About

Kapitalisme, telah membangun kesenjangan yang begitu tajam dalam masyarakat. Kita telah menyaksikan bagaimana minoritas orang di dunia menguasai dan mengendalikan sebagian besar hajat hidup masyarakat lainnya. Keadaan ini, tentu saja bukan suatu takdir yang harus di terima begitu saja. Ia menuntut setiap manusia yang menyadarinya, untuk memiliki keyakinan merubahnya. Namun, merubah sistem yang telah merusak keseluruhan unsur kehidupan manusia (termasuk merusak moral manusia) bukan pekerjaan yang dapat di selesaikan dengan mudah dan dalam waktu sekejap. Lebih lanjut, pekerjaan itu tidak bisa di selesaikan dengan keyakinan yang setengah setengah. Ia perlu di topang dengan ideologi, serta teori dan praktek yang tepat. Begitupun pekerjaan tersebut tidak dapat di perjuangkan secara sendiri-sendiri, melainkan sebuah organisasi yang memiliki prinsip yang tegas berikut kader yang punya semangat dan keteguhan hati sekuat baja.  Kapitalisme dalam perkembangannya telah mendorong antagonisme yang tajam antara kelas pekerja (kelas yang tidak memiliki apapun untuk bertahan hidup selain menjual tenaga kerjanya) dengan kelas borjuis (individu yang mengklaim kepemilikannya atas alat alat produksi dan mengatur kehidupan mayoritas manusia lainnya). Lebih lanjut, kelas borjuis mendapatkan keuntungan dari hasil menghisap tenaga dan waktu kelas pekerja. Demikianlah kelas pekerja di paksa untuk mencurahkan waktunya untuk menambah pundi-pundi kekayaan kelas borjuis. Sehingga, hampir tidak ada waktu bagi kelas pekerja untuk belajar dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Atas dasar inilah kehadiran kaum sosialis revolusioner-sebagai kaum yang menyadari penindasan dan akar dari penindasan yang terjadi pada kelas buruh, di butuhkan.

kaum muda sebagai kelompok sosial yang memiliki banyak waktu untuk belajar,memanfaatkan intelektualitasnya, dan dengannya sangat mudah menerima ide yang berkembang (mulai dari ide sosialis, termasuk ide berojuis reaksioner)  memungkinkan untuk mengambil peran tersebut. Inilah yang menjadi dasar bagi keharusan di bentuknya sebuah organisasi muda sosialis. Namun, kaum muda yang penuh dengan semangat dan gairah yang besar untuk merubah keadaan rakyat tertindas, tidak semuanya memiliki kesadaran sosialis yang revolusioner. Dalam sistem kapitalisme, ideology dominan adalah ideologi dari kelas yang berkuasa-dalam hal ini kelas borjuis,  sehingga organisasi muda sosialis perlu memiliki prinsip-prinsip dasar yang jelas, agar dapat menjadi agen pelopor yang mendorong kesadaran kelas pekerja untuk berkuasa.

  1. Sentralisme demokrasi

Dalam sebuah organisasi revolusioner, ketika anggota ikut juga dalam penentuan jalannya organisasi, maka sentralisme yang dibuat haruslah diarahkan oleh permusyawaratan-permusyawaratan anggota. Artinya, penggunaan aset-aset organisasi, penentuan arahan sehari-hari, dan penempatan anggota terbaik, juga harus mengikuti kehendak anggotanya. Sehingga tidak ada pemisahan antara demokrasi dan sentralisme dalam sebuah organisasi yang revolusioner. Sentralisme demokrasi dalam organisasi revolusioner haruslah merupakan sintesis yang rill, yakni sebuah penggabungan antara sentralisme dan demokrasi proletar. Penggabungan ini hanya bisa dicapai jika organisasi terus menerus berjuang dan bekerja bersama-sama sebagai satu kesatuan yang utuh. Sentralisasi dalam organisasi revolusioner bukanlah sentralisasi yang formal dan mekanik, melainkan sentralisasi aktivitas kaum revolusioner, untuk membangun kepemimpinan yang kuat, siap tempur, efektif dan sekaligus fleksibel.

 

  1. Memegang Teguh Prinsip Kepeloporan

Ditengah kesadaran massa rakyat tertindas, dan dibawah hegemoni badai propaganda ideologi Kapitalisme yang mengilusi kesadaran massa, hingga ke sum-sum tulang kita. Propaganda lewat media massa borjuis yang mereka miliki melalui film, tayangan-tayangan mistik dan lewat penjaga ideologi mereka yang berada dalam alat Negara, misalnya lembaga pendidikan dan lain-lain seolah-olah membenarkan keberadaan kapitalisme sebagai sebuah sistem yang ada dan baik bagi kelas pekerja dan mengaburkan penindasan kelas kapitalis terhadap massa rakyat. Membenarkan segala bentuk penindasan kelas borjuis terhadap kelas tani dan proletar berupa perampasan tanah, sistem kerja upahan kontrak dan outsourching, pendidikan mahal dimana rakyat juga harus berpartisipasi dalam pendanaan pendidikan dan Negara perlahan-lahan melepaskan tanggung jawab terhadap pendidikan.

Bagaimanapun dari sekian banyak massa rakyat yang terilusi dan terhegemoni masih banyak massa rakyat yang mampu terlepas dan melawan semua bentuk penindasan, ilusi, dan hegemoni kelas yang berkuasa saat ini yaitu kelas borjuis dan mengambil kepemimpinan dari tangan borjuis. Karena jelas, kelas borjuis juga membangun alat politiknya sendiri dan tidak akan dengan mudah menyerahkan kekuasaanya kepada massa rakyat. Tanpa organisasi pelopor yang dipersenjatai dengan teori revolusioner yang mampu mendidik, memajukan, memimpin, dan menggiring kesadaran massa untuk berlawan, serta tidak menunda dan bahkan membiarkan kepeloporan revolusioner kepada massa rakyat maka sama saja membiarkan revolusi hanya diawang-awang dan membiarkan massa rakyat terus diracuni ideologi kelas borjuis dan terus tunduk dibawah ketiak kapitalis.

 

  1. Berkepentingan Mewujudkan Pembangunan Partai Revolusioner

Prinsip yang juga penting dimiliki oleh organisasi muda sosialis adalah memegang tradisi-tradisi revolusioner dan tidak memisahkan diri pada pembangunan partai revolusioner. Ini berkaitan dengan cita-cita besar sosialisme yang membutuhkan perjuangan seumur hidup. Dengan adanya organisasi revolusioner yang bersifat permanen kesatuan teori dan praktek kaum muda dapat bertahan lama. Organisasi permanen yang dimaksud adalah partai revolusioner yang dapat menjadi “ingatan” perjuangan kelas buruh. Peran organisasi muda sosialis dan partai revolusioner juga tidak dapat dipisahkan secara programatik dan saling menunjang untuk mewujudkan sosialisme.

Dengan demikian, organisasi muda sosialis tidak boleh terjebak pada kesadaran ormas, melainkan kesadaran untuk ikut serta mempropagandakan program-proggram partai revolusioner, begitupun menjadi control terhadap sikap-sikap partai revolusioner. Maka, kesaling hubungan antara organisasi muda sosialis dengan partai revolusioner terletak pada kesepakatan terhadap proggram-proggam yang berkaitan dengan cita-cita sosialisme ilmiah.

 

  1. Berada di Garis Massa dan Persekutuan Dengan Klasklas Tertindas

Mendekatkan diri pada kelas tertindas, adalah konsekuensi dari pemahaman akan hukum-hukum perkembangan masyarakat yang menempatkan elemen tertindas tersebut sebagai elemen revolusioner (perubahan) untuk mewujudkan masyarakat sosialis. Ini akan mengakibatkan dalam kesehariannya kaum muda akan bersikap rendah hati dan optimis. Apalagi tidak berharap dan beraktivitas bersama kelas borjuis, inilah yang disebut ‘kolaborasi kelas’. Oleh karena itu, organisasi revolusioner harus mengambil garis demarkasi yang tegas antara kelas penindas dan kelas tertindas.

Berada di “garis massa” berarti selalu berada ditengah massa, menyerap aspirasinya, mendorong partisipasinya, melatih tiap individu didalamnya untuk dapat memimpin kelasnya sendiri.  Garis Massa mengakui bahwa massa rakyat pekerja berada dibawah tekanan ideologi borjuis, bahakan mereka yang telah maju kesadarannya pun tidak dapat sepenuhnya luput dari tekanan ideologi borjuis ini. Inilah akibat dari apa yang disebut ‘hegemoni kapitalisme’. Untuk dapat memperoleh secercah kemandirian dari hegemoni kapitalisme ini, massa rakyat pekerja membutuhkan “suntikan kesadaran” dari para kader revolusioner. Namun sebaliknya, hanya dalam gerak yang dinamis bersama massa para aktivis akan dapat mempertahankan kesadaran maju yang telah diperolehnya. Oleh karena itu garis massa melarang dengan keras sektarianisme (pengkotak-kotakan) dimana para segelintir aktivis menganggap dirinya lebih baik dan pandai dari massa, dan membuat massa sebagai kerbau yang dicucuk hidungnya.

Di sisi lain garis masa juga menolak voluntarisme, dimana massa dianggap sebagai penentu kebenaran sejati dan para aktivis menolak untuk mendahului untuk memimpin kehendak massa. Garis massa mengamanatkan kesaling hubungan yang timbal-baliknya antara para kader organisasi, diantara kedua pihak saling mengajari, saling mendorong dan mendukung, saling mengkritik dan memperbaharui diri kader-kader organisasi harus mendorong dan melatih massa, agar melahirkan kader-kader baru, dan sebaliknya massa memberikan kekuatan dan menjaga komitmen para kader. Hanya dengan persekutuan bersama kelas tertindas lainnya dalam sistem kapitalismelah kita menuntaskan revolusi sosialisme, dimana kelas buruh menuntaskan revolusi agrarianya dibawah kepemimpinan kelas proletariat dan dipimpin oleh partai proletariat revolusioner.

 

  1. Anti Seksisme

Seksisme adalah diskriminasi atau kebencian terhadap seseorang yang bergantung terhadap seks, tetapi juga dapat merujuk pada semua sistem diferensiasi (pembedaan) pada seks individu. Seksisme dapat merujuk pada kepercayaan atau sikap yang berbeda: Kepercayaan bahwa satu jenis kelamin atau seks lebih berharga dari yang lain, Chauvinisme pria atau wanita, Sifat misoginis (kebencian terhadap wanita) atau misandria (kebencian terhadap laki-laki), Ketidakpercayaan kepada orang dalam seks yang berbeda[1]. Seksime dalam kesehariannya digunakan oleh Kapitalisme untuk membangun budaya membawahi atas aktifitas tertentu berdasarkan jenis kelamin, yang berguna untuk menumpuk modal dan mengurangi kerugiannya dalam eksploitasi sumber daya alam dan manusia.

Sebagian besar isu dalam kehidupan memang bukanlah hal yang terbuka bagi pengawasan sehari-hari oleh organisasi politik. Organsasi juga tidak mungkin memiliki “polisi ranjang”, tidak akan dan tidak ingin untuk membongkar setiap sudut dan celah kehidupan setiap anggotanya. Namun apabila perempuan anggota organisasi mengalami seksisme secara terbuka maupun tidak dari anggota lainnya, maka hal ini dapat mengkerdilkan kepercayaan diri individu-individu perempuan anggota organisasi. Hal ini akan menggerogoti integritas organisasi tepat di jantungnya. Perilaku yang diskriminatif, terutama seksisme, harus di lawan. Issu seksisme bukanlah hal yang sepele, issu tersebut bahkan menjadi hal pokok bagi kerja politik, propaganda dan kehidupan organisasi revolusioner. [2]

Dengan demikian seksisme perlu menjadi tanggung jawab semua anggota organisasi baik  laki-laki maupun perempuan. Atas dasar itu pulalah sebuah organisasi muda sosialis meski menegaskan penolakannya terhadap praktek-praktek seksisme dalam aktifitas dan sikap organisasi. Sikap dan prilaku anti seksisme akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya organisasi muda sosialis. Pernyataan tersebut bukan sebuah argumentasi abstrak belaka, namun merupakan hal yang sangat penting dan vital bagi siapapun yang ingin menjadi seorang sosialis dan berpartisipasi dalam membangun organisasi revolusioner. Karena dengan menolak sikap seksisme dalam organisasi muda sosialis, maka akan terbangun budaya sederajad yang tidak memandang pada seks/jenis kelamin, yang berdampak pada subordinasi atau membawahi pemikiran dan aktivitas tertentu.

 

  1. Anti Rasisme

Penyebaran rasisme juga membantu sistem kapitlisme untuk mengeksploitasi  besar besaran imigran, etnis, suku serta ras minoritas di Negara maju. Rasisme menguntungkan kepitalisme dan menerapkan salah satu cara untuk membenarkan diskriminasi ekonomi.[3] Organisasi muda sosialis mesti mempersoalkan hal ini yang tidak terpisahkan dari situasi ekonomi politik. Dengan demikian tidak ada lagi anggota organisasi yang mempraktekkan rasisme dalam kesehariannya.

Rasisme bahkan menjadi senjata bagi kelas berkuasa untuk menyerang dan memecah belah gerakan rakyat. Rasisme akan berfungsi untuk menebar tindakan represi kelas berkuasa. Mengalihkan isu, memecah belah, mengadu domba serta menggalang simpati rakyat atas pemberangusan ruang demokrasi bagi rakyat. Atas dasar itu, organisasi muda sosialis memiliki keharusan untuk mengumandangkan penolakan secara tegas terhadap rasisme dalam bentuk apapun. Ini karena organisasi muda sosialis melihat akar masalah dari penghisapan terhadap kelas tertindas adalah sistem kapitalisme, sistem dimana kelas borjuis menumpuk keuntungan pribadinya melalui penghisapan terhadap waktu dan tenaga kelas pekerja yang tentu saja tanpa memandang latar belakangnya seperti ras, suku, agama, warna kulit, jenis kelamin dan bangsa manapun.

Maka organisasi muda sosialis dalam kesehariannya tidak dibenarkan dalam setiap aktifitanya untuk melakukan rasisme, yang tidak dapat menyatukan gerakan yang bersepakat atas cita-cita perjuangannya. Organisasi muda sosialis menetang keras segala bentuk rasisme dalam variannya (ras,suku,agama,warna kulit,jenis kelamin, dan semacamnya)

 

  1. Anti Fasisme

Para idelog borjuis seringkali mereduksi pemahaman tentang fasisme menjadi sekedar perseolan nasionalisme atau cinta tanah air. Mereka melupakan bahwa kemunculan fasisme di tandai dengan situasi dimana militer, polisi dalam kediktatoran borjuis, bersama dengan tabir parlementernya sudah tidak mampu lagi mempertahankan stabilitas akumulasi modal. Melalui fasismelah, kapitalisme menggerakan massa borjuis kecil yang irasional dan kelompok-kelompok lumpen ploretariat yang rendah dan teredemoralisasi-untuk merepresi perjuangan kelas tertindas. Inti dari fasisme adalah di binasakannya organisasi kelas pekerja dan menciptakan sebuah sistem administrasi untuk menpentrasi (menerobos) massa secara mendalam. Kemudian fasisme secara mendalam berfungsi untuk mengganggu kristalisasi independen kaum proletariat. [4]

Atas dasar itu, organisasi muda sosialis yang berbasiskan pada kaum muda mesti menegaskan penolakannya terhadap fasisme. Lebih lanjut, organisasi muda sosialis juga bertugas untuk menjelaskan secara utuh permasalahan yang di alami oleh kelas tertindas, sebagai masalah yang di ciptakan oleh sistem kapitalisme. Segala upaya yang berusaha untuk memecahbelah perjuangan kelas pekerja untuk merebut demokrasi yang seutuh-utuhnya harus di lawan. Termasuk ideologi fasisme, yang oleh kelas borjuis di gunakan untuk mengakomodir kemarahan terhadap penindasan menjadi sekedar masalah kebangsaan yang sempit.

 

  1. Anti Militerisme

Pada dasarnya militerisme bertujuan untuk melindungi kepentingan politik dan ekonomi dari jendral-jendral dan tatanan kapitalisme. Militer di butuhkan oleh semua tatanan masyarakat berkelas dengan kepentingan mendasar menjaga dan memperluas dominasi kelas yang berkuasa. Kepentingan tersebut termanifestasi dalam fungsi ganda militer untuk memperluas dominasi klas berkuasa (melalui penjajahan, agresi ataupun infasi) keluar negeri atau untuk melindungi kelas berkuasa dari ancaman yang berasal dari luar negeri.[5] Serta menjaga tatanan dan dominasi kelas yang berkuasa di dalam negri. Militerisme berusaha mengembangkan pengaruh dan semangat militernya pertama-tama dengan tentara aktif, dengan memaksa manusia menjadi robot yang patuh. Kedua, dalam kelompok populasi yang akan membentuk tentara cadangn dalam peristiwa dalam peristiwa mobilisasi dengan membangun dan mendanai milisi-milisi sipil ataupun kelompok-kelompok preman. Selanjutnya dalam kelompok populasi lainnya yang di jadikan basis dan dukungan untuk tujuan-tujuan militerismenya. Salah satunya dengan memanipulasi sejarah dan atau membesar-besarkan peran militer dalam berbagai bidang.

Berkaitan dengan itu, maka organisasi muda sosialis tidak akan dan tidak akan pernah menyandarkan perjuangannya kepada kekuatan militer. Organisasi muda sosialis berkepentingan untuk membangun tentara rakyat yang bertujuan untuk melawan kekuatan militer borjuis dalam mempertahankan dan merebut demokrasi seutuh-utuhnya.

 

  1. Anti Revisionisme

Sejarah gerakan perjuangan rakyat tertindas untuk mencapai kesejahteraannya yang hakiki, di penuhi dengan berbagai macam polemik. Mulai dari pertentangan dalam hal teori sampai soal soal prakteknya. Setiap kali upaya yang di lakukan untuk merevisi pikiran-pikiran marxisme, tidak lain adalah bagian dari upaya kaum revisoinis untuk untuk memasukkan dan memalsukan ide-ide dan elemen-elemen borjuis kedalam sosialisme. Dalam pergerakan marxist, kata revisionisme di gunakan untuk merujuk kepada berbegai gagasan, prinsip dan teori berdasarkan pada revisi atau perbaikan signifikan terhadap dasar pemikiran marxis yang fundamental.[6] Sebagaimana sebuah organisasi kaum muda, yang bertujuan untuk mencapai masyarakat adil makmur, mempertahankan tradisi-tradisi Marxisme-Leninisme-Bolshevisme sebagai panduan dalam perjuangannya adalah keharusan yang tak dapat di tawar-tawar.

Kaum revisionisme sejak awal kemunculannya adalah tidak lain untuk menafikkan fakta meningkatnya kemiskinan, proletarisasi dan menajamnya kontradiksi-kontradiksi kapitalis. Konsepsi “tujuan terakhir” itu sendiri dinyatakan sebagai hal yang tidak beralasan, dan ide tentang diktatur proletariat ditolak dengan mutlak; pertentangan secara prinsip antara liberalisme dengan sosialisme di ingkari; teori perjuangan klas ditolak dengan dalih bahwa ia seakan-akan tak dapat diterapkan pada masyarakat yang betul-betul demokratis, yang diatur menurut kehendak mayoritas, dsb.[7] Dengannya, organisasi muda sosialis perlu menyatakan penolakan secara tegas setiap upaya untuk merivisi dasar pemikiran marxis yang fundamental. Karena segenap bentuk revisionisme merupakan konsep yang memalsukan dalam pengertian konsep  yang seutuhnya.

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Seksisme/ diakses 15 November 2016

[2] Pipin J, 01 juli 2016, “Sebuah Manifesto Anti Seksisme : Hak-Hak Perempuan Dan Tanggung Jawab Laki-Laki Sosialis” , di akses 31 september 2016 (,www.arahjuang.com)

[3]Dipo Negoro, Apa yang di Perjuangkan Sosialisme, Hal : 34

[4] Leon Trtsky, 1944, Fasisme, “Apa itu dan Bagaimana Melawannya” , di terjemahkan oleh Dewey Setiawan, Di edit oleh Ted Sprague, di akses 31 oktober 2016 (Marxists.org)

[5] Dipo Negoro, 2013 “Apa yang di Perjuangkan Sosialisme” Hal : 25

[6] Wikipedia, Revisionisme (marxisme), di akses 31 oktober 2016 (,https://id.m.wikipedia.org/)

[7] V.I Lenin, 1902, Apa yang harus di kerjakan (Dogmatism Dan Kebebasan Mengkritik)