LAWAN RASISME ! MUSUH KITA ADALAH KAPITALISME-IMPERIALISME, KOLONIALISME DAN MILITERISME

Rasisme bukanlah merupakan persoalan baru, ia merupakan produk dari perkembangan kapitalisme yang bertahan 4 Abad. Rasisme lahir pada abad 17 dari tahap perkembangan Kapitalisme yang menjamur keseluruh dunia melalui bentuk kolonialismenya.

Istilah rasis lebih tepat, dari SARA atau politik indentitas yang mengabaikan perjuangan kelas di balik penggunaan istilahnya. Rasisme merupakan diskriminasi terhadap satu kelompok orang berdasarkan karakteristik yang dianggap inheren di dalam mereka sebagai sebuah kelompok.
Di Indonesia Rasisme di pupuk pemerintah kolonial Belanda dengan membagi golongan masyarakat menjadi 4 golongan: Eropa, Indo, Timur Asing dan Inlander atau Pribumi. Pribumi kala itu menjadi golongan terendah dalam masyarakat Hindia Belanda bahkan setara dengan binatang. Tak hanya itu, Rasisme terhadap etnis Tionghoa pun dipupuk Belanda, bahkan dibantai karena menyaingi perdagangan pemerintah kolonial Belanda. Peristiwa itu kita kenal dengan “Geger Pecinan”, atau tahun 1918 pemerintah kolonial mengadu domba Sarekat Islam dengan etnis Tionghoa sehingga menghasilkan kerusuhan yang besar di Kudus.

Namun bukan berarti, kala Indonesia merdeka dapat membebaskan kaum tertindas dan menghapuskan rasisme, justru rasisme dilahirkan dengan bentuk yang baru. Rasisme baru menyoroti bukan hanya superioritas biologi dari satu ras terhadap ras lainya, namun perbedaan kultural diantara kelompok-kelompok etnis. Di sini kita melihat rasisme pribumi terhadap non pribumi atau asing dan aseng. Termasuk juga rasisme terhadap agama tertentu. Namun ini bukan berarti bahwa rasisme lama yang menggunakan dasar karekteristik biologi itu hilang, keduanya dapat saling terhubung. Ini menunjukan bahwa kapitalisme modern terus memberikan landasan material bagi perkembangan rasisme.

Papua, sejak tanggal 1 Desember 1961 telah menyatakan dirinya merdeka sebagai bangsa. Namun, rezim Sukarno yang bercita-cita menghubungkan seluruh Nusantara pun mengkhianati cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia mengenai “kemerdekaan ialah hak segala bangsa..”. Fakta dari jurnal “Chega!” mengatakan: ” Indonesia hanya mewarisi daerah jajahan Hindia Belanda yang batasannya hanya sampai daerah Timor Barat (Nusa Tenggara Timur), maka dapat kita lihat bahwa Papua sejak awal bukan lah terhubung dengan jajahan Hindia Belanda namun mengakalinya guna meraup gunung emas, lautan minyak, dan buruh-buruh upah murah ini merupakan buah dari Rasisme yang di rawat borjuasi Indonesia.

Pada tahun 1967, setelah kenaikan Soeharto, Indonesia kemudian menandatangani kontrak dengan Freeport untuk menanamkan kapital serta mengeksploitasi sumber daya alam di Papua. Sebelum Freeport masuk, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (UU PMA) telah diberlakukan sehingga membuka jalan dan membeberkan karpet merah bagi eksploitasi Imperialisme di Papua Barat bahkan seluruh wilayah Indonesia.

Masuknya Freeport ini juga diperkuat dengan manipulasi-manipulasi. Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) West Papua di tahun 1969, tidak berasaskan one man one vote dan diiringi oleh pengiriman sejumlah personil TNI. Pepera dilaksanakan tanpa melibatkan keseluruhan rakyat West Papua dan dibawah todongan senjata.

Hingga kini, sebagaimana keterangan Arkilaus Baho, aktivis Pembebasan Papua, setidaknya ada tiga kekuatan kapital internasional yang bermain di Papua. Mulai dari grup Rockefeller yang menguasai Freeport dan mendominasi kekayaan alam berupa emas dan tembaga di Papua. Kemudian British Council yang menguasai bisnis minyak dan gas bumi. Selanjutnya kelompok pemodal yang relatif baru adalah grup Binladen dari Timur Tengah yang menguasai bisnis perkebunan. Tiga pemodal ini menghabisi Papua, tekannya.
Perusahaan-perusahaan kapitalis yang dilindungi dan dilayani militerisme serta rezim borjuis di Indonesia ini bukan hanya mengakibatkan eksploitasi terhadap kekayaan alam dan buruh di Papua namun juga penindasan terhadap pribumi Papua dan perusakan lingkungan di Papua. Oleh karena itu benar apa yang dikatakan Jefri Wenda, Ketua Umum AMP, bahwasanya perusahaan-perusahaan kapitalis seperti Freeport adalah dalang segala kejahatan terhadap rakyat Papua.

Maka pandangan nasionalis anti kemerdekaan Papua adalah pandangan keliru. Sebab kini perjuangan massa rakyat Papua kerap dikaburkan dengan sentimen rasis, yang menutupi kenyataan bahwa bangsa Papua merupakan korban dari kejahatan kepentingan sepihak imperialisme. Laporan kejahatan Indonesia kini bertambah dengan menjadikan militer dan aparat kepolisian sebagai momok atau hantu bagi rakyat Papua yang kerap menculik, memukul, dan meneror terus- menerus.

Hak Menentukan Nasib Sendiri adalah langkah paling demokratis. Sejak awal bangsa West Papua adalah bangsa yang merdeka. Manipulasi sejarah dilakukan pemerintah Indonesia lewat bersekutu dengan imperialis Amerika Serikat dan Inggris. Kemerdekaan West Papua adalah langkah paling awal untuk membawa kelas tertindas (Buruh, Tani, Masyarakat adat) West Papua ke dalam perjuangan untuk penghapusan sistem ekonomi politik yang menindas dan menghisap beserta atribut-atributnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s