Sumpah Pemuda : Arti, Pergeseran, dan Sumpah Yang Belum Lengkap.

sumber gambar : islamcendikia.com

Sumpah pemuda adalah salah satu  sejarah dalam pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia. ikrar ini dianggap sebagai semangat untuk menegaskan kaum muda akan keinginannya terhadap kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dimaksud dengan sumpah pemuda adalah keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari 27-28 oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Memasuki usianya yang ke 89 tahun sejak diselenggarakannya Kongres Sumpah Pemuda, hingga kini semangat sumpah pemuda banyak menemui pergeseran.

Hari ini kita tidak hanya melihat euphoria yang ada dikalangan pemuda bahkan aktivis mahasiswa saja, namun perayaan sumpah pemuda ini juga di warnai dengan berbagai hal, seperti upacara yang dilaksanakan di berbagai instansi negara (mulai pusat pemerintahan, barak militer, hingga sekolah-sekolah) dan kita juga dapat menyaksikan beberapa stasiun televise menggelar berbagai tayangan seperti konser musik, kuiz dan lomba-lomba berhadiah, dan sehimpun kegiatan lainnya. Tentu kondisi inilah yang menuai pergeseran dari semangat sumpah pemuda itu sendiri, Apa yang semula merupakan momentum untuk mengenang dan belajar dari apa yang telah diperbuat pemuda waktu itu kemudian bisa menjadi perayaan yang tak ada gunanya dalam perjuangan hari ini, perjuangan melawan sistem yang memiskinkan ini. Bahkan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia melalui Surat Edaran Tanggal 13 Oktober 2017, Nomor : 10.13.1/MENPORA/DII/X/2017 tentang Peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-89 Tahun 2017 telah menentukan Logo, Tema, Tagline serta berisi Pidato Peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-89 Tahun 2017. Tentu ini tidak mengherankan, dalam situasi ekonomi politik Kapitalisme hari ini , negara memang di gunakan sebagai alat untuk terus menerus dapat mengilusi rakyat agar terlupa dari berbagai kesusahannya, sembari mendikte rakyat agar dengan senantiasa dapat mengikuti keinginan para pemilik modal, ini pula lah yang mengakibatkan peringatan Sumpah pemuda berakhir menjadi perayaan tanpa semangat juang.

Jika belajar dari sejarah, sumpah pemuda bukanlah satu gagasan yang lahir begitu saja, namun ada banyak hal yang mendorong elemen muda hari itu untuk berkumpul dan membuat satu gagasan yang dapat diikrarkan menjadi satu semangat juang bersama, beberapa hal itu adalah adanya kolonialisme yang berkuasa serta memeras kekayaan rakyat, adanya penguasa feodal baik raja-raja, bangsawan, dan tuan tanah, yang memilih menghamba daripada kehilangan harta dan nyawa dalam perjuangan, adanya kepercayaan yang luntur terhadap perlawanan berbalut mistisme, takhayul, dan gelar ratu adil, adanya pikiran-pikiran tercerahkan bahwa modernitas membawa teori-teori organisasi dan perjuangan yang bisa digunakan dalam pergerakan, dan yang paling penting:adanya cita-cita. Cita-cita untuk menggapai kemerdekaan lepas dari belenggu kolonialisme. Lepas bukan untuk kembali dalam tempurung kerajaan-kerajaan daerah namun untuk merdeka dengan bersatu bersama mereka yang selama ini sama-sama ditindas dan diperas.[1]

Peristiwa sejarah Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemuda-Pemudi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda[2]

Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis. Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi.

Nasionalisme dan Internasionalisme Kaum Muda

Semangat Nasionalisme (ke-Indonesia-an) yang selanjutnya mendorong pemuda dan rakyat pada umumnya untuk mencapai kemerdekaan terus berlanjut pada perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Indonesia sebagai salah satu negara dunia ketiga yang memerdekakan diri pasca perang dunia II, punya capaian dan warisan perjuangan demokratis nasional yang relatif maju di bandingkan negara-negara dunia ketiga lainnya. Memang nasionalisme yang berkembang dalam pergerakan kebangsaan Indonesia adalah nasionalisme kiri. Bukan Nasionalisme berdasarkan ras seperti Hittler dan Mussolini. Bukan nasionalisme monarki Inggris, Amerika Serikat yang Imperialis. Melainkan Nasionalisme yang berdasarkan pada kesetaraan sosial, kedaulatan rakyat dan kemerdekaan nasional. Pasca Perang Dunia II Nasionalisme demikian banyak mengilhami perjuangan di Negara dunia ketiga, seperti India, Afrika Selatan, Irlandia dan lain-lainnya.[3]

Namun nasionalisme hanya akan membawa kita pada satu pemikiran sempit dalam perjuangan kita tidak akan pernah mampu berfikir bahwa penghapusan penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa harus di lakukan di seluruh negri yang ada di dunia,  karenaKapitalisme dan dampak yang ditimbulkan tidak mengenal batas teritori/wilayah, ia bagai air yang mengalir ke segala penjuru negeri dan menghisap pekerja diseluruh dunia, yang kemudian bertransformasi menjadi penindasan umat manusia ini.

Pembagian negara-negara dunia ke dalam negara “miskin” dan “kaya”, jurang yang semakin lebar di antara keduanya, gerak pasar dunia sebagai mekanisme dimana kekayaan secara terus menerus ditransfer dari negara miskin kenegara kaya, tanpa di ragukan lagi telah terjadi pada masa corak produksi kapitalis dimana ekploitasi lebih dari dua per tiga manusia adalah subjek bagi minoritas kecil pemilik kapital internasional, untuk itu kesadaraan nasionalisme saja tidak cukup untuk mengatasi kesenjangan yang ada.

Sejarah telah memberikan kita pelajaran bahwa perjuangan melawan penindas akan selalu mendapat tantangan dari ‘si penindas’. Sejarah telah membuktikan bagaimana perjuangan secara terpisah-pisah  akan begitu mudah untuk di taklukkan, dan kini kesadaranberjuang semakin di berangus oleh rezim yang berkuasa.  Untuk itu dilihat dari situasi hari ini sudah saatnya kita menaikan level pemahaman kita terhadap peringatan sumpah pemuda,  kita juga harus dengan rendah hati menerima fakta bahwa peringatan yang sekarang telah berubah menjadi perayaan sumpah pemuda ini telah membawa pemuda dalam pekerjaan rumah yang sangat besar, kapitalisme yang telah menciptakan antagonisme kelas kini telah membagi masyarkat pada dua pertentangan yang ada yaitu kelas tertindas dan kelas yang menindas, dan pembagian kelas ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja namun terjadi di seluruh dunia. Sumpah pemuda memang telah menjadi momen bersejarah dalam pembebasan rakyat Indonesia pada tahapan kolonialisme namun sampai pada tahap itu saja tidaklah cukup, karena tidak mungkin kita bisa merasa merdeka disaat masih terdapat eksploitasi bangsa atas bangsa lain, atau tidak mungkin kita merasa sejahtera di saat kesenjangan atau kemiskinan masih terjadi di negara-negara dunia lainnya, untuk itu kaum muda perlu sekali lagi berkumpul untuk membebaskan penindasan secara permanen ke seluruh dunia.

Peran Kum Muda dan Cita-Cita Besar Sosialisme

Gerakan pemuda memainkan peran yang penting dalam berbagai perjuangan anti kolonialisme, anti imperialisme saat paruh pertama abad kedua puluh. Banyak perjuangan pembebasan nasional di berbagai negeri dimulai oleh gerakan pemuda. Begitupun yang terjadi di Indonesia Sumpah Pemuda yang dihasilkan pemuda Indonesia untuk menegaskan perjuangan anti-kolonialisme.

Demikian juga paska gelombang pertama perjuangan pembebasan nasional, paska perang dunia kedua, gerakan pemuda memainkan peran penting dalam perjuangan anti kediktatoran dan anti-imperialisme. Gerakan pemuda mahasiswa merupakan kelompok generasi muda yang kritis dan sering mencerminkan perubahan kekuasaan antara klas-klas. Mereka menjadi Barometer yang sangat sensitif yang secara setia merefleksikan animo yang bergerak dalam masyarakat.

Sebagaimana pernah diamati oleh Trotsky tahun 1930 lalu ”Semangat demonstrasi mahasiswa hanya usaha yang dilakukan oleh generasi muda Borjuis, khususnya kaum borjuis kecil, untuk menemukan solusi bagi ketidakstabilan yang dialami negara setelah kebebasan semu dari kediktatoran primo de Rivera, di mana elemen-elemen dasar masih sepenuhnya tersembunyi. Ketika kaum borjuis secara sadar dan keras kepala menolak untuk mengatasi persoalan-persoalan yang timbul dari krisis masyarakat Borjuis, dan ketika kaum proletar belum lah siap untuk menyandang tugas ini, maka sering sekali para mahasiswa lah yang tampil ke depan. Selama masa perkembangan revolusi Rusia yang pertama (1905), kami mengamati adanya fenomena yang begini lebih dari satu kali, Dan kami selalu mengenali Tanda-tanda kemunculannya. Aktivitas mahasiswa yang revolusioner ataupun semi-Revolusioner seperti itu mempunyai arti bahwa masyarakat borjuis tengah menghadapi krisis yang amat dalam. Pemuda-pemuda kaum borjuis kecil, merasakan kekuatan explosif tengah terbangun di tengah massa, berusaha dengan cara mereka sendiri untuk keluar dari kebuntuan dan untuk mendorong perkembangan politis ke arah yang lebih maju.”[4]

Kemunculan gerakan mahasiswa sudah dimulai sejak kemunculan universitas-universitas pertama di dunia. Mahasiswa di Bologna dan Paris selama abad pertengahan adalah sumber utama ketegangan kerusuhan adalah fenomena umum di banyak universitas. Demonstrasi dan gerakan mahasiswa memainkan peran yang cukup penting dalam penggulingan Peron di Argentina pada tahun 1955; kejatuhan Perez Jimenez di Venezuela pada tahun 1958; perlawanan yang sukses terhadap Diem di Vietnam pada tahun 1963; kerusuhan masif melawan perjanjian keamanan Jepang-AS di Jepang pada tahun 1960, yang memaksa pengunduran diri pemerintahan Kishi; kejatuhan Ayub Khan di Pakistan pada tahun 1956; demonstrasi Oktober untuk kebebasan yang lebih besar di Polandia pada tahun 1956; revolusi Hongaria pada tahun 1956; dan gerakan untuk pembebasan di Chekoslovakia pada tahun 1968. Bahkan revolusi Rusia pada tahap awal nya juga dimulai sebagai gerakan revolusioner kaum Cendikiawan antara 1860-70an. Revolusi Spanyol di awal 1930 -an juga dimulai sebagai gerakan mahasiswa. Pada tahun 1968 di Paris, Perancis, gerakan mahasiswa bergerak pada awalnya menggunakan isu pendidikan. Di luar itu memang juga muncul gerakan menolak pendudukan Perancis di Aljazair dan perang Vietnam. Sejak tahun 1965 ke depan, gerakan mahasiswa juga masuk ke dalam gerakan perdamaian, gerakan anti perang Vietnam.[5]

Kaum muda di Indonesia kondisinya tidak jauh berbeda. Sejak masa perlawanan terhadap penjajahan hingga orde Baru kaum muda mengawal hampir setiap perubahan sosial yang terjadi. Adalah Dari kaum muda terpelajar, yang memang sebagian besar adalah anak-anak Priyayi, itulah muncul Metode dan alat perjuangan yang modern. Yaitu organisasi dan partai politik serta koran, demonstrasi dan mogok. Demikian dari mereka lah berkembang idiologi seperti nasionalisme, Komunisme serta sosialisme yang memainkan peran penting dalam perjuangan melawan kolonialisme. Kaum muda juga yang mengambil Inisiatif untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Termasuk Inisiatif-Inisiatif untukmemperkuat kemerdekaan itu sendiri, seperti dorongan mereka untuk rapat akbar di lapangan IKADA.

Paska kemerdekaan, kaum muda tidak terlepas dari peran mempertahankan kemerdekaan dan melawan Neokolonialisme dan imperialisme. Pun demikian kaum muda tidak terlepas dari pertentangan kelas yang ada di dalam masyarakat. Pertarungan antara Soekarno, PKI, PNI serta para pendukungnya berhadapan dengan kekuatan imperialis bersama kaki tangannya di Indonesia, yaitu angkatan darat serta partai-partai Borjuis makin memuncak yang Berujung pada penggulingan Soekarno dan pembantaian serta pemenjaraan jutaan rakyat. Banyak dari antara mereka yang di bantai dan dipenjarakan adalah kaum muda. Kaum  muda yang paling memiliki kesadaran kelas, militan serta banyak terlibat dalam perjuangan kemerdekaan maupun setelahnya. Disisi lain tidak sedikit kaum muda, khususnya mahasiswa, yang berperan dalam penggulingan Soekarno dan melegitimasi pembantaian serta pemenjaraan jutaan rakyat.

Selanjutnya bertolak dari pengalaman diatas maka sekali lagi kaum muda perlu kembali mendiskusikan prespektif pembangunan organisasi muda sosialis agar perjuangan kaum muda dapat dilakukan secarasistematis. Hanya dalam organisasi yang mengkedepankan teori revolusionernlah maka perjuangan menumbangakan kapitalisme dapat segera dilakukan.

                Tidaklah cukup untuk hanya mengagitasi, mengorganisir atau melakukan advokasi-advokasi terhadap isu-isu lokal atau persoalan-persoalan tertentu saja. Di sisilain juga tidak bisa membuntut pada semua keresahan yang muncul. Membatasi diri hanya pada isu-isu lokal atau persoalan-persoalan tertentu –seperti hanya memperdulikan perjuangan kelas buruh saja, petani saja, persoalan tanah, pendidikan, penggusuran atau kaum miskin kota saja. Ataupun sekedar merespon momentum keresahan seperti saat dikeluarkan kebijakan-kebijakan yang menindas akan berarti memperkut hegemoni borjuis. Dengan begitu kita akan terjebak pada kecendrungan aktivisme, lokalitas semata ataupun mengadvokasi keresahan. Gambaran besar mungkin terlihat sulit diatasi, keseluruhan  masalah kapitalisme terlihat sulit untuk di taklukan, namun hanya dengan mengatakan “Sulit” saja kau sudah berdamai dengan kapitalisme.

                Semangat, militansi dan inisiatif-inisiatif kaum muda dalam melawan setiap manifestasi penindasan kapitalisme harus terus dibangun dan dipertahankan. Namun disisi yang lain juga dibutuhkan kepeloporan dalam hal prespektif. Ini bermakna bagaimana kepeloporan tersebut juga dalam kerangka mendorong maju setiap perjuangan rakyat. Serta memberikan prespektif menyeluruh tentang penindasan kapitalisme dan solusi revolusionernya. Kaum muda harus mengorganisir prespektif untuk memajukan setiap perjuangan rakyat, langkah-langkah terbaik harus diambil, mendorong ada persatuan sesama rakyat serta memblejeti setiap penindasan kapitalisme.

Sepertinya hampir semua gerakan mahasiswa secara khusus akan sepakat bahwa persoalan Indonesia terletak pada kapitalisme. namun tipikal gerakan moral, memang mayoritas gerakan mahasiswa tidak akan berbicara mengenai solusi alternative terhadap kapitalisme. yang mereka bicaraka hanyalah menggulingkan sebuah pemerintahan untuk kemudian digantikan oleh elit politik lainnya.

                Hanya cita cita besar sosialisme lah yang akan mampu memberikan prespektif yang  tepat bagi kaum muda untuk menjawab berbagai persoalan rakyat serta memberikan panduan dalam perjuangan. Disisi yang lain panduan sosialisme yang akan membuat kaum muda tidak hanya aktifis pada  saat masa mudanya saja ataupun yang sering menjadi ejekan adalah menjadi aktifis saat masih muda kemudian setelah mendapatkan jabatan, meninggalkan perjuangan. Sosialisme akan menjadi peneguh bagi kaum muda untuk menjadi seorang pemuda/pemudi revolusioner seumur hidupnya. Oleh karena itu, menjadi bagian dari tugas kaum muda saat ini adalah untuk belajar. Sosialisme adalah ilmu pengetahuan dan seperti ilmu pengetahuan lainnya, dia menuntut untuk dipelajari.

                Belajar diatas tentunya bukan belajar dalam ruang-ruang kelas. Namun belajar teori-teori soaialisme, pengalaman perjuangan rakyat di seluruh dunia dan melakukan praktek revolusioner itu sendiri. Waktu luang yang dimiliki kaum muda  memungkinkan hal itu dilakukan. Perang historis  kepeloporan kaum muda juga menunjukkan gerakan pemuda membutuhkan cita-cita besar sosialisme untuk memajukan kepeloporannya.

                Kemudian, hanya dengan sebuah organisasi pemuda sosialis maka semua proses tersebut dapat diraih. Organisasi pemuda sosialis tersebut akan memberikan ruang bagi kaum muda untuk mendapatkan pengalaman politik, organisasi dan teori-teori yang dibutuhkan bagi aktifitas revolusioner.Disisi yang lain juga dibutuhkan sebuah panduan ideologi yang kuat. Terlebih lagi jika melihat kecenderungan aktivisme yang ingin langsung terlibat pada aktivitas praktis dan melupakan persoalan perspektif/teori. Kebetuhan tersebut hanya bisa di jawab dengan adanya hubungan yang erat dengan partai revolusioner. Bersatulah seluruh kaum muda serta bergabunglah dengan seluruh elemen tertindas lainya untuk bersama-sama menghancurkan Kapitalisme.

Dinarasikan Oleh:Cici Fairuz & Aji Patra | Anggota LSK Kutai Timur

[1] https://bumirakyat.wordpress.com/2012/10/28/sumpah/

[2] http://semangatpemuda-indonesia.blogspot.co.id/p/sejarah-sumpah-pemuda.html

[3] https://www.arahjuang.com/2016/10/29/sumpah-pemuda-dan-semangat-internasionalisme/

[4] Gerakan Kaum muda-mahasiswa dan Perjuangan Revolusioner. Hlm.81

[5] Doug Lorimer, Pelajaran dari Revolusi (yang gagal) 1968, http:// http://www.Indomarxis.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s