pemerintah), bersifat G-to-P (pemerintah kepada publik), maupun yang bersifat B-to-B (bisnis kepada bisnis).

Sebagai contoh, di berbagai website terlihat bahwa dalam konteks REDD, Jepang memberikan 11 juta dolar AS hibah untuk dukungan monitoring dan reforestasi hutan, dan memberikan 751 juta dolar AS pinjaman (bersama Prancis) untuk mitigasi perubahan iklim.

Bank Dunia memberikan 3,6 juta dolar AS untuk Dana Kemitraan Karbon Kehutanan, serta memberikan 80 juta dolar AS utang.

Sedangkan Norwegia diduga kuat telah melakukan “publication make up” dan kebohongan publik dengan pemberitaan seakan-akan memberikan hibah 1 miliar dolar AS untuk reformasi kebijakan, pengembangan strategi dan pengurangan emisi karbon di Indonesia, padahal sesungguhnya besaran hibahnya hanyalah beberapa puluh juta dolar AS saja, sedangkan sisanya adalah utang.

Masih dalam konteks REDD, hasil penelusuran pada berbagai website menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2008–2014 selain jumlah tersebut di atas, setidaknya juga tercatat 230 juta dolar AS dana diterima berbagai pihak di Indonesia berasal dari AS, Korea Selatan, Inggris, Australia, Jerman, ITTO, dan PBB (UNDP, UNEP, serta FAO).

Berbagai website yang ditelusuri tidak menggambarkan secara transparan apakah sesungguhnya status dana tersebut hibahkah atau utangkah.

Namun ada satu hal yang menarik untuk kita garis bawahi, yaitu umumya dana-dana tersebut penggunaanya adalah untuk “dukungan teknis”, untuk “monitoring”, untuk “asistensi teknis” serta sebagian kecil untuk “demonstration activity”.

Sejalan dengan skema G-to-G yang mendasarinya, maka dapat pula dikatakan bahwa dana tersebut pasti dinikmati oleh para expatriat negara pemberi, serta dinikmati oleh pejabat dan jajaran birokrasi pemerintah (dari pusat hingga daerah), tenaga ahli nasional (bisa akademisi ataupun teknokrat lainnya), dan tentunya oleh semua LSM lingkungan yang terlibat.
Terkait masalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dan pembentukan Badan Restorasi Gambut (BRG) beberapa waktu lalu, barangkali perlu pula bagi kita untuk mencermati dan memaknai informasi terkait dana-dana lingkungan (beserta program-programnya) yang terdapat di bawah lembaga Climate and Land Use Alliance (CLUA)  yang berpusat di San Francisco, California, AS.

Penelusuran website institusi tersebut pada 7 dan 20 Januari 2016 menunjukkan bahwa untuk Indonesia Initiative Grand And Contract List, sejak tahun 2010 sampai sekarang, dalam website tersebut (http://www.climateandlandusealliance.org) terlihat jelas lebih dari 44 juta dolar AS hibah dana lingkungan telah dikucurkan kepada berbagai LSM lingkungan dan institusi lain di Indonesia.

Beberapa “civil society” di Indonesia yang menjadi penerima dana lingkungan dari institusi tersebut, di antaranya adalah HuMa (575 ribu dolar AS), Jerat (114 ribu dolar AS), FPP (3.573,477 dolar AS), AMAN (699,826 dolar AS), JKPP (800 ribu dolar AS), KKI WARSI (595,289 dolar AS), Kemitraan (1.230,400 dolar AS), Mongabay Org Corp (735 ribu dolar AS), RAN (2.096,000 dolar AS), Samdhana Inc. (3.922,429 dolar AS), WetlandS Int. (249,962 dolar AS), WWF (200,445 dolar AS), dan WALHI (536,662 dolar AS).

Selain itu, lembaga lain di Indonesia yang juga terlihat sebagai penerima dana tersebut adalah SEKALA (1.316,939 dolar AS), CIFOR (415,000 dolar AS), FFI (449,218 dolar AS), dan ICRAF (497,196 dolar AS) serta Stichting Oxfam Novib (700 ribu dolar AS).

Terbaca pula ada universitas yang menerima dana lingkungan dari institusi tersebut, yaitu Universitas Indonesia (22,756 dolar AS) dan University of Maryland (82,943 dolar AS).

Adapun sektor swasta yang terlihat sebagai penerima dana lingkungan dari CLUA, di antaranya adalah InterMatrix Communication (1.311,125 dolar AS), Mckinsey&Co Singapore (1.500,000 dolar AS), dan Maclennan Adams Ltd (78,200 dolar AS) serta PT. Petala Unggul Gesang (309,786 dolar AS.

Pengecekan website pada tanggal 24 Januari 2016 menunjukkan bahwa data penting tentang keterlibatan PT Peta Unggul Gesang tersebut telah “dihilangkan” dari halaman website CLUA, namun jejaknya masih terekam dalam “google-search”.

Untuk mencapai tiga tujuan itu, berbagai program menggambarkan bahwa mereka berusaha untuk mengumpulkan data-data kerusakan hutan serta konflik perambahan dan penyerobotan kawasan hutan dan areal kerja perusahaan oleh oknum masyarakat, yang diduga kuat kemudian data ini mereka pelintir dan “blow up” menjadi isu “land reform” dan/atau “land tenure”.

ORNOP ini muncul dan medatangi komunitas-komunitas miskin dengan jargon-jargon yang dipopulerkan gerakan-gerakan kiri pula, kemudian mereka muncul bak pejuang rakyat yang sesungguhnya, menjajikan sebuah kemakmuran jika komunitas-komunitas miskin ini secara tanpa disadari mau mengikuti segala arahan yang ada dalam proposal mereka. Mereka mendorong industri-industri baru, karena ornop beranggapan bahwa krisis terjadi bukan karena kebuntuan akumulasi modal oleh kapitalisme malah beranggapan usangnya industri-industri lama yang membutuhkan inovasi kreatif.

Apa yang membedakan kaum marxis dengan ornop? Ornop-ornop menekankan proyek, mereka memobilisir industri-industri kreatif bukan bagaimana mengambil alih alat-alat produksi,, padahal secara teoritis UMKM-UMKM tidak akan bisa melawan korporasi-korporasi besar, mereka akan dengan sangat mudah digilas oleh modal-modal yang besar tersebut, seperti kata D.N. Aidit bak teri ditengah lautan. Mereka medemobilisir gerakan rakyat,, dana-dana yang dikucurkan untuk UMKM-UMKM ini menjadi proyek-proyek baru, selain kucuran dana lembaga-lembaga pendonor, mereka jelas tidak mengharapkan lebih imbalan yang akan mereka dapatkan dari UMKM-UMKM yang mereka bina melainkan mereka dapat mengontrol dana tersebut agar akan ada proyek-proyek baru. Dan juga menkoneksikan desa-desa(komunitas-komunitas miskin) kedalam pusaran riuh pasar bebas.

Pengalaman-pengalaman di Indonesia misalnya bagaimana TNC ORNOP yang bergerak dibidang lingkungan ini kemudian memonopoli hasil hutan non kayu yaitu madu hutan desa Merabu dan masuk dengan janji-janji perdagangan karbon kepada masyarakat desa, lalu menyukseskan dalam proses pengesahan hutan desa namun hutan itu tak dapat dikelola oleh masyarakat petani untuk digarap.

Belum lagi politik kolaborasi yang di lakukan oleh Indoprogres yang mendukung Ahok kemudian menyebutnya sebagai “borjuis progresif”

ORNOP adalah godaan terbesar kaum marxis, apalagi bagi kaum muda mahasiswa yang setelah lulus nantinya akan sangat digoda dengan janji-janji kehidupan yang layak, alih-alih bukan bergabung dengan ORNOP tapi kaum muda revolusioner harus menggiring massa kedalam kesadaran kelas, bahwa borjuis selalu menggunakan berbagai cara termasuk dengan ORNOP-ORNOP ini sebagiai pelayan imperialisme, kaum muda revolusioner harus mendirikan organisasi yang bertolak belakang dengan cara kerja dan ideologi para ORNOP ini, dan kemudian masuk kedalam pabrik dan sawah guna mendorong kelas pekerja agar membangun  partai revolusioner yang mandiri tanpa sokongan dana dari borjuis-borjuis internasional. Apalagi kolaborasi kelas yang sangat jelas meruntuhkan perjuangan kelas pekerja, sungguh itu hal menjijikan jika politik kolaborasi dijadikan sumber kekayaan.

 

Hidup Buruh

Hidup Mahasiswa

Hidup Perempuan yang Berlawan

Jayalah Sosialisme.

 

Ditulis oleh Musa Talutama anggota Lingkar Studi Kerakyatan.

 

Sumber:

https://www.scribd.com/doc/45818560/SEJARAH-LSM#

https://lampung.antaranews.com/berita/288036/menelisik-kemurnian-suara-lsm-lingkungan-di-indonesia

Buku Menelanjangi Globalisasi: Sepak Terjang Imperliasme Abad 21, karya James Petras dan Henry Velmeyer.

Buku DSN (Debt Swap for Nature), karya Longgena Ginting.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s